
"Kenapa kakak memilih ku untuk yang diselamatkan?"
Pertanyaan Dira membuat Bian menatapnya begitu dalam. Mencari sesuatu yang bisa dijadikan alasan untuk menyangkal. Namun semua hanya sia-sia. Semua tergambar jelas memilihmu adalah harus dilakukan. Jika ditanya kenapa?
Haruskah mencintai itu perlu alasan?
"Kak.... " Suara Dira lirih membuyarkan Bagaimana Bian berasumsi didihatinya.
"Karena kamu adalah amanah dari Allah dan kedua orang tuamu untuk aku jaga"
"Bukan karena Bayu?"
"Bayu bukan alasan utama kenapa aku melindungimu. Apa kamu pikir aku menikahimu karena amanah dari Bayu?
Apa kamu pikir aku Menikahimu karena terpaksa?"
Dira masih diam, sepatah kata apa yang bisa ia jawab untuk setiap pertanyaan Bian. Tidak ada, Dira memilih diam dan masih menatap Bian dengan tatapan sendu.
"Kamu tahu......
Bahkan aku berharap diantara patah hatiku. Kamu tahu apa alasanku untuk pergi ke Jakarta satu tahun yang lalu?
Untuk membantu Bayu?
Tentu saja bukan hanya itu.
Lalu apa?
Kamu mau tahu?"
Dira hanya mengangguk, bahkan sebuah kata pun rasanya sudah berarti. Baiklah bukankah Dira sudah menyatakan akan memulainya dari awal. Apapun yang akan dikatakan Bian suaminya, Dira akan dengar dan terima.
"Membantu Bayu hanya alasan saja Ra. Aku sengaja pergi jauh dari darimu. Itu karena aku tidak sanggup untuk meratapi hatiku yang patah ketika aku menyaksikan wanita yang aku cintai menikah dengan sahabatku sendiri.
Kamu terlalu dalam masuk kehatiku Ra. Kamu membuatku jatuh cinta sejatuh-jatuhnya. Dan kamu juga yang mematahkan hatiku sepatah-sepatahnya dan itu aku rasakan secara bersamaan. Apa kamu tahu saat itu aku ingin merebutmu, aku ingin membawamu pergi dari kota ini, dan aku ingin Menikahimu secara paksa. Tapi aku sadar, aku mungkin bisa saja dengan mudah melakukan itu. Tapi buat apa jika kamu tidak bahagia. Itu sebabnya aku memilih pergi. Aku membiarkan mu bahagia meski bukan karena ku"
Dira semakin terisak, begitu dalam cinta seorang Bian. Bahkan Bian begitu tulus padanya. Melakukan banyak hal untuk Dira. Rela terluka demi untuk Dira bahagia. Lalu Bagaimana dengan Dira?
Bahkan untuk memberikan ruang dihatinya saja Dira baru akan memulainya.
Pantaskah????
Tapi Bukankah terlambat akan lebih baik dari pada tidak sama sekali.
"Aku sudah menjatuhkan hatiku kepadamu jauh sebelum aku mengenal mu.
Kamu tahu?
Bahkan aku sudah jatuh cinta padamu ketika sahabatku menyebutkan namamu, menceritakan tentang dirimu setiap hari. Bahkan aku dengan sengaja menunggu sahabatku itu hanya karena ingin mendengar cerita tentangmu. Dan kamu tahu bagaimana aku bersusah payah mengontrol hatiku ketika untuk pertama kalinya aku melihat senyum indah dari bibir Nadira Diandra Putri.
Kamu tahu?
Setelah itu apa?
Aku semakin rindu dan merindu tanpa penawar.
Aku terlalu takut untuk mengakuinya jika sebenarnya aku menunggumu?
Berharap kamu datang menemuiku?
__ADS_1
Tersenyum dan menyapaku?"
"Maaf..... "
Kata itulah yang akhirnya keluar dari bibir manis milik Dira. Bahkan indahnya kata mutiara yang akan dirangkai Dira tak akan lebih indah dari kata maaf ini. Dira tidak pernah peka terhadap perasaan Bian selama ini. Justru Dira sibuk dengan perasaannya terhadap Bayu. Bahkan Bayu dan dirinya sudah berada didunia yang berbeda. Tapi Dira malah sibuk dengan hatinya yang jelas salah. Harusnya Dira memprioritaskan Bian, suaminya.
"Kamu nggak salah sayang"
Lagi.... Lagi kata sayang yang membuat Dira tertunduk malu. Bukan karena tak suka tetapi lebih pada merasa bersalah. Bian sudah secinta itu padanya tapi Dira malah masih asyik dengan masalah hatinya.
"Kakak.... "
"Iya... "
"Jika Kakak..... " Kata Dira terjeda dan Bian memotongnya
"Sejak tanganku ini menjabat tangan ayahmu. Maka sejak saat itu kamu adalah tanggung jawabku. Dan aku tidak akan pernah menyesal menjatuhkan hatiku pada seorang wanita yang bernama Nadira Diandra Putri Binti Harun Abdullah"
"Aku juga tidak akan menyesal untuk menjadi istrimu?" Ucap Dira dan membuat Bian menariknya dalam pelukan.
Pelukan hangat yang sangat Dira rindukan. Disni, didada ini Dira menyandarkan segala keluh kesahnya. Bian yang selalu sabar selama ini menghadapi emosi Dira. Bian tidak pernah berharap akan balasan cinta dari Dira. Bian melakukannya dengan tulus.
"Ajari aku untuk mencintaimu kak"
Bian semakin mengeratkan pelukannya. Belajar mencintai memang tidak mudah. Cinta itu bagaikan rumus matematika selalu ada jalan ketika kita terus mencari cara dan tidak menyerah. Ilmu pasti namun penuh kesabaran dalam menyelesaikannya.
"Dira mau, ini yang terakhir kakak seperti ini. Dira nggak mau kakak sampai melukai diri kakak seperti ini hanya untuk melindungi Dira."
"Kamu bukan sekedar hanya untuk ku Ra. Kamu itu adalah amanah yang harus aku jaga."
"Terimakasih telah ada disamping Dira selama ini. Terima kasih telah hadir disaat yang tepat."
"Karena kita memang orang yang tepat untuk bersama disaat yang tepat."
"Jangan nangis lagi, ini air mata terakhir untuk menangisi kesedihan. Setelah hari ini berlalu mata ini hanya boleh menangis karena bahagia."
Dira mengangguk dan mengeratkan kembali dekapannya. Menikamati aroma tubuh suaminya yang jelas sangat iya rindukan. Lega rasanya semuanya sudah terungkap. Sudah saling jujur dengan perasaan masing-masing. Setalah menyatakan dan saling junur dengan perasaan masing-masing membuat hati ini semakin lega. Walau ada hal yang membuat Dira masih kepikiran. Apa itu?
Karena Salwa yang tidak tahu berada dimana. Namun Bian telah menyakinkan Dira dan berjanji untuk menemukan gadis kecil yang sangat Dira sayangi.
Tepat saat suara azan subuh berkumandang, Bian mengakhiri ceritanya. Ya satu malam ini meraka habiskan untuk saling jujur dan berjanji untuk tidak menutupi apapun. Tidak ada aktifitas seperti pengantin baru lainnya. Selain kondisi Bian yang tidak memungkinkan untuk melakukan aktifitas itu ("). Disebabkan juga karena Dira juga sepertinya belum siap.
"Sholat subuh dulu, setelah itu kita istirahat"
Dira melepaskan pelukannya. Mereka mengambil Wudhu bergantian dan melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim.
Dira pernah berdoa jika ia diberikan jodoh nantinya. Dira ingin memiliki jodoh yang seperti ayahnya. Seorang imam yang baik dan menjadi panutan untuk keluarganya nanti.
Dan alhamdulillah Allah mengabulkan doanya. Benar kata Ayah, Jika kita menginginkan jodoh yang baik. Maka perbaiki diri kita dulu. Selama ini Dira selalu berusaha memantaskan diri dan selalu mendekatkan diri pada sang pemilik hati dan juga dirinya.
Setalah menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim. Meraka lanjut untuk istirahat. Selain memang mereka belum istirahat, selama tiga hari ini mereka memang tidak memiliki istirahat yang cukup baik.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung
Jangan lupa
Likeπ
komentarπ
β€ (Biar pas aku up kamu dapat notifikasinya)
.
.
.
Gimana sudah terjawabkan penasarannya kemana Bian sebelum hari resepsi pernikahannya.
gimana yang ditim #KawalSampaiCinta
Sudah diungkapkan nehhhhhh
π§ : Thor setelah ini masih ada bawangnya ngak?
π§: Di Sesion ini bawangnya cuma dikit Say.....
π§: Dikit kata mu Thor?
π§: Ho oh.....
π§:π‘π‘π‘π‘π‘
π§:Salah mulu deh gueh
π§:Lu emang selalu salah Thor...
π§: Iya Setelah ini tinggal keuwuan Bian Dira deh....
π§: Beneran ya thor... tu manusia overcook udah aman kan di RSJ?
π§:..............
π§: Kan.....kan. ....Kan... awas aja kalau dia bikin rusuh lagi....
π§: Lho kok ngancem author?
π§: Abisnya lu suka bikin gueh naik darah thor?"
π§: Jangan naik-naik ntar jatuh..... π€£π€£π€£π€£
π§:Authoooooooorrrrrrrrrrrr
.
.
.
__ADS_1
Thankiyuuuuuu
πππππππ