AGENT: Agent Of Mutants

AGENT: Agent Of Mutants
33. The Future Couldn't Changed


__ADS_3

APA?!


"Serius, Kim!?" Tanyaku disela-sela derap langkah kita berdua. Dan kuyakin ia sedang tidak main-main sekarang, karena ekspresinya sangat panik.


"Ayo!" Ia menarikku lagi memasuki gedung asrama. Dari belakang, aku melihat tetesan darah di sepanjang lantai yang telah dilalui Kim. “Kim, kau mimisan?!” tanyaku panik. Aku mencoba berhenti berlari, tapi tenaganya tak bisa kuhentikan.


Kim menambah kecepatannya, “Aku mencoba merubah masa depan.” Ujarnya.


Aku mengerutkan alisku bingung, apa maksudn-


ASTAGA!


Hukum alam. Selalu ada konsekuensi dari setiap hal yang dilanggar Sang Pengendali Waktu.


"Kim, kau tak perl-"


"Sudah lah, Claire! Ayo lari saja sekencang-kencangnya! Aku akan berusaha menyembunyikanmu!"


Mendengar perkataannya, tanpa berpikir panjang, aku pun berlari sekencang yang kubisa.


Karena sekarang aku jadi ikut panik-


Eh?


Kenapa aku panik?


Kan aku bisa melawannya...


"Eh Kim.." ucapku sambil menghentikan langkahku. Ia yang sudah berlari didepanku pun ikut berhenti dan menoleh ke arahku. Ya ampun... keringatnya sampai membasahi seluruh tubuhnya begitu.


"Kenapa lagi?! Ayo cepat! Nanti dia bisa tau kamu di sini!" Ia sudah bersiap menarikku lagi.


"Eh stopp!!" Ia menoleh padaku, "Kim, kenapa kamu panik sihh? Kan aku bisa melawan dia, sejauh ini kita tahu kekuatannya setara denganku, jadi tak perlu mengkhawatirkanku selagi kekuatannya tidak lebih besar dariku."


Kim mengerang kesal, "Argh... kamu gak mengerti Claire, ayo ikuti aku saja!" ujarnya lalu kembali menarikku.


Aku pun pasrah dengan keadaan ini, dan mempersiapkan energiku. Aku memusatkan energiku--sambil berlari--pada kedua tanganku, meskipun tangan kananku masih ditarik Kim. Agar saat sampai tempat yang dituju Kim nanti, aku sudah siap dengan kekuatanku (berjaga-jaga kalau tiba-tiba si Apesta muncul mendadak).


Tarik napas...


Buang...


Walaupun dalam keadaan berlari, aku harus menenangkan diriku dulu, agar kekuatannya bisa keluar.


Satu...


Dua...


"AAUUCH!!" Teriak Kim lalu ia berhenti saat kita sudah sampai di tangga.


"Kenapaa??"

__ADS_1


"Tangan kamu panas tiba-tiba! Kok bisa begitu!?" Tanyanya sambil mengusap-usap tangan kirinya.


"Oh! Mungkin karena aku sedang memusatkan energi ke tanganku, makanya jadi panas... ehehe maaf..." ujarku dengan cengiran.


Ia mengerutkan alisnya, "Hah?? Untuk apa?"


"Untuk berjaga-jaga kalau Si Apesta tahu keberadaan kita lah!"


Kim menghela napas, "Kamu gak perlu itu! Sudah, ayo!" ujarnya lalu kembali menarikku.


Hah?


○○○


Sekarang aku sudah di atas rooftop gedung asrama.


Ya, Kim bilang hanya disini tempat yang aman karena Apesta itu pasti mengira aku sedang berada di dalam gedung sekolah, menurut masa depan yang seharusnya terjadi, begitu.


“Ini ambilah, Kim.” Aku menyodorkan dua lembar tissue yang kebetulan ada pada saku kemejaku padanya.


Aku sedang duduk bersila di lantai rooftop ini bersama dengan Kim. Ia sedang mengusap darah yang keluar dari hidungnya sekarang. Beberapa tetes darahnya mengenai kemeja putihnya, ia berdecak pelan saat melihat noda itu.


“Kekuatannya tak setara denganmu, Claire.” Ujarnya masih sambil mengusap darah yang keluar, “ia memiliki kekuatan kita semua.”


Aku mengerutkan alisku. Entah mengapa, jantungku berdegup lebih kencang.


“Maksudmu...”


Oh tidak. Tidak tidak tidak!


Kim menatapku serius. “Ya, ia memiliki semua kekuatan kita. Aku, kau, Val, Ruby, Zav... semuanya!”


Aku tertegun. Begitu pun dengan Kim, ia menyenderkan punggungnya pada tembok dengan lemas. “Maka dari itu... mulai sekarang jangan berkeliaran tanpa ada-“ Kim menggantungkan kata-katanya, ia mematung, menatap ke depan.


Aku mengikuti arah pandangannya.


AH, SHIT.


Aku bangkit berdiri, lalu melihatnya secara intens. Ia memakai jubah hitam dan wajahnya tertutup tudung hitam... pakaian yang sama saat waktu itu dia pertama kalinya menampakkan wujudnya kepadaku dan Jack.


"Hai, Claire..." seulas seringai terukir pada bibirnya. "... senang bertemu denganmu lagi."


Aku tertegun. Suaranya... sangat familiar.


[Author’s POV]


Dengan secepat kilat, Claire menarik Kim ke belakang tubuhnya untuk melindungi Kim. Tangannya menggenggam tangan Kim dengan kuat. Ia tahu apa yang harus ia lakukan.


Claire merasakan telapak tangan Kim berkeringat, seolah ia benar-benar dalam masalah besar. “Jangan sampai ia melihatmu.” Bisik Claire pelan, membuat Kim tertegun. Ia merasa bersalah.


Apesta itu memakai tudung, yang menutupi matanya. Jadi ia tak bisa melihat apa yang ada di depannya. Itu lah mengapa Claire menyembunyikan Kimberly.

__ADS_1


“Wahh, kita bertemu lagi.” Claire tersenyum, “Kali ini jangan kabur, ya.” Ujarnya percaya diri.


Kim mengerutkan alisnya, ia langsung melirik Claire dengan tatapan: ‘Kamu gak usah takut dia kabur, kayaknya kita yang akan kabur.’


Diam-diam, Claire menyembunyikan kedua tangannya di belakang untuk memusatkan kekuatannya.


Apesta terkekeh, "Aku datang kesini bukan untuk bertarung denganmu."


Claire mengerutkan alisnya heran. Kalau bukan untuk itu, lalu apa?


"Jadi, apa maumu?!" Claire semakin berjaga-jaga di depan Kim, agar ia tak ketahuan.


"Aku datang ke sini hanya ingin memberitahumu sesuatu." Apesta itu menyeringai, "Kau harus pergi ke AOM pusat. Temuilah aku di sana."


AOM pusat? Yang ada di Amerika Serikat?


"Apa maksudmu?!"


"Kau mencari chip itu, kan?” Apesta tersenyum, membawa ketegangan di sekitar mereka. “Mari kita selesaikan di sana." Ujarnya, lalu... ia menghilang dalam sekejap.


Claire dan Kim menghembuskan napas lega.


Sebenarnya... situasi mencekam memang sudah hilang, tapi ada sesuatu yang mengganjal diantara mereka berdua. Kalau saja salah satu ada yang ingin mengalah dan berkata apa adanya, mereka berdua akan jadi rekan yang baik. Rekan yang paling riil. Tak semata-mata hidup di dalam cerita. Betapa rumitnya jika hidup di dalam sandiwara yang sebenarnya ada di dalam sandiwara lainnya. Mimpi dalam mimpi. Cerita dalam cerita.


“A-aku... kembali ke kelas dulu.” Ujar Kim dengan kepala menunduk, tanpa berani menatap mata perempuan di hadapannya.


Claire menatap Kim sendu, ia tahu Kim merasa sakit. “Iya..” tak mengira sandiwara ini masih ia lanjutkan, bahkan ketika mereka jelas-jelas sudah menunjukkan pintu keluar untuk masalah ini.


Kim berjalan pergi dari rooftop, menuruni anak tangga dengan rasa campur aduk. Ia menyesal, ia ingin mengaku. Ia ingin keluar. Tapi di sisi lain, pola pikirnya yang di dasarkan pada rasionalisme dan realistis stadium akhir, membuat ia tak berdaya.


Sementara itu, Claire tetap berada di rooftop. Ia menunggu seseorang.


“Hai, Claire.”


Claire menoleh ke belakang, orang itu sudah sampai. Tepat di hadapannya sekarang. Claire langsung berlari ke arahnya, “Bolehkah aku akhiri semua ini?” Claire menghembuskan napasnya kasar, “Sumpah, aku tak tahan lagi.” Ujarnya dengan nada frustasi.


Orang itu menggeleng, “Bersabarlah, kau tak bisa mengubah masa depan, Claire.” Ujarnya serius. Membuat Claire teringat atas apa yang dilakukan Kim untuknya tadi. Kim memang berniat menyembunyikannya dari Apesta, karena ia tahu Apesta akan menemuinya di gedung sekolah. Tapi nihil, Apesta tetap menemuinya walau ia berada di rooftop asrama. Bukti konkret bahwa, apa yang terjadi di masa depan, tak akan bisa dihindari.


“Coba kau jadi aku, berada di ruangan bersama orang-orang yang kau sayangi, tetapi mereka hanya bersandiwara, dan KAU TAHU KALAU MEREKA BERPURA-PURA!” Claire mengacak rambutnya frustasi. Ia berjongkok, memegangi kepalanya yang terasa penat. “Kalau kau adalah aku, kau pilih memberi tahu mereka kalau kau tahu mereka sedang bersandiwara, atau hanya diam saja walau terasa sakit?”


Orang itu ikut berjongkok, ia mengambil tangan Claire yang menutupi wajahnya, lalu menggenggamnya lembut. “Kalau aku jadi kau, aku akan mengikuti sudut pandang temanmu, Kimberly Fern.” Ujarnya.


Claire mengadahkan kepalanya, “Maksudnya?”


Orang itu tersenyum lembut, “Hanya dia yang telah melihat masa depan. Ia yang tahu bagaimana akhir dari semua ini. Maka dari itu, ikutilah sudut pandangnya.”


Claire semakin menyernyit bingung. “Ikuti sudut pandangnya?”


Ia mengangguk. “Kimberly pasti sudah tahu kalau kau telah mengetahuinya, tapi apa yang dia lakukan? Apa ia mengaku? Atau diam saja walau terasa sakit?”


Claire mengingat raut wajah Kim yang tak berdaya tadi. “Diam saja... walau terasa... sakit.”

__ADS_1


“Maka lakukanlah hal yang sama. Dia pasti diam saja karena ia sudah tahu akhirnya seperti apa.” Orang itu tersenyum, “Serahkanlah padanya, Claire.”


Claire menghela napas pasrah. “Baiklah, Kak.”


__ADS_2