
[Claire’s POV]
“Sebenarnya kita mau kemana sih?” Claire mendengus. Sudah sedari tadi Jack menariknya tapi tak memberi tahu tujuannya sedikit pun.
Mereka sudah sampai di gerbang sekolah sekarang. Berhubung sudah waktunya pulang sekolah, banyak murid-murid yang berlalu-lalang melewati kita. Tahu apa artinya itu? Tentu saja! Musuhku bertambah banyak!
Mereka semua menyernyit heran, selain dengan bisik-bisikkan ‘Hei! Mengapa Jack bisa bersama perempuan itu terus, sih?!’, tentunya mereka bingung melihat aku dan Jack berlari ke gerbang sekolah. Kita kan tinggal di asrama, ingat?
Aku menoleh pada lelaki di sebelahku ini. Kita berhenti tepat di depan gerbang sekolah.
Ia menoleh padaku sekilas, “Tunggu di sini.” lalu ia melepas genggaman tangannya dan berlari pergi.
IH?
APA MAKSUDNYA SIH?
Ah, ada-ada saja manusia satu ini!
“Hei.”
Aku menoleh. Wahhh… si menyebalkan! Siapa lagi kalau bukan Sally?!
Haha! Pancinglah aku semaumu, sekarang aku sudah jinak!
Dia menatapku sinis bukan main, bersama tiga perempuan di belakangnya. “Mau kemana kau bersama Jack?! Tadi kau berlari ke sini bersamanya, kan?!”
Tuh kan, belum apa-apa sudah marah.
Aku membalikkan badanku, membelakangi mereka, aku tak peduli. Sejinak apapun aku sekarang, aku masih harus tetap berjaga-jaga.
Aku mendengar dia mendengus kesal, “HEI!!”
“AW!”
Wah! Berani-beraninya ia menjambak rambutku!!!
Aku menoleh, “Apa sih?!”
Sabar Claire, sabar… manusia satu ini memang titisan kambing.
“JAWAAB!! MAU KEMANA KAU?!” Ia berteriak lantang, sampai orang-orang di sekitar memusatkan perhatiannya pada kita.
Hehee… akan kujahili kau kambing.
“Heeuumm… kemana yaa?” aku mengetuk-ngetukkan jari telunjukku pada daguku, berpura-pura berpikir, “Kalau… aku gak mau kasih tahu, gimana?” ujarku sambil menyeringai.
[Author’s POV]
Sally meremas minuman yang sedang ia genggam, dengan raut kesal, ia melayangkan tangannya pada Claire.
Berbeda dengan reaksi biasanya, alih-alih terpancing, Claire malah menyeringai. Diam-diam, ia sudah memusatkan telekinesisnya pada tangannya yang ia sembunyikan di belakang. ‘Sedikit saja, aku tak akan sampai banting tiang listrik, kok.’ Pikirnya.
BREEEEMM...
Suara motor membuat perhatian para perempuan itu teralih, Claire tersentak. Begitu pun Sally dan teman-temannya. Membuat Sally mematung dengan telapak tangannya yang beberapa senti lagi mengenai wajah Claire.
Di depan gerbang, sudah ada seorang lelaki dengan motornya berhenti di depan gerbang.
Ralat, dua orang lelaki.
Salah satu dari mereka berhenti di depan Claire persis. Ia menurunkan sebelah kakinya untuk menahan beban motornya, lalu ia membuka kaca helmnya, menampilkan wajah tak asing itu.
Ia menoleh pada Claire, “Ayo naik.” Ujarnya dengan deep voice khasnya. Rahangnya yang tegas dan sorot matanya yang tajam itu memang seolah membuat semua perempuan di situ bertekuk lutut akan wajah tampannya yang memang tidak manusiawi.
“A-a-a-anu.. h-ha-hai k-kak Jack…” ujar Sally dengan gugup.
Alih-alih merespon, lelaki itu berdecak melihat Claire yang masih saja mematung.
Ia mendekatkan tubuhnya pada Claire, “Sini.” ujarnya lalu memakaikan helm yang ia pakai tadi, pada Claire. “Aku cuma bawa satu, kau saja yang pakai.”
Bohong kalau Claire tidak memerah sekarang. Untung saja kaca helm yang hitam itu menutupi wajahnya. “O-oke.” Ujarnya, lalu ia menoleh pada seorang lelaki di belakang Jack, “Itu siapa?”
__ADS_1
Lelaki itu membuka kaca helmnya. Menunjukkan sorot mata lembutnya seperti biasa, “Hai, Claire.” Ujarnya lalu pandangannya teralih pada seseorang di belakang Claire, “Ayo naik.”
Claire menoleh ke belakang, sudah ada Ruby yang sedang mengikat rambutnya, ia berjalan menghampiri Rylan. “Why you’re so late?”
Rylan tertawa kecil, “Sorry, babe.”
Claire semakin mematung. Memikirkan kemungkinan telinganya salah dengar, tapi tidak. Ia rasa memang benar. Pemandangan di depannya membuatnya merasa yakin. Ruby yang sudah duduk di jok belakang Rylan, lalu memeluk lelaki itu mesra.
‘Untung… belum terlalu dalam.’ Ujarnya dalam hati.
Claire tersentak, Jack tiba-tiba menggenggam tangannya, menariknya pelan ke arahnya. “Naik cepat.”
Tanpa berpikir lama, ia langsung menaiki motornya itu, membuat orang-orang yang melihat mereka benar-benar seperti paparazzi yang mendapat bahan baru untuk dijadikan hot topic di sekolah itu.
“Kita mau kemana?” Tanya Claire.
“Pegangan.” Tentu saja Jack tak akan repot-repot menjawab pertanyaannya barusan.
“G-gak usah, hukum newton pertama gak berlaku buatku- AAAH!” ujarnya yang berujung menempel pada punggung Jack. Ia sengaja gas lalu mengerem motornya mendadak, kalau tidak, perempuan di belakangnya ini akan memakan waktu untuk sekedar berpegangan.
Jack terkekeh kecil, “Berlaku tuh.”
Mendengar itu, Claire mendengus kesal lalu melingkarkan tangannya di pinggang lelaki itu, membuatnya tersenyum tipis.
Tak lama kemudian, kedua motor itu melesat pergi meninggalkan sekolah itu dan puluhan pasang mata memperhatikan mereka dari belakang.
○○○
Mereka sudah sampai depan suatu gerbang menjulang tinggi, dengan desain elit dan berkelas. Tentu saja, gerbang AOM.
Ruby turun dari motor Rylan lalu membuka helmnya, begitu pun dengan Rylan.
Jack menurunkan sebelah kakinya utuk menahan beban motornya, menunggu Claire turun lebih dulu.
Claire turun dengan raut wajah kebingungan, “Kok kita ke sini?” ujarnya sambil melepas helmnya, ia menoleh pada Jack dan memberi helm itu padanya. “Terimakasi- eh, berantakan tuh!” ujar Claire lalu berjinjit, walau masih tak sampai, tapi ia tetap berusaha merapikan rambut Jack yang berantakan.
Hembusan angin membuat rambut perak milik Jack menjadi tidak beraturan, tetapi hal tersebut justru membuatnya terlihat lebih keren dimata para perempuan.
Claire menoleh pada Ruby, “Ruby, kok kita ke sini?”
Ruby berjalan menghampiri Claire, “Masuk dulu yuk, aku sambil jelasin.” Ujarnya sambil menggandeng Claire lalu berjalan masuk ke dalam. Diikuti Rylan dan Jack di belakang mereka.
Rylan terkekeh, “Modusnya lancar, bro?” bisiknya pada Jack yang sedang mengusap tengkuknya gugup.
Alih-alih melempar tatapan maut seperti Jack biasanya, ia malah tersenyum lalu terkekeh kecil.
Jangan heran, ia memang berbeda kalau bersama teman lelakinya. Boys will always be boys.
Sementara itu, Ruby menjelaskan panjang lebar pada Claire mengapa mereka di sini sekarang.
“Oh ya ampun!! Jadi Kim dirawat di AOM Karena akan menjelang pembaruan kekuatannya?” Claire membulatkan matanya, “Lalu yang lain mana?!”
“Mereka sudah sampai di sini lebih dulu, Claire. Saat Zav mengantar Kim tadi, yang lain langsung menyusul karena mendengar keadaannya semakin parah.” Ujar Ruby.
Mereka berjalan di koridor melewai ruangan demi ruangan, dindingnya terbuat dari kaca, semuanya terkesan sangat elit. Tak heran sih, gedung AOM mana mungkin biasa saja.
“Kalau begitu, Kak Brian mana?” ujar Claire tiba-tiba menjadi antusias, sudah lama ia ingin bertemu Pimpinan AOM itu.
Bagaimanapun juga, seharusnya misi ini diawasi Brian, karena ini adalah misi yang sangat penting, seharusnya Brian berperan penting juga sebagai dalang dan mentor mereka. Berkomunikasi setiap waktu.
Tapi nyatanya, sampai sekarang Kepala Pimpinan AOM itu tak pernah terdegar kabarnya lagi.
“Ohh itu, sepertinya Kak Brian sedang pergi ke Itali, kudengar ia sedang menjadi tamu di AOM pusat di Itali.” Ujar Rylan dari belakang.
Claire ber-oh ria. Sangat disayangkan, padahal ia ingin bercerita banyak pada Kak Brian.
“Ini ruangannya.” Ruby berhenti di depan sebuah ruangan kaca, tempat Kim ‘dirawat’.
Rahang Claire terjatuh, “K-kim…?” ia melongo tak percaya.
Di dalam ruangan gelap itu, Kim terduduk di lantai, tangan dan kakinya dirantai, rambut panjangnya acak-acakkan tak karuan, penampilannya sangat berantakan.
Claire masih ingat betul saat ia menginjak umur 17 tahun, menjelang pembaruan kekuatannya, ia dirawat dengan sangat baik oleh para perawat AOM dan juga Brian. Ia tahu, pembaruan kekuatan memang membuat mental pemiliknya menjadi down parah, emosinya tak stabil dan tak bisa mengendalikan diri. Itu semua terjadi karena tubuhnya sedang beradaptasi dengan kekuatan baru yang akan masuk ke tubuhnya.
__ADS_1
Tapi… tak seharusnya sampai begini…
Claire melihat mata indah Kim yang biasanya memiliki sorot tajam menawan, sekarang sorot mata itu sendu, bahkan ada bekas air mata yang jelas terlihat.
Ruby menyadari raut bingung Claire, “Kim adalah pengendali waktu, Claire. Semuanya menjadi rumit.” Ujarnya.
Kim mengadah ke atas, melihat Claire, Ruby, dan yang lain. Ia langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya, sambil bergumam aneh.
Ngeri, memang. Tapi masih terlalu dini untuk dibilang orang gila.
Claire mengerutkan alisnya, “Rumit?” Claire menatap Ruby dengan penasaran, apa maksudnya rumit?
“Saking rumitnya, aku juga tak mengerti.”
Claire menatap Ruby semakin bingung. Serumit apa sih maksudnya?
Jack menyeringai, “Dimensi Paralel.” Ujarnya singkat, membuat tiga temannya itu menoleh, mereka tak mengerti.
“Maksudnya?” Tanya Rylan.
“Pembaruan kekuatan yang akan didapat oleh pengendali waktu adalah pengelihatan masa depan dan masa lalu akan bisa ia tinggali dalam waktu yang sangat lama, dan…” sorot mata Jack menerawang ke arah Kim, “… akses untuk melihat dimensi parallel.”
“WHAT?!”
Bukan hanya Claire, sekarang Rylan dan Ruby pun ikut terbelalak.
Rylan menggeleng kagum, “Damn, she’s insane.”
Claire termenung menatap Kim , “She is!!”
“Wait wait.. memangnya sesuatu seperti itu benar ada?” Ruby mengerutkan alisnya, mencoba memproses apa yang baru saja didengarnya.
“Well,” Jack menunjuk Kim dengan dagunya, “the fact that it really exist.”
Claire memperhatikan Kim yang sedang menghadap dinding, membelakangi mereka semua sambil bergumam. “Dimensi paralel… apa maksudnya itu?”
“Dunia yang kita tempati dan tinggali ini ada lebih dari satu, dan mungkin ada banyak dunia lain yang berjalan sejajar dengan dimensi realita kita, Clai-“
“Tapi kan, ruang dan waktu itu relati -“
“Memang, Claire, memang. Tapi yang kumaksud sekarang bukanlah time travel, walau aku bisa jelaskan kalau kau bertanya tentang itu. Tapi maksudku adalah dimensi parallel, yang memang terkenal hanya dikemas dalam judul postulat.” Ujar Jack yang diam-diam menjadi lebih antusias. Ia suka membahas sesuatu seperti ini.
Ruby merasa kepingan puzzle yang tadinya hilang, sekarang sudah ia temukan. Ia menepuk pundak Claire pelan, “lihat Kim, menurutmu apa yang terjadi padanya sekarang?”
Claire menoleh dan memusatkan perhatiannya lagi pada Kimberly yang sedang bergumam sendiri. “Aku… gak tahu.”
Ruby tersenyum, mengikuti arah pandangan Claire, “Aku punya hipotesis kecil-kecilan tentang itu.”
Claire langsung menoleh penasaran, membuat Ruby terkekeh melihatnya, “Tapi tidak. Aku gak mau mengungkapkannya,” Ruby meringis, “Kim sudah menikah dengan hukum alamnya.” Ujarnya membuat Claire tambah bingung.
“Hukum alam sudah mengikatnya erat, yang berarti, kita juga akan terikat dengan hukum alamnya. Jadi, biarlah apapun hipotesis kecil-kecilan Ruby itu, jadi sekedar hipotesis imajiner.” Rylan menyahut.
Claire ber-oh ria, ia tak menyangka hal semacam ini nyata. “Terus, Jack, apa penjelasanmu tentang time travel tadi? Selama ini kan Kim memang sudah bisa tinggal dalam dimensi waktu yang berbeda… lalu apa bedanya?”
Claire merasa seperti menemukan jendela yang bisa ia buka untuk menyerap semua ilmu-ilmu yang baru bisa ia telaah.
Jack membasahi bibirnya, bersiap akan menjelaskan panjang lebar. “Menurutmu selama ini Kim bisa mengakses dimensi waktu yang berbeda darimana?”
Rylan tersentak, “Jack, memang kita boleh sejauh ini?”
Semenjak Kim ‘menikahi’ hukum alamnya, semua penjelasan postulat yang telah menjadi nyata ini memang sedikit harus dibatasi.
“Tak apa, ini bukan tentang dimensi parallel.” Ujar Jack, lalu ia menoleh lagi pada Claire, menunggu jawaban darinya.
Claire menatap langit-langit, ia mencoba berpikir. “Menurut teori realitivitas, waktu bisa meregang, menciut, tapi tak bisa bergerak mundur…” ia mengingat-ingat apa yang telah dipelajarinya dulu, “… satu-satunya yang bisa hanyalah… gravitasi.”
Jack menjentikkan jarinya, “Yup.” Ia tersenyum puas.
Oh, mungkin informasi tambahan, cara menyenangkan Jack cukup mudah sebenarnya, berilah dia jawaban yang tepat atas pertanyaan sainsnya.
Sorot mata Claire menerawang, “Jadi, sumber kekuatan Kim ada pada…” ia membulatkan matanya, baru mengerti sesuatu.
“… BLACK HOLE?!”
__ADS_1