AGENT: Agent Of Mutants

AGENT: Agent Of Mutants
60. The Bad guy and The Ghost's friend


__ADS_3

"Laporan berita malam ini, satu-satunya bank terbesar di kota Mezax, telah dirampok. Pelakunya belum berhasil ditemukan, tapi pihak polisi akan-"


Professor Lia mematikan televisi itu. Ia baru ingat akan sesuatu.


Kota Mezax, kota yang sejak dulu ia incar. Dengan semangat, ia langsung meraih ponselnya untuk menelpon seseorang.


"Saya akan menugaskanmu di kota Mezax, bersiaplah."


"Mengapa kota penuh hiburan malam itu? Saya tak yakin ada orang yang Professor maksud di-"


"Ikuti saja perintahku."


...•••...


"Sayang, mana hadiah yang kau janjikan kemarin, hm?" Seorang wanita dengan dress ketat merangkul lengan pria disebelahnya.


Pria itu baru saja datang dari lift membawa sebuah paperbag di tangannya.


"Ini sayang, tas yang kau minta, kemarin malam kusuruh anak buahku yang membelinya di Neuren," ia tersenyum, "hanya ada dua di dunia."


Wanita itu masih belum merespon.


"Dua-duanya sudah kubeli untukmu" ujar pria itu lalu mengelus puncak kepala wanita itu.


"Aah.. kau manis sekali, Alex" ujar wanita itu, lalu melingkari tangannya di leher pria bernama Alex itu.


Alex tersenyum.


"Aku mencintaimu." ujarnya sedikit lantang, agar suaranya bisa mengalahkan musik lantang dalam club itu.


Tiba-tiba, seorang wanita dengan air mata yang sudah membasahi pipinya menghampiri Alex dan wanita itu.


PLAK!


"ALEX! SIAPA DIA!?" Bentak wanita itu sembari menangis.


Yang dibentak terdiam.


"ALEX? JAWAB!" tangisannya mulai bertambah histeris.


Bibir pria itu terkatup rapat. Tatapan matanya lelah. Lelah memberikan alasan.


Wanita itu menarik pergelangan tangan Alex-masih sembari menangis-untuk masuk ke lift dan turun ke bawah.


Sampai diluar club, wanita itu mengusap air matanya, kemudian raut wajahnya menjadi geram.


"Kau sudah lakukan ini berapa kali padaku, huh?" Suaranya gemetar.


Alex menatap wanita dihadapannya itu dengan datar "Um.. tak kuhitung."


PLAK!


"Kita akhiri saja sampai disini! Aku muak denganmu!" Wanita itu berjalan pergi dengan kedua tangan yang ia kepalkan.


Alex menghela napas lega.


Tak lama kemudian, wanita berpakaian ketat tadi menepuk pundaknya dari belakang.

__ADS_1


"Sudah?" Tanyanya.


"Iya.."


"Dia yang keberapa?"


"Dua ratus delapan."


Wanita itu membulatkan matanya. "Tumben kau hitung!"


Alex terkekeh, "Kira-kira." ujarnya asal, lalu berjalan menuju tempat mobil Lamborghini-nya terparkir, "Ayo kuantar pulang." ujarnya, lalu membukakan pintu mobil yang satunya. Setelah wanita itu masuk, Alex berjalan memutari bagian depan mobilnya lalu masuk dan duduk di jok pengemudi.


Nama wanita itu adalah Axelia, sahabatnya.


Menyadari keheningan di perjalanan, Alex membuka suara.


"Makasih.. untuk yang ke-dua ratus delapan kalinya. Kenapa kau tak pernah bosan-bosannya membantuku untuk memutuskan hubungan, sih?" Tanya Alex heran.


Axelia memutar matanya sembari tersenyum tipis "Ya kalau bukan aku, siapa lagi, Lex?"


Alex terdiam. Benar juga.


"Kapan penyakitmu itu akan sembuh, sih? Bahkan kurasa neraka pun sudah malas menerimamu."


Ya, Alex memang punya penyakit. Boredsyndrome. Setiap wanita yang dikencaninya, pada awalnya akan ia cintai dengan sungguh-sungguh, tetapi tak sampai sebulan..


Alex menghembuskan napasnya berat. Ia juga bingung, mengapa ia bisa begini.


Belum sempat Alex mengatakan sesuatu lagi, Axelia sudah menyela.


Lampu merah sudah kenyala, Alex menghentikan mobilnya.


Alex menoleh pada Lia, panggilan Axelia.


"Ambil saja untukmu."


Axelia mengerutkan alisnya bingung, "Tak usah, mantelnya buatmu saja."


Setiap kali Alex memang selalu memasukkan mantel dalam paperbag yang akan digunakan untuk perannya. Agar terlihat penuh saja.


Alex terkekeh mendengarnya. Ia meraih sesuatu di belakangnya.


"Mantelnya ada disini." ujarnya tersenyum, lalu memakaikan mantelnya untuk Lia.


Axelia langsung menoleh , "Hey, it's not my birthday!"


"Tapi kau senang juga, kan? Your face tells everything." Alex tersenyum sembari melihat lagi ke depan, lampu hijau yang sudah menyala.


"Eh, tunggu.. jadi ini tas?" Tanya wanita berambut cokelat se-dada itu.


"Kerupuk."


Axelia membulatkan matanya, mengisyaratkan 'aku sedang serius'.


"Iya-iya.. tas, nonaaa...."


Alex terkekeh melihat dari sudut matanya, bahwa sahabatnya sedang tersenyum lebar.

__ADS_1


"Bagaimana kabar pacarmu itu?" tanya Alex tiba-tiba.


Lia menoleh pada Alex yang sedang menyetir.


"Pacar?"


"Yang terakhir kali tidur di sebelahmu itu. Astaga, terlalu banyak ya?" Tanya Alex meledek.


"Ah sudah jangan dibicarakan!" Ujar Lia. Mengingat pagi tadi saat bangun tidur, ia sudah dikagetkan dengan roh pria yang sedang menatapnya. Satu ranjang.


Axelia adalah wanita berumur 19 tahun--lebih muda setahun dari Alex--yang memiliki kemampuan melihat makhluk halus.


Tentu kemampuan seperti itu sama sekali tak menguntungkan.


Setiap pagi, membuka mata langsung bertatap muka dengan roh? Sudah biasa.


Tapi ia tak pernah mau berteman dengan makhluk halus. Jadi ia selalu berpura-pura tak melihat 'mereka' seumur hidupnya.


Tiba-tiba, Lia menepuk-nepuk lengan Alex yang sedang memegang stir.


"Lex, stop! Ada orang di depan!"


Bunyi decitan rem mobil terdengar. Alex memberhentikan mobilnya. "Tunggu disini." ujarnya pada Lia, lalu keluar dari mobil.


Ia mendekati orang yang terkapar di jalanan yang sepi itu.


Ia berdarah.


Alex berjongkok, ia ingin melihat kondisi orang itu lebih jelas.


Tanpa diduga, orang itu bangun lalu dengan secepat kilat menodongkan pistol kearah Alex.


Axelia yang melihatnya dari dalam mobil, panik. Tapi saat ia ingin keluar, Alex memelototinya dari luar, dan memberinya kode untuk mengambil pistol yang ia simpan di bawah joknya.


Lia menunduk saat tahu orang jahat itu akan mengiring Alex masuk ke mobil, lalu bersiap.


Saat orang itu membuka pintu mobil, dengan cepat Lia langsung menodongkan pistol tepat kearah kepala orang itu.


"Jatuhkan pistolmu!" ujar Lia pada orang itu.


Orang itu menjatuhkan pistolnya, lalu mengangkat kedua tangan.


Lia menurunkan pistolnya lalu menoleh pada Alex, memastikan ia baik-baik saja.


Sayangnya, ia lengah.


Orang itu menepuk pundak Alex, kemudian Axelia. Ia mengambil alih alam bawah sadar mereka.


Dia menyeringai.


"Masuk ke mobil, menyetirlah sampai ke kota Neuren."


Mereka pun menurutinya.


Orang itu tersenyum puas, ia langsung menyalakan ponselnya.


"Halo, Professor-"

__ADS_1


__ADS_2