AGENT: Agent Of Mutants

AGENT: Agent Of Mutants
49. Memory of Claire


__ADS_3

[Flashback Off]


Rhea melepas sentuhannya dari kepala Claire.


Claire menatap Rhea dengan tatapan tak terjelaskan.


Rhea yang melihat ekspresi itu, merasa sedikit heran, tapi ia langsung menganggap itu sebagai ekspresi rasa bersalah dari kakak tirinya itu.


Ia menyeringai, “Berhenti menatapku begitu, lagipula kau juga sudah kalah telak sekarang.”


Pandangan Rhea beralih pada keenam agen yang berdiri di samping Claire, lalu kembali menatap Claire.“Lihatlah mereka, hahaha.. bagaimana rasanya dikhianati teman sendiri, Kak?”


Perkataan itu membuat keenam orang itu tertegun.


Saat Jack baru ingin mendekat pada Claire untuk menjelaskan semuanya, tangannya ditahan oleh Kimberly. Kimberly menatap Jack tajam, hampir seperti memelototinya, kemudian Kim menggeleng perlahan kepada Jack, sebagai tanda ‘Jangan’.


Sesaat kemudian, Jack mengurungkan niatnya, setelah ia pikir-pikir, tak ada gunanya juga memakai apa yang diketahuinya, ia memilih mempercayai gadis disebelahnya itu. Kimberly.


Kimberly menatap Rhea dan Claire dari samping, tatapannya tajam dan awas. Seperti sutradara yang sedang memastikan jalannya akting para pemerannya dengan baik, mengawasi setiap adegan yang sudah ia ketahui agar terlaksana sesuai skenario.


Tidak, itu hanya metafora. Kimberly sebenarnya sedang memastikan agar adegan penting di depannya ini terjadi sesuai masa depan, dan tidak diganggu oleh siapa pun.


Harus.


Berjalan dengan lancar.


Rhea merasa sangat puas melihat wajah kecewa kakak tirinya itu. Ia menyeringai, merasa sudah menang.


Walau Claire tak menengok kepada teman-temannya dengan pandangan menyedihkan, tapi ia menunduk.


Sesaat kemudian, ia menunjukkan ekspresi sedih. “Kau… telah menyakiti hatiku…” Claire mengadah, menatap Rhea dengan air mata tergenang pada kedua maniknya. “Aku… sangat kecewa..” ujarnya dengan air mata yang mulai menetes.


Begitu Rhea baru ingin menyerigai puas setengah mati, ekspresi Claire tiba-tiba menjadi datar.


Tanpa diduga, Claire tertawa kencang. “HAHAHA!!” Masih sambil tertawa, ia mengusap air matanya, “Kau ingin aku merespon seperti tadi, hah?” ujarnya masih dengan sisa tawanya.


Reaksi Claire yang seperti itu membuat ke-lima temannya, dan Rhea, mematung kebingungan.


Rhea menyernyit, “Mengapa kau terta-“


“Kau pikir aku tak tahu semua ini?” tanya Claire dengan senyuman kemenangan.


“Sentuhlah kepalaku lagi, lihatlah memoriku, akan kuberi tahu kau semuanya.”


[Memory of Claire]


Flashback…


Aku mengerutkan alisku. Aku melihat seseorang di balik pohon yang berada jauh dariku. Ia memakai pakaian serba hitam.


Ia berjalan mendekati kami, menghadapku, di belakang Jack. Sepersekian detik kemudian, terdengar sebuah suara dari earzoom kananku. Samar-samar.


“Deja ese lugar ahora!”


Jack tersenyum, menatapku lembut, “Karena-“


“T-tunggu!” Aku tersenyum masam pada Jack, “Maaf ya, kita lanjutkan nanti. Aku mau ketoilet dulu.”


Jack menatapku bingung. Tanpa menunggu lama, aku segera bangkit berdiri dan langsung meninggalkannya.


Sebenarnya, aku pergi mengikuti pria itu.

__ADS_1


‘Deja ese lugar ahora’ artinya adalah… ‘Tinggalkan tempat itu sekarang’.


Itu adalah Bahasa Spanyol.


Aku tersenyum senang.


Akhirnya...


Tunggu aku, Brian Alejandró!


Aku berlari mengikutinya dari belakang. Pria itu adalah Kak Brian, aku yakin sekali, dari postur tubuhnya yang sudah sangat kukenal.


Tingginya sama seperti Jack, kepalaku hanya sampai pundaknya. Badannya tegap dan terbentuk. Wajahnya tampan, seperti lukisan yang keluar dari kanvas. Huft… sayang sekali belum punya pacar.


Sampai di tempat yang sepi, ia berhenti. Lalu menoleh ke belakang, memandangku dengan manik cokelat tua miliknya. Aku mempercepat langkahku berlari ke arahnya.


“Kak Brian!”


Ia tersenyum. “Mengapa selama ini aku tak bisa menghubungimu?” ujarnya tanpa basa-basi.


“Nah, iya! Aku tidak tahu! Earzoom yang kau berikan padaku seharusnya tersambung dengan punyamu, bukan?”


Kak Brian mengangguk, “Aku sudah mencoba menghubungimu sejak sehari setelah kau masuk sekolah ini, tapi tak ada satupun yang terkirim atau menjangkaumu.”


“Aku juga selalu mencoba memberi kabar, perkembangan misi dan semuanya! Tapi tidak bisa!”


Kak Brian terdiam, mungkin ia merasa ada sesuatu yang mengganjal. Semua ini memang benar-benar tak masuk akal dan…. Aneh.


Ia kembali menoleh padaku. “Bagaimana denganmu? Apa kau baik-baik saja? Sampai mana perkembangan misinya?” tanyanya bertubi-tubi.


“Kabarku bisa dibilang baik, ah… kalau masalah misinya…” aku menghela napas, “… belum, aku belum berhasil mendapat clue yang spesifik.”


“Jelas. Walau sebenarnya, aku lebih mengkhawatirkanmu karena kau tak bisa dihubungi.” Ujar Kak Brian.


Hmmm… iya, sih. Pantas kalau khawatir. Kan seharusnya dalam setiap misi, si pemimpin harus terus berkontak dengan para agennya.


“Jujur, bahkan aku sebenarnya bingung dengan masalah ini.” Celetuk kak Brian tiba-tiba, “Untuk itu, maaf sudah menyerahkan misi yang masih belum matang ini kepadamu.”


Huh?


Mengapa dia jadi merasa bersalah begini? Kan memang tugas agen menyelesaikan hal yang belum matang, kan?


Mencari kepingan puzzle yang belum ditemukan.


Bukankah itu semua wajar?


“Bukan itu maksudku.”


Ah, aku lupa pria ini bisa membaca pikiran.


Kak Brian menatapku serius, “Banyak sekali hal aneh dalam masalah ini.”


Aku balik menatapnya serius, bersiap untuk mendengarkan. Ini pasti akan panjang.


“Pertama, earzoom milikmu tak bisa kuhubungi. Apa kau akan menerima kenyataan itu begitu saja tanpa berpikir panjang, Claire?” tanya Kak Brian.


Benar, aku memang pantas dimarahi. Bagaimana bisa aku tak pernah berpikir seperti itu.


“Menurutku... earzoom milikmu pasti diretas.”


Aku tersentak. “Apa?! Apa itu mungkin?”

__ADS_1


“Pikir saja sendiri. Apa ada seseorang yang pernah memegang earzoom milikmu? Apa pernah jatuh ke tangan orang lain?”


Jatuh ke tangan orang lain….?


“Kurasa-”


“Analisis itu sendiri nanti. Aku belum selesai, kita punya banyak keanehan di sini.” Ujar Kak Brian menatapku tanpa ekspresi. “Lalu yang kedua, aku masih tak yakin bagaimana chip itu bisa dicuri.”


“Kau tahu kan, Claire.. yang dapat menyentuh chip mutan itu hanya keturunan ayahmu… dan harus memiliki kekuatan super. Sedangkan di keluargamu, bukankah hanya kau dan ayahmu yang memiliki kekuatan super?”


“Benar…”


Aku mulai mengerti.


Benar. Ini semua sangat aneh.


Mengapa aku tak pernah terpikir sampai ke sini?!


Mungkin mengagetkan, tapi memang benar. Ayahku adalah Alan Clark, Professor sekaligus ilmuwan ternama yang menciptakan serum mutasi sehingga spesies bernama mutan menjadi ada sampai sekarang.


Selain itu, ayahku juga yang membuat chip mutan itu.


Dulu, kukira ia bercanda saat memberitahuku bahwa ia membuat suatu benda paling mematikan di seluruh Bumi yang hanya bisa disentuh oleh ayah dan aku.


Bahkan dulu aku sempat tertawa terbahak-bahak saat ayah bilang begitu.


Aku tak mengira… ternyata ia serius.


“Lalu bukankah aneh semua ini bisa terjadi, Claire? Siapa yang dapat mencuri chip itu kalau yang bisa menyentuhnya bahkan hanya kau dan ayahmu?” Kak Brian menghela napas dalam. “Itu tugas analisismu yang kedua.”


Aku tersenyum miris. “Baiklah.”


Ini semua memang ganjil, tapi… sebentar. Ada yang lebih ganjil lagi.


“Bagaimana keadaan ayahku? Ini sudah hampir dua bulan sejak chip itu dicuri. Ia pasti marah sekali.” ujarku.


Kak Brian menjentikkan jarinya, “Tepat sekali. Seperti yang kau bilang, ia akan murka bukan main… makanya aku belum memberi tahunya.”


Aku terbelalak. “APA?!”


“Ssshhh!” ia menaruh jari telunjuknya di depan mulutku.


Aku membulatkan mataku tak percaya. “Aku tak salah dengar?! Kau belum memberi tahunya?!” ujarku mengacuhkan jari telunjuknya.


Kak Brian melipat kedua tangannya di depan dada, “Belum.”


Inilah yang paling aneh.


Justru, ini!


INI YANG PALING ANEH!


“Aku benar-benar menyarankanmu untuk memberi tahunya, Kak.” Aku menatapnya serius.


Kak Brian masih menatapku tanpa ekspresi, tapi kuyakin ia sedang mempertimbangkan saranku barusan.


“Baiklah, mungkin kau benar… aku akan memberitahunya.”


“Jelas harus." Aku menatapnya tajam.


"Setidaknya… pastikan apa ayah masih ada atau tidak.”

__ADS_1


__ADS_2