
Maira senyum saat kian menelepon nya, memanggil nya dengan sebutan sayang. hal pertama yang membuat maira senang, hubungan keduanya semakin dekat, bahkan rasa ingin bertemu selalu hadir menggebu, dan saat bersama berat untuk berpisah, kian seakan tak menghiraukan keberadaan Luna yang beberapa waktu tidak memberikan kabar, begitu juga dengan maira dengan mudah nya melupakan status cincin yang melingkar di jari manis nya, cinta itu seakan membuat kedua nya lupa tentang hubungan yang suatu saat akan menjadi Boomerang.
"telpon siapa sih, senyum senyum sendiri !"
ujar diva, keduanya berjalan di koridor kampus, Erlin jalan Di belakang kedua nya sambil memainkan ponsel, ia harus segera menyelesaikan masalah nya bersama Endru sebelum diva tahu tentang hubungan mereka berdua, Riko juga tidak boleh mengetahui perselingkuhan nya, sebenarnya ingin mengakhiri hubungan nya dengan Riko, namun teringat sang Mama yang mengatakan bahwa Wida sangat setuju jika Erlin bersama Riko, jelas saja Riko orang terkaya di kota tersebut, ayah nya juga seorang pengusaha sukses yang memiliki cabang perusahaan dimana mana.
"Lin, kamu tuh kenapa sih, kayak yang lagi mikirin sesuatu ?"
tanya maira, kini mereka sudah berada di depan gerbang kampus.
diva tengah mengambil mobil di parkiran, maira meminta diva mengantar kan nya ke galery.
"masa sih...aku enggak apa-apa kok !"
jawab Erlin bohong memalingkan wajahnya.
"kamu langsung pulang, atau mau ikut ke galery Lin ?"
tanya diva membuka kaca jendela mobil.
"aku mau ke dokter, nunggu teman...eh bukan, maksud nya tuh Riko !"
jawab Erlin terbata membuat maira dan diva sedikit Heran.
"oh ya udah kita duluan ya kalau gitu Lin !"
Erlin mengangguk kecil sambil tersenyum.
maira masuk ke dalam mobil lalu meninggalkan Erlin sendiri yang tengah menunggu Endru.
"aneh enggak sih si Erlin, dia itu seperti tengah menyembunyikan sesuatu...!"
ujar diva Sambil menyetir mobil.
"ya aku juga berpikir seperti itu, tapi ya sudahlah kita juga enggak bisa harus tahu privasi nya dia....!"
diva mengangguk lalu fokus menyetir, tak berselang lama mereka sampai di galery.
"masih sepi, mungkin kak kian belum datang.
mau di temenin enggak Mai ?"
ujar diva melirik ke arah pintu masuk yang masih tertutup.
"enggak usah, aku tunggu di depan aja enggak apa-apa, kamu mau ke butik juga kan!"
"ya, ya udah aku langsung berangkat aja ya !"
maira mengangguk kecil, padahal ia juga memegang kunci galery tersebut, kian memberikan nya agar maira tetap bisa masuk meski ia belum datang.
**
saat ini kian tengah menemui klien yang hendak memesan lukisan pada nya, kian pergi bersama Deni yang menjadi assisten nya.
"pak kian....ini pak Abian...."
__ADS_1
ujar sekretaris Abian pada kian dan Deni yang tengah menunggu di depan Ruangan.
kian memperhatikan Abian yang tersenyum hangat ke arah nya, meski sudah tidak muda lagi tapi Abian tetap gagah dan tampan.
saat itu Abian baru saja keluar dari ruang meeting.
"maaf lama menunggu..."
ujar Abian, keduanya berjabat tangan lalu masuk ke dalam ruangan Abian.
perusahaan yang ia pimpin saat ini adalah milik maira, kian tidak tahu tentang itu.
wanita yang ia cintai saat ini pewaris tunggal perusahaan besar, Abian menutup akses tentang berita itu, yang semua orang tahu adalah maira anak pertama Abian.
"saya ingin beberapa lukisan untuk beberapa ruangan di perusahaan ini, ada beberapa memang dan saya ingin menambah kan nya"
ujar Abian.
keduanya lalu berbincang, kian menawarkan beberapa lukisan yang sudah jadi, Abian meminta Willy memilih beberapa.
kian tersenyum saat melihat Maira menghubungi nya.
"sebentar saya angkat telpon dulu pak "
Abian mengangguk mengiyakan.
"halo sayang, sebentar ya aku pulang "
jawab kian langsung pada maira yang saat ini sendirian di galery.
jawab maira sedikit manja.
"ya sayang, nanti aku bawain pizza ya "
Abian langsung menoleh ke arah kian saat mendengar kata pizza, tentu saja ia teringat maira yang juga penggemar pizza.
"maaf pak, kita lanjut ya pak "
ujar kian tersenyum melihat Abian.
"ayolah pak Abian Pratama aku mencintai putri mu"
batin kian, ia sendiri mengetahui kalau Abian adakah ayah dari gadis yang kini menaungi hati nya.
*
*
gegas kian masuk ke dalam galery sambil membawa Pizza untuk kekasih nya itu, Deni sendiri memilih untuk berpisah karena hanya Deni lah yang mengetahui kedekatan mereka berdua, setelah pekerjaan selesai kian meminta Deni untuk menelusuri Luna di luar sana.
"sayang ...."
kian masuk ke dalam terlihat maira tertidur pulas di sofa panjang, cantik dan menggemaskan.
bersyukur Karena maira tak pernah memakai pakaian seksi hingga seluruh tubuhnya selalu terbungkus, dengan demikian tak ada pikiran untuk berbuat lebih karena kian benar benar mencintai maira bukan karena sekedar nafsu meski hal itu terkadang tak bisa kian hindari.
__ADS_1
"sayang......" desis kian di telinga maira membuat maira melenguh, tentu hal itu membuat kian memijat keningnya mendengar seksinya suara gadis itu.
"aku datang bawa pizza...?"
seru kian Duduk di tepi sofa kembali membangunkan maira yang langsung membuka mata.
"kak kapan datang ?"
Maira beranjak dari tidur nya, duduk menyilang kan kakinya menghadap kian yang menatap nya lekat lekat, tak bisa mengelak saat bibir itu membuat nya candu.
kian tersenyum merapikan rambut maira lalu mencium bibir maira berulang kali hingga membuat maira tercenung dan terhempas ke sofa, maira menelan Saliva nya saat kian menghimpit tubuh nya.
"kak kian.....!"
seru maira menatap netra kian yang berkabut hasrat, "kenapa kamu membuat ku candu ?"
ujar kian lalu mencium bibir maira yang menyambut nya dengan hangat.
kian membuka mata nya, bibir keduanya masih terpaut, mata nya menatap netra indah milik maira, kian sedikit menjauh nafas maira tersengal hembusan nafasnya terasa menyapu ke wajah nya.
"i love you Mai !"
"love you to !"
bibir itu kembali terpaut dan membiarkan pizza itu dingin.
**
Abian memperhatikan mobil yang mengantar kan maira pulang, entah dari mana Putri nya itu, waktu menunjukkan delapan malam.
gegas Abian keluar dari kamar menghampiri maira di bawah.
Zahira sendiri saat itu tengah di bawah bersama Yusuf.
Zahira menoleh ke arah pintu yang terbuka, maira masuk setelah mengucap kan salam.
"Dari mana Mai..?"
tanya Abian membuat Zahira dan Yusuf menoleh.
"hm...abis keluar sama teman pah"
jawab maira tak berani menatap wajah Abian.
"setiap hari pulang malam, kemana sih ?"
Abian kembali bertanya.
"ya sama diva, Erlin...ini juga masih sore !
ada sih pah ?"
tanya maira menoleh ke arah Zahira yang Juga memperhatikan nya.
bersambung.......
__ADS_1
terimakasih sudah mampir...😍😍😍🤭