AGENT: Agent Of Mutants

AGENT: Agent Of Mutants
53. Cassiopeia


__ADS_3

Cahaya berwarna putih mengambang keluar dari benda itu. Cahaya itu teramat banyak, menjalar keluar mengelilingi tubuh gadis itu, selayaknya energi yang membara tak tahu arah, kini telah terlepas... dan orang pertama yang ada di dekatnyalah yang akan ia hinggapi.


Gadis itu menutup matanya rapat-rapat, begitu pun dengan gadis yang menapak diatas tanah. Karena cahaya itu begitu terang dan menyilaukan mata.


Dalam sekali waktu, semua aliran cahaya putih itu menyerbu tubuh gadis yang sedang mengambang di udara itu. Cahaya itu menyelimuti tubuhnya, perlahan, kekuatan-kekuatan itu memasukki raganya, bersatu dengan aliran darahnya, cahaya putih itu menusuk jantungnya dalam. Sehingga gadis itu mati.


Mati sebagai manusia.


Lalu matanya terbuka, sebagai makhluk yang lebih berkuasa dari mutan.


Manik cokelat terangnya berubah menjadi abu-abu. Iris matanya memberi sorot tajam tiada tara. Beberapa helai rambut hitamnya berubah menjadi putih, dan sisanya berubah menjadi merah gelap. Pakaian yang ia kenakan perlahan memudar, dan tergantikan oleh sebuah gaun dengan panjang melewati ujung kakinya, dengan gemerlap cantik di bagian depan, dan ekor gaun yang elegan. Membuat gadis itu sepenuhnya terlihat seperti seorang dewi.


Cahaya putih itu mengelilinya berkompakan dengan aura merah gelap yang menyelimutinya. Berputar tanpa henti dari atas kepala sampai ujung kakinya.


Ia telah terlahir kembali menjadi makhluk yang berbeda.


Gadis itu pada mulanya adalah manusia, lalu ia dimutasikan menjadi mutan, kemudian sekarang ia telah dimutasikan lagi. Begitulah statusnya. Satu tingkat diatas kaum mutan.


Gadis itu... adalah yang pertama... yang memiliki kekuasaan diatas mutan.


Gadis itu kini bukan lagi manusia ataupun mutan... sekarang ia adalah... Cassiopeia.


Maka dari itu, kini... saat terakhir ini... adalah sesaat sebelum hatinya diremukkan.


Agar menjadi makhluk baru sepenuhnya.


Gedung AOM Barat diruntuhkan oleh gempa. Gempa itu menyebar dari titik pusatnya ke seluruh penjuru bumi. Getaran hebat merobohkan gedung-gedung dan bangunan apapun yang ada di atasnya. Meretakkan jalan-jalan sehingga hampir terbelah menjadi dua. Angin ribut menerpa seluruh penjuru bumi dengan liar. Kekacauan tak terkendali menimpa hari ini, teriakkan orang-orang di seuruh Bumi membuat iris mata Claire kembali hidup. Ia tersadar.


Ia melihat keadaan sekitarnya yang kacau dan rusak.

__ADS_1


Sorot matanya termenung saat menemukan seorang lelaki di bawah sana yang sedang menatapnya dengan tatapan kagum.


Tanpa gadis itu sadari, ia memang sudah berada terlalu tinggi di atas udara.


○○○


Hatinya telah ia bungkus dengan kepercayaan, ia berikan pada gadis itu dengan yakin.


Dengan senyuman, ia berkata dalam hati, 'Semua akan baik-baik saja.'


'Ia adalah satu-satunya.'


'Akhirnya aku menemukan destinasiku, disana. Di maniknya.'


'Kita akan baik-baik saja, aku yakin.'


Tapi siapa sangka, ialah yang menghancurkan lelaki itu berkeping-keping.


Lelaki itu tersenyum.


Air matanya menetes, tetapi tetap tersenyum. Tatapannya seolah berkata, 'Tak apa putri, asal kau bahagia. Sayatlah aku lagi.'


Baginya tak penting tentang kebahagiaannya sama sekali. Senyuman gadis itu sudah cukup, tak penting baginya untuk mengetahui lebih dalam keadaan jantungnya.


Masih berdetak atau tidak?


Gadis itu membuatnya mengacuhkan jantungnya, menguburnya dalam-dalam. Berdiri di dekat batu nisannya sendiri, tersenyum melihat gadis itu tersenyum.


Telinganya terlalu tuli untuk mendengar rintihan hatinya, tetapi terlalu peka mendengar detak jantung gadis itu.

__ADS_1


Bahkan walau ia berubah menjadi malaikat maut yang menusuk lambungnya, lelaki itu akan tetap menatap maniknya, lalu tersenyum. "Aku menemukan rumahku, dalam kamu. Tak apa... bunuhlah aku ratusan kali, hanya agar bisa kudengar detak jantungmu lebih dekat."


Ratusan jasad tergeletak dimana-mana.


Planet bernama Bumi telah hancur keadaannya, seperti menangis minta tolong.


Kekosongan dan kesunyian yang justru bersuara paling keras, merintih.


Lelaki itu masih menatap gadis dengan penampilan bak dewi itu. "Jangan kau lakukan ini pada mereka.." tangannya berusaha menggapai gadis itu yang mengambang di udara.


Manik abu-abu terangnya merobek hati lelaki itu untuk kesekian kalinya. Gadis itu melihat ke bawah, menatap lelaki itu tajam.


"Sebagai gantinya, bunuh sajalah aku lagi, dan lagi, seumur hidupmu.. tapi janganlah mereka." lelaki itu tersenyum. Hatinya menjerit, tapi ia bungkamkan. "Kemarilah, Claire."


Gadis itu menapakkan kakinya ke tanah. Kehancuran berhenti seketika. Air matanya menetes. Tanda bahwa hatinya berfungsi untuk yang terakhir kali. Ia menatap lelaki di hadapannya, merasa ia tak pantas untuk lelaki itu.


Manik abu-abunya tergenang air mata yang berkilauan, tangannya ia kepalkan.


"Aku berjanji, setelah ini aku akan pergi." gadis itu tersenyum. Senyuman yang menyiksa. "Aku mencintaimu." ujarnya lirih. Air mata indahnya bercucuran, melewati kedua pipinya.


Kedua sudut bibir lelaki itu ikut terangkat, ia menatap gadis itu lekat-lekat untuk yang terakhir kalinya.


Lalu ia melangkah maju, melihat senyuman gadis itu seolah telah memberinya jantung baru, 'Bahagialah selalu...' ujarnya dalam hati. "Lakukanlah, Claire." matanya terpejam. Lelaki itu senang, karena senyuman gadis itu terbayang-bayang dalam gelapnya alam bawah sadar, 'Dia bahagia.'  Sebuah kalimat terpajang mutlak di benaknya. Tanpa sadar, senyumnya merekah.


Ia menyerahkan dirinya.


Dengan itu, Bumi tak sampai hancur seutuhnya.


"I will love you for a thousand years, Jack..."

__ADS_1


JLEB.


__ADS_2