
Tawa Ari tak kunjung selesai ketika melihat bagaimana ekspresi kesal bosnya. Bian yang dibuat kesal dengan istrinya membuat Ari tertawa terpingkal-pingkal. Bagaimana tidak? Bian sudah berencana akan mencabut izin operasional hotel tempatnya menginap. Bahkan Bian juga sudah mengahajar orang-orang yang menjaga Dira. Ternyata istrinya yang membuatnya hilang kendali, sedang asik bercanda dan menikmati dua mangkuk bakso bersama pria lain. Hampir hilang kendali juga disaat Bian melihat Dira bersama pria lain. Namun ketika dia tahu siapa pria itu, membuatnya harus mengurungkan niatnya.
"Lain kali jangan gitu lagi!" ucap Bian pada Dira yang juga sedang menahan tawa.
"Maaf" ucap Dira dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin.
Melihat eksprsei Dira malah membuat hati Bian mengahangat. Tidak bisa ia pungkiri bahwa Dira memang wanita terbaik yang menempati ruang hatinya. Entah apa yang membuatnya begitu jatuh cinta pada wanita yang telah resmi menyandang gelar nyonya Fabian satu tahun yang lalu. Terkadang Bian masih belum mempercayainya jika impiannya untuk menjadikan Dira bagian dari hidupnya ternyata nyata adanya. Ia pikir disaat ia berusaha merelakan waktu itu, ia benar-benar telah kehilangan impiannya. Tapi tidak. Allah ternyata merencanakan diluar dugaannya. Bukan ingin terlihat jahat. Tapi Bian juga percaya mereka berjodoh itu sebabnya mereka bertemu kembali.
Ketika Bian mendapatkan apa yang ia impikan, disaat yang bersamaan juga ia harus kehilangan satu sahabat terbaiknya. Bayu pergi. Meninggalkan banyak hal yang membuat Bian harus bertahan. Termasuk menjaga cinta yang begitu indah untuk Bayu. Bian mungkin terlihat memanfaatkan kesempatan. Bian juga sudah berusaha untuk menghindar dan pergi. Tapi pada kenyataannya takdir Allah kembali mempertemukan Bian dan Dira.
Tepat pukul 00:00 Wib pekerjaan Bian selesai. Malam ini juga ia akan kembali ke Yogya. Melihat sang istri yang sudah terlelap membuatnya urung untuk membangunkan. Ia pandangi istri cantiknya dengan nafas yang beraturan menandakan betapa nyenyak tidurnya. Ia usap lembut puncak kepala Dira kemudian pindah ke perut Dira yang masih rata. Ucapan Ari siang kemaren kembali berputar dikepalanya. Benarkah?
Kemudian Bian beralih mengusap perut Dira. Banyak harapan yang ia ucapkan. Doa juga tak lupa ia lantunkan. Senyumnya mengembang manakala membayangkan betapa bahagianya jika suatu hari nanti ada Bian junior yang melengkapi keluarga kecilnya.
"Pak apa.... " kalimat Ari terpotong ketika melihat Bian sedang menatap dalam istrinya yang sedang tertidur pulas.
Tak ingin mengganggu waktu bosnya. Akhirnya Ari mengirimkan sebuah pesan kepada ponsel Bian.
Ari:
"Saya akan menunggu bapak besok pagi jam 07:00 WIB"
Bian hanya membacanya kemudian tersenyum. Lalu kembali fokus pada istrinya yang sudah tertidur pulas di sofa ruangan kerjanya. Harusnya malam ini ia sudah harus pulang lagi ke Yogya karena besok adalah jadwalnya untuk liburan. Tapi sepertinya sang istri sudah kelelahan karena seharian ini banyak kegiatan yang dilakukan.
...๐๐๐๐๐...
Azan subuh telah berkumandang indah disetiap masjid kota Semarang. Sedang dua insan yang sedang meringkungkuk di bawah selimut tebal masih dengan setia saling berbagi kehangantan. Keduanya memang sedang terbuai dalam ikatan indah yang meraka sedang rasakan. Namun suara indah yang memanggil setiap umat muslim untuk menunaikan kewajibannya, membuat keduanya terbangun dengan senyum yang mengembang. Sholat berjamaah sudah menjadi rutinitas keduanya. Bersyukur untuk setiap apa yang telah di capai. Berusaha untuk menjadi insan yang lebih baik lagi adalah hal yang wajib untuk dilkakukan.
__ADS_1
"Kak... "
"Iya.... "
"Mungkin ini sudah kesekian kali aku mengucapkannya. Tapi entah mengapa rasanya tak akan cukup sekali saja. Terimakasihku ini mungkin hanya sebuah kata yang sudah sering kakak dengar. Tapi hanya itu yang bisa Dira beri untuk kakak. Terimakasih telah hadir dihidup Dira"
Bian tersenyum dan menarik sang istri dalam dekapannya. Bukan sebuah kalimat jawaban yang ia berikan. Hanya sebuah pelukan menandakan betapa rasa itu sungguh lebih besar dari ucapan. Bian selama ini memberi tanpa meminta. Semua yang ia lakukan benar -benar tulus dari hatinya. Baginya meski Dira tidak mengucapkannya ia yakin Dira pasti menerimanya.
"Allah telah mengatur hal ini sayang. Kita jalani semuanya apa adanya. Sama -sama mencoba untuk saling menerima. oke?"
Dira mengangguk dan semakin mengeratkan pelukannya. Ketika ia sudah pasrah dengan keadaan yang seolah tak berpihak kepadanya. Ternyata Allah kirimkan malaikat tak bersayap dalam bentuk seperti suaminya. Ia pikir akan sangat sulit untuk memulainya, tapi ternyata dirinya bisa dan rasa takutnya begiti besar akan kehilangan. Memang tidak mudah juga, tapi ternyata egonya telah mengalahkan semunnya. Rasa takut akan kehilangan ternyata terselip rasa yang sulit untuk tersirat. Apa itu cinta?
Cinta yang dimiliki keduanya bukanlah cinta yang bisa secara gamblang untuk diungkap. Saling gansi dan menutupi bahwa cinta itu memang nyata adanya. Namun berkat rasa takut kehilangan akhirnya cinta terungkap pada keduanya.
"Maaf, jika selama ini apa yang Dira berikan belum maksimal"
"Kak.... "
"Iya...."
"Jangan pernah berfikir untuk meninggalkanku. Aku pernah ditinggal dan jika itu terjadi lagi, aku tidak yakin kali ini bisa"
Bian kembali mengusap kepala Dira yang masih nyaman berada dalam dekapannya. Tidak akan mungkin untuk Bian meninggalkan Dira dengan alasan apapun. Bahkan jika bisa ia meminta, ia juga ingin ketika menutup mata untuk selamanya juga bersama dengan Dira. Namun semua kembali pada kehendak yang maha kuasa.
"Kak"
"Iya"
__ADS_1
"Liburan kita?" ucap Dira dengan polosnya yang membuat Bian tersenyum.
"Kita reskejul ulang ya?"
Dira hanya tersenyum dengan janji Bian. Kenapa subuh ini Dira begitu manja dan manis. Apapun yang diucapkan suaminya seakan menghopnotisnya. Bahkan tentang rencana liburan yang kembali tentunda pun juga tak mengusiknya. Ia masih dengan senyum dan mood yang sama untuk mengiyakan apapun yang dikatakan suaminya.
.
.
.
.
.
Bersambung
Jangan lupa
Like๐
komentarโ๏ธ
love โค (Biar pas aku up kamu dapat notifikasinya)
Makasih โคโคโค
__ADS_1