AGENT: Agent Of Mutants

AGENT: Agent Of Mutants
48. Apesta and the 6 Agents


__ADS_3

Sejak kecil aku memang dibuang. Menjadi tikus bawah tanah yang menggerang kesal setiap hari, hanya tinggal mengintip dari lubang kecil di atap, aku sudah bisa melihat kehidupan yang seratus delapan puluh derajat berbeda denganku di sini.


Tapi tak apa, kalau aku tak dianggap sebagai anak. Aku juga tidak menganggap mereka sebagai keluargaku.


Aku menganggap diriku sendiri sebagai... mata-mata.


Haha. Jangan remehkan tikus bawah tanah ini. Tempat yang paling strategis untuk memperoleh banyak informasi justru… tempat yang tak terlihat, yang diabaikan, yang selalu dianggap tidak ada.


Maaf, tapi kalian lengah. Aku sudah mengetahui semua hal yang dapat menguntungkanku di masa depan.


Ayahku, Alan Clark, adalah professor tersukses abad ini. Di dunia yang sudah maju ini, pria tua itu memanfaatkannya untuk membuat sesuatu yang mengguncangkan dunia. Kecerdasannya melampaui batas, aku tidak memuji- ah, lupakan saja. Pria itu pernah di-cap sebagai ilmuwan sinting dengan hasil penelitian yang dianggap ilegal.


Ia berhasil membuat suatu serum mutasi, yang dapat memutasi tiga per-empat bagian dari tubuh manusia biasa, menjadi… aku menyebutnya sebagai... orang beruntung.


Serum itu disuntikkan kepada manusia biasa. Menjadikan manusia itu menjadi spesies baru, yaitu mutan. Ya, disuntikkan. Tapi aku yakin beberapa orang tak mengetahui fakta itu, dan beranggapan kalau mereka sudah dilahirkan dengan kekuatan super.


Haha. Mana ada yang seperti itu. Bodoh.


Fakta seperti itu sebenarnya adalah rahasia. Karena dirahasiakan, tak heran mengapa banyak orang yang berasumsi kalau sebagian dari mereka memang udah dianugerahi kekuatan seperti itu sejak lahir.


Tak berhenti sampai di situ. Empat tahun lalu, Alan Clark berhasil mendapat gelar ‘ilmuwan terkutuk’ karena sudah keterlaluan, tapi entah bagaimana bisa, dunia per-ilmuwan-an lama kelamaan membuka hati lagi padanya, dan berakhir mendukung penemuan ayahku. Ilmuwan memang sinting semua. Aku tak heran.


Alan Clark berhasil membuat sebuah benda kecil, sekecil penghapus… tapi kuat dan luar biasa berbahaya. Benda kecil itu menyegel kekuatan seluruh mutan yang ada di bumi ini. Segala jenis kekuatan super mutan, sebesar apapun kekuatannya.. tersimpan didalam benda itu. Ayah menyebutnya chip mutan, tapi aku lebih suka menyebutnya… asetku.


Benda itu adalah satu-satunya kesempatanku untuk membuat dunia ini bertekuk lutut.


Memohon maaf padaku.


[2 Desember]


Brengsek.


Aku kalah taruhan lagi.


Dunia ini masih baik-baik saja, oksigen masih menyebar dengan baik... tadi pagi matahari masih terbit dari timur... tak ada bukit atau gunung yang berpindah tempat.


Sial. Mengapa semuanya ini terlalu baik-baik saja?!


Huh.. tapi tak apa, aku takkan marah lagi sekarang, aku sudah mengamuk tadi pagi. Itu membuatku diusir dari rumah, akhirnya!! Untuk pertama kalinya, para pelayan-pelayan itu memutuskan sesuatu yang memudahkan rencanaku.


Benar, tekadku sudah bulat untuk mencoba rencana yang sudah kurancang bertahun-tahun setiap tanggal 1 Desember itu.


Permulaan rencanaku, berawal dari orang ini.


“HMMPHH!! HMMPPH!”


Aku terseyum puas, ingin tertawa rasanya. “Punya mulut juga tak berguna, jadi lebih baik diam saja.” Ujarku dengan senyuman hangat (tidak, aku bohong).


Ia terus menggeliat sedari tadi. Setelah mulutnya kutempel lakban, aku juga sudah mengikat tangan dan kakinya tadi dengan rantai. Lalu ia sengaja menjatuhkan diri sendiri dari kursinya, dan sekarang menggeliat tak berdaya di lantai. Ya siapa suruh sengaja jatuh?


Kau pikir aku akan menolongmu bangkit, lalu kau bisa mengambil kunci rantai yang ada di sakuku, begitu? Apa wajahku terlihat seperti orang bodoh?


Pria ini merepotkan sekali, aku hampir tak sanggup menghadapinya. Tapi siapa peduli? Demi benda kecil bercahaya digenggamannya itu, apa saja akan kulakukan.


Sebelum menculik pria tua ini, aku harus berjuang melawan bodyguard-bodyguard-nya yang sangat banyak itu. Belum lagi penjaga laboratorium. Tapi tak apa, aku sudah berhasil mendapatkan serum itu.


Serum pertama yang menyatu dengan darahku.


Sesuai rencana, aku pasti paling butuh transportasi untuk menjalankan rencanaku. Maka dari itu, aku menerobos para penjaga laboratorium, lalu masuk dan menyuntikkan serum teleportasi secara paksa… dan asal.


Siapa peduli kalau ada efek samping dari penyuntikan asal-asalan? Persetan dengan itu.


Lagipula kalau aku tak menyuntikkannya dengan cepat, aku pasti sudah tertangkap oleh para penjaga itu.


Aku tak terlalu antusias dengan kekuatan ini. Karena teleportasi benar-benar standard ter-rendah dalam rencanaku. Jadi aku tak boleh langsung puas begitu saja.

__ADS_1


BRAKK


Aku menutup pintu kayu ini. Meninggalkan pria tua itu di dalam sana. Tanpa lampu, tanpa makanan, tanpa kasur, kosong. Hanya dia dan angin.


“Hahaha… selama kau menunggu, rasakanlah rasanya jadi aku selama enam belas tahun.”


Aku menyerigai, “Baiklah, selanjutnya… aku akan mengelabuhi pria muda itu..”


“… Brian Aléjandro.”


[3 Hari kemudian]


“Kim!” ujar seseorang dari belakang.


Kimberly menoleh, ia tersenyum. “Hai, Val."


"Kenapa kamu terburu-buru begitu? Ketahuan tidak mengerjakan tugas lagi oleh Bu Tina? Dia mengejarmu?” tanyanya penasaran.


Val menggeleng kencang, “Bukan!! Bukan itu!” ia menggandeng tangan Kimberly lalu berlari bersamanya.


Kim tersentak kaget, tapi ia tetap menuruti Valerie untuk berlari. “Kenapa sih, Val?? Ada apa??”


“Ada orang aneh!”


Kimberly menyernyit, “Hah?” tanyanya bingung. Tapi Val sudah tak merespon lagi, ia hanya berlari menggandeng Kim menaiki tangga-tangga, melewati koridor kelas sepuluh… dan akhirnya, mereka berdua sampai di rooftop.


Kimberly tertegun, begitu juga Valerie. Dua-duanya disuguhkan oleh pemandangan yang mengejutkan.


Jack, Ruby, Zav, dan Rylan sudah bertekuk lutut dengan kepala menunduk, seolah tak berdaya. Di depan mereka, terdapat seorang perempuan memakai jubah hitam yang panjang sampai ke ujung kaki, dengan tudung yang menutupi kepalanya.


“Itu siapa?!” tanya Kimberly dengan mata terbelalak pada Valerie.


“Aku gak tahu, tadi aku lihat dia datang dan mengobrol aneh bersama mereka, tapi kenapa sekarang suasananya jadi begini?” ujar Val yang sama-sama tak tahu mengapa teman-temannya itu berlutut.


Val menyernyit bingung melihat Ruby yang terlihat seperti sedang menangis. “Kim, lihatlah Rub-“


Belum selesai menyelesaikan kalimatnya, Kim sudah berlari menghampiri orang berjubah hitam itu dengan wajah kesal.


Sesaat sebelum Val mengikuti Kim untuk menghampiri mereka, ia sudah kaget duluan melihat Kimberly.


Saat Kim datang, ia langsung membuka paksa tudung orang itu, membuat wajahnya jadi terlihat.


Ia adalah seorang perempuan, rambutnya berwarna hitam, maniknya berwarna cokelat terang. Ia menatap Kim dengan seringaian.


“SIAPA KAU?!” Bentak Kim dengan lantang.


Perempuan itu menatap Kim dingin, “Apa urusanmu?”


Mendengar jawaban mengesalkan itu, Kimberly melayangkan tinjuannya pada perempuan itu.


Sialnya, perempuan itu dapat menghindar dengan baik. Ini menjadi pertama kalinya untuk Kim, bahwa ada seseorang yang bisa menghindari tinjuannya. Kim menggerang kesal.


Sementara itu, Val datang lalu membantu Ruby untuk bangkit. Setelah itu menatap keempat temannya itu bergantian. “Kalian kenapa berlutut, sih?! Ada apa ini?!” Ujarnya sedikit berbisik pada Rylan, Zav, Jack, dan Ruby.


Tak bisa dipercaya sekali, tiga dari mereka adalah lelaki. Kalau pun ada kejadian apa-apa, masa tak ada yang mampu melawan perempuan itu?!


Sepersekian detik kemudian, Val tertegun untuk yang kedua kalinya.


Tatapan teman-temannya itu kosong.


Val menyernyit bingung, lalu menoleh ke belakang. “Kim! Lihatlah merek-“


Ia terbelalak.


Kini, pandangan Kimberly juga kosong.

__ADS_1


Val menoleh pada perempuan di sebelah Kim itu. Perempuan itu menyeringai licik.


Hanya dengan begitu, ia tahu ada sesuatu yang terjadi. Val tahu… penyebabnya adalah perempuan itu.


Diam-diam, Valerie mengeluarkan kekuatannya untuk melindungi dirinya sendiri.


Perempuan itu mendekat kepada Val dengan senyuman sinis, lalu membisikkan sesuatu. ‘Serahkan kesadaranmu padaku.’


Tidak. Bukan dibisikkan.


Melainkan, ia masuk ke dalam pikiran Val.


Valerie cepat tanggap dalam menghadapi segala situasi, itu mengapa ia tak butuh lebih dari sedetik untuk menyadari itu. Menyadari bahwa perempuan di depanya ini juga mempunyai kekuatan mind control.


Karena Val tak tahu apakah perempuan itu juga mempunyai mind reading atau tidak, maka untuk mengantisipasi, Val langsung mengosongkan pikirannya dalam sekejap. Ia tak lagi berkata apa-apa dalam hati.


‘Berlututlah seperti mereka.’ Ujar Perempuan itu dalam pikiran Val, untuk mengendalikannya.


Valerie menurutinya, ia berlutut. Ia berpura-pura sudah terkendalikan juga oleh perempuan itu. Tujuannya adalah... ia ingin mengetahui siapa perempuan aneh ini, dan apa yang membuatnya melakukan ini.


Sesaat kemudian, perempuan itu terkekeh. “Aku tak menyangka kekuatan keduaku itu berdampak sehebat ini.” Ujarnya dengan senyuman bangga.


“Baiklah, sekarang waktunya untuk mengetahui titik lemah mereka.”


Valerie tertegun. Sepersekian detik kemudian, ia kembali memasang tatapan kosongnya kembali dan lanjut mendengarkan.


'Apa hal yang paling kau inginkan?' Perempuan itu masuk ke dalam pikiran mereka lagi.


Tidak, kecuali Valerie. Val akhirnya tahu apa yang mau perempuan itu lakukan.


Valerie tahu betul apa yang akan terjadi kalau ia melakukan hal ini saat mengendalikan pikiran seseorang.


Orang yang dikendalikan akan mengatakan semuanya. Dengan jujur. Dalam hati.


“Hahahaha! Konyol sekali!”


“Jawaban mereka semua sama!!” ujar perempuan itu. Dia suka berbicara sendiri rupanya.


Perempuan itu keluar dari pikiran mereka, lalu menyadarkan mereka.


'Sadarlah.'


Begitu mereka sadar, tak sampai sedetik, Jack langsung berlari ke arah perempuan itu dengan belati di genggamannya. Ia menempelkan belati itu pada leher perempuan itu, mengancam agar tak bergerak.


Disaat itu juga, Rylan dengan kecepatan supernya melumpuhkan titik lemah perempuan itu dari belakang. "Sial, apa yang kau lakukan padaku tadi?!" ujarnya.


Zav tiba-tiba menghilang, lalu saat kembali, ia sudah membawa sepasang borgol, dan langsung mengaitkan borgol itu pada kedua tangan perempuan itu.


“Kau dapat dari mana?” tanya Rylan keheranan.


“Kantor polisi.” Ujar Zav singkat, lalu menoleh pada Kimberly, “Tinjuan terakhir?” ujarnya menawarkan kesempatan emas pada Kim, tapi alih-alih langsung melayangkan tinjuannya, Kimberly hanya berjalan mendekat.


“Siapa kau? Apa maumu?” ujar Kim dingin.


Sementara itu, Valerie masih terdiam, ia ingin mengamati dulu semuanya. Sampai saatnya sudah tepat untuk bertindak.


Walaupun sudah dikepung tanpa celah, perempuan itu malah menyeringai. “Mulai sekarang aku adalah tuan kalian.” Ujarnya, membuat mereka semua menyernyit bingung sekaligus kesal.


Sebelum Kimberly meludahkan air liurnya di wajah perempuan itu, perempuan itu langsung melanjutkan perkataannya.


“Patuhlah padaku!”


“Kalau kalian menurut sampai akhir, aku akan membantu kalian menghilangkan kekuatan kalian…”


“… dan hidup normal, selayaknya manusia biasa... seperti yang kalian mau.”

__ADS_1


__ADS_2