
sepanjang perjalanan pulang, maira tidak bicara, ia tetap diam saat Alfa bertanya, maira sebenarnya ingin sekali pulang bersama kian namun tak mungkin karena hal itu akan membuat Alfa curiga, selama makan malam keduanya hanya saling melirik tanpa bicara.
"kamu bete gitu sih, cuma karena enggak nemuin pizza!"
ujar Alfa memperhatikan maira yang tak bergeming, kedua nya sudah sampai di depan rumah namun Alfa masih mengunci pintu mobil tersebut.
"ya aku mau pizza, kenapa sih mesti makan malam di situ, kalau di mall kan banyak pilihan!"
jawab maira menatap ke depan.
"ya sudah lain kali aku akan mengajak mu makan malam di mall!"
ujar Alfa lalu membuka pintu mobil dan membiarkan maira keluar dari mobilnya, terdengar ponsel nya berdering terlihat kian melakukan panggilan telepon, gegas maira masuk ke dalam rumah dan naik ke atas melewati Abian dan Zahira yang tengah duduk di ruang keluarga.
Abian mengernyitkan dahi nya saat melihat maira dengan tergesa naik ke kamar nya, terlihat mobil Alfa keluar dari halaman rumah.
"coba kamu lihat maira de, kenapa sih dia?"
titah Abian dan langsung di anggukan oleh Zahira.
Zahira naik ke atas tangga melangkah menuju kamar maira.
"Mai...kamu baik-baik saja?"
tanya Zahira di luar Karena pintu terkunci.
Untunglah maira selesai menerima telepon dari kian, cepat ia membuka pintu.
"kok buru buru kenapa!?"
tanya Zahira saat maira membuka pintu.
"kebelet mah...!"
jawab maira berbohong, tak mungkin ia menerima telepon di hadapan Abian dan Zahira.
"mama kira kenapa? gimana makan malam nya?"
tanya Zahira mengelus pipi maira yang merona, bukan karena Alfa tapi kian yang membuat nya senang karena besok ia akan mengajak maira ke suatu tempat dimana keduanya akan membuat pizza.
"enggak seru, enggak ada pizza mah!"
jawab maira mengerucut kan bibir nya.
"kamu mau pizza? ayo ke bawah!"
ajak Zahira pada maira yang langsung mengikuti, tadi sore Yusuf pulang membawa pizza untuk kakak nya itu.
"kalau di restoran mahal kayak gitu sebenarnya ada kalau kita pesan dari awal!"
ujar Abian yang memperhatikan maira makan dengan lahap.
"ya mau nya seperti itu tapi Alfa tuh enggak peka, boleh enggak sih maira membatalkan pertunangan maira dengan Alfa?"
ujar maira enteng membuat Abian tertegun.
"masa kamu mau batalin pertunangan hanya karena pizza?!"
ujar Abian menggelengkan kepalanya.
bukan karena pizza tapi kian, kenapa pria itu hadir setelah Alfa, dan lagi status nya adalah suami orang, awal pertemuan nya memang sudah membuat maira kagum pada kian, apalagi dengan kedekatan mereka saat ini.
__ADS_1
"selesai kan makan nya, kita ke kamar duluan ya!"
maira hanya mengangguk.
**
esok hari nya....
Erlin dan diva memperhatikan yusup yang mengantar maira ke kampus menggunakan motor sport nya.
"Yusuf tuh sesuai kisah nya.... cakep banget"
ujar Erlin saat maira sampai di hadapan mereka.
"kamu suka?"
tanya maira memperhatikan raut wajah Erlin.
"suka, aslinya tuh cakep banget! Tapi masih putih abu-abu!"
jawab Erlin terkekeh lalu masuk ke dalam gedung.
"brondong manis, kalau Yusuf mau sih enggak apa-apa, aku juga mau banget!"
sahut diva terkekeh kecil.
"HM..dasar, emang enggak bisa lihat yang kinclong!"
Jawab maira membuat keduanya terkekeh.
Yusuf memang tampan, lihat lah bagaimana Abian.
pernah beberapa waktu seorang perempuan datang ke rumah mengaku kalau dirinya teman Akbar Yusuf, namun saat di tanya Yusuf hanya mengedikan bahu nya, pantas sih kalau jadi idola sekolah, selain prestasi nya juga ketampanan hampir mirip opa Korea yang ganteng abis.
tanya Erlin duduk di samping maira.
"hm, langsung pulang atau ke galery. masih ada lukisan yang belum selesai!"
jawab maira sedikit terbata karena sebenarnya siang ini kian mengajak nya pergi ke suatu tempat untuk membuat pizza.
"kenapa?"
tanya maira menoleh ke arah Erlin.
"enggak kita mau Nonton, kirain mau ikut!"
jawab Erlin dan di anggukan oleh diva.
"lain kali aja deh... lagi males nonton juga!"
balas maira lalu fokus ke dosen yang mengajar.
siang...
kian menghubungi maira dan meminta nya menuggu di halte karena tak ingin Erlin atau diva melihat nya.
"aku duluan ya, cari taksi di depan!"
ujar maira lalu pergi meninggalkan kedua sahabatnya yang tengah menunggu pacar masing masing.
terlihat Alfa melakukan panggilan telepon, awalnya tidak ingin menerima namun ternyata beberapa kali Alfa menghubungi nya.
__ADS_1
"ada apa?"
jawab maira sambil menghampiri mobil kian yang sudah menunggu, Kian memperhatikan maira yang tengah berbicara.
"sudah pulang belum, aku kirim kamu Pizza ke rumah!"
ujar Alfa di telpon, maira melirik kian yang fokus menyetir sesekali menyentuh tangan nya.
"ya terimakasih..!"
"hanya itu?"
tanya Alfa senyum, ia berusaha menerima maira yang terkesan manja, sang ayah berharap Alfa segera mencari tanggal untuk pernikahan mereka.
"apa lagi?"
tanya maira menoleh ke arah kian yang sesekali melirik nya.
"apa kamu tidak mau menawarkan ku untuk makan pizza bersama!"
"tidak, aku sedang di luar. aku ada urusan nanti kamu telpon lagi!"
jawab maira lalu mengakhiri percakapan karena kian terlihat bete.
"mau apa sih dia?"
tanya kian yang tidak menutupi kecemburuan nya.
"dia kirim pizza ke rumah, dan mau nya aku ngajak makan dia juga! kita sekarang mau kemana?"
tanya maira melihat jalan menuju puncak.
"ke villa ku yang di Bogor, kita bikin pizza di sana ya!"
"emang udah beli bahan bahan Nya?"
tanya maira dan di anggukan oleh kian, sebelumnya kian mampir ke supermarket untuk membeli semua bahan makanan yang mereka perlukan.
"laper, beli apa di supermarket?"
tanya maira melihat ke arah belakang dimana beberapa plastik belanja berada.
"ada sosis siap makan Mai!"
jawab kian, terlihat maira mulai mencari cari keberadaan sosis tersebut.
"emang sengaja beli?"
kian mengangguk, ia tahu kalau maira Sangat menyukai sosis, saat makan pizza saja ia lebih memilih Pizza yang banyak sosis nya.
kian tersenyum saat melihat maira menikmati makanan itu dengan lahap.
Tak salah ia membeli beberapa untuk gadis nya itu, meski rasa ini keliru namun kian merasa berbeda saat bersama maira, seperti bersama seseorang yang jauh dari nya.
"aku pikir kamu bukan calon nyonya Alfa?"
tanya kian membuat maira menoleh.
"masih calon, dari awal aku tidak menginginkan perjodohan ini karena Alfa juga sebenarnya sudah memiliki seorang yang spesial, tapi aku tidak bisa menolak keinginan papah, namun untuk kedepannya aku berharap seseorang bisa merubah keadaan itu..."
ujar maira tersenyum memejamkan mata nya saat kian mengecup pipi nya singkat.
__ADS_1
bersambung.