AGENT: Agent Of Mutants

AGENT: Agent Of Mutants
45. Alan Clark


__ADS_3

[Claire’s POV]


“Claire, chipnya ada di gedung AOM barat. Cepatlah ke sini.” Ujar Valerie dari earzoom-ku.


“Ya. Aku tahu Val. Aku sudah dalam perjalanan ke sana.” Balasku, lalu mematikan earzoom-ku.


Jack memelankan kecepatan motornya, “Apa katanya?” tanyanya.


“Val bilang chipnya ad di gedung AOM Barat!” Ujarku agak teriak, karena di motor pasti kalau pelan-pelan tak terdengar, kan?


Sebenarnya aku dan Jack sudah tahu. Berkat pria brokoli itu, kalimat terakhirnya sebelum pingsan adalah: “Chipnya ada di gedung AOM bagian Barat.” Lalu tanpa menunggu lama lagi, aku dan Jack kembali pada motor ini dan langsung pergi ke sana.


Ah, omong-omong…


Aku kepikiran dengan perkataannya tadi…


Apa itu benar? Atau dia hanya bercanda? Mengapa dia tidak membahas itu lagi atau… sekedar menanyakannya lagi… setidaknya?


Apa mungkin lupa?


MASA HAL SEPERTI ITU DIJADIKAN CADAAN, SIH?!


Tapi… dia kan bukan tipikal orang yang suka berkata sembarangan… mana mungkin… hanya bercanda?


Tapi…


Tapi… triplek ubanan ini dari tadi tak mengungkit hal itu sedikit pun…


CK, MEREPOTKAN! BIKIN BINGUNG SAJA.


Aneh, masa harus aku yang bertanya tentang itu? AH, TIDAK MAU!


Tapi… aku penasaran…


Aduh ya ampun terkutuklah manusia ini!!


Sedari tadi aku melihatnya tenang-tenang saja, seolah tak ada yang ingin ia katakan… AH AYOLAH, MASA TAK ADA YANG MENGGANJAL, SIH?


Masa hanya aku yang begini… ?


“Mau menepi dulu?” ujar Jack tiba-tiba.


Deg.


Deg.


Deg.


Deg.


EH KENAPA?


K-KENAPA? MENEPI? UNTUK A-APA?


JANGAN BILANG…. UNTUK MEMBICARAKANNYA?


Lalu aku harus jawab apa? Lagi pula masa bertanya padaku, sih!


Masa iya aku jawab, ‘Iya, menepi dulu, yuk. Lalu kita bahas tentang hal yang tadi itu.’


TIDAK, TIDAK, TIDAK, AKU TIDAK SIAP.


AKU BAHKAN TAK BISA MENGONTROL DETAK JANTUNGKU SENDIRI.


“T-tak usah, ayo kita harus cepat.”


AH BODOH.


SAMA SAJA AKU TAK MAU KITA MEMBAHAS HAL ITU, DONG?


Sial, padahal aku mau membahasnya.


Aku membuang napas kasar, ah sudah lah. Lupakan saja… dasar bodoh! Kau bodoh, sih!


HUFT… baiklah mari fokus saja.


Ah, ternyata sudah sampai...


Di depan sana sudah terlihat sebuah gedung yang sangat mencolok. Kenapa mencolok? Ya lihat saja! Sekelilingnya tanah kosong begini! Ya, aku tahu sih, pasti agar jauh dari pandangan publik.

__ADS_1



Bahkan sebagian gedungnya terbuat dari kaca, ah mengesankan sekali! Apa gedung ini milik Si Apesta?


“Claire, sudah sampai. Kau tertidur, ya?”


Ah! Aku tak sadar kalau kami sudah sampai di tempat parkirnya, aku terlalu kagum dengan design exterior gedung ini.


Aku turun dari motor ini, membuka helm-ku, lalu melanjutkan pengamatanku mengagumi gedung di depanku keren ini.


[Author’s POV]


Jack turun dari motornya, setelah membuka helm-nya, ia mengambil helm Claire dari kedua tangannya, lalu menaruh kedua helm itu pada kedua spion motorya. Jack tersenyum tipis melihat Claire, bahkan gadis itu tak sadar sama sekali helm-nya diambil.


Pandangannya terus mengarah kepada gedung di depan mereka.


“Ayo masuk.” Ujar Jack dengan nada yang sangat tenang, seolah tak ada Apesta di dalam sana.


Claire menyernyit heran, “Bisa-bisanya kau setenang itu.”


“Jangan terlalu tegang, detak jantungmu terdengar sampai sini tahu.” ujar Jack dengan seringaian jahil.


Claire berdecih, “Bagaimana aku bisa tenang kalau di dalam ada Si Apesta itu.” Gumamnya lalu kembali melihat sekitar.


Ia terbelalak saat melihat tiga motor yang terparkir di sebelah motor Jack. “Ah, iya! Kemana yang lain?! Motor mereka sudah terparkir di sin-“


“Claire!!” teriak seseorang dari belakang.


Claire menoleh ke belakang, ia tersentak saat melihat Valerie dengan Zav di sebelahya sedang berlari ke arah mereka.


Bukan itu yang mengagetkan.


Tapi…. Valerie membawa sebuah mayat.


Claire melongo, otaknya masih memproses kata-kata apa yang harus ia keluarkan melihat mayat berlumuran darah sebayak itu.


Zav di sebelah Val juga berlumuran darah, tidak. Itu hanya pakaiannya. Sementara pakaian Val masih agak lebih bersih dari Zav. Dengan pemandangan yang ia lihat itu, Claire bisa mengambil kesimpulan kalau yang membunuh orang itu adalah Zav.


“AH, AKHIRNYA KAMU DATANG!” Teriak Val antusias sesaat setelah Val dan Zav sudah sampai di depan mereka.


Claire menelan ludahnya, “Aku belum pernah melihat orang yang baru membunuh orang dengan wajah se-antusias itu.” ujarnya dengan pandangan kosong. Seolah-olah rohnya terbang karena shock.


Claire tambah melongo mendengar penjelasan Val dengan nada enteng itu. “S-satu-satunya? Apa maksudmu, Val?” tanya Claire dengan senyuman bingung.


Zav mengangguk, “Iya. Satu-satunya.”


Claire menyernyit, tapi tetap tersenyum, “Masa… di dalam gedung sebesar ini hanya ada satu penjaga? Ada banyak orang kan? Lalu mengapa kalian membawa mayat ini kepadaku? Mengapa tak menggertak penjaga lain untuk memberi tahu lokasi chip itu?”


“Iya memang banyak penjaga tadinya… tapi sudah dibunuh semua.” Ujar Val enteng sekali.


Claire menutup mulutnya, ia terbelalak. “D-dibunuh… oleh?”


Zav menunjuk ke arah belakang Claire dengan dagunya, “Tuh.”


Saat Claire menoleh ke belakang, seluruh tubuhnya melemas seketika.


“AH, ITU DIA CLAIRE!”


“HALO CLAIRE!!”


Seumur hidupnya, Claire tak pernah merasa se-mual ini.


“Huekkkk.”


Jack merangkul bahu gadis itu, ia menatapnya khawatir. “Kamu gak apa-apa?”


Claire menatap Jack tak percaya, “Aku mau muntah rasanya.”


Rylan menyeret dua mayat yang berlumuran darah, di belakangnya, Kim berjalan santai tanpa ada bercak darah sedikitpun di pakaiannya, ia berjalan dengan tangan kosong.


Lalu, di belakang mereka berdua, terlihat Ruby yang berjalan jauh-jauh dari mereka sambil menutupi hidungnya dengan sapu tangan.


Begitu mereka semua sampai di depan Claire, Rylan melepas genggamannya dari mayat itu, dan menjatuhkan mayat-mayat itu ke tanah.


“Claire, tolong dong- eh! Zav dan Val juga membawa mayat, toh!” ujar Rylan yang akhirnya teralihkan dengan mayat di belakang Val.


Zav tersenyum bangga, “Ya iya lah!” ujarnya, membuat Claire benar-benar kehabisan kata-kata.


“GUYS!”

__ADS_1


“KENAPA KALIAN MEMBAWA MAYAT-MAYAT INI KEPADAKU?” ujar Claire lantang dengan tatapan jijik. Perutnya mual bukan main.


Semua terdiam.


Ruby menghampiri Claire, lalu memberinya sapu tangan berwarna pink. “Nih, aku punya satu lagi.” Ujarnya tanpa melepaskan sapu tangan yang berwarna biru dari hidungnya.


“Terimakasih.” Ujar Claire lalu menutupi hidungnya dengan sapu tangan pink itu.


Jack menatap Rylan, Val, dan Zav dengan tatapan dingin. “Kalian ini bodoh atau bagaimana?” ujar Jack tiba-tiba.


Ia menghela napas, lalu menoleh pada Claire. “Maaf, Claire. Mereka membawa mayat-mayat ini untuk kau sembuhkan, agar bisa menjadi informan tentang lokasi chip itu.” jelasnya, lalu kembali menatap ke-tiga temannya itu satu persatu (Val, Zav, dan Rylan) “Tapi entah bagaimana mereka bisa memakan banyak koban… lalu earzoom diciptakan untuk apa?” ujar Jack dingin.


Dalam sekejap, hawa di sekitar mereka menjadi dingin, situasinya menjadi menyeramkan, membuat Claire dan Ruby bergidik ngeri.


Sementara itu, tiga orang yang ditatap dingin oleh Jack itu terdiam.


“Bagaimana bisa kalian ‘tidak sengaja’ membunuh mereka? Apa kalian kehilangan kendali? Setahuku kalian tak pernah seperti itu.” lanjut Jack dingin. Jelas ia geram. Misi mereka dari awal bukan untuk membuat nyawa orang melayang, apalagi membunuh orang yang tak bersalah.


Membunuh satu orang saja sudah fatal. Apalagi satu gedung?!


Jack berpikir, seharusnya, jika mau menggertak penjaga, jangan sampai orang itu mati. Lagipula, kalaupun salah satu dari teman-temannya itu tak sengaja membunuh satu orang, harusnya mereka dapat berkomunikasi lewat earzoom ‘Aku sudah menangkap satu, mari langsung bawa ini pada Claire.’ Apa hal itu terlalu susah untuk dilakukan? Apa perlu sampai membunuh semua penjaga di dalam?


Kimberly berdecak, membuat suasana tegang ini teralihkan, mereka menoleh pada Kim.


“Nanti saja kau marahnya, sekarang kita fokus dulu.” Ujarnya pada Jack, yang langsung dibalas tatapan tajam oleh lelaki itu. Seolah sebagai tanda tidak suka saat sesi evaluasinya diinterupsi.


"Apa? Kau masih mau marah dan membuang-buang waktu sampai Apesta datang?" Ujar Kimberly dengan tatapan tak kalah tajam.


Memang, satu-satunya orang yang bisa menyaingi ketegasan Jack adalah Kimberly. Karena itu, dulu mereka disebut sebagai The Power Couple. Selain karena dua-duanya keras, mereka juga tak sulit dikalahan.


Jack melihat Kim dari atas sampai bawah. Tak ada bercak darah sedikitpun. Ya, Kim pasti memakai metode yang sudah seharusnya. Ia pasti menggertak salah satu penjaga dengan caranya sendiri. Tanpa membunuh atau melukai orang.


“Aku sudah tahu letak chip itu.” ujar Kim datar.


Claire membulatkan matanya, ia menoleh pada Kim dengan tatapan seolah menyuruh Kim untuk cepat-cepat memberitahunya.


“Di ruang bawah tanah.”


“Ah, shit. We’re dead.” Gumam Zav tanpa terdengar oleh siapa pun.


○○○


“Apa kau yakin ke sini arahnya, Zav?” tanya Ruby ragu.


“Iya. Percayalah padaku.” Jawab Zav tanpa menoleh ke belakang.


Mereka sedang berjalan di sebuah lorong bawah tanah.



Awalnya, Claire bingung… ia baru tahu kalau ruang bawah tanah seperti ini masih ada. Apalagi, penampilan luar gedung ini yang keren, siapa yang mengira kalau gedung yang dipenuhi hologram dan drone-drone ini memiliki ruang bawah tanah yang jalannya hanya diterangi dengan lampu gantung yang sumbunya minyak tanah. Seperti zaman dulu.


“Zav, lari saja, kalau lambat seperti ini, nanti bisa keduluan oleh Apesta.” Ujar Claire yang berjalan di belakang Jack. Jack ada di belakang Zav. Antisipasi katanya.


“Ah, oke.” Sepersekian detik kemudian, Zav berlari, yang otomatis membuat mereka berlari mengikuti Zav.


Akhirnya, mereka sudah berhenti di depan sebuah pintu yang terbuat dari kayu. Pada pintu itu diselotkan sebuah gembok karatan yang sudah terbuka. Di sekitar pintu itu tidak ada satu pun lampu, lorong itu gelap dan bau debu, tapi berbeda dengan pintu di depan mereka itu.


“Jadi… chip-nya ada di sini?” tanya Claire hati-hati. Sejujurnya, ia merasa tegang. Entah apa yang salah, tapi ia perasaanya tidak enak.


“Guys…” hawa tidak enak kembali menyelusuri tubuhnya, “Apa kalian tidak mencium bau darah?”


Ruby mengendus-endus, lalu baru menyadari sesuatu. Iamengangguk kencang, “Iya! Aku juga mencium bau darah!”


Jack menggenggam tangan Claire, lalu memosisikan gadis itu di belakangnya.


Ia menyentuh pintu kayu itu… lalu membukanya perlahan.


Dari luar, sudah tercium bau amis darah yang menyengat. Kalau begitu, tebak apa yang mereka lihat di dalam?


Sebuah mayat tergeletak di tanah, berlumuran darah, dengan luka tusuk di tubuhnya.


Seorang pria, berambut hitam, kacamata tebal, kemejanya sudah sobek... jas laboratorium yang sudah penuh darah… bertuliskan…


‘Alan Clark’


Mata gadis itu tidak bisa lebih terbelalak lagi, pupil matanya mengecil. Matanya perih, tapi ia tak sanggup meneteskan air mata, walaupun cairan itu sudah siap untuk dikeluarkan. Dadanya serasa nyeri seolah hatinya disayat jutaan kali.


Gadis itu meletakkan tangannya di dadanya, seolah bisa merasakan denyut jantungnya yang terasa berhenti.

__ADS_1


“A-ayah…”


__ADS_2