
"Maira itu pewaris dari adijsta grup, kekayaan nya banyak dan kalau kamu menikah dengan nya tentu akan menambah kekuasaan kita"
ujar Jafar, papah Alfa yang meminta Alfa untuk mengambil hati Maira.
"setelah kalian menikah tentu kamu yang akan mengelola perusahaan tersebut, bukan Abian Pratama"
tambah Jafar membuat Alfa tertegun, hati nya masih tertuju pada gadis cantik yang tak pernah luput dari ingatan nya.
andai saja jafar merestui hubungan mereka mungkin ia dan Rosa sudah bahagia, tapi kini semua mimpi dan harapan indah itu hilang karena Rosa juga sudah menerima lamaran dari pria yang menjadi pilihan Ayah nya, semua itu terjadi saat Rosa mengetahui tentang pertunangan nya dengan maira.
"kita sudahi saja, aku menyerah dan mungkin ini jawaban dari doa doa ku.... semoga apa yang terjadi adalah yang terbaik untuk kita!"
ujar Rosa kala itu.
*
"Alfa apa kamu mendengar kan papah?"
Alfa hanya mengangguk saja.
"coba ambil hati maira agar ia mau segera menikah dengan mu!"
ujar jafar memindai wajah Alfa tanpa ekspresi.
"Alfa tengah sibuk, mungkin nanti jika memiliki waktu luang!"
jawab Alfa lalu pergi meninggalkan Jafar di meja makan.
siang ini Zahira dan Bu Wida tengah berada di spa, beberapa kali Zahira menghubungi maira namun tidak bisa, nomor nya selalu di luar jangkauan.
"ya udah enggak apa-apa Zahira kita masuk aja dulu, mungkin maira ada kelas tambahan"
sahut Wida senyum mencoba untuk memaklumi hal itu.
"ya sudah, nanti saya hubungi lagi"
balas Zahira masuk bersama Wida.
sementara itu Maira kini tengah berada di galery bersama Erlin dan diva, ketiga gadis itu tengah memperhatikan kian yang tengah menjelaskan langkah langkah membuat lukisan yang indah.
"kalau mau melukis wajah kak kian gimana cara nya?"
tanya diva senyum menatap wajah tampan kian yang menggoda.
"ya udah kalau gitu bayangin aja wajah kakak!"
jawab kian Santai menanggapi diva yang berusaha menggoda nya, kian memang tampan. erlin saja suka dan sangat menyesalkan saat kian di jodohkan dengan kakak nya.
sementara maira sudah mulai melukis, berbeda dengan diva dan Erlin yang memang tidak terlalu minat dengan kegiatan itu, justru kian lah yang menjadi pusat perhatian mereka berdua.
"Mai, mau sampai kapan di sini?"
tanya diva menghampiri maira yang tengah melukis.
"ya sampai selesai, memang nya kenapa?"
tanya maira mendongak ke arah diva yang berada di belakang nya.
"aku sama Erlin mau Nonton, mumpung ada yang mau kasih gratisan!"
sahut diva terkekeh kecil sambil memainkan ponselnya.
__ADS_1
"aku enggak ikut, kalian berdua aja!"
jawab Maira kembali fokus pada lukisan nya, kian sesekali melirik ke arah gadis cantik itu.
tadi siang keduanya tak sempat makan bersama karena ada Erlin dan diva yang ikut ke galery padahal kian sudah membeli bahan makanan yang mereka butuhkan untuk memasak.
"ya sudah kalau gitu, kita tinggal ya Mai!"
ujar Erlin menghampiri.
"ya, kalian happy. setelah selesai aku juga langsung pulang!"
jawab Maira pada kedua sahabatnya itu.
"ya udah kita pulang ya!"
diva langsung berpamitan pada kian yang tengah Merapikan Beberapa cat yang tidak terpakai.
"kalian ini mau belajar melukis giliran suruh praktek malah pergi!"
Tutur kian menggeleng, keduanya malah terkekeh sambil melenggang pergi.
kian menghampiri maira yang tampak khusus menyelesaikan lukisan nya, membungkuk menyamai posisi wajah gadis cantik itu.
"apa kita akan masak bersama?"
tanya kian membuat maira tersenyum simpul lalu meletakkan Koas kecil nya.
"kenapa di saat kita berdua, padahal tadi ada Erlin dan diva yang jago memasak!"
jawab maira, kian terkekeh lalu beranjak dari samping maira dan melangkah menuju dapur.
maira juga ikut bangkit mengikuti langkah kian, duduk di pantry memperhatikan kian yang mengeluarkan bahan bahan makanan.
jawab kian membuat maira terkekeh lalu turun dari kursi menghampiri kian.
"sini maira bantu!"
ujar maira mengambil beberapa sayur dan bahan makanan lain nya untuk di potong.
Maira mengedip ngedipkan mata nya saat bau menyengat bawang menguar membuat matanya perih.
"ah perih banget!"
desah maira membuat kian langsung menoleh.
"jangan di gesek kan nanti tambah perih!"
kian menghampiri maira yang meringis menahan perih.
"sini aku lihat, jauhkan bawang nya!"
titah kian mendekat memeriksa mata maira yang merah tentu hal itu membuat raga keduanya beradu, jantung maira berdetak kencang saat kian meniup mata nya yang perih, bukan kelilipan tapi ini karena aroma bawang.
kian termangu saat hidung kedua nya beradu, mata maira begitu indah dengan bulu mata nya yang lentik, jantung kian seketika berdetak lebih kencang.
"mata kamu begitu indah Mai?"
ujar kian tanpa beranjak dari posisi nya, maira juga tertegun menatap wajah kian yang begitu dekat dengan nya hingga hembusan nafasnya menyapu wajahnya.
ia juga mengagumi sosok tampan itu, cukup lama kedua terdiam dalam posisi itu hingga tercium aroma hangus membuat kedua nya tercenung.
__ADS_1
"Gosong daging nya...!"
ujar maira dan gegas kian mematikan kompor nya, kian terkekeh kecil melihat daging yang menghitam dan menguarkan bau gosong.
"HM kita makan apa dong jadi nya? enggak ada mereka juga masakan kita gosong"
ujar maira mengurucut kan bibir nya, kian senyum, gemas melihat maira dalam keadaan seperti itu. kalau sudah tidak waras mungkin kian akan langsung mengecup bibir maira yang terlihat ranum.
"kita bikin spaghetti aja deh yang cepat ya, udah lapar banget!"
kian mengambil bahan untuk membuat spaghetti, menoleh ke arah kaca saat terdengar hujan kembali turun.
"Mai....!"
panggil kian menoleh ke arah maira yang menatap punggung nya.
"Hm......?"
netra kedua nya kembali bertemu, namun cepat maira memalingkan wajahnya.
"hujan turun lagi...!"
ujar maira membalikkan tubuhnya memandang air hujan yang turun mengguyur kawasan tersebut.
"ya aku jadi tambah lapar!"
jawab kian.
"ya sudah maira bantu supaya spaghetti nya cepat matang!"
Maira mengambil bawang Bombay lalu memotong nya.
"Mai kamu enggak takut kita cuma berdua di sini?"
tanya kian membuat Maira menoleh.
"takut apa? kalau enggak ada niat macam macam kenapa harus takut....!"
jawab Maira santai lalu memasukkan beberapa bahan makanan ke dalam spaghetti yang sebentar lagi siap saji.
"oh gitu ya, kalau aku niat macam macam gimana?"
tanya kian menggoda maira yang langsung manyun.
"maira masih polos, enggak ngerti maksud kak kian macam macam itu apa?"
jawab maira membuat kian terkekeh.
"ya sudah kita makan, mau pakai nasi?"
Maira melebarkan matanya mendengar apa yang kian lontarkan, untuk pertama kalinya maira mendengar seseorang makan spaghetti tambah nasi.
"apa enggak salah makan spaghetti pakai nasi?"
tanya maira.
"enggak biar kenyang Mai....!"
jawab kian terkekeh lalu menyuap spaghetti pedas berserta sedikit nasi.
sementara di tempat lain Alfa dan Zahira tidak bisa menghubungi maira, padahal saat ini mereka tengah menunggu maira, sampai selesai treatment dan yang lainnya maira tidak juga menampakkan batang hidungnya.
__ADS_1
bersambung...