
[Author’s POV]
Gadis itu tersungkur jatuh.
Air mata membanjiri pipinya.
Ia menekan dadanya semakin kuat, nyeri.
“Claire-“ ujar Jack, yang langsung dihentikan oleh Valerie. Val menggeleng pelan kepada Jack, ‘Jangan diganggu.’
Kim mengepalkan tangannya. Pandangannya mengarah pada Claire, ia melemah. Seolah dapat merasakan kesedihannya juga, hatinya telah luluh.
Tidak sampai di situ. Claire tetap bangkit, lalu berjalan terseok-seok ke arah pria itu.
Air matanya terus mengalir tanpa henti, tapi tak sekalipun matanya berkedip. Melihat itu, Jack tak bisa tinggal diam lagi, ia tak menghiraukan Val dan Rylan yang menghalangi jalannya, lelaki itu berlari menghampiri Claire sebelum ia jatuh tersungkur lagi.
Jack merangkul bahu Claire dengan lembut, lalu mendekap gadis itu ke dalam pelukannya, membuat Claire langsung mengeluarkan suara tangisan yang sedari tadi tak bisa keluar dari tenggorokannya. Air mata yang mengalir deras di pipinya itu membasahi baju lelaki itu, tapi ia tak peduli. Ia mengelus kepala gadis itu lembut. Bukan untuk menenangkan, melainkan untuk membuatnya menangis lebih keras lagi, agar semua kesedihannya terlampiaskan.
Diam-diam, Jack mengamati pria berlumuran darah di depannya itu. Ia memakai jas laboratorium yang berwarna putih, tapi sekarang sudah menjadi merah darah. Perutnya bolong, bekas luka tusuk, dan kalau dilihat lebih jeli lagi… kulit tangan dan kaki pria itu kotor, penuh debu dan kotoran dari tanah ruangan bawah tanah ini. Terlebih lagi, dari tubuhnya, pria ini terlihat kurus… kurus yang tiba-tiba. Bukan memang dari dulu.
Jack mengambil kesimpulan dari analisanya, bahwa… pria ini sudah dikurung di sini selama dua minggu. Kurang lebih. Dan kemungkinan besar… sangat jarang diberi makan.
Ia melirik nama yang tertulis pada jas laboratoriumnya.
Alan Clark.
Ia familiar dengan nama itu. Sangat familiar, seperti sering dengar di suatu tempat.
Dan satu lagi yang mengganjal pikirannya.
Mayat pria bernama Alan Clark itu… menggenggam sesuatu di tangannya. Jack melihat dari celah-celah jari pria itu, benda itu bercahaya. Tapi sepertinya, Claire dan yang lain tak menyadari itu.
Masih dalam posisi memeluk Claire, Jack diam-diam mencoba menyentuh tangan mayat pria itu… ia ingin membuka kepalan tangannya.
‘Benar. Benda itu bercahaya.’
‘Bahkan terlihat jelas bahwa benda itu bercahaya, tapi mengapa yang lain tak menyadari ini? Mereka seperti…. Tak bisa melihat benda ini.’ Ujar Jack dalam hati.
Saat ia ingin menyentuh benda itu, Claire tiba-tiba melepas pelukannya. Gadis itu berteriak.
“A-AYAH... BANGUN! K-KENAPA… AYAH BISA DI SINI?!… HIKSS….” Tangisan Claire semakin menjadi, membuat Jack membatalkan niatnya untuk menyentuh benda itu.
‘Selama tak ada yang bisa melihatnya, benda itu tak akan direbut siapapun, kan?’
Fokusnya kembali mengarah pada gadis di sebelahnya.
Sejujurnya, Claire tak mengerti mengapa ayahnya bisa berada di sini. Dan lagi… keadaannya sampai seperti ini..
“ZAV!! TOLONG CEPAT BAWA AYAHKU KE RUMAH SAKIT!! D-DIA… HIKS…” Air matanya membasahi seluruh wajahnya. Claire mendekatkan telinganya dengan dada mayat ayahnya, mencari suara kehidupan dari dalam sana. “… CEPAT ZAV…” Claire menangis dengan menempelkan telinganya dengan dada ayahnya, “… ayahku… masih bisa diselamatkan… pasti… masih bisa…”
Saat Zav berlari menghampiri mayat pria itu, ia tertegun. Langkahnya terhenti, ia mematung.
“Dia datang.” Gumamnya pelan, dengan wajah pucat.
__ADS_1
Ada suara langkah kaki mengarah pada mereka. Mendekat… semakin dekat…
KREEK…
Pintu kayu itu terbuka.
Tampaklah seorang gadis berambut cokelat madu dengan panjang se-pinggang, maniknya berwarna cokelat terang, ia menatap manik Claire yang tergenang air mata. Sudut-sudut bibirnya perlahan terangkat, ia tersenyum.
“Hai tamuku.”
Claire menatap perempuan itu dengan tatapan kosong. Kedua bahunya melemas, ia tak percaya apa yang dilihatnya.
“… Nancy?”
Perempuan itu terkekeh pelan, lalu ia memiringkan kepalanya untuk melirik mayat pria di belakang Jack. “Masih menangisi pria tua itu, ya? Ah… sepertinya aku datang di saat yang tidak tepat.” Ujarnya enteng. Tapi entah bagaimana, nadanya terdengar merendahkan.
Dada Claire kembali nyeri. Walau ia tak mengerti apa-apa, tapi ia dapat sedikit berasumsi, dan asumsi itu...
... membuatnya kesal.
“Jadi, selama ini kau adalah… Apesta?” tanyanya memastikan. Ia mengepalkan tangannya, menahan murkanya yang ingin meledak.
Nancy berjalan ke arah Claire. Diam-diam, ia merasakan aura telekinesis Claire yang mulai membara. Kesempatan itu tak akan ia buang sia-sia.
Nancy mendekatkan wajahnya dengan Claire, lalu ia mengusap sebelah pipi Claire yang basah oleh air mata.
Claire mematung, tubuhnya tak bisa bergerak.
Claire mencekik Nancy secepat kilat. Aura merah gelap itu terlihat jelas, membara seketika. Seperti sayap yang dikepakkan, aura merah itu membuat sekitar mereka tercekat tak bisa bernapas. Claire sudah tidak peduli dengan sekitarnya, ia mencekik Nancy dengan kencang, mengeluarkan amarahnya yang sudah meledak.
“ARGGHH!” Nancy menepuk-nepuk kedua tangan Claire yang mencekiknya erat, tapi gadis itu tak menghiraukan. Tatapan matanya adalah tatapan membunuh. Warna maniknya tidak berubah menjadi merah, tapi mata cokelat terangnya yang berkaca-kaca itu mengungkapkan kemarahan dan hasrat membunuh yang sangat besar.
Nancy menyeringai kecil. Umpannya sedikit demi sedikit sudah termakan.
Sementara itu, lengan kanan dan kiri Jack sudah ditahan dengan erat oleh teman-temannya. “Jangan berani-beraninya kau memisahkan mereka. Dari dulu aku sudah ingin melihat leher Nancy dicekik seperti itu.” bisik Kimberly kepada Jack.
Nancy menggerakan tangannya. Dari kedua telapak tangan itu, aura merah gelap yang sama telah keluar. Ia mendorong Claire dengan kekuatan telekinesisnya sekuat tenaga.
Tapi nihil, ternyata kekuatan telekinesis yang ia punya tak sekuat Claire.
Masih tak menyerah dengan itu, Nancy mencoba cara lain.
Ia masuk ke dalam pikiran Claire.
“MENJAUHLAH!!” ujarnya mengendalikan pikiran Claire. Nancy menyeringai puas, ia yakin pasti akan menang.
Sesaat kemudian… tak ada apapun yang terjadi.
Seringaian Nancy memudar. Pasti ada sesuatu yang menghalau kekuatan mind control-nya.
“Apa kau tidak bisa mengendalikan pikirannya?” ujar Valerie memasuki pikiran Nancy, “Iya lah, kan ada aku. Apa kau lupa?” lanjut Val dalam pikiran Nancy, membuat Nancy menoleh dengan raut wajah kesal. Val balas dengan seringaian.
Rylan terkekeh kencang, “Aduh. Memalukan sekali.”
__ADS_1
Mendengar itu, Nancy menggerang kesal. Salah, ia bahkan belum menggunakan seluruh kekuatannya. Nancy melepas usaha memasuki pikiran Claire yang sudah dihalau Val, ia tahu itu percuma.
Tanpa diduga, Nancy menghilang dari cengkraman erat Claire, ia berteleport dan berpindah ke belakang Claire tanpa sepengetahuannya. Sebelum teman-temannya itu menghalanginya lagi, ia menghalau mereka ber-enam dengan gelombang supersonik, membuat mereka terjatuh kesakitan. Claire tersentak melihat itu semua. Ia seakan tak percaya akan apa yang dilihatnya barusan... Nancy memiliki kekuatan super... sebanyak itu?!
Melihat itu, Nancy tersenyum penuh kemenangan. Lalu ia langsung mengeluarkan belati dan menempelkan belati itu pada leher Claire dari belakangnya. Membuat darah mengalir dari lehernya.
Belati itu bukan belati biasa, ia menahan kekuatan belati itu dengan telekinesisnya, sehingga Claire tak bisa lagi menyingkirkan belati itu dengan telekinesisnya.
Nancy terkekeh pelan, “Aku duluan yang menyerang. Kau sudah tak bisa menghindar.”
Kemenangannya sudah mutlak…
… pikirnya.
Salah. Lagi-lagi keadaan berbalik.
Ruby yang tak terpengaruh apapun dengan serangan gelombang supersonik Nancy, dengan cepat mengeluarkan gelombang supersoniknya tepat di samping telinga Nancy. Membuat gadis itu tersungkur menutupi kedua telinganya erat-erat.
“AAAARGGGHHH!!!!” Ia berteriak kesakitan.
Ruby tersentak mendengar erangan Nancy, ia mundur selangkah. Denyut jantungnya berdetak tak karuan.
Meski barusan ia berhasil menyelamatkan Claire, tapi sejujurnya, sekujur tubuhnya merinding ketakutan. “C-Claire.. ka-kamu gak apa-apa?!” ujarnya sambil menghampiri Claire (berlindung di belakang Claire).
Claire tak menghiraukan pertanyaan Ruby barusan. Ia masih tak bisa fokus dengan situasi sekitarnya.
Claire menatap Nancy dengan tatapan bengis, amarahnya tak kunjung reda. Ia berjalan mendekati Nancy yang sedang bangkit berdiri perlahan.
Claire mengangkat tangan kanannya, mengeluarkan serangan telekinesisnya bertubi-tubi, membuat Nancy terjatuh lagi. Berkali-kali. Serangan telekinesisnya terasa seperti tonjokkan sangat amat keras yang didukung dengan kekuatan telekinesis yang membuat Nancy merasakan perih dan tercekat sampai tak dapat berdiri lagi.
"Bagaimana bisa kau mendapat kekuatan super sebanyak ini?" tanya Claire, masih dengan tatapan bengisnya.
Hening.
Entah memang tak punya tenaga untuk bersuara, atau Nancy memang tak berniat menjawabnya.
Claire mengeluarkan telekinesisnya, bercahaya merah datang ke arah Nancy yang masih tersungkur, membuat leher Nancy terasa tercekik dan sesak.
"A-aku mendapat kekuatan itu dari mutan-mutan yang telah kubunuh." ujarnya pelan, membuat semua orang di situ tertegun.
"Jadi itu alasan mengapa kau sering menghilang... masuk akal." gumam Claire mengerti.
Dalam dunia mutan, memang ada takdir seperti itu. Para mutan yang jahat akan saling membunuh, agar kekuatan super mutan yang dibunuh olehnya dapat berpindah kepadanya. tapi tentu saja ada konsekuensinya, semakin banyak kekuatan super yang dimilikinya, semakin sedikit efektifitas masing-masing kekuatan tersebut.
Misal, seorang mutan mempunyai 7 kekuatan super, maka 100% energinya dibagi tujuh, sehingga masing-masing kekuatannya hanya mendapat ± 14% energi. Itu lah mengapa telekinesis Nancy kalah kuat dengan telekinesis Claire yang kekuatan energinya 100%.
Claire tetap menatap Nancy dengan tatapan membunuh. Saat ia ingin menyerang untuk yang terakhir kalinya, Nancy menggenggam sebelah kaki Claire. Nancy mengadah, melihat Claire dengan lemas.
Tatapan itu… sendu.
Wajahnya memelas.
“Kak… jangan bunuh aku.”
__ADS_1