
[Claire’s POV]
Sekarang aku sudah ada di dalam pesawat, aku duduk di dekat jendela, Jack ada di sampingku, lalu Val di sebelah Jack lagi, di dekat jalan.
Ketika pesawatnya mulai take off, para pramugari dan pramugara menjelaskan tentang cara untuk blablabla… ya begitulah. Aku tak terlalu mendengarkan, karena dalam keadaan separah apapun aku pasti akan tetap selamat, kan? Hahaha!
"Tidur saja kalau masih mengantuk, kita butuh banyak tenaga nanti." ujar Jack kepadaku. Kalau Val? Jangan Tanya. Dia sudah tidur sejak kami duduk di dalam pesawat. Langsung pulas, tak heran, ini benar-benar masih subuh.
Aku mengangguk.
Ah, aku jadi teringat akan percakapannya tadi dengan Kim di luar toilet. Kira-kira, apa yang mereka sembunyikan? Apa dia mau memberitahuku jika aku menanyakannya? Karena kurasa, yang mereka sembunyikan adalah hal yang serius... jadi akan sulit untuk membuatnya mau memberitahuku.
Ditambah lagi, Kim mengeluarkan banyak sekali darah tadi. Jadi… sudah pasti… itu tentang masa depan, kan? Eh? Atau tentang yang lain?
Berhubung banyak sekali rahasia yang para pengendali waktu sembunyikan, dengan kata lain, banyak kemungkinan yang bisa saja menjadi pemicu Kim yang mengeluarkan darah sebanyak itu.
Tapi setahuku, bukankah Kim tak boleh memberitahukannya kepada siapa pun? Lalu mengapa ia memberitahukannya? Dan kenapa harus kepada Jack?
Apa karena Jack adalah ketua agen?
Ck! Terlalu banyak pertanyaan yang ada di benakku, ingin sekali aku menanyakannya, tapi kurasa… tak mungkin.
"Hei."
"Ah! Iya d-dingin!"
EHH? CK! Latah macam apa ini?!
Tapi memang iya… musim dingin sudah mulai ekstrem di negaraku. Entah bagaimana kami akan bertarung nanti. Masa iya pakai mantel?
Dia terkekeh kecil, lalu melirik jaket kulitnya, "Jaketku tak bisa membuatmu hangat." Ujarnya, lalu mengambil selimut yang ada di kantung belakang seat di depan, “Terpaksa pakai ini saja, ya?” Ia menyelimuti tubuh bagian depanku.
Mengapa detak jantungku berdetak cepat sekalii?? Aku kenapa??
Aku mengenyampingkan detak jantungku yang aneh ini, lalu tersenyum.
“Thank you.”
Jack ikut tersenyum, menampilkan lesung pipinya yang cukup dalam itu.
Aku mengerutkan alisku bingung. Mengapa… wajahnya jadi manis kalau lagi begini?
Ia menaikkan alisnya, “Kenapa?” tanyanya heran. Wajah bingungnya ini membuat lesung pipinya tadi langsung menghilang dalam sekejap.
Aku memiringkan kepalaku bingung, “Kau ini punya dua kepribadian, ya?”
Ia menautkan alisnya, semakin membuat wajah dinginnya itu tergambar lagi. “Apa maksudmu?” tanyanya lagi.
“Wajahmu bisa berbeda seratus delapan puluh derajat, tahu! Kalau sedang tersenyum sama kalau sedang datar, benar-benar beda!”
Tiba-tiba ia menyeringai, lalu mendekatkan wajahnya padaku. “Beda gimana, hm?” ujarnya dengan tatapan meledek.
Deg.
Ah, mulai lagi!
Deg.
Aku memalingkan wajahku ke arah jendela. “T-tidak jadi.”
Ia mendekatkan wajahnya lagi, “Beda jadi gimana?” ujarnya seraya mengangkat sebelah alisnya, ia menatapku dengan seringaian meledek.
ISH! DIA ITU TAHU YA KALAU DIA TAMPAN?!
AH! AKU MENYESAL BILANG BEGITU.
*Deg*g!
Degg!
CK, DIAAM!
“Dibilang tidak jadi!!”
Samar-samar, aku mendengar Jack tertawa kecil. “Claire.”
__ADS_1
“Apa?!” jawabku agak ketus (habisnya orang ini menyebalkan), masih sambil menatap ke arah jendela.
“Tidur… nanti kita perlu banyak tenaga.”
Ish, memang kenapa sih?!
Lagipula dia sendiri juga tak tidur, kenapa? Mau membicarakan rahasia lagi dengan Kim? Jadi aku harus tertidur dulu, begitu?
Cih! Tak akan kubiarkan!
“Tidak mau!” ujarku mantap, sambil menyilangkan kedua tanganku di depan dada.
Aku mendengar Jack malah terkekeh. Aku meliriknya sekilas, aneh sekali… dia jadi banyak tertawa belakangan ini. Ah, sudah kuduga! Dia memang punya dua kepribadian!
Seram.
“Claire,” panggilnya lembut. Aku menoleh padanya, ia menatapku dalam dengan senyuman tipis, entah apa yang ada di pikirannya, tapi yang jelas…
… yang jelas…
… jantungku… berdebar lagi.
Kesimpulannya… orang ini memang menyebalkan!
Manik hitam pekatnya terasa seperti mengunci pengelihatanku, mengambil paksa seluruh kesadaranku hanya untuknya. Ini aneh! Ini aneh! Ini aneh! Aku tak bisa memalingkan pandanganku. Aku tak bisa menghindari tatapannya!
Ia tak berkata apa-apa, kami hanya saling menatap. Tatapannya penuh arti, tapi tak bisa kumengerti…
[Author’s POV]
Lelaki itu diam seribu bahasa. Diantara terkagum dengan kecantikan perempuan di sebelahnya itu, atau karena memang banyak yang… tak bisa ia katakan. Jawabannya adalah, dua-duanya.
Ia ingin sekali mengatakan semua hal yang sejak tadi sudah ruwet di kepalanya, tapi… apa boleh buat? Tidak, ia tidak bisa.
Claire akhirnya bisa berkedip, “E-eh, tadi mau bilang apa?” tanyanya.
Jack tersenyum tipis, alih-alih mengungkapkan hal yang mengganjal itu, ia memilih untuk membahas hal yang mengganggu hatinya saja.
“Apa kau sudah melupakan Rylan?”
Claire menaikkan kedua alisnya bingung, “Kenapa tiba-tiba?” tanyanya yang membuat Jack terdiam. Ia menyalahkan dirinya sendiri dalam hati, mengapa ia tak memikirkan alasan dulu sebelum bertanya tentang itu?
“Sudah.” Ujar Claire mantap. Lagipula waktu itu belum terlalu dalam perasaanya pada Rylan, jadi ia tak terlalu menjadikan itu masalah. Dan lagi, Rylan adalah kekasih Ruby, jadi mana mungkin ia masih meneruskannya, gila saja? Ruby sudah sebaik itu padanya.
Jack ber-oh saja dengan wajah datar, diam-diam, ia memalingkan wajahnya ke arah lain, ‘yes!’ gumamnya yang tak terdengar sama sekali.
Claire kembali menatap ke arah jendela. Entah mengapa ia jadi sulit untuk terus berkontak mata dengan lelaki di sebelahnya itu. Setiap kali manik mereka bertemu, jantungnya langsung berdegup kencang. ‘Meresahkan’ pikirnya.
Begitu pun dengan Jack, berada dekat dengan perempuan ini entah mengapa membuatnya terus merasa senang. Ia memang seperti orang yang mati rasa sebelumnya, tapi sekarang tidak lagi. Aneh, ia sendiri pun merasa aneh dengan dirinya yang sekarang mudah sekali tersenyum.
“Kau jatuh cinta, bodoh.” Ujar Val memasuki pikiran Jack. Dengan kaget, lelaki itu pun menoleh ke samping, ternyata Val sedang membuka sebelah matanya untuk mengintip.
‘Ck. Kau tidur lagi saja sana!’ Ujar Jack dalam hati, membalas perkataan Valerie.
“Iya-iya, aku mah apa atuh? Nyamuk doang. Baiklah, nyamuk ini akan tidur lagi! Bye.” Ujar Val dalam pikiran Jack, lalu keluar dari telepati sepihaknya itu. Ia menghadap arah lain untuk kembali tidur, malas melihat manusia bodoh di sebelahnya itu.
'Masa begitu saja gak paham, sih? Untung Zav peka..’ ujarnya dalam hati, lalu kembali ke alam bawah sadarnya.
Diam-diam, Jack memikirkan juga perkataan Valerie barusan. Sebenarnya, jauh di lubuk hatinya, ia sudah tau. Ia tak sebodoh itu, lelaki itu sudah tahu kalau ia jatuh cinta. Tapi… ada sebagian dari dirinya yang menolak kenyataan itu.
Alasannya? Hanya satu:
Jack adalah tipikal orang yang berpikir panjang.
Ia tak akan semata-mata menerima fakta bahwa ia menyukai seseorang, lalu langsung mengambil langkah. Karena ia akan memikirkan perempuan itu juga, apa yang akan perempuan itu alami jika mereka berakhir bersama, apa perempuan itu akan bahagia? Apa dirinya pantas untuk perempuan itu?
Ditambah lagi, dalam kasus ini, Claire adalah seorang agen juga. Dan… seorang mutan. jika dipertimbangkan, banyak sekali alasan yang akan mendukung fakta bahwa jika kedua mutan berakhir bersama, banyak hal yang tak sinkron akan terjadi.
Tapi jika ia jujur, sebenarnya Jack sudah tak memikirkan itu. Seperti manusia biasa, serasional-rasionalnya, kalau sudah urusan hati, mana bisa lagi mengelak?
Meski begitu, ada satu hal yang mengganjal dipikirannya.
Tentang… perkataan Kimberly tadi.
Apa benar… jalannya harus seperti ini?
__ADS_1
Sementara itu, Claire menautkan alisnya bingung melihat Jack yang jadi melamun sendiri.
“Hei, uban.”
Lelaki itu tersadar dari lamunannya, lalu menoleh pada Claire. “Panggil apa tadi?” tanyanya dengan wajah datar.
‘Wah benar-benar dua kepribadian.’ Ujar Claire dalam hati.
“Uuuuuban!” ujar Claire enteng.
Belum sempat berkomentar, pandangan lelaki itu terkunci pada kalung yang tergatung di leher Claire.
Ia tak jadi komplain, ujung-ujung bibirnya tertarik, menjadi sebuah senyuman.
Menyadari tatapan Jack yang mengarah pada kalungnya, Claire menunduk, ikut melihat kalungnya.
“Kau tahu apa arti Mars?” Tanya Jack dengan senyum tipis.
“Secara harfiah?” Tanya Claire tak mengerti, karena setahunya, Mars hanyalah nama planet.
Jack menggeleng, “Bukan, tapi menurut kamusku.” Ujarnya, yang membuat Claire mengerutkan alisnya bingung, “Hah? Kau punya kamus sendiri?” tanyanya.
Jack mengangguk.
“Kalau di kamusku, Mars artinya ‘Tunggu aku tiga tahun lagi’ begitu.”
Claire terdiam, ia tak tahu harus bereaksi seperti apa. Ia tak tahu Jack sedang bercanda atau bukan. Dibilang bercanda… wajahnya serius, dibilang serius…
“Apa maksudmu?” Tanya Claire, setelah berhasil memahami bahwa Jack sedang serius sekarang. “Kau mau pergi?”
Lelaki itu tersenyum melihat wajah Claire yang penasaran. Ia mengetahui Claire tak bisa menyembunyikan ekspresinya. Mau sepura-pura apapun, Claire tetap tak bisa menutupi wajahnya yang menjadi sedih.
Menatap manik cokelat yang sendu itu membuat Jack semakin tak tega. Dibalik senyuman manisnya itu, emosinya bergejolak, ia sangat ingin melampiaskan kemarahannya pada semesta.
“Bukan apa-apa, itu hanya arti ‘Mars’ menurutku, sudah… jangan dipikirkan.” Ujarnya.
Walau tak sepenuhnya percaya kalau yang dikatakan Jack barusan ‘bukan apa-apa’, tapi Claire memutuskan untuk tak memikirkannya lagi, dan percaya saja dengan Jack.
Sebenarnya, alasan utamanya adalah… ia sudah mulai mengantuk.
Melihat Claire yang jadi pendiam, lelaki itu sudah mengerti kalau ia sudah mengantuk. Claire hanya menatap keluar jendela, melihat awan-awan putih yang menutupi pemandangan dibawahnya, sehingga Claire tak bisa melihat apapun yang menarik perhatiannya. Itu membuatnya… semakin mengantuk.
Perlahan, ia mulai memasuki alam bawah sadarnya. Ia terlelap.
Kepalanya terkadang terbentur jendela, atau maju-maju ke depan lalu menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menyingkirkan rambut depannya dan kembali ke posisi semula…
Jack yang melihat itu pun terkekeh, ia menaruh kepala perempuan itu di pundaknya, menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Claire dengan tangannya, lalu tersenyum.
Ia menatap Claire yang sedang terlelap di pundaknya, senyumnya memudar, lagi-lagi... ia teringat hal itu.
Memang benar.
Rahasia Sang Pengendali Waktu memang seharusnya disimpan sendiri.
Jika tidak, yang lain akan ikut terbebani.
Tanpa ia ketahui, Valerie terbangun dari tidurnya. Ia tersenyum jahil saat melihat Jack dan Claire, tapi belum sempat meledek, Val mengerutkan alisnya bingung saat melihat Jack. Lelaki itu seharusnya senang, tapi mengapa wajahnya sendu begitu?
Val penasaran.
Ia membaca pikiran Jack tanpa ragu.
Lelaki itu benar-benar keliru duduk di sebelah Valerie.
Val tertegun.
Ia mulai berlinang air mata.
Tangannya gemetar takut.
Ia menutup mulutnya, ia tak bisa berkata-kata lagi.
Jantungnya serasa seperti berhenti berdetak.
“Kenapa kau yang harus... melakukan itu?” gumam Jack seraya menatap Claire sendu.
__ADS_1
Valerie yang mendengar itu semakin tak bisa menahan air matanya lagi.
Ia menangis dalam diam.