AGENT: Agent Of Mutants

AGENT: Agent Of Mutants
09. A Tension Break


__ADS_3

Aku kembali ke asrama dengan lemas, sebenarnya aku sudah merasa lemas sekali sejak aku menemukan Alexa tadi, tapi aku menutupinya, karena jika yang lain tahu aku menjadi lemas seperti ini, mereka pasti akan kerepotan.


Aku merebahkan tubuhku di kasur yang empuk ini sendirian, karena aku pulang duluan, kurasa mereka masih membicarakan sesuatu entah apa itu, aku tidak ingin memikirkannya lagi, bahkan mataku sudah menolak untuk terbuka.


[Valerie's POV]


"Astaga!!" Ujar Claire terdengar kaget sekali.


Aku tidak tahu mengapa dia kaget, karena dia sendiri yang menuntun kita ke tempat Alexa berada. Walau aku sendiri juga kaget sih, hehe.


Bagaimana bisa ia tergeletak disini? Kurasa ada sesuatu yang ganjil.


"Biar aku."


Deg.


Zav... awas kau sampai menggendongnya!


Deg.


Zav melirikku sekilas, ia terkekeh pelan. Akhirnya ia hanya menyentuh bahu perempuan itu.


Lalu mereka berdua menghilang secepat kilat.


Aku menghela napas lega.


Aku menoleh ke arah Claire. Mengapa ia terlihat bingung? Kubaca pikirannya, ah! Hehe.. permisi ya Claire, sekali inii saja.


'Mengapa tak digendong saja? Kalau nanti Alexa keseleo bagaiman-'


Aku mengerutkan alisku, "CK."


Ya jelas tidak lah! Lagi pula, kalaupun keseleo, ia sedang pingsan ini... tak akan terasa, kan? Biarkan saja.


Kenapa aku jadi terbawa kesal begini? Ah, menyebalkan. Mempunyai kekasih yang kekuatannya berguna untuk jadi tukang ojek teleport memang harus sering-sering ikhlas.


Setelah selesai berbincang sebentar, aku memutuskan untuk pergi ke ruang kelasku, kurasa... buku tugasku tertinggal.

__ADS_1


Aku berpikir bagaimana caranya membuka pintu kelasku nanti, karena ini sudah sore, dan tidak mungkin masih ada orang di kelas. Tapi coba saja dulu, siapa tahu belum dikunci.


Aku akhirnya sampai di depan pintu kelas ku. Eh? Lampunya masih menyala. Aku mencoba membuka pintunya, dan.. Yap! Aku beruntung kali ini, pintunya belum dikunci!


'Aduh, ada orang masuk lagi, ck.'


Oh! Masih ada pikiran disini, berarti ada orang. Untuk apa sore-sore masih disini?


Aku masuk, lalu melihat ada seorang lelaki. Ia terlihat gugup.


S-sebentar... apa aku yang salah lihat, atau... ia seperti sehabis menangis.


Dia langsung sibuk menyembunyikan sesuatu(?) di belakangnya.


"Oh, Hai." ujarnya dengan sangat canggung.


Aku tidak tahu apa yang di sembunyikannya sampai dia canggung begitu, yang jelas dia tidak memikirkannya, jadi aku tidak tahu.


"Ehm.. hai, permisi ya, aku ke sini hanya mau mengambil buku, kok." ucapku sambil mencari letak buku itu di meja ku, Yap! Itu dia!


Aku berjalan ke mejaku yang berada di belakang meja yang ia tempati itu.


Heran, mengapa dia tambah canggung ya? Aku penasaran apa yang dia sembunyikan.


"Hm, maaf." ucapku seraya mengambil buku tugasku di belakangnya. Aku iseng mengintip diam-diam ke belakangnya. Foto seorang perempuan.


Aku terbelalak. Dia menangisi seorang perempuan? Ya ampun... kenapa ya dia? Baru patah hati kah? Aku tersentuh, aaaa... tulus sekal-


'Wahh cantik juga.'


Jika aku sedang makan sekarang, pasti aku akan tersedak mendengarnya.


Baru saja aku mau memujinya! Padahal aku sudah sempat tersentuh! Huh, tidak jadi kubilang tulus!


Lebih baik aku segera pergi dari sini.


"Hei!" Ujarnya sambil menggapai tanganku.

__ADS_1


KAGETT.


HUFTT... tarik napas Val..


"Salam kenal, aku Kenzo." ia mengulurkan tangannya.


"Valerie.." aku membalas uluran tangannya dengan bingung, jelas! Siapa yang tidak bingung jika bertemu seseorang yang kesan pertamanya canggung dan aneh, dengan secepat kilat berubah menjadi sok akrab begini.


"Boleh minta nomornya?"


"Untuk apa ya? Kita tak saling kenal kan?"


"Justru itu, untuk berkenalan." ucapnya sambil tersenyum.


'Dia mau gak ya.. kelihatannya manis.'


Memangnya aku gulali?!


"...Sorry, aku buru-buru nih.." Aku meringis tipis.


"Sebentar saja kok, nih." Ujarnya. Ia memberi ponselnya padaku untuk mengetik nomorku.


Aduh.


"Aku gak punya ponsel, maaf ya, aku duluan!" Aku langsung berjalan cepat keluar kelas. Sampai di tangga, aku baru bisa bernapas lega.


"Hahahaha... gak punya ponsel? alasan macam apha-hahahaha! konyol sekali, aku gak bisa mikir jernih tadi."


"Lagi pula, aneh sih, tadi aja pas kulihat, di belakangnya ada foto perempuan, siapa.. mantannya? Jangan-jangan benar, tadi dia sedang menangis... hahahah! aneh.. masa baru putus langsung melirik perempuan lain." Tuh kan, aku jadi mengoceh sendiri..


...《Sementara itu, di suatu tempat.》...


"Baiklah, aku akan berusaha lebih lagi untuk membunuhnya."


"Bagaimana caranya?"


"Kita hancurkan dia dari dalam."

__ADS_1


__ADS_2