
Hari baru telag dijalani oleh keduanya. Berusaha untuk mencintai adalah hal yang cukup sulit untul Dira. Namun bagaimanapun Bian memiliki hak untuk itu. Dira telah berusaha keras untuk benar-benar memberi ruang untuk suaminya. Meski terkadanf bayangam Bayu masih silih berganti memenuhi pikirannya. Hal tersebut tidak menyurutkan cinta Bian kepada Dira. Justru Bian semakin memaksakan hatinya untuk terus menumbuhkan rasa semakin dan semakin besar untul Dira.
Hari terus berganti, jam, juga detik terus berputar pada porosnya. Menyiapkam sarapan, mengantar makan siang, juga menyiapkan makan malam adalah hal yang membuat Dira sangat bahagia.
seperti siang ini dengan langkah yang memburu tak sabar ingin bertemu dengan suami tercinta. Dengan paperbag berisi berapa makan siang untuk suami, dirinya, juga sang asisten. Mungkin hal ini sama dengan hari sebelumnya. Namun kali ini atau lebih tepatnya setelah pengumuman pernikahannya Dira menjadi lebih leluasa untuk keluar masuk Caraka Group.
Sapaan hangat juga tanda hormat senantiasa di hadiahkan untul menyambut Nyonya muda sang istri dari pemilik perusahaan Caraka Group yang telah diakui oleh seluruh penjuru kota bahkan Bian berencana akan melebarkan sayapnya sampai keluar negri.
"Assalamualaikum Mbak Dira, silahkan Pak Bian sudah menunggu diruanganya" Sapa salah satu staf yang bertugas sebagai receptionis di kantor ini.
"Walaikumsalam.... terimakasih" Balas Dira dengan ramah dan tak lupa senyum lembut membuat siapapun yang melihatnya terpesona. Jika suaminya melihat sudah pasti dia akan marah. Bian sangat tidak menyukai jika Dira tersenyum manis pada orang lain terlebih pada pria lain. Namun Dira memang memiliki pribadi yang supel dan ramah jadi Dira tidak bisa untuk tidak tersenyum kepada siapapun.
Langkah Dira menuju lift dan lift terbuka di lantai 7 (tujuh ) diaman ruangan suaminya berada. Seperti biasa sebelum Dira masuk keruangan suaminya, Dira selalu menyempatkan diri untuk menyapa Anita sekretaris suaminya itu.
"Pak Bian baru saja selesai Meeting Mbak." Ucap Mbak Anita sebagai sapaan sebel pertanyaan dilayangkan oleh Dira.
Dira hanya tersenyum dan menautkan jari telunjuk dan ibu jarinya membentuk huruf O. Dira melangkahkan kakinya menuju ruangan Bian.
Ceklek....
Handle pintu dibuka bertepatan dengan Dira mau menarik gagang pintu ruangan. Keduanya terkejut untuk sesaat. Namun sejurus kemudian Dira hanya memberikan satu kotak makan siang untuk Ari sang asisten.
"Terimakasih Mbak, harusnya mbak nggak perlu seperti ini. Saya bisa mencari makan siang diluar" Ucap Ari sebenarnya merasa sungkan karena Nyonya mudanya ini kelewat baik. Dirumah juga Dira bersikap demikian. Selalu menyiapkam untul semunya.
"Nggak apa-apa Mas Ari, nggak repot kok. Lagian makan makanan Diluar terus kuga nggak baik kan" Ucap Dira ramah.
Ari hanya tersenyum dan pamit untuk keruangannya. Setiap jam makan siang adalah waktunya untuk bos juga istrinya quality time. Maka Ari tidak akan mengganggu.
"Istirahat dulu Kak"
Bian mendongak kearah istrinya dan tersenyum lembut sebagai sambutan atas kedatangan istri tercintanya itu. Menghentikan aktifitasnya sejenak. Mengahadap sang Pencipta kehidupan kemudian melahap makanan yang memang istrinya sendiri yang menyiapkannya.
Bercerita banyak hal dari kegiatan masing-masing sudah menjadi kebiasaan keduanya. Entahlah dari hal sekecil ini mungkin rasa cinta itu akan tumbuh dan akan terus tumbuh.
"Kak... tadi Kak Mila nelpon aku"
"Ngapain dia nelpon kamu?"
__ADS_1
"Dia ngajakin liburan"
"Liburan?"
"Iya"
"Kamu liburan sayang"
"Dira sih ikut apa kata Kak Bian saja. Kalau kak Bian sibuk ya tidak usah dipaksakan juga kan. Lagian nggak usah liburan juga Dira Udah bahagia."
"Nanti kakak tanya ke Ari dulu ya sayang untuk resekejul jadwal kakak ya"
Ucap Bian sambil membelai puncak kepala Dira. yang langsung membuat Dira tersenyum malu.
"Sayang kita sudah melakukannya berkali-kali kamu masih juga malu-malu gitu"
Cubitan menjadi jawaban akan pernyataan dari suaminya barusan. Dira sangat kesal dengan suaminya yang terlalu fulgar.
"awwwww...... sakit sayang"
"Biarin, siapa suruh nyebelin"
"Jangan marah donggggg sayang" Rayu Bian, tetapi belum juga membuat Dira mengurungkan niatnya untuk kesal pada Bian.
"Sayangggggg" Ucap Bian lembut tepat ditelinga Dira. Meski rasanya luluh lantah pertahanan Dira, namun ia tetap keras untuk tetap kesal.
"Sayang..... " Masih dengan nada yang sama tapi kali ini dengan nada melas.
Dira masih tak bergeming dan masih diam. Bian masih mencoba untuk membujuk istrinya agar tidak marah lagi. Meski Bian merasa tidak sepenuhnya salah. Karena yang ia bicarakan masih hal yang wajar. Namun bagi Dira itu masij terasa asing dan masih malu mendengar secara fulgar .
"Maafin ya.... "
Melihat suaminya tak pantang menyerah untuk meminta maaf. Akhirnya Dira memaafkan tetapi dengan syarat.
"Kita kerumah Bunda Dan nginap disana" Ucap Dira memberikan syarat.
"Kalau mau kerumah Bunda nggak usah pake drama ngambek juga kakak antar sayang... " Ucap Bian mencubit gemas hidung Dira.
__ADS_1
"Sakit Tau kak" Ucap dira memegangi hidungnya dan cemberut
"Kamu masih ada kelas?" Dari pada terus berdebat dengan istri yang nanti akan berujung dengan air mata. Lebih baik Bian mengalah dan memilih mengalihkan pembicaraanya.
Dira hanya menggeleng sebagai jawaban.
"Tunggu kakak meeting sebentar ya?"
"Beneran sebentar???? "
pria tampan dengan wajah tegas juga arogan melangkah meninggalkan ruangannya. Begitulah Bian, yang sengaja ia mengalihkannya agar Dira tidak terus mencecarnya.
.
.
.
Langit sore telah berada pada peraduannya. Membentang langit sore kota Yogyakarta dengn pesonanya. Jalanan kota memang tidak terlalu padat. Namun suara bising juga polusi cukup mengganggu konsentrasi Dira untuk terus melangkah.
Ingin ia keluar dan memaki sesuka hatinya. Namun Bian menahannya dan bahkan pria dingin juga sombong itu hanya tersenyum saja .
"Sabar sebentar lagi kita akan samapi" Ucap pria yang kini telah sah secara agama maupun negara menjadi suaminya.
.
.
.
bersambung...
like 👍
komentarnya 📝
Love (❤ biar pas aku up kamu dapat notifikasinya)
__ADS_1
Matur thankiyu.....