AGENT: Agent Of Mutants

AGENT: Agent Of Mutants
75. Secrets


__ADS_3

[Axelia's POV]


23.00


Aktivitasku hari ini sudah berakhir.


Aku lelah. Kami berlatih dari pagi sampai malam hari ini.


Sebenarnya jadwalnya hanyalah dari pukul tujuh pagi sampai pukul lima sore, tapi akhirnya kami berlatih sampai jam sepuluh malam.


Awalnya Alice yang bertekad untuk berlatih lebih lama lagi saat disuruh istirahat oleh Professor Ally, tapi ia tak mendengarkan perkataan Professor Ally dan tetap berlatih dengan keras. Aku dan yang lain pun jadi termotivasi untuk ikut berlatih lebih lama lagi akhirnya.


Karena tidak jadi berlatih menggunakan senjata tembak yang tadi (karena takut menggangu Hera), aku memilih untuk berlatih menggunakan senjata yang lain. Bentuknya aneh, sebuah lempengan sepanjang dua puluh senti berwarna perak dan bisa mengeluarkan listrik dari ujungnya.


Seperti alat penyetrum(?) Agak mirip.


Tapi percayalah, aku sampai terpental kaget saat pertama kali menggunakannya.


Alat penyetrum kan hanya akan mengeluarkan listrik jika ditekan tombol aktifnya... kalau ini, tak ada tombol apa-apa... aku hanya perlu mengerahkan lempengan perak itu ke arah yang kuingikan, maka listrik dengan daya yang besar akan langsung merambat keluar menyambar target.


Cara mengarahkannya mirip seperti saat ingin mencambuk target dengan tali. Bedanya, kalau senjata ini, tali itu adalah listrik yang panjang.


Kemampuanku menggunakan senjata itu baru 70%. Eh tapi.. bukankah itu kemajuan yang cepat dalam sehari?


Hehee! Aku ini keren sekali!


Nah, selesai dengan itu, Kevin mengajakku untuk mempelajari racun-racun, bahan peledak, dan berbagai macam fluida mematikan yang ada di gudang senjata. Letaknya di deretan atas, karena rata-rata ukurannya kecil.


Kurang lebih, pelajaran tadi seperti belajar kimia (tapi lebih keren lagi). Dan itu adalah pelajaran yang paling kubenci. Jadi pasti sudah tertebak bagaimana persentase kepahamanku, kan?


Hanya 40% dan itu pun sudah berusaha semaksimal mungkin.


Yang benar-benar mengerti hanyalah Alice dan Hera. Mereka berdua bahkan sempat berargumen tentang suatu senjata peledak yang berisi fluida mematikan di dalamnya. Aku tak mengerti sama sekali apa yang mereka argumentasikan tadi (mungkin karena pembahasannya sudah diluar jangkauan otakku?) yang jelas, Alice lagi-lagi menonjolkan kepintarannya. Leih dominan dari pada Hera.


Akhirnya, argumen tadi dimenangkan oleh Alice.


Sebenarnya aku cukup terkejut saat melihat Hera menyuarakan argumentasinya tadi. Selain karena ternyata dia pintar, aku kaget karena ia mampu berargumen dengan Alice selama satu setengah jam.


Boleh jujur? Suasana tadi sangat mencekam. Lebih seram dari film horror bahkan. Kalau bisa, aku mau kabur saja dari sana.


Cara mereka berargumen sangat bertolak belakang. Alice mengutarakan pernyataannya dengan tenang, tapi tak jarang ia selipkan sarkasme disela-sela kalimatnya. Berbeda dengan Hera, ia menanggapi Alice dengan lembut dan tetap sopan. Tetapi ia tetap mempunyai intinya.


Keduanya mempunyai caranya masing-masing. Tapi entah mengapa, yang membuat seram adalah kalimat-kalimat sarkasme dari Alice.


Aku jadi Hera akan langsung menangis. Hahaha.


Tapi memang... Alice tetap menang pada akhirnya.


Selesai dengan itu, kami kembali kembali ke ruang persenjataan untuk masuk ke sebuah ruangan rahasia. Professor Ally memandu kami, dan membukakan pintunya (yang juga tersembunyi dan tak terlihat).


Di dalam ruangan itu berisi deretan teknologi canggih yang benar-benar membuatku terpelanga. Warna biru mendominasi semua peralatan itu.


Isinya berupa robot-robot canggih yang bisa bicara dan bergerak kesana kemari. Jujur, aku takut dengan yang mereka. Wajah mereka yang tanpa ekspresi itu menyeramkan.


Drone, tab hologram, cincin pengendali teknologi ruangan, lensa kontak high-tech, chip tanam untuk mengakses fasilitas teknologi, dan masih banyaaakk lagi!


Dan yang menguasai semua itu dalam sekali pandang adalah...


... tebak siapa!!!


TEPAT SEKALI! KAKAK KELASKU YANG TAMPAN ITU!


Astaga, apa yang kurang dari Kak Jack? Tidak ada.


Wajahnya tampan, tubuhnya bagus dan tinggi, pintar teknologi, belum lagi tatapannya membuat lawan bicaranya terjatuh, tenggelam, dan meninggal...


Kalau Claire ada di sini, dia pastinya akan langsung mendapatkan pria dengan paket lengkap itu.


Omong-omong.. Jack tak pernah memberitahuku dimana Claire sekarang..


Iya sih, kita kan jarang mengobrol secara privat (sebenarnya tidak pernah).


Jam  berupa sinar hologram pada dinding kamarku menujukkan pukul 23.15.


Ya ampun... dari tadi baru lima belas menit?!


Aku berdiri dari kasurku, "Kurasa aku gak bisa tidur.." gumamku sedih.


Tapi tunggu duluu! Jangan sedih! Aku masih ingat Professor Ally tadi siang bilang bahwa didekat koridor tempat kamar-kamar berada, ada sebuah ruang tamu yang cukup untuk bersantai melihat pemandangan luar.


Baiklah, aku akan kesana!


Aku membuka pintu kamarku dengan fingerprint sensor pada pintu kamarku, kemudian keluar diam-diam.


Bagus! Di sini sepi!


Aku berjalan dengan cepat sebelum ada yang terbangun atau semacamnya.


Saat aku berjalan lima langkah, aku baru menyadari kalau aku tak memakai alas kaki.. astaga... aku sampai lupa memakai alas kaki.


Tapi ya sudah, tak masalah.. lantai di sini bersih mengkilap begini kok! Paling telapak kakiku hanya akan kedinginan.


Aku sudah sampai di ujung koridor, kemudian aku terus mengikuti jalan yang ada, yaitu belok ke kanan.


Sesaat kemudian, aku terpelanga lebar.



Ini adalah ruang tamu terbagus yang pernah kulihat.


Aku melangkah masuk, sambil terpana melihat ke sekelilingku.

__ADS_1


Waahhh... lebih bagus dari ekspektasiku..


Rahangku tambah terjatuh lagi saat melihat sosok pria yang sedang berdiri di ujung sana, sedang melihat ke arah langit.


 Aku melotot, itu kenapa tak ada pembatasnya?! Apa kalau jatuh dari situ akan langsung terjun ke bawah?!


Aku berjalan mendekat dengan perlahan. Apa dia mau bunuh diri?


Setahuku yang menginap di sini hanyalah lima dari kita... ruangan tempat para professor berada jauh dari sini, kan?!


Lalu siapa itu?


Alex kah? Mungkin belum tidur?


Atau...


Hehehe... tidak mungkin. Itu mah aku saja yang kepingin.


Aku berjalan mendekat dengan ragu... tidak mungkin setan, kan?


Ketika jarak antara kami sudah menipis, aku memberanikan diri untuk bersuara.


"Permis-"


Belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, pria itu menoleh ke belakang.


Aku melotot kaget.


"Kak Jack?"


TERNYATA BENAR DIA!


Wajah tampannya itu bahkan lebih indah dari pada bintang-bintang di langit (aku bersumpah). Ia menatapku datar, sorot mata hitamnya entah bagaimana membuat manikku terperangkap. Sorot matanya tajam dan dingin.


Aku mematung, tak bisa melepas kontak mata ini.


(Tak apa, seharian lamanya pun aku tak keberatan.)


Struktur wajahnya sempurna, rahangnya tegas, alisnya tebal, hidungnya mancung, bibirnya sedikit merah natural.


Aku tidak pernah melihat pria setampan ini seumur hidupku.


Bibirnya terbuka, ia ingin mengucapkan sesuatu akhirnya.


"Pergilah."


...


.....


AKU TERTOHOK..


AKU DIUSIR?


Ia menatapku dingin, "Pergi. Ini sudah malam." ujarnya datar.


OOHHH DIA MENYURUHKU PERGI KARENA SUDAH MALAM.. MENYURUHKU PERGI TIDUR, BEGITU?


Ahh... perhatian sekali..


Aku tersenyum simpul, "Kak Jack juga harusnya pergi tidur dong?"


Malam yang sangat indah.


Nikmat mana lagi yang kau dustakan?


Kak Jack tak menanggapiku, lalu kembali mengalihkan pandangannya pada langit malam di depan kami berdua.


Ya.. memang indah sih.. banyak sekali bintang-bintang di atas dan pemandangan perkotaan di bawah. Tapi aku bukan penggemar pemandangan seperti ini.


Aku lebih suka pemandangan... yang bernapas di sebelahku ini.


Keheningan tercipta di antara kami, seolah ia sedang melupakan kehadiranku dan fokus memandangi kelap-kelip bintang di langit.


Dari samping, aku bisa melihat pantulan pemandagan bintang-bintang dari maniknya yang jernih. Walau harus mengadah (karena dia tinggi sekali!) sampai leherku mati rasa, aku tak masalah.. hehe.


Namun...


Satu hal lagi yang ada dalam benakku setiap kali kumelihat pria ini.


Claire.


Aku tahu mereka mempunyai hubungan khusus.


Maka dari itu...


... dimana Claire?


Dimana dia? Mengapa pria ini tak pernah memberitahuku ketika aku bertanya padanya? Apa yang terjadi dengan Claire? Apa dia menjadi korban dari kiamat Bumi pada tiga tahun yang lalu?


Aku bertekad akan menanyakannya.


Baiklah, tarik napas...


Buang...


Tapi bagaimana kalau ia membekukan seluruh ruangan ini seperti saat pertama kali kutanyakan tentang Claire?


Tanya tidak ya?


Tapi harus! Harus kutanyakan.

__ADS_1


"Dia suka pemandangan seperti ini." suara berat laki-laki ini mengagetkanku. Iya tiba-tiba berbicara?


"Dia? Siapa?" aku menyernyit tak paham.


"Sahabatmu itu." ujar Kak Jack, tanpa menoleh ke arahku.


Sahabat?


Siap-


CLAIRE?!


BENARKAH CLAIRE?


WOAHH! KAK JACK MEMBAWA TOPIK INI DULUAN?


BAGUS!


Sekarang waktunya bertany-


Tidak... ini bukan waktu yang tepat.


Aku menatap matanya dari samping, sorot matanya memandangi bintang-bintang di langit dengan tatapan dalam.


Deg.


Ya Tuhan tampan sekali...


Tatapan dalam itu... ia seperti sedang mengenang seseorang..


Claire.


"Omong-omong..." aku menelan ludah, "apa kakak tahu, Claire ada dimana sekarang?" tanyaku hati-hati.


Kedua maniknya yang tajam itu meredup, sorot matanya sangat dalam... seolah... menggambarkan suatu kenangan yang menusuk hatinya.


Tak dapat kujelaskan dengan kata-kata.


Tapi ia terlihat begitu sedih.


Apa hanya perasaanku saja?


Tapi kurasa bukan..


Keheningan kembali melanda aku dan Kak Jack, aku pun tak berani mengatakan apa-apa lagi. Karena jujur, aku tak tahu hal seajaib apa yang bisa membuat wajah sedingin esnya itu menjadi duka.


"Tak perlu dijawab kak, aku tidak jadi bertanya. Hehe.."


Ia tak merespon.


Walau tak mengatakan sepatah kata pun, tapi kuyakin, pasti kepalanya penuh dengan kata-kata.


Aku menghela napas pelan.


Ada sesuatu yang terjadi pada Claire... ya?


"Alexa."


Aku menoleh dengan cepat. Sedikit kaget karena ia masih mengguakan nama samaranku, tapi lebih kaget lagi karena akhirnya ia bersuara.


"Iyaa, Kak??"


Kak Jack menoleh padaku tanpa ekspresi. Tapi dari wajahnya... tersirat bahwa ia ingin menanyakan sesuatu.


"Ishera Harlyn, bukankah ia mirip dengan Claire?"


Aku tersentak.


Tiba-tiba sekali, tapi benar.


Benar dugaanku. Ia juga memikirkan hal yang sama.


Aku mengangguk, "Identik. Hanya saja... matanya berbeda."


"Manik Claire berwarna cokelat, manik Hera berwarna biru laut." lanjutku.


Kak Jack terdiam.


Entah apa yang ada di benaknya.


Tapi aku tahu, itu pasti berhubungan dengan Claire... dan Hera.


Pria ini... seperti menyimpan banyak rahasia.


Banyak yang ia ketahui.


Banyak yang ia sembunyikan.


Hanya saja... yang kutahu adalah,


Claire adalah mutan.


Dan entah tebakanku benar atau tidak... tapi kalau benar..


.. maka pria di hadapanku ini mungkin juga adalah mutan sejak awal.


Dan tentu saja aku tak melupakan fakta bahwa kiamat bumi disebabkan oleh sekelompok mutan.


Pertanyaanku sekarang adalah...


Apa Kak Jack dan Claire bersangkutan dengan penyebab kiamat bumi tiga tahun lalu?

__ADS_1


Kalau iya... mungkin ia sebenarnya tahu siapa yang akan kita hadapi nanti.


Mungkin... Kak Jack menyembunyikannya.


__ADS_2