
Zahira menyodorkan pizza yang tadi di beli Alfa untuk nya, Maira tertegun sejenak lalu duduk di kursi meja makan.
"Alfa lama loh nungguin kamu Mai...!"
ujar Zahira seketika membuat maira menoleh memindai wajah Zahira.
kenapa Alfa bersikap seperti itu setelah ia telah jatuh hati pada pria lain.
Zahira membuka pizza tersebut lalu menyodorkan nya pada maira.
"wah enak tuh kayak nya, mau dong!"
ujar Yusuf yang baru keluar dari kamar nya.
mengambil satu potong tanpa sungkan lalu duduk di hadapan mereka berdua.
"pemain bola itu enggak boleh kebanyakan ngemil nanti gendut loh enggak bisa lari cepat!"
sahut maira duduk di samping Yusuf.
"aku bisa diet nanti kak, lagi pula yang nggak tiap hari juga aku makan kayak gini .. kasihan kak Alfa nunggu kakak"
"siapa yang suruh!" balas maira sambil manyun membuat Yusuf terkekeh, ingin sekali mencubit pipi kakak nya itu.
kakak angkat nya itu memang cantik, Yusuf sendiri kagum pada kecantikan nya namun tidak untuk menaruh hati karena hal itu pasti menjadi hal yang merepotkan nya nanti.
selisih umur nya hampir lima tahun namun keduanya hampir tak jauh berbeda.
mungkin karena fostur tubuh Yusup yang tinggi hampir menyamai kakak nya itu.
"udah deh, simpan aja mah, kalau enggak kasih ke si bibi aja, mai udah kenyang!"
jelas saja ia juga baru menghabiskan satu loyang pizza bersama kian.
"kamu yakin? ini tuh enak banget loh Mai!"
jawab Zahira merasa sedikit heran.
"ya, udah ya mah maira capek banget pengen berendam air hangat..!"
Maira menapaki tangga meninggalkan kedua nya.
**
entah ada angin apa, pagi ini Alfa kembali datang untuk mengantar maira ke kampus.
Alfa tertegun melihat maira yang menggunakan celana jeans ketat dan kemeja berwarna putih rambutnya yang panjang terurai sedikit basah, cantik memang namun Alfa lebih suka maira yang menggunakan dress muslim.
"loh kok Enggak pakai kerudung?"
tanya Abian saat maira mendarat kan tubuh nya di kursi, sementara Alfa Hanya diam saja menuggu reaksi dari maira atas apa yang Abian lontar kan.
"rambut nya masih basah pah, nanti aja!"
Abian menghela nafas panjang lalu berkata.
__ADS_1
"Kan ada pengering rambut Mai?"
"memang tapi punya Mai rusak!"
jawab Mai dengan acuh, Mai ingin tahu bagaimana reaksi Alfa melihat nya seperti itu, apa dia akan berkomentar juga seperti sang papah.
namun Alfa tak bicara apapun, ia fokus dengan sarapan yang ada di hadapannya.
*
"apa kamu tidak suka peraturan?"
tanya Alfa saat keduanya di dalam mobil.
"tergantung peraturan seperti apa itu?"
jawab maira yang kemudian mengambil pasmina setelah mengikat rambutnya yang sedikit kering, ia memakai pasmina nya di hadapan Alfa.
"aku tahu kamu tidak suka perempuan seperti aku, mm..tipe kamu itu perempuan yang waktu itu bertemu dengan kita dan restoran, dan asal kamu tahu aku tidak akan melupakan seseorang yang mengatakan kalau aku ini adiknya!"
ujar maira membuat Alfa tertegun mengingat pertemuan terakhir nya dengan Rosa.
Alfa memang tidak mengakui kalau maira adalah calon istri nya, itu karena Alfa pikir pertunangan nya akan segera berakhir namun ternyata tidak justru Rosa sekarang sudah menikah lebih dulu, dan ia di tuntut untuk tetap melanjutkan perjodohan ini.
"aku minta maaf soal itu....!"
"aku tahu, aku atau kamu tidak pernah menginginkan perjodohan ini, kita bisa atur waktu untuk mencari waktu kapan mengakhiri hubungan ini, karena aku juga tidak menginginkan nya!"
"tidak, aku tidak akan pernah mengakhiri perjodohan ini, kita akan tetap menikah dan lupa kan kejadian itu"
ia harus memikirkan bagaimana caranya menyudahi semua ini karena ia hanya menginginkan kian.
keduanya bungkam tak ada yang bicara, Maira juga lebih fokus ke jalan.
tak berapa lama mobil sampai di depan gerbang kampus, maira menoleh sekilas lalu keluar dari mobil, Alfa sendiri lebih memilih diam tak menahan maira yang langsung pergi meninggalkan nya.
Maira berjalan meninggalkan mobil yang masih terparkir di depan gerbang, Alfa memperhatikan maira yang berjalan namun menoleh sedikit ke arah nya, Alfa sendiri bingung karena kesempatan bersama Rosa juga tidak ada, jadi saat ini yang ia lakukan adalah menuruti keinginan orang tua nya.
tapi kenyataannya maira masih tetap pada keinginan awal Nya bahwa pertunangan ini hanya untuk sekedar berakhir.
Maira bergegas masuk setelah menoleh sekilas ke arah Alfa yang masih belum beranjak, terlihat diva tengah duduk sendirian.
"va, mana Erlin?"
tanya maira duduk di samping diva.
"katanya sakit, enggak masuk!"
jawab diva memasukkan ponselnya ke dalam tas.
"sakit apa? tumben itu anak!"
Maira menilik wajah diva yang seperti tengah berpikir.
"kamu kenapa va?"
__ADS_1
diva menghela nafas panjang, memikirkan kekasih nya yang akhir akhir ini sedikit berubah, diva sendiri tidak tahu apa penyebabnya.
"entah cuma perasaan atau memang kenyataannya seperti itu, sekarang tuh Endru sedikit berubah, enggak seperti biasanya.
aku merasa ada yang ia sembunyikan dari ku!"
ujar diva membuat maira tertegun.
diva beranjak dari duduknya di ikuti oleh maira karena dosen sudah masuk ke dalam kelas.
"mungkin dia lagi sibuk kali va, pulang dari sini kita jenguk Erlin ya!"
sahut maira dan di anggukan oleh diva.
**
seperti rencana sebelumnya, Maira dan diva mendatangi Erlin yang katanya sakit.
rumah Erlin tampak sepi, ada Satu mobil yang terparkir di halaman depan, dan maira tahu kalau itu mobil milik kian, sedang apa pria itu di sini karena setahu maira, Kian memiliki rumah sendiri bersama Luna.
"assalamualaikum...."
diva masuk mengucapkan salam, terlihat kian tengah berbicara dengan mama Wida.
"walaikumsalam......"
netra kian langsung menoleh ke arah maira yang juga tengah menatap nya.
"Tante, kita mau lihat Erlin. katanya sakit?"
ujar diva mencium tangan diva, lalu melambaikan tangan pada kian.
"ada di atas kamar, kalian masuk aja!"
keduanya mengangguk lalu beranjak meninggalkan Wida dan kian yang Terus memperhatikan Maira.
kemarin kedua nya menghabiskan waktu bersama, kian ingin segera mengakhiri hubungannya dengan Luna agar ia segera meraih maira.
*
"Lo sakit apa?"
tanya diva yang mengagetkan Erlin yang tengah menerima telpon, gegas Erlin mematikan telepon nya.
"kenapa kaget gitu?"
tanya maira memindai wajah Erlin yang sedikit pucat.
"enggak, tadi aku telponan kak luna, kok enggak bilang mau ke sini sih?"
tanya Erlin beranjak memperhatikan diva yang juga memperhatikan nya.
"muka Lo pucat gitu? sakit apa?"
Erlin tertegun sendiri mengingat malam bersama endru.
__ADS_1
bersambung..