AGENT: Agent Of Mutants

AGENT: Agent Of Mutants
41. Green Haired Guy


__ADS_3

[Claire’s POV]


Ya! Aku memang mengerti sekali rencananya! Rencananya adalah untuk mencari tahu gedung AOM mana yang memiliki chip mutan itu…


Tapi…


Bagamana cara tahunya?!


Apa langsung tanya saja ke penjaga gedungnya? ‘Halo pak, di sini ada chip mutan yang menyegel seluruh kekuatan mutan-mutan dan mengerikan sekali kalau disalahgunakan sampai bisa membuat orang-orang mati itu tidak?’


Ah, tidak. Aku bisa dibunuh.


Lalu bagaimana?


BAGAIMANA?!


Hiks… Salam kenal… aku agen amatir yang entah bagaimana bisa nyasar sampai ke Amerika dengan misi merebut benda paling berbahaya tanpa tahu apa-apa!


Kalau dipikir-pikir.. bisa-bisanya kak Brian tak mengirimkan rekan lebih banyak agar kami bisa terbantu!! Ck. Bagaimanapun, harusnya dia berprikemutanan!


Sudahlah… aku putus asa.


“Ayo turun.” Ujar Jack tiba-tiba.


Eh?


“Ah! Aku tidak sadar kalau sudah sampai.” Ujarku lalu melihat ke sekeliling. “Eh tunggu… ini… dimana?"


Aku tak melihat adanya sebuah gedung, tuh! Hanya ada bangunan biasa, toko-toko, café, dan rumah-rumah. Jalanan di sini juga hanya jalanan biasa. Tak ada jalan raya.


“Gedung AOM-nya ada di depan sana. Dibalik bangunan coklat itu. Dari sini kita jalan kaki, supaya tak terlihat mencolok.” Ujar Jack.


Aku ada banyak pertanyaan!


Tapi baiklah, aku akan turun dulu. Kasihan dia sudah menahan motornya dari tadi.


Aku melepas helm-ku agar bisa lebih bebas (jujur ini berat!). Disusul oleh Jack, ia turun dari motor hitamnya itu, menurunkan standarnya, lalu membuka helm-nya.


Rambut silvernya kembali terlihat, dengan warna hitam di akar rambutnya tentu saja. Hmmm… sebenarnya lelaki ini terlihat sangat mewakili warna hitam. Manik matanya hitam pekat, rambut aslinya juga hitam, pakaian yang ia kenakan sekarang juga serba hitam. Kulitnya agak tanned skin, tubuhnya juga terbentuk, dan tingginya yang membuatku harus mengadah dulu baru bisa menatapnya. Geez… sekarang aku paham 100% mengapa para perempuan tergila-gila padanya.


Jack menoleh.


Aku langsung memalingkan wajahku.


Sialnya, ia menghampiriku. Aduh...


Jack mendekatkan wajahnya denganku, ia menyeringai. “Kenapa kau melihatku seperti itu?” ujarnya dengan suara bass-nya.


T-tunggu..

__ADS_1


A-ap-apa… d-dari dulu suaranya se-rendah ini..?


“J-jangan terlalu percaya diri! Tadi… aku hanya melamun!” Ujarkku ketus. “Lagipula ‘kan aku punya mata! Aku bisa lihat apapun!” kenapa aku jadi marah begini? Ah! Tak tahu lah! intinya aku kesal.


Ia terkekeh, lalu menjauhkan wajahnya dariku.


FIUHH! SYUKURLAH! Aku hampir pingsan karena tahan napas.


Tiba-tiba, ia menyisir rambut peraknya ke belakang sambil menatapku dengan seringaian jahil.


A-APA MAKSUDNYA ITU?!


SERIUS DEH, APA MAKSUDNYA?


Aku mendecih, lalu menyilangkan kedua tanganku. “Apa kau sering begini ya kalau ada perempuan, huh?”


Lagi-lagi, ia terkekeh. “Kalau… iya, bagaimana?”


Deg.


“Sudah kuduga lelaki sepertimu pasti tipikal yang suka mempermainkan perempuan! Huh! Terbukti sudah.” Ujarku kesal.


Ck, jangan Tanya kenapa aku kesal. Kalau Tanya, kubunuh kalian!


Jack membulatkan matanya, “Yah, kok tahu aku suka mempermainkan perempuan?” tanyanya enteng.


AH! SEPERTINYA AKU DARAH TINGGI!


BIARKAN SAJA! MEMANGNYA AKU TAK BISA PERGI SENDIRI?!


Tunggu… apa aku punya riwayat penyakit darah rendah? Kalau iya, BAGUS! Sudah sembuh sekarang!


Argh… aku ingin melempar meja rasanya.


Dari belakang, aku mendengar suaranya tertawa.


“APA YANG LUCU?!” ujarku tanpa menoleh ke belakang. Aduh, kalau dibiarkan jangan-jangan nanti aku bisa kehilangan kendali lagi.


Ah, tapi tak masalah. Kalau pun telekinesisku menguasaiku sepenuhnya, orang pertama yang terkena dampaknya pasti triplek ubanan itu, kan? HAHA!


Dari belakang, suara derap langkah kaki mendekat ke arahku. Tanganku digenggam, refleks, aku langsung menoleh ke belakang.


Jack tersenyum padaku, “Apa aku terlihat seperti lelaki yang suka mempermainkan perempuan?”


“I-Iya… sudah pasti! Sana-jauh-jauh!” usirku.


Belum sempat aku berjalan lagi, ia mengenggam tanganku lebih erat, “Jangan sinis, padahal pipimu merah.” Ujarnya lalu terkekeh.


Ia menangkup kedua pipiku. Membuat seluruh tubuhku menjadi kaku seketika.

__ADS_1


Maniknya menatapku lekat. “Aku tak pernah begitu… lagipula, sepertinya perempuan tak akan berani dekat-dekat denganku kalau kamu yang jadi pacarku?” ujarnya dengan senyuman manis.


H-hah…?


Sebentar.


Tunggu!


“Wait, w-what?”


Otakku tak bisa berpikir. Detak jantungku terlalu cepat.


Jack menatapku dalam, kedua tangannya masih menangkup pipiku. Ia tersenyum manis. “Aku-"


DOR DOR DOR


Dengan cepat, Jack bergeser ke kanan.


Aku membulatkan mataku.


SIAPA YANG BARUSAN MENEMBAKKAN PELURU?!


“Ada penjaga gedung AOM yang sudah mendeteksi keberadaan kita.” Ujar Jack, dengan tatapan tajamnya melihat ke arah datangnya peluru itu.


“Kau tak apa, ‘kan?” tanyaku khawatir. Tapi sepertinya tadi tidak kena.


Ia menggeleng. Perhatiannya terfokus pada jalanan di depan kita sekarang.


“Ayo, kita harus bergegas. Kita sudah ketahuan.”


Sial. Ini salahku berlama-lama di sini!


“Apa rencananya?!” tanyaku panik.


Jack berjalan cepat ke arah jalan di depan kita. Mata kanannya berubah menjadi biru, kutebak ia sedang melakukan scanning dimana orang itu sekarang. Aku mengikutinya dari belakang, sambil mengumpulkan energiku pada kedua tanganku, berjaga-jaga kalau perlu menggunakan telekinesis.


“Sial, kita dikepung.” Gumam Jack pelan. Selamat… anda membuatku semakin PANIK!


“Rencananya adalah kita harus masuk.” Jack menyiapkan pistolnya.


“Kenapa kita tak mengancam salah satu penjaga saja tentang lokasi chip itu?” tanyaku.


“Menyandera penjaga untuk dipaksa bicara tak akan membantu, seorang penjaga tak mungkin tahu informasi se-rahasia itu. Kita harus masuk. Ada lima belas penjaga di sini.”


Aku mengangguk, “Baiklah, ayo kita bagi dua. Nanti akan kutangani delapan orang di sebelah san-“


“Tidak,” ia menoleh padaku dengan wajah serius, “jangan kemana-mana, kau tetap disisiku.” Ujarnya. Seketika aku merasa hawa dingin yang menusuk kulitku. Tatapannya tajam, membuatku agak takut. Auranya benar-benar berbeda dengan Jack yang tadi... Ah, aku harus belajar profesional darinya.


Aku mengangguk.

__ADS_1


“Baiklah, ayo kita mulai.”


__ADS_2