
Tuk
Tuk
Tuk
Suara sepatu pantofel berderu dengan tergesa-gesa diruangan koridor rumah sakit. Bian dibawa kerumah sakit. Sebelum Bian dibawa Ari telah menelpon pihak rumah sakit bahwa putra mahkota Caraka terluka. Maka tidak heran jika saat ini Bian bisa langsung ditangani.
Tiga pria tampan sedang mondar -madir diruangan IGD menanti kabar tentang keadaan Bian.
Ceklek.....
Seorang Dokter keluar dan mengambil nafas berat. Dari ekpresi Dokter tersebut bisa disimpulkan bahwa Bian dalam keadaan tidak baik-baik saja.
"Bagai..... " Belum selesai Ari bertanya Dokter Nisya sudah menjawab.
"Aku tidak mengerti kenapa Bos mu itu bertindak tanpa berfikir panjang" Ucapnya dengan sendu dan menahan emosi. Karena selain Dokter pribadi keluarga Caraka. Dokter Nisya adalah sahabat Bian. Jadi Dokter Nisya sudah hafal betul bagaimana sifat Bian.
"Dia hanya melindungi istrinya Dok?" Bela Ari, begitulah Ari bagaimanapun Bian, dia selalu akan menjadi yang pertama untuk membela Bian.
Dokter Nisya hanya mengambil nafas berat mendengar jawaban Ari. "Keadaannya sudah stabil, tapi aku belum bisa pastikan kapan Bian akan sadar. Bian banyak kehilangan Darah, beruntung stok di PMI ada. Sebentar lagi dia akan dipindahkan ke ruang rawat inap. Kalian bisa temui dia disana."
Ari mengangguk dan bernafas lega. Bos yang juga sahabatnya itu dalam keadaan stabil.
"Bagaimana mas Ari kita perlu kasih kabar mbak Dira atau... " Tanya Ical yang langsung dipotong oleh Ari
"Enggak" Ucap Ari tegas
"Tapi Dira harus tahu?" Ucap Rangga
"Sebaiknya jangan dikasih tahu, Dira akan sangat terluka. Ini hanya akan membuatnya mengingat kejadian yang membuatnya terluka."
Yang diucapkan Ari memang ada benarnya. Kejadian Bian ini hanya akan membuat Dira mengingat akan kejadian yang telah berlalu. Ditinggalkan tepat dihari pernikahannya. bukankah ini sangat menyakitkan. Bahkam butuh waktu yang lama untuk Dira bisa bangkit dan menjadi seperti sekarang ini.
Hal ini juga yang menjadi pertimbangan Dira memutuskan untuk menggelar pesta pernikahan ini. Dira bukan tidak ingin memiliki pesta pernikahan impiannya. Bahkan Dira sudah mendesain sendiri bagaimana konsep pernikahannya. Namun semua kandas bersama luka yang entah kapan akan ada penawarnya. Atau sebenarnya penawarnya sudah ada namun belum disadari.
...ππππππ...
"Bagaimana ini Mas?
Mas Bian belum sadar juga?
Kalau sampai besok Mas Bian tidak sadar juga gimana?" Tanya Ical pada pria yang masih terlihat tenang.
Padahal Ari tidak setenang kelihatannya. Dia bahkan lebih kacau pikirannya. Bagaimana Ari akan mengatakannya yang sebenarnya kepada Dira. Besok adalah hari resepsi Pernikahan Bian dan juga Dira. Tidak bisa dibayangkan jika Dira harus terluka untuk yang kedua Kalinya. Pernikahanya harus gagal dan disebabkan oleh wanita yang sama.
Ceklek.....
Tampak wanita paruh baya yang masih terlihat muda. Matanya sudah basah menggambarkan betapa kesedihan menjadi alasannya. Ari segera menyambutnya, membawanya dalam dekapannya yang hangat sebagai bentuk kasih sayang seorang anak pada Ibunya.
"Apa yang terjadi?"
Tanya mama Riana dalam isak tangisnya. Ya Ari memang memberi Tahu Mama Riana Dan keluarga Dira. Dan memang hanya Dira yang tidak diberi tahu tentang kecelakaannya Bian.
Ari melepaskan dekapannya dan menceritakan semuanya yang terjadi. Dan Mama Riana segera menghampiri putra kesayangannya.
"Ini salah mama?"
__ADS_1
Ucap mama Riana penuh penyesalan. Pasalnya mama Riana lah yang meminta Bian untuk segera menyelesaikan permasalahan ini. Tetapi tindakan mama Riana malah membuat putra kesayangnya terbaring lemah.
Mama Riana merasa sangat bersalah. Lalu bagaimana dengan wanita yang sangat dicintai oleh putranya itu. Bukankah sedari mereka berpisah rumah keadaan emosional Dira tidak stabil juga. Dira terus mencemaskan keadaan Bian. Bian juga tidak bisa dihubungi sama sekali. Mengingat hal ini membuat Mama Riana terus memikirkan bagaimana keadaan Dira jika tahu suaminya terbaring lemah begini. Terlebih ini karena melindunginya.
"Ma...."
Mama Riana hanya menggeleng dan terus menatap kearah Bian. Wajah tampan itu kini terlihat pucat. Tidak ada lagi senyum manja yang kini terpancar. Andai Mama tidak memaksamu untuk segera menyelesaikan masalah ini dengan wanita ular itu. ini semua tidak akan terjadi.
Kenapa kamu terlalu baik Bi?
Kenapa kamu tidak menggunakan senjata yang mama kasih?
Ungkap Mama Riana dalam isakan tangisnya.
"Ma.... "
"Ari... mama yang salah!!"
"Ini salah Ari ma, harusnya Ari yang terbaring lemah disana. Harusnya Ari bisa melindungi Bian. Ari gagal ma....." Ucap Ari menahan sesak dan mendekap mama Riana.
"Ari adalah anak mama yang bisa mama andalkan nak. Ari tidak pernah gagal dalam menjaga keluarga Caraka. Kamu masih Ari yang hebat nak"
"Enggak ma.... " Ari tidak lagi bersikap seperti Ari yang selalu dilihat banyak orang. Saat ini Ari terlihat lebih lemah dihadapan mama Riana. Merasa gagal dan putus asa itulah saat ini gambaran seorang Ari Bhadrika.
.
.
.
.
"Dira juga tidak tahu kak perasaan apa ini. Yang Dira tahu ada rasa yang berbeda ketika, dimana aku berada ditempat yang berbeda dengan kak Bian. Tidak mendapat kabar apapun tentang kak Bian membuat dada ini terasa nyeri. "
"Dira takut Kak Bian meninggalkan Dira seperti Bayu meninggalkan Dira"
Ungkapan dari Dira yang sengaja direkam oleh Mila ternyata malah menjadi sugesti Bian dialam bawah sadarnya. Perlahan Bian membuka matanya. Mencari sosok yang sangat ia rindukan. Begitu besar cinta seorang Akbar Fabian Caraka terhadap Nadira Diandra Putri. Hingga suaranya saja sanggup membuatnya sadar dari masa kritisnya.
Dokter Nisya memeriksanya, dan seperti biasa setelah memeriksa, Nisya selalu ngomel dan memberikan nasihat pada sahabatnya itu. Seperti angin lalu Bian selalu menutup telinganya ketika Dokter Nisya memberinya nasehat.
"Kalau Lo masih bodoh juga Bi?
Gue bakal suntikan obat...... ?" Belum selesai dokter Nisya bicara sudah dipotong
"Cuma lo yang ngatain gue bodoh" ucap Bian cuek
"Ya karena memang gue yang lebih pintar dari lo?"
"Buktinya gue lebih kaya dari lo?"
"Iya.... Iya..... Tuan Muda"
"Lho emang iya kan?
Yang gaji lo juga gue!!"
"Ari ni kamu kasih obat ini ke Bos kamu yang menyebalkan ini."
__ADS_1
"Bera... " Baru Ari mau bertanya tentang takaran obat yang harus diminum oleh Bian sudah dipotong oleh Dokter Nisya
"Kasih semuanya biar over dosis dia" Ucap Dokter Nisya ketus.
"Dokter apaan lo, mau celakain pasien?"
"Pasien gue nggak ada yang nyebelin kayak lo"
"Dih.... Ngambekkkk"
"Tante....
Lihat anak ini anak kesayangan tante?"
Adu Nisya pada Mama Riana yang sedari tadi hanya tersenyum dan tak lupa mengucapkan rasa syukurnya karena putra kesayangannya sudah sadar.
"Udah kalian ini...
Sudah dewasa juga...
Kamu sudah menikah!
Kamu juga sudah punya anak 1!"
Tunjuk Mama Riana bergantian kearah Bian dan Dokyer Nisya dan dilanjutkan dengan
"Masih juga kayak Tom and Jerry kalau ketemu!"
Ucap Mama Riana menengahi tidak ingin membela siapapun.
Pernyataan mama Riana juga menarik gelak tawa diantara tiga pria tampan yang sedari tadi hanya menyaksikan perdebatan antara pasien dan dokternya.
"Bisa ketawa juga kamu Ri?
Aku pikir kami cuma bisa jadi manusia remotcontrol." Ucap Nisya pada Ari yang dibalas tatapan sinis oleh Ari.
Tatapan Ari malah dibalas tawa oleh Nisya kemudian berlalu. selain dia sudah malas meladeni pasien sekaligus sahabatnya itu dia juga harus menangani pasien lain.
.
.
"Kenapa kakak memilih ku untuk yang diselamatkan?"
Bersambunggggg
jangan lupa
Likeπ
komentar π
β€ (Biar pas aku up kamu dapat notifikasinya)
Thankiyuuuuu
π₯°π₯°π₯°π₯°
__ADS_1