AGENT: Agent Of Mutants

AGENT: Agent Of Mutants
EPILOG


__ADS_3

Satu bulan kemudian…


Ia mulai bernapas lagi.


Kesadarannya perlahan-lahan kembali.


Seharusnya ia sudah mengerti, sekeras apapun ia mencoba untuk mengakhiri hidupnya sendiri, tetap tak akan berhasil.


Maka dari itu, kali ini ia memutuskan untuk tak akan mengulanginya lagi.


Tak akan.


Karena ia yakin tentang dua hal,


Pertama, tadi ada seseorang yang meneriaki namanya tepat saat ia membunuh dirinya sendiri.


Kedua, ia sangat yakin itu adalah Claire.


“Baiklah, sekarang aku akan mencari cara agar dapat hidup.” Gumamnya.


Ia tersadar, sudah cukup bodoh untuknya membunuh dirinya berkali-kali, bahkan sampai tak terhitung, padahal ia tak bisa mati.


Tapi bagaimana lagi?


Kuyakin kalau kau jadi dia, kau akan melakukan hal yang sama. Immortal adalah kekuatannya yang hampir ia lupakan kalau kekuatan itu ada padanya.


Kekuatan itulah yang menyelamatkannya dari kematian.


Sebenarnya, immortal adalah kekuatan yang sangat luar biasa… hanya kalau situasinya tak sedang kiamat.


Lelaki itu menghela napas, memutar otak… bagaimana caranya menemukan jalan keluar dari kesialannya ini.


“Andai kekuatanku bukan hanya untuk bertahan hidup, tapi juga bisa menghidupkan…” ia menyadari sesuatu, “… makhluk.”


Mulai tergambar dibenaknya tentang apa yang harus ia lakukan sekarang.


Matanya menjelajahi sekeliling, mencari-cari keberadaan makhluk kecil… apapun itu… yang bisa ia gunakan untuk mencoba kemungkinan itu.


Ia tahu jelas, kemungkinan itu sangat kecil. Tapi cobalah jika kau berada sendirian di Bumi selama sebulan, tak ada air bersih yang mengalir, tak ada orang yang menjual sate lewat, tak ada makanan apapun yang dapat diperoleh dengan mudah. Pasti sekecil apapun kemungkinan itu, kau akan mencobanya, kan?


Begitu juga dia.


Ini adalah bentuk keputusasaan dengan level yang jauh lebih frustasi.


Ia terus mencari, sampai akhirnya ia menemukan sebuah tikus mati.


Dengan pasrah, ia mendekati tikus itu... lalu mengulurkan tangannya ke atas tikus mati itu. Tanpa ia duga, tangannya mengeluarkan aura-aura putih yang menjalar keluar, aura putih itu menghampiri tubuh tikus itu, dan menyelimutinya seperti diselimuti asap.


Lelaki itu terbelalak, lalu terheran-heran saat melihat tikus itu bergerak.


Ia semakin membulatkan matanya saat melihat… tikus itu… berlari.


“Tikus itu… hidup?!” gumamnya tak percaya.


Lelaki itu terpelanga, ia tak menyangka kemungkinan kecil itu benar berhasil. Tanpa melongo lagi, dengan cepat ia berlari ke arah tempat ia terakhir kali terbangun, yaitu tempat bekas gedung AOM barat. Bekas, karena sekarang sudah rata dengan tanah.


Lebih tepatnya, semua bangunan di sekitarnya sudah rata dengan tanah.


Lelaki itu menyingkirkan beton-beton, dan serpihan bangunan-bangunan yang roboh. Ia mencari… kelima mayat itu.


Detak jantungnya berdegup kencang, merasakan ada sebuah harapan yang menjalar di hatinya.


“Ketemu.” Gumamnya, lalu dengan semangat, ia menjejerkan kelima mayat itu agar sebaris.

__ADS_1


Beruntunglah dia, mayat seorang mutan tak berbau dan tak bisa busuk.


Lelaki itu menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya, lalu mengukurkan kedua tangannya kedepan, tepat di atas kelima mayat itu.


Ia memejamkan matanya, berharap ini akan berhasil. Lelaki itu mengeluarkan seluruh kekuatannya, ia merasakan seolah air-air dalam tubuhnya mengalir keluar melalui kedua telapak tangannya.


Ia memejamkan matanya lebih erat, takut menerima kenyataan bahwa hasilnya akan gagal.


Karena sejujurnya ia tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan agar bisa keluar dari kesialan ini.


Satu detik..


Dua…


Ti-


“Jack..?”


Sebuah suara membuat kedua mata lelaki itu terbelalak.


Matanya lebih terbelalak lagi saat melihat kelima mayat temannya itu… kembali...


... hidup.


Lelaki itu mengusap matanya tak percaya, entah ini hanya mimpi, halusinasi, atau mata teman-temannya itu memang terbuka.


Lelaki itu memperhatikan kelima tubuh temannya itu. Mereka tampak sangat segar, tak ada luka atau bekas luka, darah yang tadinya mewarnai pakaian mereka, kini… bahkan setitik noda darah pun tak ada.


Kedua ujung bibir lelaki itu terangkat. Ia tersenyum lebar.


Untuk pertamakalinya dalam sebulan, ia merasakan kelegaan yang luar biasa.


Harapan. Hal itu sempat hilang, tapi sekarang, ia memiliki hal itu lagi dalam jiwanya.


“Kok kalian tampak lebih sehat dari aku, ya?” ujar Jack dengan senyuman terukir indah di wajahnya.


“HAHAHA! Terimakasih, Jack!” ujar Rylan dengan tawanya.


“Sebenarnya aku mau bilang kalau immortal-mu bisa kau tularkan sedikit untuk menghidupkan makhluk hidup, tapi… ya sudahlah, biar kau bingung sebulan.” Ujar Kimberly dengan cengiran tak berdosa, membuat Jack melotot saat mendengarnya.


“Harusnya tadi kau tak usah kuhidupkan.”


“HAHAHA!”


Kelima mutan itu bangkit berdiri, lalu berjalan ke arahnya.


Valerie memperhatikan sekelilingnya. “Woahh... kau hidup sendirian di sini sebulan?” tanyanya saat menyadari betapa usangnya planet ini sekarang.



Jack mengangguk, “Kasihan, kan?”


Valerie memajukan bibir bawahnya, lalu memangguk meng-iyakan.


"Aku yakin past-"


ZREEEETTT


Seolah alam semesta memang tak rela kalau keenam mutan itu bernapas napas lega sebentar saja, tiba-tiba terlihat sebuah jet datang mendekat.



“Ternyata ada orang yang selamat dan sempat mengevakuasikan diri…” gumam Jack seraya memperhatikan jet itu dari bawah.

__ADS_1


Zav menghela napas, “Mereka pasti mendeteksi keberadaanmu.”


“Itu bagus, kalau begitu ayo kita pergi dari sini.” Ujar Jack dengan senyuman antusias. Sepertinya ia sudah seratus persen muak dengan tempat ini, tentu saja sebulan sendirian di planet yang tandus bukanlah pengalaman menyenangkan.


Zav berjalan mendekati Jack, lalu menepuk bahunya santai. “Mereka pasti hanya bersiap untuk satu orang, Jack. Kau saja baru menghidupkan kami berlima sekitar lima menit yang lalu, mana mungkin kita ikut terdeteksi.”


Hening sesaat…


“Val, tolong hapus ingatan kru jet itu, aku tidak mau pergi.” Ujar Jack mantap.


Tentu saja ia memilih tinggal bersama teman-temannya. Baru saja hatinya merasa tenang dan bisa bernapas lega, ia tak mungkin memilih pilihan yang akan merenggut itu semua kembali.


Saat Val sudah mau berjalan ke arah jet yang baru saja mendarat itu, pergerakannya terhenti.


“Tidak.” Kimberly menahan tangan Valerie, lalu mengalihkan pandangannya pada Jack, “Kau harus pergi, kami akan tinggal.” Ujarnya tegas.


Jack mengerutkan alisnya, "Bagaimana kalian bisa hidup di sini? Aku bisa selalu hidup, tak akan bisa mati. Dengan begitu aku bisa menjaga kalian tetap hidup selama kita terus bersama."


Kim berjalan mendekat, "Kau memang bisa menjaga kami tetap hidup, tapi..." Kim menatap Jack serius, "Aku... tahu persis masa depan." Tegas Kimberly. Memang terdengar sedikit tak nyambung, tapi Jack mengerti maksudnya.


Jack menatap Kim dalam, "Apa yang akan terjadi? Kau harus memberitahuku, langgarlah hukum alam sekali lagi."


Kim tersenyum tipis. “Kami harus mengawasi Claire, dimanapun ia berada… Claire tetap masih bahaya. Jadi kami akan menjaganya dari jauh.”


Kimberly memang jujur, tapi sebenarnya itu hanya alasan belaka.


Kening Jack mengerut, “’Dari jauh?'"


Kimberly mengangguk, “Aku sudah memiliki akses untuk tinggal dalam dimensi parallel.” Ujarnya, membuat semua orang di situ terbelalak.


Kimberly terkekeh, “Jadi tenang saja, kau ikutlah mereka. Aku punya tempatku sendiri, mereka bisa tinggal bersamaku.” Ujarnya, sambil melirik ke-empat temannya.


“WOAAHH!! AKU MAU! AKU MAU!” ujar Ruby antusias. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka kagum dengan Kimberly, kekuatannya sudah sampai setinggi itu.


"Dimensi parallel itu seperti apa, Kim? Kau sudah pernah kesana?" Tanya Val penasaran.


"Sudah, dimensi parallel adalah alam semesta yang ada berdampingan dengan alam semesta kita, dengan karakter yang sama, tapi hidup dalam keadaan berbeda. Dengan kata lain, 'kita' juga ada di dimensi parallel, hanya saja keadaan kita yang berbeda. Tempat itu sangat aman, tapi banyak peraturan yang harus kita taati nanti." jelas Kimberly panjang lebar.


“Katakan padaku, masa depan yang kau lihat sudah sampai mana, Kim?” Tanya Jack skeptis. Bukannya ingin menantang Kimberly, tapi ia hanya ingin suatu hal yang pasti. Bagaimanapun juga, keputusan ini adalah keputusan yang besar.


Kimberly tersenyum, “Tak bisakah kau percaya padaku saja, Jack?”


Jack mengerutkan alisnya, “Kau membiarkanku putus asa sendirian selama sebulan, Kim.”


Kimberly mengatupkan bibirnya, kalau begini ia jadi merasa bersalah.


“Maaf ya.. tapi kali ini.. aku janji tak akan mengecewakan. Tenanglah.”


Ya, tenang.


Kini, semua yang mereka butuhkan adalah tenang.


Kali ini Semesta berpihak pada mereka.


Mereka hanya harus menjaga kedua matahari agar tetap bersinar.


Dan takdir Jack... ialah menjaga matahari yang satunya.


Sehingga saat kedua matahari itu bertemu, tidak akan ada yang lebih terang atau yang lebih redup.


Tak akan ada yang musnah.


Kimberly tersenyum tenang. "Ini belum berakhir."

__ADS_1


"Pergilah Jack, percayalah padaku."


"Kita semua akan bertemu lagi suatu hari nanti."


__ADS_2