
2 hari kemudian.
[Claire’s POV]
"Claireeee, banguun!!"
"Claire kusayang tapi bohoooong… bangun gak!"
Aku merasa ada yang menepuk-nepuk tubuhku dengan sangat tidak santai. Haduuhh…
Dengan terpaksa, aku membuka mataku sedikit demi sedikit.
"Ah Val… bukannya masih pagi?" ujarku dengan mata yang setengah terbuka.
Ya, ini hari minggu dan sekolahku tentunya libur, dan tentunya juga aku selalu bangun siang ketika hari minggu.
Samar-samar, aku melihat Val berkacak pinggang. "Aduh Claire, pesawatnya tuh jam 6 pagi, dan ini udah jam setengah 6, udah ayo cepat mandi!"
"Delay dulu saja lah pesawatnya.." Aku menutup wajahku dengan selimut tebal yang lembut… yang sangat nyaman… dan yang juga membuatku semakin mengantu…
“Pilih. Mau bangun sekarang atau kubuat gila?”
“Kamu lupa aku bisa mengacaukan pikiranmu?”
Aku membuka mataku, lalu terbelalak. Val menatapku dengan tatapan yang mematikan, hawa di sekitarku menjadi tidak enak. “Ih… iya iyaa!!” ujarku lalu segera bangun, kemudian berlari masuk ke kamar mandi.
Bohong pastinya kalau aku bilang tidak takut! Jelas takut lah!
Val itu sering galak, tapi baiknya juga sering… tapi kalau sudah kenal dekat, kebanyakan galakny-
“Membicarakan aku lagi, keluar dari kamar mandi kamu kubuat gila, ya!”
Ck, ah- aduuh!
○○○
Sekarang aku sudah siap dengan pakaian kerenku, ini adalah setelan agen sewajarnya yang telah kuinginkan sejak dulu.
Mau kujelaskan apa fungsi pakaianku?
Ya jelas agar tidak masuk angin..
Salah.
Ya tidak salah juga sih...
Dibalik jaket kulitku, di saku sebelah kiri terdapat satu pistol, di saku kanan ada satu belati, dan di kantong dalamnya, terdapat GPS.
Cliche memang, tapi ya lumayan, dari pada tak ada senjata sama sekali?
Dan sepatu boots-ku ini memiliki heels yang sebenarnya cukup merepotkan, karena pastinya nanti aku akan lari-larian.
Tapi tak apa, ini untuk keadaan yang darurat, karena heels-ku ini bisa kucopot untuk menembak orang. Lebih tepatnya bagian heels-ku ini adalah pistol kecil yang disamarkan seperti heels sepatu.
"Val, ayo lari!" ujarku pada Val.
Kita berdua pun berlari ke luar gedung asrama perempuan. Aku dan Val sudah sampai di lobby.
Eh?
Alexa, ya?!
Sekilas aku melihat seseorang yang mirip Alexa… eh? Apa benar itu Alexa? Subuh-subuh begini? Masa iya, sih?
Aku menoleh ke belakang untuk memastikan, tapi… anehnya, ia sudah menghilang.
Ah, apa aku salah lihat, ya?
Mungkin saja.
Aku kembali berlari menyusul Val yang sudah di depan, saat sampai di depan pintu, sudah terlihat para agen sudah berkumpul menunggu kita berdua.
"Astagaa akhirnya!" ujar Ruby saat menyadari keberadaanku dan Val yang baru sampai.
"Ehehe, maaf telat lagi." Ujarku dengan cengiran kecil.
"Ya sudah ayo, keburu ketinggalan pesawat." ujar Jack. Ia memakai setelan yang hampir serupa denganku, bedanya, ada sedikit warna merah di pinggir jaket kulitnya.
Eh? Rambut aslinya ternyata berwarna hitam... terlihat dari rambut hitam yang sudah tumbuh sekitar tiga senti itu.
Jadi selama ini rambut putih itu hasil dicat?
Waahh, aku kira uban!
Jack menyisir rambutnya ke belakang dengan jarinya, lalu menaiki motor besarnya itu, kemudian ia memakai helm full face-nya.
Aku terdiam.
A-ah.. Sekarang aku tahu mengapa dia punya banyak penggemar.
Sangat… sangat tak heran.
Jack terdiam, sepersekian detik kemudian, ia membuka kaca helm-nya lalu menoleh ke arahku, “Tunggu apa lagi?”
Aku tersentak, lalu menoleh ke kanan-kiriku yang sudah kosong. Ruby, Val dan Kim sudah berada di jok motor mereka dengan nyaman, masing-masing dibonceng, kecuali Kim yang menaiki motornya sendiri.
Walau begitu, Kim terlihat sangat keren dengan motornya!!
“A-ah, oke.”
○○○
Setelah satu setengah jam di perjalanan, kita semua akhirnya sudah sampai di bandara.
Sangat lucu sebenarnya, fakta bahwa kami bisa saja berteleport dengan Zav, tapi malah memakai motor. Tapi tak apa, udara perkotaan subuh-subuh begini sangat segar, jadi aku tak masalah.
__ADS_1
Begitu masuk ke dalam, beberapa orang yang lewat di sekitar kami, memperhatikan kami dari atas sampai bawah. Ada juga yang sambil berbisik-bisik pada temannya.
Apa yang mereka bicarakan? Sampai-sampai memperhatikan kita begitu sekali…
"Sie sehen fantastisch aus." ujar dua orang yang baru lewat di sebelah Ruby. Itu adalah bahasa Jerman, artinya 'mereka keliatan keren'.
Oh? Masa sih??
"Karera wa kūru ni mieru." Ujar seseorang lagi.
Ah mereka orang Jepang, tapi… aku tidak tahu artinya…hehe. Mungkin Alexa tahu, eh iya, apa belum pernah kuberi tahu? Alexa berdarah Jepang loh! Tak heran wajah asia-nya terlihat imut.
"Sst sst liat deh, yang itu tuh, yang geng di sana itu! Keren-keren ya!"
"Ils ont l'air cool."
Aku… tak mengerti… hahaha! Maafkan aku yang hanya bisa tiga bahasa ini. Tolong jangan menaruh ekspektasi yang terlalu tinggi padaku, yaa! Aku bukan seorang polyglot.
"Merci les gars." ujar Zav pada orang perancis itu.
Wah?! Zav bisa bahasa Perancis!
Masih sambil berjalan, aku menghampirinya, “Artinya apa, Zav?” tanyaku penasaran.
Ia menoleh ke arahku, “Oohh itu… mereka bilang kita keren, terus kusahut deh, ‘terimakasih guys’, begitu. Hahaha!”
Aku terkekeh, lalu melirik ke arah orang Perancis tadi, mereka langsung mempercepat jalannya, kutebak mereka malu karena Zav menyahut percakapan mereka tadi.
"Ahahahah.. ck ck ck..." tawa Val yang ternyata juga ikut melihat mereka.
Omong-omong, sepertinya daritadi wajah Kim begitu murung, wajahnya sedih dan gelisah, lalu aku sadar, dia sesekali melihat ke arahku dengan tatapan gelisahnya.
Sejak kemarin sore, saat aku melihat Kim pingsan dengan bertumpuk-tumpuk tissue berlumuran darah, ia jadi jarang bicara. Kupikir dia sedang bad mood, jadi tidak terlalu kupikirkan, tapi sepertinya tidak begitu, deh...
Apa ada hal lain?
"Pesawatnya sebentar lagi, nih." ujar Rylan. Ia menoleh pada Ruby, “Mau ke toilet dulu, gak?” bisiknya pada Ruby yang masih bisa kudengar sedikit.
Ruby menggelengkan kepalanya pelan. Ia ada di sebelah Jack, yang berada tepat di sebelahku.
Tiba-tiba Kim menghampiri Jack, lalu berbisik sesuatu padanya. Tak lama kemudian, Jack mengangguk.
"Sebentar, aku mau ke toilet dulu." Ujar Jack.
“Aku juga mau ke toilet dulu, wait guys.” Ujar Kim.
Aku menautkan alisku. Jelas-jelas itu hanya alasan. Ada apa sebenarnya?
Sepertinya ada sesuatu yang janggal..
"Ya sudah kita duduk dulu yuk, ah! Aku mulai capek." ujar Val yang langsung membuat Zav mengerutkan alisnya, “Kan aku yang nyetir..?”
Melihat tatapan polosnya Zav, Val berdecak, “Iya, tapi ngebutnya gak kira-kira, capek tahu menahannya.” Ujar Val dengan nada kesal.
Zav terkekeh, “Kalau gak ngebut, gak pegangan, sih.” Ujarnya yang membuat Val memutar matanya, lalu tersenyum malu.
BISA DIAM TIDAK?
Aku tidak tahan di sini, hiks.
"Iya, di situ yuk!" ujar Ruby setuju, ia menunjuk ke arah deretan bangku yang kosong.
Aku dan yang lainnya pun duduk, menunggu pesawat yang kata Rylan sih, sebentar lagi datang.
Aku menoleh pada Val di sebelahku, ia memberi isyarat pada Zav yang duduk di seberangnya. Val mengulurkan tangannya.
"Apaan?" Tanya Zav yang dibalas poker face oleh Val.
"Tiketnya tadi mana dodol." ujar Val yang kuyakin mulai kesal, hahaha! Mereka ini lucu ternyata.
"Oh iya! Tiketnya mana oi!" ujar Rylan yang ikut mengulurkan tangannya pada Zav.
Zav meringis, "Hehe, lupa." Ujarnya, lalu ia merogoh saku celananya.
Ruby terbelalak, "Lecek dong kalau kau simpan di situ, Zav ih!"
"Nihh dari Pak Brian, lecek gak apa-apa, dipakai sekali doang ini." lanjutnya sambil memberi tiketnya kepada Val. Sebuah keputusan yang bagus, karena apapun yang ada dalam pengawasan Val akan tersimpan rapih, aman, sempurna sampai akhir.
“Kalau Kak Brian tahu dia dipanggil 'pak', bisa tamat riwayatmu Zav.” Ujarku dengan seringiaian kecil.
“Haha! Gak mungkin, Claire. Kau tak tahu, ya? Aku ini anak kesayangan Pak Brian.” Ujarnya dengan senyuman bangga.
Aku menoleh pada Val dengan bingung, untuk meminta konfirmasi. Val menggeleng lelah, “Jangan percaya, Kak Brian paling gak suka dia tahu, Claire.”
“Hahaha, kok bisa?”
Val membulatkan matanya, lalu melirik Zav, kemudian kembali menoleh padaku, “Yaa… lihat saja tuh! Abnormal.” Ujar Val yang membuatku semakin tertawa.
Iya, sih! Aku setuju kalau Zav memang berbeda dengan penampilan luarnya yang tampak sama es batunya dengan Jack, setidaknya, begitulah kesan pertamaku padanya. Dan di sekolah, ia juga terkenal. Tampak luarnya yang dingin, didukung dengan wajahnya yang bisa di bilang tampan itu (aku mengakuinya memang) tak heran ia juga banyak yang suka. Sama… seperti Jack.
Setelah itu, Val membagikan masing-masing tiketnya. "Rylan sama Ruby nih, seat-nya bersebelahan," Val memberi kedua tiketnya kepada Rylan dan Ruby.
"Kim sama Zav." Ia memberikan satu tiketnya untuk Zav, satu lagi untuk Kim. Kimberly mengangguk, tanpa mengatakan apapun, ia menerima tiketnya.
"Jack, Claire dan aku, bareng seat-nya, kita bertiga." ujarnya lalu memberikan dua tiketnya padaku. "Nih Claire, nanti kalo Jack sudah kembali, berikan padanya, ya." lanjutnya.
Aku mengangguk. “Oke!"
Ah astaga, kurasa aku ingin ke kamar kecil sekarang..
"Sebentar ya, aku mau ke toilet dulu." ujarku lalu segera berjalan- ah ralat, aku berlari ke toilet!
Sudah tak tahaan lagii! Mengapa tiba-tiba kebelet begini, sih?!
Saat aku sampai di toilet, suasana yang sama seperti tadi terjadi padaku.. ya, bisikkan-bisikkan mereka di sekitarku! Tapi mana sempat aku mempedulikan mereka disaat aku sedang kebelet begini?
Tanpa menunggu lama lagi, aku langsung saja masuk ke dalam bilik yang sedang kosong, karena bagusnya sedang tidak antre.
__ADS_1
Fiuh. Untung saja.
Setelah buang air kecil, aku keluar dari bilik dan hanya membalas mereka yang masih berbisik-bisik dengan senyuman, lalu aku segera keluar toilet.
Eh?
Bukankah itu Kim dan Jack?
Aku melihat mereka sedang berbicara sesuatu di luar koridor toilet.
EH!
Tunggu!!
Apa itu?!
Aku menganga, bahkan sangat lebar.
KIM SEDANG MIMISAN!
B-BAHKAN…
… MULUTNYA JUGA MENGELUARKAN DARAH!
Aku menutup mulutku, mencegah lalat masuk.
Yang membuatku heran, mengapa Jack tak menolongnya?! Ia hanya mengulurkan se-pack tissue, membiarkan Kim mengusap semua darah yang keluar dari hidung dan mulutnya sendiri.
Kim jelas-jelas sedang berbicara, dari sini terlihat mulutnya berkomat-kamit mengatakan sesuatu. Sesuatu yang tak bisa kudengar dari sini, kami terpisah oleh kaca, walau jarak kami tak jauh. Tapi… yang pasti, raut wajah Kim terlihat baik-baik saja. Bahkan, ia terlihat bahagia.
Sedari tadi raut wajahnya murung, tapi mengapa sekarang ia terlihat begitu senang saat berbicara dengan Jack?
Ck! Apa yang mereka bicarakan, sih?!
Aku memutuskan untuk mendengar pembicaraan mereka dari balik tembok. Aku menajamkan pendengaranku, lalu diam-diam aku berhasil mendengar sesuatu.
“... kita memang akan terpisah untuk sementara waktu, tapi dalam beberapa tahun kemudian, kita akan kembali lagi, Jack.” Ujar Kim, lalu mengusap darah yang mengalir dari hidung dan mulutnya dengan tissue.
Apa maksudnya??
Heii!! Jelaskan dulu apa maksudnya ini?!
Jack terlihat bingung… ia menautkan alisnya, lalu ia mengatakan sesuatu… Ah sial, apa yang ia katakan?!
Apa aku kurang dekat?
Sebentar, aku akan coba lebih menanjamkan pendengaranku.
“Sudah lah! Kau bisa kehabisan darah! Jangan berkata apa pun lagi!”
Aku masih tidak mengertiii!!
Ini tentang apa, sih?!
“Tiga tahun. Pengelihatanku sudah sampai sejauh itu. Jadi setidaknya, kau bisa tenang selama tiga tahun. Sisanya, tunggulah sampai aku da-“
“Kubilang diam!” ujar Jack dengan tatapan dinginnya. Seolah memaksa Kim untuk menurutinya. “Terimakasih, Kim. Kau sangat nekat dan membantu, aku benar-benar berterimakasih, tapi sekarang cukup. Aku sudah mengerti garis besarnya.”
Sebenarnya…
ADA APA?
Aku yakin mereka menyembunyikan sesuatu dariku..
Ralat. Percakapan mereka berdua seperti… sesuatu yang bahkan dirahasiakan dari agen yang lain.
Aku mendengar suara langkah kaki mendekat ke arahku, dengan sigap, aku langsung berlari diam-diam kembali ke tempat para agen berkumpul tadi.
Bersikap seolah tak ada apa-apa.
"Claire? Kok lama, kamu gak apa-apa kan?" Tanya Ruby begitu aku sampai.
Jack dan Kim juga lama, lama sekali malah… tapi kok tak ditanyakan, sih!
"Gak apa-apa kok, ehehe."
"Eh itu dia Kim-EH DIA KENAPA!?" Teriak Ruby.
Aku ikut menoleh ke arah Ruby berteriak. Ah, itu… Kim dan Jack.
Wajah Kim pucat sekali! Dan dia menggenggam sapu tangan di kedua tangannya, samar-samar, terlihat bercak darah di sapu tangannya.
Aku merinding.
Aku bingung.
Aku takut.
Sebenarnya… ada apa?
"Your attention please, passengers of Air France on flight number FA328 to California, US state please boarding from door A12, Thank you."
"Gak apa-apa, tenang saja, kelaparan doang ini… jadi pucat gak jelas gini hehe… nanti di pesawat aku makan, deh."
Bohong.
"Hah? Kayak begini gak apa-apa?! Ih yang bener aja Kim!"
"Iya kok, sudah jangan berlebihan By, ayo masuk, tuh sudah di-announce." ujar Kim sambil menarik Ruby ke arah pintu A12, sesuai arahan.
Belum sempat mereka berjalan, Zav menepuk pundaknya, "Eh Kim! Kau benar gak apa-apa??" Tanya Zav khawatir.
"Ah bandel sekali kalian ini! Dibilang gapapa, sudah ayo, mau ketinggalan pesawat kalian semua?"
Akhirnya kami berjalan mengikuti Kim dan Ruby yang sudah di depan duluan. Aku mendengar Val berbisik kepada Jack di belakang. "Aku yakin ada yang gak beres, Kim kenapa? Bilang gak! Kau apakan dia, hah?"
"Gak aku apa-apakan."
__ADS_1
Aku memutuskan untuk mempercepat jalanku agar tidak mendengar percakapan mereka lagi.