
Beberapa hari berlalu, Nico membantu maira mencari keberadaan Kian. meskipun bingung mulai dari mana dan kemana, Namun maira tetap mencari kian, menyisir jalanan kota dan berharap Bisa bertemu dengan pria itu.
Abian tak membiarkan kedua nya pergi tanpa penjaga, Abian menyuruh Dua orang bodyguard untuk mengikuti Kemana pun maira dan Nico pergi, kejadian kemarin masih membuat was was, Abian yakin mereka masih mengincar Maira.
Dua Minggu berlalu, Maira kehilangan kian.
Pencarian nya tidak membuahkan hasil, kini ia semakin tersiksa rindu.
"Kemana kamu kak ? aku sangat rindu, aku merasa ada yang hilang dalam hidup ku.... kenapa kamu tidak memberikan aku kabar !
apa salah ku hingga kamu melakukan ini padaku ?"
batin maira merintih menahan rindu.
Netra nya tertuju pada sebuah rumah sakit, entah kenapa tiba-tiba Maira berpikir untuk mencari keberadaan Kian di rumah sakit.
kaki nya melangkah mengikuti perintah benak nya, masuk ke dalam rumah sakit.
"Mai ? ngapain ?" tanya Nico langsung mengikuti langkah Maira saat kembali dari membeli pizza.
"kenapa kita enggak coba cari kak Ian di rumah sakit ko"
ujar Maira membuat Nico tertegun.
"kamu yakin Mai?"
Maira menoleh ke dalam rumah sakit tersebut, ia juga tak tahu kenapa tiba tiba hatinya mengarah ke rumah sakit.
mungkin kah sesuatu terjadi pada kekasih nya itu.
Maira melangkah kan kaki nya masuk ke dalam gedung bercat warna putih itu, Terlihat orang orang berlalu lalang masuk dan keluar dari rumah sakit tersebut.
Maira menautkan kedua alisnya saat melihat beberapa suster mendorong sebuah brankar Membawa seseorang keluar dari rumah sakit tersebut, Namun Maira tak bisa melihat siapa di balik suster dan beberapa orang yang menjaga.
Jantung nya tiba tiba berdetak kencang, mengikuti langkah orang orang tersebut.
"hei, awas jangan menghalangi jalan...!"
ujar seseorang mendorong Maira hingga terhempas ke bawah.
"hei, jangan main dorong !"
seru Nico melindungi maira dari seorang perempuan yang menatap tajam ke arah maira, Maira tidak mengenal siapa perempuan itu karena menggunakan masker penutup wajah.
perempuan itu tidak menjawab, tidak meminta maaf atau apapun. ia melengos pergi meninggalkan Maira yang terduduk di bawah.
Maira langsung terisak, menyeka air matanya menatap punggung perempuan itu.
Hati nya terasa ngilu mengingat usaha nya mencari kian.
"kenapa harus seperti ini ? kenapa kak ?"
ucap Maira berusaha bangkit di bantu oleh Nico.
"kamu tidak apa apa Mai?"
__ADS_1
Maira mengangguk lalu melangkah menatap mobil yang menjauh membawa seorang pasien.
Shelomita tersenyum kecil mengingat pertemuan nya dengan maira, puas sudah membuat gadis itu terjatuh.
"dasar gadis bodoh...kamu pikir sedang berurusan dengan siapa ?"
ujar Shelomita, ia berhasil membuat Maira terpisah dengan putra kesayangannya.
Shelomita tak akan membiarkan kian bersama dengan Maira, ia begitu benci terhadap perempuan yang mau berhubungan dengan pria beristri.
seperti hal nya pernikahan terdahulu nya hancur karena seorang pelakor, Shelomita tidak akan Sudi memiliki menantu seperti itu.
Saat ini ia tengah membawa kian ke Swiss, sebenarnya sejak kemarin ingin membawa kian namun karena ada urusan mendadak ia menunda rencana tersebut.
*
Maira berjalan dengan gontai masuk ke dalam rumah, weekend ini mereka memutuskan untuk kembali ke Indonesia tapi tidak dengan Maira, karena ia harus melanjutkan studinya di Italia.
"kamu sudah kembali ?"
tanya Abian memindai wajah maira tampak lesu.
Maria langsung masuk ke dalam kamar tak menghiraukan perkataan Abian, Nico sendiri malah mengedikan bahu nya tanda tak paham.
Maria duduk di ranjang,salju sudah sedikit berkurang, tak seperti sebelum nya sering terjadi badai salju.
Netra nya menatap kosong ke arah jendela yang basah putih karena salju.
"kemana kamu kak, aku rindu !"
"assalamualaikum, sayang !"
Abian berucap di balik pintu, mungkin sudah saatnya ia berbicara pada Maira.
"boleh papah masuk ?!"
tanya Abian sedikit membuka pintu terlihat maira duduk membelakangi pintu.
Abian berjalan menghampiri Maira, gadis itu tak bergeming dengan lamunan nya.
"Maira....!"
panggil Abian membuat maira menoleh, terlihat Zahira masuk ke dalam kamar.
"Bagaimana keputusannya?"
tanya Abian.
Maira teringat percakapan mereka dua Minggu yang lalu.
**
"Alfa baik, dia benar benar tulus mencintai kamu, dia bahkan merelakan dirinya terluka demi melindungi kamu, apalagi Mai yang kamu cari ? kian malah tak ada kabar sama sekali, ia menghilang begitu saja Tanpa pamit atau kata terakhir....!"
"papah mau Mai sama Alfa ?"
__ADS_1
tanya Maira, hati nya terasa pilu mengingat keadaan yang tak berpihak pada nya.
"Maira mau cari kak Ian pah, jangan paksa maira...."
jawab maira begitu kekeh dengan cinta nya terhadap kian.
"Maira harus memastikan keadaan kian terlebih dahulu... kalau kian bohong atau sengaja melakukan ini, Maira akan menyerah..."
"jadi kamu ingin mengetahui terlebih dahulu kenyataan pahit nya.... bagaimana jika itu terjadi, itu hanya akan membuat kamu semakin terluka..."
"enggak, justru kalau maira tidak mencari tahu, maira akan menyesal kelak jika tahu kian tidak bermaksud seperti ini...mai yakin kian juga mencintai Mai, pah "
"baiklah kalau begitu, cari lah semau mu Mai, papah akan beri kamu waktu sampai kamu menyelesaikan studi kamu di sini, setelah itu kamu harus menurut, papah juga berharap kian cepat kembali..."
*
"Mai, tidak menyerah pah, saat ini Mai ingin sendiri, Mai ingin menyelesaikan kuliah Mai terlebih dahulu, jika sampai setahun kian tidak kembali. maira akan menuruti papah "
jawab Maira menyeka air matanya.
kenapa begitu sakit mengambil keputusan itu. "kemana aku harus mencari kamu, aku tersiksa dengan rindu ini kak"
Zahira tertegun melihat Maira yang langsung menangis tersedu, gegas ia mendekat untuk memeluk tubuh maira.
"papah akan membantu kamu Mai..."
ujar Abian, iba dengan keadaan putrinya itu.
Maira memang bukan anak kandung nya, namun rasa sayang nya melebihi ia menyayangi anak kandung nya sendiri.
*
Maira meringkuk sendiri, memeluk guling yang selalu menemani malam nya, Maira termenung mengingat seseorang yang pernah mendekap nya hingga pagi.
dalam memory itu pun memutar kejadian dua Minggu yang lalu, saat Alfa memeluk nya erat.
dengan Alfa pun ia melewati malam hingga pagi menjelang, Maira benar benar bimbang memilih antara kian atau Alfa.
tapi dalam hati ia begitu berat meninggalkan kian, Rasa itu tak pernah berubah atau berkurang sedikit pun.
"aku tidak pernah lelah mencintai mu, meski aku sakit dan berjalan tertatih... tapi kemana aku harus menggapai mu?
katakan padaku, kemana aku harus mencari mu kak?"
jika mencintai mu suatu kesalahan, maka biarkan aku bersalah Karena Cinta tak pernah salah.
"aku rindu kamu kak, aku rindu !"
lagi lagi ia menangis sendirian di malam yang dingin.
"kembali pada ku, datang dan katakan bahwa hanya aku lah satu satu nya yang kau cinta !"
bersambung...
terima kasih yang sudah mampir 😍😍
__ADS_1