
Sesuai janji Bian pada mamanya, Bian mengajak Dira untuk berkunjung. Disepanjang perjalanan menuju rumah utama Dira hanya diam memendang kearah jalan. Melihat Dira yang hanya diam membuat Bian harus bertanya.
"Kamu kenapa Ra? "
"Hanya kepikiran Ical Kak"
"Ical? " Jawab Bian sambil mengerutkan keningnya.
Dira hanya mengangguk lemas. Melihat ekspresi Dira yang seperti terlihat sedih membuat Bian kembali bertanya -tanya. Apa yang membuat istrinya ini terlihat sedih karena Ical.
"Kamu kenapa sedih karena Ical. Apa yang kamu sedihkan?
Bukannya Ical sudah lulus ujian?
Dia juga sudah punya pekerjaan?
Lalu apa yang membuat kamu sedih? "
"Bukan soal itu"
"Lalu?"
"Soal hati Ical."
"Kenapa dengan hatinya?"
"Wanita yang Ical cintai meninggalkannya dan akan menikah dengan orang lain" Ucap Dira sendu.
Mendengar ucapan istrinya bukannya iba Bian justru tertawa meski rendah.
"Kok kakak malah tertawa sih?
Jahat bangetttt" Ucap Dira ketus.
"Ya habisnya kamu lucu Ra?"
"Dimana lucunya sih?
Kakak pikir masalah hati itu lucu?"
"Bukan begitu maksudnya" Ucap Bian merasa bersalah karena sudah membuat Dira salah paham.
"Terus maksud kakak...
Karena kami memiliki permasalahan yang sama soal percintaan gitu maksudnya?
Iya?"
"Ya Allah.... Ra...
Bukan begitu.... "
Dira hanya diam masih kesal. Tidak ada tanggapan dari Dira. Dira merasa Bian meremehkan permasalahan hatinya. Dira juga berfikir kenapa mereka bertiga sama-sama memiliki permasalahan yang sama soal hati. Sama-sama ditinggal pas lagi sayang-sayange. (Kan udah kayak lagu ajaπππππ)
"Begini lho Dira, dengerin Kakak ya?"
Tidak ada jawaban dari Dira. Namun dari sorot matanya meminta Bian untuk menjelaskan apa maksud dari kata lucu yang Bian katakan.
"Ra...
Ical itu laki-laki, hatinya harus kuat meski sedang terluka. Tidak ada yang lucu jika berhubungan dengan hati. Tapi yang lucu itu kamu Ra?"
"Kok Dira yang lucu" Pernyataan Bian membuat Dira kembali bingung kenapa dirinya dianggap lucu.
"Iya bagaimana tidak lucu, orang yang lagi patah hati mengasihani orang yang patah hati." Bian tersenyum sarkasme.
__ADS_1
Dira hanya melirik kearah suaminya yang seakan mengejeknya.
"Siapa yang patah hati?"
"Kamulah"
"Siapa bilang?"
"Akulah"
"sok tahu....."
"Bukan sok tahu, tapi memang tahu kali! "
"Oh ya.... "
"Bukannya kamu sendiri yang yang minta waktu untuk..... " Belum selsai Bian berkata sudah dipotong oleh Dira
"Iya ngak usah diulang-ulang" Ucap Dira ketus.
Melihat Dira yang memasang muka kesal membuat Bian semakin gemas. Ya Allah dengan cara apa hamba bisa memiliki hatinya. Ungkap Bian dalam hati. Namun sesaat kemudian Bian tersadar...
"Kamu apa-apaan Bi?
Bukannya kamu sendiri yang bilang jika tidak perlu balasan dari Dira. Kenapa sekarang kamu seperti berharap gini?" Ucap Bian didalm hati.
...πππππππ...
Sampai dirumah utama mereka berdua disambut oleh mama Riana. Dan yang membuat mereka terkejut ternyata mama Riana telah menyiapkan kejutan yang Diluar dugaan. Apa itu???????
Duar..... Duar..... Duar....
"Ma harusnya tidak seperti ini. Setidaknya mama bilang dulu sama Bian" Ucap Bian protes pada mamanya yang ternyata akan mempersiapkan syukuran pernikahan Bian dan juga Dira.
"Salah siapa kamu tidak pernah angkat telpon mama"
"Kamu itu pewaris Caraka Group Bi."
"Justru itu ma...
Keselamatan Dira taruhannya ma"
"Itu karena kamu terlalu lamban Bi?"
Disebut dirinya lamban Bian hanya diam menatap mamanya dengan tatapan yang penuh arti. Bukan dirinya yang lamban hanya saja Bian ingin bercanda dengan memberikan Siska syok terapi. Agar lain waktu Siska akan berfikir berkali-kali untuk memiliki urusan dengan Keluarga Caraka. Selama ini memang Bian terlihat gagal. Namun itu tidak sepenuhnya gagal itu hanya sebuah trik untuk menghancurkan Siska perlahan.
Melihat perdebatan antara suami dab juga mertuanya membuat Dira angkat bicara.
"Sebenarnya Dira juga tidak maslah Ma jika tidak ada pesta pernikahan. Dira juga masih....." belum selesai Dira berkata mama Riana sudah memotong
"Sayang... maafkan mama ya?
Mama bukan tidak menghargai kamu. Tapi mama juga ingin memperkenalkan kamu pada semua kolega-kolega Caraka Group. Mama juga tahu kamu trauma dengan pesta pernikahan"
Ungkap Mama Riana dengan nada sendu. Bukan mama Riana ingin egois tapi Mama Riana juga menginginkan pesta pernikahan untuk putra Mahkotanya.
"Ma...
Maafkan Dira, Dira hanya merasa belum siap. Dira takut..... "
"Apa yang kamu takutkan tidak akan pernah terjadi sayang. "
"Tapi Dira.... "
Mama Riana menggenggam tangan Dira dan tersenyum. Genggaman Mama Riana sebagai bentuk kekuatan yang diberikan olehnya. Mama Riana meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. Mama Riana sangat mengerti apa yang dirasakan oleh menantu kesayangannya ini. Bukan nama Riana tidak tahu apa yang telah terjadi. Bahkan Mama Riana sangat paham dan menjadi saksi bagaimana hancurnya seorang Nadira akibat batalnya pernikahan yang sudah didepan matanya.
__ADS_1
"Nak....
Selama ini Dira sudah membuktikan jika Dira adalah wanita yang kuat. Terbukti hingga detik ini Dira bisa melewati banyak hal. Relakan semuanya maka mama yakin semua akan baik-baik saja."
"Dira akan coba ma... " Ucap Dira masih sendu namun ada sedikit keyakinan yang ia bangun untuk mulai mencoba merelakan semuanya.
"Apa itu artinya.... " Ucap mama berbinar
Dira hanya mengangguk seraya meyakinkan mama Riana. Mungkin sudah saatnya Dira benar-benar menata hidupnya. Selama ini Mama Riana dan juga Bian sudah bersabar untuk menunggunya. Lalu apa yang sudah Dira lakukan untuk mereka?
Mungkin dimulai dari pesta pernikahan ini Dira akan mencoba menerima Bian. Bukan hanya keberadaannya namun juga statusnya. Menyerahkan seluruh hidupnya untuk mengabdikan dirinya untuk suaminya.
"Kami yakin Ra.... " Tanya Bian ragu karena Bian juga sudah berjanji untuk tidak memaksa.
"Bantu Dira kak"
Bian tersenyum dan menarik Dira dalam pelukannya. Tidak butuh waktu yang lama untuk Dira membalas pelukan Bian. Tenang dan juga rasa nyaman kini bersemayam jelas. Ya.... rasa itu kini semakin jelas terasa.
"Bantuan yang seperti apa yang kamu inginkan Ra?" Ucap Bian masih mendekap Dira meski disana ada mama Riana seolah terabaikan.
"Bantu Dira membalas rasa yang kakak miliki"
Ucap Dira masih terisak
"Jangan pernah memaksakan Ra...
Aku memberi tanpa mengharap kamu membalasnya. Biarkan aku yang memilikinya dan kamu cukup bahagia sudah itu saja"
Ucapan Bian semakin membuat rasa bersalah itu semakin besar. Bian begitu tulus memberikan untuknya. Lalu bagaimana dengan Dira. Dia bahkan egois dan sangat egois.
"Kalian masih bisa memperbaikinya belum terlambat" Ucap Mama Riana yang cukup menyentak Dira.
Kenapa bisa kelepasan sih?
Kenapa Bisa lupa sih?
Begitulah kira-kira kata-kata yang memenuhi pikirannya. Dan membuat Dira menunduk dan wajahnya sudah memerah. Bagaiaman dirinya bisa terhanyut dalam dekapan Bian. sementara Mama Riana ada diantara mereka.
"Mama juga pernah muda sayang"
Senyum mama Riana semakin membuat wajah Dira bak kepiting rebus. Ingin tertawa namun mama Riana bisa menahannya. Jika dilihat dari ekspresi wajah Dira mama bisa simpulkan. Bahwa bukan tak ada cinta dihati Dira untuk Bian namun hanya saja belum ada keberanian dari Dira untuk mengakuinya.
Perlahan Mama yakin kalian akan menjadi pasangan yang penuh cinta. Senyum Mama Riana yang berbinar membuat kecantikan berkali-kali lipat. Mama janji Bi, akan membantu kamu untuk mendapatkan hati Dira. Ungkap Mama Riana didalam hatinya.
.
.
.
.
.
Bersambung........
Jangan lupa
likeπ
komentarπ
β€ (Biar pas aku up kamu dapat notifikasi)
Thankiyuuuuuuu
__ADS_1
πππππππ