
Siang itu Maira pergi bersama Nico untuk berjalan jalan di sekitar alun alun kota Roma.
Maira memperhatikan sekeliling bangunan berbentuk bundar tersebut, banyak para wisatawan yang datang berkunjung ke tempat itu.
dua hari berlalu begitu cepat, Namun keadaan masih tetap sama. apa mungkin ia tengah di permainkan ?
tidak, Maira yakin kian tidak akan Setega itu, ia percaya akan cinta nya.
tapi kemana kian ?
banyak sekali pertanyaan yang terlintas namun tak ada jawaban, Maira di buat bimbang oleh keadaan, dimana ia berharap seketika itu pula ia kecewa.
Maira menoleh ke kanan dan kiri jalanan, tanpa sadar ia terpisah dari Nico, entah kemana pria itu?
kini Maira sendiri di tengah keramaian kota, Ia menoleh ke kanan dan kiri. kenapa ia merasa gelisah?
Maira memicingkan matanya ke arah pria yang seperti mengikuti nya sejak tadi, entah apakah hanya perasaan nya saja atau memang ada seseorang yang tengah mengintai nya.
Alfa berjalan sendiri di tempat yang sama,
ternyata bukan hanya Alfa yang mengikuti maira tapi ada seseorang yang juga mengintai maira.
sebenarnya Alfa berniat untuk menemui Maira karena sore ini ia berencana untuk kembali, menyerah seperti nya begitu!
di tambah pekerjaan nya yang banyak dan sudah menunggu di tanah air menuntun Alfa untuk segera kembali, meski dengan tangan kosong.
Maira berhenti di sebuah kedai yang menjual minuman hangat, sejujurnya ia sangat takut karena pria itu terus membuntuti nya.
"pah, Maira terpisah dari Nico...Mai merasa takut karena seseorang seperti mengikuti maira. tolong maira pah!"
setelah mengirim kan pesan tersebut maira berjalan cepat meninggalkan tempat itu untuk mencari keberadaan Nico, salju masih turun dengan perlahan namun tak mengurangi minat wisatawan untuk berkunjung ke tempat itu.
"hei.... kamu !"
teriak pria berjas Hitam itu langsung mengejar maira yang langsung berlari.
sambil berlari Maira mencoba menghubungi nomor Abian namun tidak ada jawaban.
Maira benar benar panik dan tidak tahu Harus kemana, Alfa yang melihat kejadian itu ikut berlari untuk melindungi maira, karena ia yakin maira dalam bahaya.
Alfa berlari ke arah lain agar bisa menghadang maira dan membawa nya pergi, karena ada beberapa orang yang mengejar maira.
"help me...!"
Ujar maira mencoba menghubungi Nico, tapi nomor nya juga tidak aktif.
"ah....!"
Maira terhempas saat tangan seseorang menarik nya, "ayo bangkit.. !"
Maira tertegun sejenak saat melihat Alfa menarik tangan nya, berlari dari kejaran pria asing itu.
"ayo naik Mai ke mobil, kita harus segera menjauh dari mereka..!"
titah Alfa pada maira yang langsung masuk ke dalam mobil.
Alfa melaju kan mobil nya dengan cepat keluar dari tempat itu, tak di sangka mereka terus mengejar hingga Alfa melaju kan mobil nya jauh dari kota.
"kita kemana ? mereka terus mengejar !"
"aku tidak tahu mai, kamu telpon Papah sekarang juga !"
__ADS_1
Maira mengangguk di tengah kepanikan nya, berusaha menghubungi Abian namun nomor di luar jangkauan.
"ah....!"
Maira berteriak saat mobil tersebut menabrak mobil Alfa.
"hati hati bang!"
Alfa berusaha menyeimbangkan laju mobil nya, namun lagi lagi mobil tersebut menabrak mobil Alfa dengan keras hingga menambah kepanikan, maira sangat takut wajahnya berubah pucat, bayangan masa lalu saat ia di culik kembali memutar di benak nya.
"Ah........!"
Maira kembali berteriak saat mobil kembali tertabrak hingga menabrak pagar pembatas dan terjungkal dan berguling ke bawah dekat Sungai.
"ah, sakit....!"
Maira berusaha untuk keluar dari mobil begitu juga dengan Alfa.
"kita harus cepat keluar dari mobil ini karena mobil bisa saja terbakar !"
Ujar Alfa sekuat tenaga membuka pintu mobil.
Setelah berhasil gegas Alfa membantu maira keluar dari mobil, Alfa pikir mereka tidak akan mengejar sampai ke bawah, keduanya kaget saat terdengar bunyi tembakan.
"ayo lari Mai ?"
Alfa menarik tangan maira yang sedikit terluka.
"aku takut !"
Ujar maira terus berlari karena mereka terus mengejar dan berusaha menembak.
"tidak aku takut...!"
"lalu kemana, lihat sisi kanan kiri mereka tengah menyergap kita !"
dengan cepat Alfa menyebrangi sungai yang dalam nya mencapai lutut saja.
"hei, awas kalian memasuki hutan terlarang. kalian akan mati....!"
ujar pria itu mengarah kan peluru nya pada Maira.
"awas Mai...!"
Alfa menarik tangan Maria hingga peluru tersebut menembus tangan nya yang terbungkus switer.
"bang Alfa....!"
teriak maira dengan derai air mata.
"Ayo kita menjauh dari mereka, seperti nya mereka belum puas !"
Sekuat tenaga Alfa menahan rasa perih pada tangan nya, para pria itu berhenti mengejar keduanya saat salju turun dengan lebatnya hingga mereka meyakini akan ada badai.
"sudah jangan di kejar, aku yakin mereka akan mati...kau tahu hutan itu banyak binatang buas nya...!"
*
Abian tercenung saat membaca pesan dari Maira, Nico juga mencari maira namun tak jua bertemu.
"ada apa pah?"
__ADS_1
Abian langsung menghubungi Ridwan untuk meminta bantuan, Zahira tertegun saat Abian memberi tahu pesan terakhir maira.
"hubungi kembali bi...!"
ujar Siva yang juga merasa khawatir, tak lama Nico kembali dan menceritakan kejadian tersebut.
"cepat kita telusuri sekarang juga bi!"
ujar Ridwan, di usia nya yang hampir mencapai enam puluh lima tahun, Ridwan masih terlihat gagah dan tampan.
Abian mengangguk lalu pergi meninggalkan rumah, Abian meminta Nico untuk menjaga Zahira dan Siva.
"semoga maira baik baik saja !"
harapan Zahira dengan cemas namun tetap berusaha tenang.
*
"bang, tangan kamu...aku lelah dan tidak kuat berlari lagi..."
Maira tertegun menatap wajah Alfa tampak pucat.
"aku tidak apa apa !"
"tidak apa apa bagaimana, kamu terluka !"
maira menunduk sambil menyeka air matanya, ia tidak tahu siapa orang orang tadi.
dan kenapa tiba tiba ada Alfa di negara itu dan ia terluka karena melindungi nya.
"jangan menangis !"
Alfa duduk bersandar pada pohon, salju semakin deras membuat kedua nya semakin kedinginan.
"Mai, bantu aku untuk mengeluarkan peluru yang berada di tangan ku !"
Alfa mengambil sebuah runcing dan memberikan nya pada maira.
"aku tidak berani....!"
"kau harus berani, kalau tidak aku akan mati !"
"kau membuat ku semakin takut !"
Maira semakin terisak menatap luka pada tangan Alfa.
"lakukan Mai, aku tidak kuat lagi... sakit sekali, aku janji akan menahan nya!"
Maira memberanikan diri untuk melakukan apa yang Alfa perintah kan, dengan derai air mata mencoba untuk kuat dan berusaha mengeluarkan peluru tersebut.
"ah astaghfirullah...."
Alfa menghela nafas panjang saat maira berhasil mengeluarkan peluru tersebut.
"maaf kan aku....!"
maira terisak lalu membuka pasmina yang melekat pada kepala nya.
gegas maira membungkus luka itu dengan pasmina nya.
bersambung....
__ADS_1