
"Kami sudah Menikah" Satu kalimat yang keluar dari bibir Bian menyentak Mila dan juga Rangga. Kalimat singkat yang membuar keduanya terkejut sekaligus bahagia. Ini adalh keputusan yang rasanya tidak mungkin dengan mudah untuk Dira putuskan.
Rangga sangat mengenal sahabatnya yang bernama Dira. Bagaimana Dira bisa memutuskan hal sebesar ini. Sementara Rangga pun sangat tahu bagaimana Dira begitu mencintai Bayu. Benarkah ini bukan keputusan yang terlalu terburu-buru. Atau memang ini adalah cara Dira untuk melanjutkan hidupnya.
Apapun alasan dibalik pernikahan ini. Tak juga bisa dipungkiri jika Rangga pun turut merasa bahagia. Dengan pernikahan ini Rangga berharap sahabatnya ini dapat melanjutkan hidupnya. Dan juga kebahagiaan akan selalu bersamanya.
"Ngga aku minta maaf" Ucao Dira rendah dan menampakkan wajah sendunya.
Masih belum ada tanggapan baik dari Rangga ataupun Mila. Mereka masih diam dalam keterkejutan atas kabar yang baru saja diterima. Ini lebih mengejutkan ketimbang kabar dibalik kecelakaan Bayu.
Terlebih untuk Mila, bagaimana tidak? Pasalnya sedari pagi Mila bersama dengan Dira namun tak sedikitpun Dira membahas tentang pernikahannya. Malah ketika Mila Radi sengaja menjodohkan kedunya. Kedunya komoak bungkam dan hanya mesem manis.
"Aku yang meminta Dira untuk menyembunyikannya dulu. Aku ingin memberitahu ini secara langsung pada kalian" Akhirnya Bian memberikan alasannya kebapa ia bungkam perihal pernikahannya.
"Tapi aku sahabat dari istrimu. Aku dan Dira sudah Seperti saudara. Bahkan kami tumbuh besar bersama. Kenapa hal terpenting dalam hidupnya kamu sembunyikan. Apa kalian tidak menghargai aku? " Ucao Rangga masih belum menerima.
"Oke....
untuk hal ini aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud begitu. Aku sangat-sangat menghargaimu. Kamu juga sahabatku. Tapu ini terjadi begitu cepat. Bahkan kami baru menikah secara agama. Aku masih menyembunyikan statusnya dari beberapa pihak. Bahkan karyawan dikantorku juga belum ku beritahu soal ini. "
"Maksudnya?"
"Aku dari awal sudah curiga jika wanita itu terlibat dalam insiden kecelakaan Bayu. Aku dan Ari telah merencanakan sesuatu. Aku tidak mau Dira dalam bahaya. Itu sebabnya aku masih menyembunyikannya. Ini akan sangat berbahaya untuk Dira jika banyak pihal yang tahu jika Dira adalah istriku."
Mendengar penjelasan Bian mengenai kenapa pernikahannya harus disembunyikan dulu. Membuat kemarahan Rangga seolah menghilang. Meski sebenarnya Rangga tidak benar-benar marah.
"Jangan marah Ngga? " Ucap Dira yang memelas. Namun sikap Dira ini malah dijawab dengan senyuman dari keduanya baik Mila ataupun Rangga.
"Kalian"
"Kami tidak mungkin marah untuk kebahagiaanmu Ra. Kami malah justru bajagia dengan kabar ini. "
"Jadi maksudnya???? "
"Selamat atas pernikahan kalian. Kami daoakan semoga kalian bahagia selalu. Dan dengan jalan pernikahan ini adalah rencana Allah yang sesungguhnya untuk kebahagiaanmu Ra"
"Amin terimakasih Kak" Ucap Dira dan disambut pelukan hangat dari Kak Mila.
"Aku Selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Aku bahagia jika ini adalag jalan kebahagiaan untukmu. Bahagialah Dira kamu berhak bahagia. "
Dira hanya mengangguk dan merasakan haru atas doa tulus dari sahabatnya. Rangga memang begitu tulus dari dulu. Hingga kini disaat terpuruknya Dira pun Rangga adalah orang yang selalu ada untuk Dira.
"Jaga sahabatku ini dengan baik Mas. Aku percayakan dia padamu. " Ucap Rangga kembali namun kali ini ia mengucapkannya Pada Bian.
"Jangan khawatir aku akan menjaganya meski aku harus bertaruh nyawa."
__ADS_1
Setelah semua terungkap siapa dalang dibalik kecelakaan yang melibatkan lelaki yang sangat Dira cintai. Kini Bian dan Dira berada didalam mobil. Suasan hening banyak pikiran yang mengganggu. Baik Dira maupin Bian tidak ada yang mau memulai memecah keheningan.
Bian hanya memberikan kesempatan untuk Dira menenangkan diri. Bian tahu walau kejadiannya telah lama berlalu tapi masih terlihat jelas dalam ingatan Dira. Meski saat ini antara Bian dan Dira telah menjadi satu dalam ikatan pernikahan. Namun Dira masih belum menerima Bian didalam hatinya. Dira masih menyimpan Cinta yang besar untuk almarhum Bayu.
Sabar.....
Kata itulah yang selalu tersemat dalam benak Bian. Jika bukan sabar lalu dengan apalagi Bian Akan sanggup bertaruh nyawa agar Dira tetap baik-baik saja. Baginya melindungi Diea adalah hal utama yang harus dia lakukan.
Tidak adanya cinta untuk Bian dari Dira juga tak menyurutkan Bian untuk tetap melindungi dang menjaga Dira. Bagi Bian biarkan saat ini Bian yang memiliki cinta untuk Dira. Namun Bian juga berharap suatu hari nanti Dira akan bisa melihatnya sebagai seorang lelaki bukan lagi melihat sebagai seorang teman. Namun bisa melihat Bian sebagai seorang pria yang sangat mencintainya.
...πππππππ...
Dalam remang cahaya sore, Dira mengerjapkan matanya. Dira melihat sekeliling seperti tidak asing dengan ornamen yang ada dalam kamar ini. Ia menyusuri setiap sudut ruangan namun ia tak menemukan siapapun. Dan tak lama afa suara hendle pintu terbuka. Muncullah wanita paruh baya dengan senyum mengembang dan menyapanya.....
"Nona sudah bangu"
"Ibu siapa? "
"Panggil saya mbok Nah Nona. Saya asisten rumah tangga disini. "
"Mbok Nah saya dimana? "
"Dirumah Tuan Muda Nona"
"Tapi Non..... "
"Mbok.... "
"Saya panggil Mbak saja ya"
Dira pun terseyum dan mengangguk. Kemudian dia seperti mencari sesuatu. Namun ia tidak menemukannya. Kemudian Dira memandang kearah mbok Nah lagi.
"Mbak membutuhkan sesuatu?"
"Ini jam berapa mbok"
"Sudah hampir magrib mbak"
"Astafirullahalazim.... saya belum sholat Ashar mbok. Tapi tas saya mungkin tertinggal dimobil kak Bian. Bisakah saya meminjam mukena Mbok? "
Mbok Nah tampak tersenyum dan menggandeng tangan Dira untuk turun dari ranjang menuju sebuah ruang ganti. Mbok Nah membuka lemari baju yang telah tersusun rapi dan ada beberapa baju wanita juga ada mukena.
"Mbak Dira bisa pakai ini" Sambil Mbok Nah menunjuk susunan pakaian dan juga mukena disana.
"Ta.. Tapi Mbok ini punya siapa? " Tanya Dira dengan tatapan takjub
__ADS_1
Mbok Nah hanya tersenyum dan mengelus lengan Dira.
"Mbok.. "
"Ini awalnya masih menunggu pemiliknya dan sepertinya sekarang pemiliknya sudah datang" Mbok Nah menjelaskan dengan mata yang berbinar.
"Maksud Mbok"
"Tuan Bian sudah menyiapkan ini sejak 6 bulan yang lalu. Tuan Bian selalu bilang ke Mbok kalau nanti suatu hari pemiliknya akan datang"
Dira terperanjat mendengar penjelasan dari mbok Nah. Jadi Kak Bian sudah mempersiapkan ini semua sejak 6 bulan yang lalu. Sejak pertama kali kami bertemu lagi setalah kepergiannya kejakarta waktu itu.
"Mbok keluar dulu ya Mbak? " Mbok Nah tersenyum dan berlalu dari kamar Dira.
Dira masih tertegun dengan apa yang dilakukan Bian Untuknya. Bian selalu siaga menjaga Dira selama ini. Bahkan pernikahan ini Bian terima dengan lapang dada. Meski Bian tahu Dira belum sepenuhnya menerima dirinya.
Tak ingin larut dalam lamunan yang terlalu lama Dira bergegas kekamar mandi untuk membersihkan diri. kemudian ia akan melaksanakan kewajiban yang hampir ia tinggalkan karena urusan duniawi.
Setalah menunaikan Sholat Ashar yang terlambat Dira tak langsung bangkit ia mengaji sambil menunggu waktu magrib. Dan benar saja belum lama Dira mengaji sudah terdengar suara Azan di Masjid. Segera Dira menyudahi mengajinya dan mendengarkan lantunan azan Magrib seolah menenangkan hatinya.
.
.
.
.
.
Bersambunggg
Like π
komentarnyaπ
Lovenya β€
Ditunggu.....
Thankiyuuuuuu
πππππππππ
πππππππππππ
__ADS_1