
Hari -hari yang dilalui Bian masih belum berubah. Masih sama seperti sebelumnya. Memiliki istri yang belum bisa ia sentuh seutuhnya. Bukan Bian tak menginginkannya. Namum Bian hanya tidak mau memaksakan kehendaknya. Bian masih bersabar hingga Dira sendiri yang mengatakan jika dirinya telah siap menjadi istri seutuhnya untuknya.
Seperti malam ini berada dalam satu ranjang dengam seorang wanita. Meski dia halal untuk disentuh namun Bian masih menghargai waktu yang diminta Dira. Berkali Bian mencoba mengalihkan pikirannya dari Dira. Namun nyatanya sangat sulit.
"Kak...." Suara Dira lirih memecah keheningan
"hemmmm" Jawab Bian masih terpejam
"Kakak sudah tidur? "
"Sudah"
Dira menoleh, memang benar jika suaminya memejamkan matanya. Tapi kenapa bisa menjawab.
"Kok kakak jawab? "
"Kamu nanya!! " Jawab Bian masih memejamkan matanya.
"Kakak...."
"Hemmmm"
"Katanya tidur tapi masih ham..... Hem..... aja dari tadi" Ucap Dira sedikit kesal.
Mendengar kalimat Dira barusan membuat Bian membuka matanya dan kini ia menghadap kearah Dira. Kini mereka sudah saling berhadapan. Baik Bian ataupun Dira hanya saling diam dan saling menatap.
Terlena dengan paras Ayu sang istri membuat Bian mengulas senyum. Mengangkat tanganya untuk membelai rambut Dira yang sedikit menutupi wajah Dira.
"Ada apa? Ada yang kamu pikirkan?" Tanya Bian lembut
Dira masih diam menikmati perlakuan Bian. Dengan perlakuan Bian yang seperti ini membuat Dira semakin nyaman. Dira merasa ada rasa yang berbeda yang kini hadir dalam hatinya. Ketika berada didekat Bian, Dira Selalu merasa aman dan nyaman. Luka yang selama ini selalu menjadi temannya seolah telah sembuh. Namun apa yang membuat Dira masih belum bisa mengakhiri semuanya.
"Jangan pikirkan apapun yang membebani pikiranmu?" Ucap Bian kembali
"Kak.... "
"Ada apa? Ada yang mengusik pikiranmu?"
"Apa kakak tidak ingin meminta hak kakak? "
Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Dira. meski bergetar Dira mengucapkannya. Namun cukup jelas terdengar ditelinga Bian. Bian masih diam, terkejut sudah pasti. Bingung apalagi, apa ini artinya Dira?????
Ingin bilang iya namun Bian masih melihat ada keraguan dimata Dira. Apa Dira sudah memutuskan sesuatu atau Dira merasa bertanggung jawab atas kewajibannya. Pasalnya Dira bukanlah gadis yang buta akan ilmu agama. Dira terlahir dari keluarga yang patuh akan Agama yang dianutnya. Bahkan Dira berusaha sebisa mungkin untuk menjaga dirinya dari lawan jenisnya. Apa karena Dira takut akan Dosa mengabaikan hak seorang suami.
Banyak hal yang kini ada dikepala Bian. Ingin langsung ditanyakan, namun Bian memilih untuk tetap setia dalam diamnya.
"Kakak.... "
"Sudah aku katakan padamu aku tidak ingin memaksamu. Katakan kapanpun jika kamu sudah siap. "
"Apa kamu mencintaiku Kak? "
Bian hanya tersenyum dan kembali membalai lembut kepala Dira. Jika ditanya soal cinta, Bian adalah orang yang sangat mencintai Dira. Sekalipun cintanya tidak akan pernah terbalaskan. Bian telah mematri hatinya untuk tetap mencintai Dira tanpa tapi (Kayak lagu aje ne.....🤭🤭🤭)
"Kak jawab.... "
"Kamu Kenapa bertanya seperti itu? "
"Aku mau tahu, lelaki yang menikahiku mencintai aku atau tidak?"
Bian kembali tersenyum kali ini Bian mencolek. hidung bangir milik Dira. Lucu... iya ini Pertanyaan yang sangat lucu bukan?
__ADS_1
Dira menayakan soal perasaan orang lain terhadap dirinya, Sedang dirinya tidak memiliki perasaan seperti yang dia pertanyakan.
"Kakak kenapa tidak menjawab" Ucap Dira kesal. Karena Bian tidak kunjung menjawab atas pertanyaannya.
"Jika jawaban kaka Iya......
Bagaimana? " Kembali Bian terseyum sambil. masih menatap wanita yang kini telah sah menjadi istrinya.
"Dira masih datang bulan sekarang..." Jawab Dira tak mau Bian nanti malah meminta haknya sekarang.
"Ha... ha... ha.... ha... " Suara tawa Bian memenuhi ruangan petak yang atmosfernya sudah semakin panas. Meski suhu ac menjadi 16 derajat.
"Kakak Kenapa malah ketawa... "
"Kamu lucu.... "
"Kakak"Ucap Dira kesal dan malah berbalik membelakangi Bian. Sedang Bian semakin tertawa dengan tingkah istrinya yang polos itu. Entah apa yang ada dipikirkan Bian saat ini. Sungguh Dira sangat kesal. Menurut Dira pertanyaan Dira tidak ada yang lucu. kenapa malah tertawa.
Tidak tahu apa?
Bagaimana Dira mengumpulkan keberaniannya untuk menanyakan hal yang meburut Dira sangat sensitif. Eh Bian malah menertawakannya.
Bian memeluk Dira dari belakang tercium wangi rambut Dira yang membuat otak serta pikiranya menginginkan hal yang lebih lagi.
"Kakak... Dira marah sama kakak ini... " Ucap Dira ingin melepaskan diri namun tenaga Bian lebih kuat untuk mengunci tubuh mungilnya dalam dekapannya.
"Kakak memang menginkan hak kakak sebagai suami. Tapi kakak tidak ingin memaksamu jika kamu memang belum siap. Kakak sudah berjanji padamu bukan?
Untuk menunggu sampai kamu benar -benar siap"
Mendengar ucapan Bian membuat Dira terdiam. Benar adanya yang dikatakan Bian. Bian begitu sabar untuknya. Bahkan Bian rela menunggu sampai dirinya benar-benar siap.
"Kak... "
Meski aku tahu hanya aku yang memilikinya. Tapi aku tidak akan menuntutmu untuk membalasnya. Aku hanya ingin kamu bahagia. Hanya itu tujuanku. Sekarang aku mau tanya apa kamu bahagia? "
"Maafkan Dira yang belum..... "
"Sudah aku katakan jika aku tidak menuntutmu apa-apa. aku bertanya apa kamu bahagia? "
Dira berbalik kemudian menatap dalam manik mata milik Bian. Rasa bersalah yang setiap kali mencuat kini semakin terlihat. Dira Selalu merasa bersalah dengan apa yang telah ia putuskan. Meminta Bian menikahinya Sedang dirinya masih belum bisa melupakan lukanya.
"Katakan jika kamu bahagia Ra" Ucap Bian lirih tanpa beralih dari pandangannya.
"Aku bahagia... sangat bahagia... bersamamu kak" Ucap Dira membuat Bian menghela nafasnya yang berat. Tidak perlu ungkapan cinta dari Dira yang ingin Bian dengar. Cukup Dira berkata " Aku bahagia" Sudah cukup untuk Bian.
"Terimakasih " Ucap Bian semakin mengeratkan pelukannya.
"Kak... "
"Iya.... "
"Bagaimana jika Dira benar-benar tidak bisa melupakan Bayu... "
"Maka jangan pernah melupakan Bayu" Jawab Bian lembut
"Bagaimana dengan kakak... "
"Jangan pikirkan soal bagaimana caramu membalas perasaanku. Tapi pikirkan bagaimana caranya kamu bahagia bersamaku"
"Kak.... "
__ADS_1
"Istirahatlah.... "
"Kak.... "
"Jangan bebani pikiranmu dengan hal-hal yang membuatmu terbebani"
"Sampai kapan pernikahan kita akan disembunyikan"
Bian hanya diam....
Bian juga tidak tahu sampai kapan dia bisa segera membuat wanita ular itu mengakui semunya. Segala cara telah Bian lakukan. Namun Wanita ular itu memang benar -benar licik. Meski Bian Akan selalu terlepas dari jebakan yang dibuat Siska. Namun Siska juga masih bisa selalu lolos dari ancaman Bian.
"Kak.... apa akan selamanya pernikahan ini disembunyikan?"
"Beri kakak waktu sedikit lagi... "
"Apa sesulit itu mengatasinya"
"Sedikit lagi... semua akan selesai"
"kakak tidak mau berbagi padaku?"
"Biarkan itu menjadi urusanku"
"Selalu saja begitu... lama-lama aku ngak kenal padamu kak" Ucap Dira sambil cemberut menatap Bian yang jaraknya hanya beberapa centi dari wajah Dira.
Melihat Dira mengerucutkan bibirnya membuat Bian harus kembali menahan dan menahan.
"Kalau masih mau selamat jangan seperti itu? "
"Memangnya kenapa? "
Bian hanya terbelalak mendengar jawaban Dira. Ini anak selalu saja menguji kesabaranku.
"Jangan lakukan yang seperti itu lagi... "
"Kenapa Memangnya... "
"Kamu masih datang bulan"
Dira langsung terdiam dan tampak mukanya memerah. Entahlah padahal Bian adalah suaminya. Namun hal sensitif seperti ini masih asing terasa jika Bian yang mengatakannya.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
like 👍
komentar📝
❤ (Biar pas aku up kamu dapat notifikasinya)
__ADS_1
Thankiyuuuuu
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣