
Maira menghela nafas, seperti pagi sebelum nya Alfa datang untuk mengantar kan nya ke kampus, mana mungkin menolak sementara ada Abian yang duduk manis di hadapan nya.
Abian memperhatikan maira yang tampak cuek pada Alfa, entah sampai kapan keduanya saling diam jika bertemu? benar Kah keduanya memang tidak memiliki kecocokan.
kemarin malam juga maira pulang larut entah dari mana, ia bertanya pun maira hanya menjawab sekenanya saja.
"gimana rencana pembukaan hotel yang baru Al, apa semua sudah rampung?"
tanya Abian membuka percakapan.
"HM ... sudah hampir tujuh puluh persen, kemungkinan awal bulan depan papah akan membuka nya!"
Abian mengangguk, sementara maira sibuk memainkan ponselnya sejak tadi, entah apa yang tengah ia lakukan.
maira sendiri asik berbalas pesan dengan kian yang baru saja terbangun dari tidur, meminta maira mengirimkan potret nya pagi itu, tanpa sungkan maira Selvi di depan kamera. Alfa dan yang lain nya termangu memperhatikan maira yang cuek saja.
"maaf.....!"
sahut maira menatap wajah Abian dengan ekspresi tak suka.
"h....ayo berangkat bang, aku ada kuliah pagi !"
sahut maira lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas, Alfa hanya mengangguk kecil lalu berpamitan pada Abian dan Zahira.
Abian memperhatikan maira yang berjalan di belakang Alfa, sejak perjodohan itu Abian memperhatikan maira yang semakin susah di mengerti, ia teringat pesan Yasmin sang nenek bahwa maira sama seperti ibu nya, tapi mudah mudahan sifat nya juga tidak menurun, kaila dulu juga susah di atur hingga menikah dengan seorang pria yang tidak baik.
dan Abian tidak ingin itu terjadi pada maira, maka ia pilih kan Alfa yang jelas keluarga juga potensi nya dalam membangun perusahaan.
Zahira memperhatikan Abian yang termenung sendiri, gegas ia pun menghampiri setelah menyiapkan bekal untuk nya di kantor.
"kamu kenapa pah?"
tanya Zahira menyentuh pundak Abian yang langsung menoleh.
"kamu mikirin maira ?"
tanya Zahira duduk di samping Abian yang langsung tersenyum.
"ya, gitu deh.... kayaknya tenang kalau maira udah nikah !"
jawab Abian membuat Zahira tertegun.
"ya udah kalau gitu kamu minta mereka cari tanggal untuk pernikahan mereka saja !"
Abian mengangguk sambil berpikir akan hal itu.
"ya nanti Aku bicara kan dengan Alfa !"
jawab Abian lalu mendekati Zahira dan mencium pipi nya mesra.
__ADS_1
**
dalam perjalanan maira juga sibuk dengan ponsel nya, berkirim pesan dengan kian, tak memperdulikan Alfa yang beberapa kali menoleh ke arah nya.
"kamu chat sama siapa sih? dari tadi di meja makan tuh asik banget sampai enggak menghiraukan orang sekitar !"
Maira langsung menoleh ke arah Alfa yang menatap ke depan memperhatikan jalan.
Maira tidak menjawab, ia hanya memasukkan ponselnya ke dalam tas.
"ya maaf ....!"
kata singkat yang tidak menjadi jawaban, karena maira sendiri enggan berbohong.
"kamu enggak sibuk ya, tiap hari datang ke rumah untuk antar aku ke kampus !"
tanya maira, Alfa menghentikan laju mobil nya karena mereka sudah sampai di depan gedung universitas tempat maira di kuliah.
"aku sedang menjalin kedekatan dengan calon istri ku, kata orang pagi itu biasanya mood kita masih bagus jadi aku pikir untuk bertemu dengan mu di pagi hari, karena setelah siang atau malam kemungkinan aku tidak bisa mengendalikan diri untuk sabar menghadapi mu karena saat itu pikiran dan tenaga Ku sudah lelah sementara kamu selalu saja berbuat sekehendak hati...."
Maira termangu mendengar apa yang Alfa lontar kan, apa mungkin pria ini sudah mulai jenuh menghadapi nya.
"Mmmm, ya sudah aku keluar, terima kasih bang Al !"
jawab maira senyum simpul lalu pergi meninggalkan Alfa yang terus memperhatikan langkah maira masuk ke dalam gedung tersebut.
**
Maira menghampiri diva yang tengah duduk bersama Erlin di kelas menunggu dosen tiba.
"hai baru datang ?"
tanya diva, Erlin tersenyum.
"ya aku pikir udah masuk !"
maira duduk di samping Erlin.
"syukur deh udah sehat !"
ujar maira, Erlin tersenyum menanggapi, Siang ini ia berencana untuk pergi bersama Endru untuk memeriksa apakah ia hamil atau tidak, endru mengenal salah satu dokter yang bisa menangani masalah tersebut, Erlin tidak ingin hamil karena ia belum selesai kuliah.
"ya mai, cuma magh kumat doang !"
jawab Erlin padahal ia juga was-was.
tak lama dosen masuk lalu memulai pelajaran.
)
__ADS_1
beberapa waktu berlalu, kelas bubar setelah dosen keluar, maira dan kedua sahabat nya pergi ke kantin untuk berehat.
"kamu masih melukis bareng kak kian, Mai?"
tanya diva duduk di kursi berhadapan dengan Erlin yang langsung memesan minuman.
"masih, kak ian kan mau bikin pameran lukisan juga !"
diva mengangguk sambil berpikir seperti nya bagus kalau ia meminta kian melukis nya dengan Endru.
"nanti aku mau ajak endru ke galery.... bagus seperti nya kalau kita punya Poto lukisan bersama !"
uhuk....uhuk...
Erlin Langsung terdesak saat mendengar apa yang diva lontarkan, maira dan diva termangu menatap Erlin yang langsung tertegun menutup mulutnya.
"kenapa kamu Lin ?"
tanya diva memperhatikan wajah Erlin tampak tegang.
"HM, enggak apa apa !"
jawab Erlin memalingkan wajahnya lalu merogoh ponsel saat terdengar seseorang menghubungi nya, ternyata Riko kekasih nya.
"ada apa ko...?"
tanya Erlin langsung seakan malas meladeni pacar nya itu, Erlin beranjak dari duduknya lalu pergi sambil mendengarkan Riko berbicara di telepon, diva dan maira hanya mengedikan bahu nya, sebenarnya keduanya merasa kalau Erlin seperti menyembunyikan sesuatu namun keduanya tahan karena menjaga perasaan Erlin.
*
*
*
di tempat lain Luna, istri kian tengah berada di sebuah hotel bersama manager nya sendiri, tampan dan gagah serta selalu ada di saat Luna butuhkan, bukan hanya kinerja nya di lapangan yang patut di acungi jempol namun akhir akhir ini mereka berdua menjalin kedekatan lebih dari sekedar rekan kerja, Luna yang jenuh dengan kian yang semakin dingin, kesepian membuat Luna terbuai oleh perhatian manager nya itu.
"rasa nya malas pulang, kita langsung ke Jogja aja Syam...!"
ujar Luna sambil mengepul kan asap rokok ke atas membentuk lingkaran, kedua nya baru saja melakukan aktivitas siang yang menyenangkan.
"kita harus tetap pulang ke Jakarta, aku tak ingin kian curiga dengan kita...!"
ujar Syam membelai rambut Luna yang panjang.
"hm...aku malas, kau tahu aku pulang juga percuma karena kian sibuk dengan kanvas putih nya....!"
Luna muak karena terus di desak oleh mertua nya agar membujuk kian untuk kembali ke perusahaan dan meneruskan bisnis keluarga namun kian tetap kekeh pada hobi nya melukis.
bersambung....
__ADS_1