
Beberapa hari berlalu, Abian dan Zahira sudah kembali ke Indonesia, sementara Maira melanjutkan studinya di Italia di universitas yang sama dengan Nico.
Hari Hari berlalu semakin membuat Maira pilu, Dua bulan berlalu dari hari dimana ia dan kian terakhir kali berkomunikasi, Maira masih tetap mencari kekasih nya itu.
Pernah suatu waktu Maira Menelpon Deni dan menanyakan tentang keberadaan kian, Aneh nya Deni tidak mengetahui kian menghilang karena semenjak pergi mereka memang putus Komunikasi, Deni juga sempat heran kenapa Kian tak pernah menghubungi nya selama di Italia sementara banyak costumer yang datang untuk memesan lukisan.
"Aku tidak tahu kalau kian menghilang, aku akan mencari informasi tentang kian pada keluarga nya, mungkin mereka tahu.
setelah aku mendapatkan informasi nya, aku akan segera menghubungi mu Mai.."
ujar Deni sedikit memberikan secercah harapan, dengan itu Maira bisa lebih semangat untuk menemukan keberadaan kekasih nya.
Maira menoleh ke arah ponsel nya yang berdering, terlihat Alfa menghubungi nya.
setelah hari itu mereka memang tidak berkomunikasi, Alfa menahan diri untuk tidak menghubungi maira, menyibukkan diri dengan pekerjaan agar Bisa melupakan perempuan itu namun semakin ia mencoba justru perasaan itu semakin kuat terasa.
"assalamualaikum, halo Mai..."
"walaikumsalam..., bang..."
kedua nya sama sama diam sejenak, hanya mendengar suara nya saja Alfa begitu merasa lega, selama ini ia selalu cemas dengan keadaan maira, apalagi setelah kejadian itu.
Alfa yakin kalau ada yang mengincar Maira, meski Abian bilang maira dalam penjagaan ketat namun tetap saja Ia khawatir terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.
"gimana kabar mu, Mai...?"
tanya Alfa sembari menatap lukisan dirinya dan maira, dan itu adalah karya dari seseorang yang merenggut cinta tunangan nya.
Alfa tidak pernah menyangka jika di belakang maira dan kian berselingkuh, apa karena awal kedekatan mereka tak berjalan mulus hingga dengan mudah maira berpaling bahkan pergi sebelum ia meminta untuk tinggal.
"baik bang, Mai harap luka Itu sudah sembuh..."
ujar Maira, ia sendiri tidak akan melupakan kejadian itu.
sebuah pengorbanan akan bukti cinta yang begitu besar dari Alfa, kalau bisa maira juga ingin membalas rasa itu namun hati nya telah tertawan lebih dulu oleh pria lain.
"sudah Mai, Aku selalu cemas dengan keadaan kamu....!"
"Terima kasih bang, Maira baik baik saja !"
keduanya berbincang hal lain yang tidak berhubungan dengan hati dan harapan.
Orang tua Alfa sendiri tidak mengetahui perihal luka tembakan itu, sang Mama justru senang karena Alfa pulang Tanpa Maira, ia tidak suka jika Alfa menjalin kedekatan dengan Maira, meskipun gosip itu sudah reda namun tetap saja itu hal yang memalukan bagi sang Mama memiliki menantu yang memiliki skandal dengan pria bersuami.
Luna juga menjalani kehidupan nya dengan tenang karena Shelomita menjamin kebutuhan nya hingga bayi itu melahirkan, tanpa tahu kalau bayi itu memang bukan cucunya namun dengan mudah Luna mengelabui Shelomita.
Kini ia bisa bebas bersama Syam, meski sembunyi sembunyi. ia tetap bercerai dengan kian meski pun ia tengah hamil.
__ADS_1
karena kian tetap pada pendiriannya dan mengatakan bahwa bayi itu bukan anak nya.
***
Tiga bulan berlalu.....
Malam itu Kian membuka mata nya, ruangan tampak redup karena hanya beberapa lampu yang di nyalakan.
Mata nya menyapu ke seluruh ruangan, tubuhnya terasa nyeri, kepala nya juga terasa begitu pusing hingga tak kuat membuka mata.
Kian terdiam sendiri, Mengingat apa yang sudah terjadi.
kecelakaan itu membawanya jauh dari seseorang, kian bahkan tidak tahu keberadaan nya dimana.
Kian kembali memejamkan matanya saat seseorang masuk ke dalam ruangan, Kian mendengar suara seseorang yang begitu ia kenal.
Namun tak berselang lama perempuan itu kembali keluar meninggalkan ruangan, kian tahu itu adalah Mama nya.
Pagi menjelang Kian kembali membuka mata, kian tertegun saat melihat Shira berada di hadapan nya.
"Alhamdulillah, bang Ian udah sadar !"
ujar Shira membuat Shelomita beranjak dari duduknya.
"Alhamdulillah... kamu sudah sadar sayang !"
kian tertegun saat Shira tersenyum menggenggam tangan nya, hal yang tidak pernah Shira lakukan.
siapa yang tahu rencana Shelomita yang hendak mendekatkan kian dengan Shira, seperti keinginan kian dulu, satu bulan yang lalu suami Shira mengalami kecelakaan hingga meninggal dunia dan kini ia menjadi janda, Shelomita pikir lebih baik kian bersama Shira dari pada dengan Maira, Shelomita yakin Shira juga pasti mau.
Shira juga pasti bisa membujuk kian untuk kembali ke perusahaan.
"Abang tuh lama banget tidur nya...!"
ujar Shira, seminggu ini Shira menemani Shelomita menuggu Kian.
Kian hanya terdiam, Shira senyum manis sembari memijat kakinya yang terasa kaku.
"aku dimana?"
tanya kian memindai wajah shira.
"hm... Abang di Swiss...." jawab Shira membuat kian termenung mengingat kembali terakhir kali ia sadar, saat itu ia berada di Italia hendak menemui Maira tapi kenapa sekarang jauh berada dari Italia.
"siapa yang membawa Ku kemari ?"
tanya kian dengan aura dingin membuat Shira membeku seketika.
__ADS_1
"Mama yang membawa mu kemari, kenapa ?"
tanya Shelomita berdiri di hadapan kian.
satu hal yang Shelomita sesali mengapa kian tidak mengalami amnesia seperti kebanyakan pasien kecelakaan lainnya.
"kenapa Mama membawa kian dari Italia ?"
tanya kian sedikit meringis merasakan kepalanya sedikit nyeri.
"karena pengobatan di sini jauh lebih baik, jangan pikirkan yang lain kian..kamu harus banyak istirahat, ada Shira yang akan menemani mu...."
Shira tersenyum kaku di hadapan kian, Shelomita pergi meninggalkan mereka berdua.
kali ini rencananya harus berhasil, Shelomita yakin kian pasti mau dengan Shira, bukankah dulu ia begitu mencintai Shira.
"berapa lama aku terbaring di ranjang ini? dan kenapa kamu ada di sini, apa kamu bersama suami mu !"
Shira mendekat dan duduk di tepi ranjang, membuat kian terpaku.
"bang Ian hampir Lima bulan mengalami koma, aku di sini menemani Mama menunggu Abang sadar karena sekarang shira sendiri...!"
jawab Shira lalu menceritakan kejadian satu bulan lalu yang menimpa suaminya, kini kedua anak nya bersama neneknya.
"Mama yang meminta Shira untuk datang menuggu Abang !"
tambah Shira memindai wajah kian yang masih terlihat pucat.
"Mana ponsel, aku harus menghubungi Maira, ia pasti mencari ku ?!"
"tidak, dia tidak mencari mu, hidup nya juga bahagia tanpa kehadiran kamu...!"
ujar sang Mama yang tiba tiba menimpali ucapan nya.
"maksud Mama apa?"
tanya kian, Ia yakin Maira pasti bertanya tanya kemana dirinya.
"lupakan perempuan itu, dia tidak pantas untuk kamu kian... sekarang sudah ada Shira di samping kamu !"
"kenapa Mama berbicara seperti itu ?"
Shelomita pun memberikan Poto Poto kebersamaan maira dengan Alfa saat di hutan, bukan hanya dengan Alfa tapi juga Nico, kian tidak tahu menahu tentang Nico.
jadi Shelomita pikir hal itu akan menambah image buruk Maira di hadapan kian.
bersambung.....
__ADS_1
terima kasih yang sudah mampir 😍😍😍