
"Aku heran, kenapa ayah harus menculik aku ke sini sih? Kan bisa telepon aku untuk datang ke sini... lalu bicarakan baik-baik sama aku... kenapa harus dibius?!" bisik Axelia pada Zen. Raut wajahnya terlihat kesal.
Zen terkekeh. "Nanti kamu gak mau, ya kan?" ujar pria itu dengan senyuman miring, membuat Axelia berdecak. "Sudah tahu aku gak akan mau, kenapa dipaksa." gumamnya kesal. Tapi se-kesal apapun, ia tak menyesal. Sekarang lihatlah dia! Mempunyai kekuatan yang sangat kuat secara non-fisik.
"Zen, stop. Mereka ada di sini." Ally berjalan mendekati Zen yang berjalan di depannya.
Mereka sedang berjalan menuju ke lapangan terbuka yang terletak di belakang gedung R.D.C.M (Research and Defense Center of Mars).
Untuk bertemu gadis itu.
Alex menyusul Zen dan Axelia yang dari tadi berjalan paling depan. "Kita mau ngapain sih?" tanyanya dengan alis bertaut.
"Menjemput seseorang. Lalu nanti kita akan kembali ke ruang rapat tadi." jawab Zen.
Sesaat kemudian, mereka ber-empat menghentikan langkah kaki mereka.
Mereka berada di tengah-tengah lapangan yang sangat luas, berpijakan rumput hijau yang lembut dan menyegarkan mata. Tetapi pemandangan di depan sangatlah tak enak di lihat.
Di hadapan mereka, terdapat enam orang berjas laboratorium. Mereka semua melayang, dengan keadaan yang tidak keren sama sekali.
Keenam professor itu melayang dengan tubuh yang terbalik. Kepala mereka di bawah, kaki mereka di atas. Melayang-layang tak tentu arah, seperti sedang digantung terbalik oleh angin.
Sesaat setelah para professor malang itu melihat dari jauh bahwa Zen sudah datang, mereka langsung berteriak ricuh meminta tolong.
Axelia dan Ally terbelalak kaget. "Yah! Mereka kenapa?!" tanya Axelia panik.
__ADS_1
Sementara Alex tertawa terbahak-bahak di sebelahnya, menertawakan posisi semua professor itu yang mengambang aneh. Belum lagi, wajah mereka dalam posisi terbalik sangat aneh, seolah gravitasi membawa pipi mereka semua lumer ke bawah.
Zen berlari menghampiri keenam professor itu. Disusul oleh Ally, Axelia dan Alex.
"PROF, TURUNKAN KAMI!"
"AKU TAK TAHAN LAGI, AKU AKAN MUNTAH MENGENAI WAJAHKU-HOEEKK!" Salah satu professor itu memuntahkan isi perutnya seketika, mengenai seluruh wajahnya. Dikarenakan posisi tubuh mereka yang terbalik.
Zen jijik melihat sisa muntahan professor itu masuk ke dalam matanya. Tapi ada yang lebih penting dari itu. "Dimana dia?" Zen menatap keenam professor yang sedang terbalik itu.
"Jelas aku tak bisa menurunkan kalian, dia yang bisa." lanjut Zen sambil memperhatikan sekeliling. Mencari keberadaan gadis itu.
"D-DIA ADA DI ATAS!" ujar salah satu professor dengan lantang, sambil menunjuk ke arah langit.
Dan benar, seorang gadis berambut pirang keemasan sedang melayang jauh di atas langit. Samar-samar terlihat dari bawah, bahwa ia sedang duduk tanpa alas dengan kaki bersilang sambil menopang dagu, melihat ke bawah. Ke arah Zen.
"Zen... berapa kadar serum mutasi yang kau suntikkan padanya?" tanya Ally mematung. Melihat gadis itu melayang di langit.
Zen menelan ludahnya, "Sembilan puluh delapan persen. Jangan salahkan aku, dia yang bersikeras ingin memasukan kadar sebanyak itu." ujar Zen pelan, tak memalingkan pandangannya dari gadis itu.
Ally membulatkan matanya, ia menoleh pada Zen. "Pantas saja kau gelisah selama enam jam, ternyata dia yang kau khawatirkan..." ujar Ally, menatap Zen tak percaya. Bisa-bisanya lelaki dengan gelar Professor ter-hebat ini menuruti anak berumur tujuh belas tahun untuk memasukkan sembilan puluh delapan persen pada serum mutasinya.
"HEEII!! KAU LIHAT KAMI??" Alex berteriak dengan keras pada gadis yang jauh di langit itu. Membuat Zen, Ally dan Axelia ikut tersentak kaget, lalu kembali mengadah ke atas. Melihat bagaimana respon gadis itu.
Gadis itu tetap diam untuk beberapa detik, tapi sesaat kemudian, ia berdiri, seolah-olah sedang bangkit dari tempat duduknya yang tak kelihatan sama sekali. Duduk di atas... angin?
__ADS_1
Perlahan ia turun ke bawah. Untungnya gadis itu tak memakai rok. Melainkan celana jeans panjang.
"Dia turun!" ujar Axelia tak percaya.
Gadis itu semakin dekat dengan permukaan tanah. Enam puluh detik kemudian, ia menapakkan kedua kakinya dengan sempurna di atas tanah.
Ia memiliki rambut pirang keemasan yang bergelombang, sepanjang dada. Ia memakai kaos berwarna kuning, dimasukkan ke dalam celana jeans-nya. Kulitnya tak terlalu putih, melainkan cokelat eksotis. Wajahnya tirus dan mulus, hidungnya kecil tetapi mancung, pipinya merona alami, begitu juga dengan bibirnya yang merah alami. Kemungkinan besar karena cuacanya yang sedang panas terik.
Gadis itu menatap Alex tajam.
"Mengapa kau berteriak-teriak?" tanya gadis itu dengan ketus. Meski dengan nada yang seperti itu, suara gadis itu halus dan enak didengar.
Alex terdiam. Sejujurnya, ia tak mampu berbicara. Jantungnya berdegup tak karuan, berhadapan dengan gadis secantik itu.
Bukan hanya Alex saja, bahkan Axelia pun ikut melongo.
Gadis itu berdecih, karena Alex yang tak kunjung menjawabnya. Kemudian ia menoleh pada Zen, lalu tersenyum tipis. Begitu juga dengan Zen. Seolah kedua orang itu sedang memikirkan hal yang sama.
"Sebelum itu, kembalikan dulu tatanan gravitasi mereka." Zen menunjuk keenam professor yang bahkan sudah tak sadarkan diri itu.
Gadis itu mengangguk, kemudian mengulurkan tangannya ke arah para professor itu, lalu ia memutar telapak tangannya, membuat keenam professor itu terjatuh seketika. Mereka mendapatkan kembali tatanan gravitasi di Mars.
Suara mengaduh terdengar dari mulut mereka, sebelum mereka benar-benar sadar dari pingsannya, Zen memutuskan untuk langsung membawa yang lain kembali masuk ke dalam gedung penelitian.
Zen menoleh pada gadis itu. "Ayo masuk ikut kami masuk, Alice."
__ADS_1