AGENT: Agent Of Mutants

AGENT: Agent Of Mutants
54. The Leader


__ADS_3

"Tubuhmu kurang tegap." ujar seorang pria seraya membetulkan postur seorang anak perempuan di depannya. Lalu melepaskan tangannya dari bahu anak itu, kemudian mundur selangkah.


"Sekarang, arahkan anak panahnya tepat pada lingkaran kuning." ujarnya, tanpa mengalihkan pandangannya pada papan panah.


Anak perempuan itu bernama Nessa, seorang anak didik dalam pelajaran memanah.


Nessa mengarahkan anak panahnya pada lingkaran kuning tepat di tengah papan sasaran. Ia menutup mata kirinya lalu berkonsentrasi membidik.


ZET!


"Ah! Sedikit lagi!!" Keluh Nessa melihat anak panahnya tertancap di lingkaran berwarna merah.


"Gak apa-apa, minggu depan kita akan belajar lagi. Hari ini sudah dulu ya." ujar pria itu dengan senyuman tipis.


Nessa tak ingin guru lesnya itu pergi sekarang, ia pun mempunyai ide untuk menahannya lebih lama.


"Kak Jack, tunggu! Aku ingin lihat sihirmu lagi! Ayo tunjukkan!" Ujar Nessa, anak berumur 14 tahun itu.


Pria yang disebut-sebut Jack itu menghela napas. Ia membungkuk, menyamai tingginya dengan Nessa, "Sudah kubilang, kan... ini rahasia kita berdua, gak boleh ditunjukkan kalau bukan dalam keadaan mendesak, Nessa." bisik pria itu dengan pelan.


"Dan... ini bukan sihir, oke?" Jack tersenyum lembut sampai lesung pipinya terlihat sempurna. Untuk beberapa detik, Nessa mematung. Detak jantungnya berdegup kencang seketika. Walau terpaut perbedaan usia 9 tahun dengan Jack, tetapi ia tak bisa mengelak kalau pria di hadapannya itu sangat tampan. Wajahnya terlihat seperti ukiran patung dewa yunani yang dipahat dengan amat sempurna.


Nessa menghela napas kecewa, "Padahal aku sangat ingin melihat mata birumu lagi. ."


Jack terkekeh, "Mungkin lain kali." ujarnya singkat lalu berdiri. Menggendong tas berisi busur dan anak panahnya.


"Aku pergi dulu ya, Sa." Jack mengacak-acak rambut Nessa, masih dengan senyumannya.


"I-i-iya."


"Profesor Zen, apa kau tertarik dengan seorang pemanah?" Tanya seorang pria yang sedang memperhatikan Jack dari jauh.


...●●●...


Jack berjalan pulang, ke apartemen kecilnya yang berada di ujung kota Neuren, kota pusat teknologi. Tidak lupa, ia berada di Mars sekarang.


Mengingat tiga tahun yang lalu, sebelum ada beberapa orang turun dari sebuah Jet dan membawanya ke planet Mars.


Memori-memori itu kembali bermunculan. Dari mulai hancurnya keadaan alam di Bumi, upaya bunuh dirinya yang selalu gagal karena 'diberkahi' kemampuan immortal (tapi tetap saja, siapa yang tahan hidup sendirian di Bumi tanpa ada bahan makanan dan air selama sebulan?)


Semua itu adalah masa-masa terburuk dalam hidupnya.


Tetapi yang paling buruk adalah..


Meskipun situasi paling terpuruk yang kau alami disebabkan oleh orang yang paling kau cintai, tetapi kau tak pernah bisa membencinya. Apa kau mengerti rasanya?


Seperti itulah Jack, pria yang sekarang sudah berumur 21 tahun. Mahasiswa rajin yang tak pernah membolos mata pelajaran kuliahnya.


Haha, di Mars juga ada kampus, jangan salah! Hanya saja, semua jurusan-jurusan yang tersedia sudah lebih... maju? Jack masuk di jurusan Artificial Intelligence. Gampangnya, ya Teknik Robotika. Jurusan semacam itu sedang sangat digandrungi banyak peminat, karena nantinya para Engineer sangat dibutuhkan untuk memperbanyak robot di planet ini, untuk menggantikan sebagian kuantitas manusia yang telah mati di Bumi.


Kalau saat di Bumi melihat manusia setengah robot bisa membuat jantungan, di sini sudah biasa. Begitu pula Jack yang sudah beradaptasi dengan semua ini.


Jack terus berjalan melewati gedung-gedung tinggi. Langit pun sudah mulai gelap, tapi sebenarnya tak masalah bagi lelaki itu.

__ADS_1


Mata kanannya berubah menjadi biru, untuk membantunya melihat dalam gelap.


Tiba-tiba, ia menyernyitkan alisnya. Merasa ada yang tak beres, ia memindai keadaan sekitar dengan mata kanannya.


Dan benar dugaannya, ada lima orang tak dikenal sedang mengikutinya dari belakang.


Ia tetap bersikap santai dan terus berjalan, diam-diam membuka resleting tasnya yang berisi busur dan anak panahnya, lalu tangan kirinya bersiap mengambil busur, dan tangan kanannya bersiap mengambil anak panah dalam diam.


Ia mencari saat yang tepat untuk mengeluarkan busur dan anak panahnya yang sudah ia genggam dari dalam tas.


Saat ada perempatan, inilah kesempatannya.


Ia berbelok ke kanan dan berhenti, lalu dengan cepat mengeluarkan busur dan anak panahnya dari tas. Bersiap-siap membidik kelima orang yang mengikutinya tadi.


Ia mendengar suara langkah, mata kanannya dengan otomatis, langsung memindai keadaan sekitar.


'Scanning..'


'5 person - Unknown.'


'3 of 5 have a weapon.'


"Berapa jaraknya?" Ia berbisik.


Kemudian sebuah tulisan kembali muncul di pengelihatan sebelah kanannya.


'5 meters.'


"Baiklah, itu cukup." Gumamnya.


ZET!


ZET!


ZET!


Tapi belum sempat menembak, Jack sudah lebih dulu memanah tiga orang itu.


Satu lagi.


ZET!


Selesai.


Sepersekian detik kemudian, Jack menyadari sesuatu....


"Kenapa jumlah mereka hanya empat?! Dimana yang satuny-"


SREKK..


Mendengar suara aneh, dengan sigap Jack berbalik ke belakang, sudah siap melepaskan anak panahnya.


"TUNGGU! TUNGGU!!" Orang itu mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.

__ADS_1


Jack menyernyit bingung, orang itu memakai seragam hitam yang sama dengan empat orang yang baru ia bunuh tadi, apa yang salah?


Tanpa menurunkan busurnya, Jack tetap waspada dalam posisi membidik.


"Hei! Aku ingin bertanya!! Mengapa kau ingin membunuh kami?!" Tanya orang itu dengan alis yang bertaut, bingung.


Sesaat kemudian, orang itu melirik ke belakang Jack, kemudian ia terbelalak saat melihat empat orang sudah tergeletak dengan anak panah yang menancap di dada mereka.


"Mengapa kau bunuh empat orang itu?!!" Tanya orang itu lagi-lagi, kali ini wajahnya kesal.


Jack berpikir sejenak.


Sebenarnya, ia juga tak tahu kenapa.


"Karena orang-orangmu itu mengarahkan pistol kepadaku." jawabnya asal.


Sesaat kemudian, ia membanggakan jawabannya sendiri dalam hati, karena walaupun mengasal, tapi itu masuk akal menurutnya.


Orang misterius itu menghela napas berat, "Padahal hari ini seharusnya gaji pertama mereka..." gumamnya.


Melihat Jack yang masih belum menurunkan busurnya, pria itu menghela napas lagi, lalu mengeluarkan kartu identitas dari kantong jaketnya.


Jack memperhatikan kartu itu.


Agent Nolan.


Ia menyernyit bingung, lalu menurunkan busur panahnya.


"Tadinya kupikir mengetes kemampuanmu dengan empat anak buahku adalah ide yang bagus, ternyata tidak." Pria yang katanya adalah seorang agen itu membuka suara. Ia menunduk lesu, merasa kasihan pada keempat anak buahnya yang sudah tak sadarkan diri.


"Tapi kemampuanmu memuaskan." lanjutnya, lalu tersenyum kecil.


Jack baru ingin membuka mulutnya untuk bertanya, tapi seseorang sudah menancapkan sesuatu di bahunya dari belakang.


BRUKH.


Agen Nolan tersenyum sembari menatap Jack yang sudah tergeletak di tanah.  "Berapa lama efek obat bius itu?" tanyanya.


"Tiga jam." jawab seseorang dengan jarum suntik berisi obat bius di genggamannya.


"Hei Nolan! Apa kemampuannya?" Tanya Agen Parker--orang yang membius Jack--pada Agen Nolan.


"Memanah."


"Itu saja?" Tanya Agen Parker bingung.


"Mata kanannya.." Agen Nolan berpikir keras. 'Apakah ini mungkin, setelah apa yang terjadi di bumi tiga tahun yang lalu?' pikirnya.


"... mungkin... dia... mutan yang tersisa."


Agen Parker menyernyit, "Apa maksudmu? Professor belum menciptakan satu mutan pun."


"Di Mars memang belum, tapi dulu, di Bumi sudah."

__ADS_1


"Profesor Zen, kuanjurkan Si Pemanah ini yang nanti kau jadikan pemimpin."


__ADS_2