
Kian memperhatikan maira yang terlelap di sofa panjang yang tak jauh dari tempat nya melukis, hujan masih turun Maira sampai tertidur karena menunggu hujan sedikit reda.
setelah fokus menyelesaikan makan, keduanya ngobrol bersama, bercanda dan tertawa menjadi warna obrolan mereka.
hingga maira merasa ngantuk karena kekenyangan setelah menghabiskan satu porsi spaghetti dengan sedikit nasi.
kian termenung mengingat Luna, tak pernah sebentar saja ia menemani nya di galery meski hanya untuk sekedar ngopi, berbeda dengan maira Beberapa hari kenal ia betah berlama-lama di dalam tempat kesayangan nya.
netra kian menyusuri Wajah cantik maira, bibir nya yang begitu menggiurkan membuat kian memalingkan wajahnya dari keindahan itu.
salah kah jika ia mulai menyukai gadis polos ini?
kian menghempaskan tubuhnya ke sofa yang tak jauh dari maira terlelap, seseorang terlintas dalam benak nya, hanya bersama maira ia bisa sedikit melupakan sosok adik angkat yang menjadi cinta pertama nya.
"HM...papah..."
maira mengigau dalam lelapnya, terdengar sendu. entah apa yang terjadi antara putri dan ayah itu?
kian belum mencari tahu tentang kehidupan maira, kian dengar maira putri dari Abian Pratama, pebisnis sukses yang hampir sama dengan Alfa.
Kian menghela nafas lalu mengambil selimut untuk menyelimuti maira, udara terasa begitu dingin saat angin berhembus masuk lewat jendela yang terbuka.
setelah itu kian kembali melanjutkan pekerjaannya, karena berlama-lama menatap maira khawatir ia tidak bisa menahan diri Sementara sudah lama sekali Luna tidak melayani nya sebab ia sibuk dengan pekerjaan nya, seperti sekarang ia berlaku seperti seorang wanita yang tidak memiliki suami.
Maira membuka mata nya dan melihat waktu menunjukkan pukul tujuh malam, terlihat kian tengah berdiri di depan kaca besar sambil memandang air hujan yang turun dengan perlahan.
Maira tertegun menatap selimut tebal yang menutupi seluruh tubuhnya, udara memang begitu dingin, hampir setiap hari hujan turun Karena sudah memasuki musim hujan.
namun justru hal itu membuat keduanya berdua berlama lama di tempat itu.
"kak, kamu yang selimuti aku?"
tanya Maria berdiri di samping kian yang langsung menoleh, menatap wajah maira lekat.
"terkadang seseorang jatuh cinta bukan hanya melihat paras nya tapi lebih karena dia yang mau beradaptasi di samping nya?"
maira tertegun mendengar hal itu, apa yang kian rasakan adalah dia yang tak pernah merasakan debaran saat bersama maira, seperti saat ini ia menatap wajah maira dengan intens, dada nya berdebar jantung nya berdetak kencang.
"maksud kak kian apa?"
tanya maira menatap wajah tampan kian.
kian tersenyum lalu mengajak maira duduk di sofa berhadapan dengan nya, maira tertegun saat wajah nya begitu dekat dengan kian.
__ADS_1
"Mai, apa kamu akan percaya kalau aku bilang, aku suka sama kamu?"
tanyakan kian membuat maira terperanga.
"maksudnya? Mai enggak ngerti?"
Kian tersenyum lalu menjelaskan apa yang dirasakan nya jika bersama maira, kian juga cerita tentang hubungan nya yang tidak sehat dengan Luna."aku bahkan tidak pernah merasakan berdebar seperti ini?"
kian menaruh tangan maira di dadanya.
"kak kian bercanda?"
kian menggeleng kan kepalanya lalu menggenggam tangan maira.
"aku tahu mungkin aku salah karena status ku yang sudah beristri, tapi Mai aku sama kamu!"
Maira termangu tak percaya dengan apa yang di katakan oleh kian.
"bagaimana bisa, kita baru saja dekat!"
tanya maira, meski sebenarnya ia juga merasakan hal yang sama namun ia bingung dengan hubungan mereka berdua karena sama-sama sudah terikat, akan tetapi rasa itu semakin menggebu tak kala netra keduanya kembali bertemu.
"aku serius Mai, aku akan urus masalah ku dengan Luna kalau kamu mau menerima aku?"
"aku.....!"
maira menatap ke dalam manik milik kian, ia juga menyukai kian yang hangat seperti Abian.
"kita jalan dulu saja kak, sampai kita benar benar yakin dengan hubungan ini!"
sambung maira, ia harus berpikir dengan baik karena khawatir kalau Abian tidak mau menerima kian, apa lagi kalau tahu kian sudah pernah menikah.
"kamu enggak mau aku temui orang tua mu!
aku enggak main main mai..."
tanya kian sedikit heran.
"bukan seperti itu kak, tapi tidak secepat ini, maira butuh waktu!"
jawab maira sekenanya, karena jujur ia tidak percaya dengan hal ini.
"kakak enggak bercanda loh de, selama ini kakak enggak cinta sama Luna!
__ADS_1
dia enggak bisa membuat hati kakak bergetar seperti ini...!"
kian kembali mengarah kan tangan maira ke dada bidang milik nya, terasa detak jantung nya berdebar kencang membuat nya ikut berdebar.
"bukan karena kak kian ingin mencari pelampiasan Kan?"
kian terkekeh mendengar apa yang maira lontarkan, ternyata gadis polos ini pintar juga.
"segala nya memang berawal dari ruang kosong yang kemudian di isi seseorang, kakak tidak menampik kalau aku memang kesepian tapi lebih dari itu kamu yang mampu membuat aku merasa hidup kembali!"
beberapa hari di temani oleh maira membuat nya tak lagi merasa sepi justru ia seperti menemukan kehidupan baru.
"aku serius, aku tanya kapan aku bisa menemui papah mu? setelah itu aku akan mengurus masalah ku dengan Luna!"
"aku butuh waktu untuk yakin dengan kita...!"
jawab maira.
"baiklah kalau begitu aku akan meyakinkan mu Bahwa rasa ini bukan sekedar gurauan!"
kian senyum lalu menyelipkan rambut maira ke telinga nya, maira mengigit bibir nya saat tangan kian menyentuh tengkuk lehernya.
tubuhnya bergetar karena meremang merespon sentuhan dari kian.
"kita pulang, aku antar kamu ya!"
kian beranjak menarik tangan maira pelan, kedua nya berdiri berhadapan Saling menatap keindahan Tuhan.
maira terdiam saat Kian merapatkan tubuhnya, memeluk maira dengan mesra hingga membuat jantung maira berdentum dengan keras.
"kamu seseorang yang aku cari? tak perduli dengan mereka aku bisa pergi untuk mengejar mu!"
maira hanya diam tak tahu harus berbuat apa karena keadaan membuat nya memiliki affair dengan kakak ipar sahabat nya sendiri, entah apa yang akan terjadi kalau Erlin mengendus hal ini.
"tapi maira takut apa lagi kalau Erlin tahu kak..! karena jujur maira juga.....!"
ucapnya tertahan melihat senyum tersungging di bibirnya.
"dia tidak perlu tahu soal kita!"
kian menarik tangan maira keluar dari galery, mungkin seharusnya kian juga tahu kalau ia juga sebenarnya sudah bertunangan dengan Alfa karena ia tidak mau kalau sampai nanti kian mengetahui hal itu dari orang lain.
maira menyadari bahwa ini salah tapi kedekatan nya dengan kian membuat nya candu, bukan seperti saat bersama Alfa.
__ADS_1
bersambung...