Affair With Kakak Ipar Sahabat Ku

Affair With Kakak Ipar Sahabat Ku
jauh dari harapan.


__ADS_3

Kian tidak percaya dengan apa yang terpampang dalam kamera, selama ini Shelomita juga terus mengawasi Maira Dari kejauhan.


"ini pasti cuma akal-akalan Mama aja kan ?"


ujar kian menyangkal bahwa Maira tidak setia pada nya.


"untuk apa ? selama ini Mama sengaja mengawasi maira untuk kamu, Mama enggak mau kamu tertipu dengan wajah cantik nya, kelakuan nya minus !"


"apa sih yang membuat Mama benci sama Maira ?"


tanya Kian yang tak paham dengan Pemikiran sang Mama.


"Mama akan membenci siapa pun perempuan yang mau berhubungan dengan pria bersuami, bagi mama perempuan itu hanya perempuan rendah yang tidak layak ada di keluarga kita !"


"ya tapi itu terjadi karena kian mah!"


Shelomita menghela nafas panjang lalu berlalu meninggalkan kian.


"ya, kelakuan mu persis sama seperti papah mu dulu Ki, luka itu membuat Mama tidak bisa menerima perempuan itu, bagi Mama itu adalah hal rendahan, tak seharusnya kamu memiliki affair saat status kamu masih menjadi suami!"


racau Shelomita dalam benaknya, ia pergi meninggalkan kian untuk menghindari perdebatan karena kian masih dalam tahap pemulihan, dokter minta kian untuk tenang dan tidak banyak pikiran karena setelah ini ia akan menjalani operasi.


ada gumpalan darah di kepala hingga membuat kian terus merasakan nyeri di kepala dan pusing.


Kian tertegun menatap ponsel yang menampilkan gambar kekasih nya tengah bersama pria lain dan itu adalah Alfa, apa yang terjadi hingga keduanya bersama ?


lalu siapa pria yang sering bersama maira di kampus ? mereka terlihat begitu dekat dan akrab? apa itu pacar maira? apa dia sudah melupakan cinta nya terhadap kian ?


kian meringis menyentuh kepala nya yang berdenyut nyeri, shira yang baru kembali sehabis menunaikan sholat Dzuhur segera menghampiri kian.


"bang, kenapa ?"


tanya Shira melebarkan matanya saat kian terhempas tak sadar kan diri.


gegas Shira memanggil dokter dan menghubungi sang Mama.


dokter memutuskan untuk segera mengambil tindakan operasi agar kian tak lagi merasakan nyeri akibat gumpalan darah tersebut.


Shelomita menghela nafas lalu mendekati Shira, mungkin saat yang tepat untuk berbicara dengan Shira.


***


Maira berjalan beriringan bersama Nico, sebentar lagi liburan musim panas, maira bingung apakah ia akan kembali ke Indonesia Atau tetap di Italia.


Kemanapun ia keluar tak luput dari empat orang yang menjaga nya dari kejauhan.


Maira sendiri tak menghiraukan hal itu karena ia sendiri masih takut jika keadaan dulu terulang lagi.

__ADS_1


"Mai, kenapa sih manyun terus!"


tanya Nico mengajak maira membeli pizza.


"Balik yuk ke Indonesia, kita liburan di Bali atau Lombok gitu !"


ujar Nico, ia sendiri jarang sekali ke Indonesia karena memang Ridwan dan Siva menetap di Italia.


"entah lah, aku masih mencari keberadaan kian...!"


"ya, aku paham tapi siapa tahu dia ada Indonesia Mai...!"


Maira kembali tertegun, ia juga berpikir seperti itu.


mungkin lebih baik ia pulang terlebih dahulu untuk mencari keberadaan kian.


ia juga bisa minta bantuan Deni langsung, Maira berpikir untuk membicarakan hal itu nanti dengan Abian.


"ya sudah aku lapar, kita makan saja dulu !"


jawab maira lalu duduk untuk menunggu pesanan mereka.


***


Deni terus mencari informasi tentang kian, Luna bahkan tak menahu perihal kian yang mengalami kecelakaan.


sejak kejadian itu kedua terang terangan di hadapan diva, tak memperdulikan perasaan sahabat nya sendiri, Riko sendiri tak ambil pusing dengan hal itu.


dan sekarang mereka hendak menikah karena Erlin tengah berbadan dua, pedih memang namun diva mencoba untuk sabar dan menerima keadaan itu, mungkin endru bukan yang terbaik untuk nya.


nyatanya ia tidak memiliki kesetiaan dan mudah nya main belakang dengan Sahabatnya sendiri, diva juga menyayangkan hubungan nya dengan maira yang kini hilang kontak setelah kejadian itu.


padahal tak seharusnya ia menghakimi sesuatu yang tidak ia ketahui kebenaran nya dengan pasti.


siang itu diva pergi berbelanja ke mall seorang diri, tak ada lagi sahabat yang biasa ada di kanan dan kiri, yaitu Erlin dan maira.


keduanya memiliki skandal hingga berujung perpecahan.


tiba di sebuah kasir, Diva gelagapan saat ia tak menemukan dompet dalam tas nya, seperti nya dompetnya tertinggal di mobil.


"HM, sebentar mbak... seperti nya dompet saya tertinggal di mobil, apa saya boleh mengambil nya dulu !"


tanya diva Celingukan mencari seseorang yang mungkin saja ia kenal berada di tempat yang sama untuk meminta tolong sebentar.


diva tersenyum saat melihat Alfa tengah berjalan dengan assisten nya.


"sebentar itu ada temen saya!"

__ADS_1


ujar diva gegas berlari kecil menghampiri Alfa.


"bang, Alfa... tunggu !"


Alfa tercenung saat tiba tiba seseorang menubruk nya dari belakang.


"hei... diva ?"


ujar Alfa memindai wajah diva yang tampak memerah menahan malu, ia kelebihan langkah hingga menabrak tubuh Alfa.


"hm... maaf bang, aku butuh bantuan !"


Alfa mengangguk mendengarkan diva menceritakan maksud nya, Alfa senyum lalu memberikan salah satu ATM nya.


"oke, terimakasih...aku akan cepat kembali !"


Alfa menggeleng kan kepala nya melihat tingkah diva, bar bar seperti maira.


Alfa menghela nafas mengingat gadis itu, jauh Dimata bahkan jauh dari harapan. kenyataannya hingga kini ia tetap bersikukuh menunggu kian yang entah dimana.


"terima kasih atas pinjaman nya, dompet saya tertinggal.. boleh minta no rekening nya nanti diva transfer...!"


sahut diva senyum simpul memindai wajah tampan Alfa, seketika bingung dengan Maira yang entah kelilipan apa hingga mengabaikan pria tampan dan baik hati seperti Alfa.


"tidak usah diva untuk mu saja, lain kali lebih teliti ya!"


jawab Alfa lalu pergi meninggalkan diva dengan beberapa paper bag nya.


"tunggu bang Al... uang nya tidak sedikit, diva kan bilang nya pinjam doang !"


Alfa tertegun saat diva menghalangi jalan nya.


penampilan diva hampir sama seperti Rosa, dress cantik dengan kerudung yang menutupi dada nya, Maira justru berbeda. Ia lebih suka menggunakan celana jeans ketat dengan Tunik, rambut nya berwarna coklat nya ia biarkan begitu saja.


beberapa waktu yang lalu, Alfa mengirimkan nya beberapa tunik dan pasmina untuk maira, berharap maira senang dengan pemberian nya.


"ya sudah kalau begitu kamu bicara dengan asisten saya saja diva !"


diva senyum lalu membalikkan tubuhnya Mengarah ke assisten Alfa.


Alfa berjalan meninggalkan kedua nya, ingin sekali menghubungi Maira karena ia sangat rindu tapi sang mama meminta Alfa untuk melupakan maira.


"Mama akan cari kan kamu calon istri yang baik, tentu nya bukan gadis seperti Maira, Mama juga tak ingin menunda waktu pernikahan seperti sebelumnya...!"


apakah ia sanggup hidup bersama seorang yang tidak ia cintai, namun berharap pada maira pun hanya menanggung kepedihan.


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2