AGENT: Agent Of Mutants

AGENT: Agent Of Mutants
51. Turning Point


__ADS_3

Flashback Off…


Rhea terkesiap. Begitu pun dengan ke-lima agen itu.


Jantungnya berdegup tak karuan.


Apakah ini berarti… rencananya telah hancur?


“Ka-kalau kau sudah tahu… untuk apa kau berpura-pura tak tahu?” Tanya Rhea. Suaranya sedikit gemetar.


Claire tersenyum miring, “Karena aku tahu pada akhirnya teman-temanku akan menuntunku ke tempat dimana chip itu berada, walau tetap karena suruhanmu.” Ujar Claire tenang. Ia lega entah kenapa. Ia hanya merasa senang, untung saja saat itu ia menuruti Brian.


Claire sudah paham sekarang, mengapa dari awal Brian menugaskannya di IHS, karena Brian pasti telah dikelabuhi Rhea… entah trik apa yang adiknya itu gunakan sampai seorang Pemimpin AOM bias jatuh dalam perangkapnya, dan menyuruh Claire bertugas di IHS, yang secara tak langsung… melancarkan rencana Rhea.


Sepersekian detik kemudian, senyumnya memudar. Claire baru ingat akan sesuatu…


… tentang…


… keenam temannya itu.


“Kau kira kau sudah menang?” Rhea menatap Claire dengan tatapan tak terjelaskan.


Ia tak menjawab Rhea.


“Ingatlah, semua nasib temanmu itu ada di tanganku.” Rhea menyeringai, “Aku bisa membuat mereka seperti pria tua itu, bahkan sekarang juga.” Ancamnya.


Benar.


Claire tersadar, lalu apa gunanya kalau ia sudah membuktikan bahwa ia telah mengetahui semuanya dari awal? Apa gunanya? Apakah akan mengubah sesuatu?


Kenyataannya adalah, tidak.


Keenam temannya tetap mengkhianatinya.


Ayahnya tetap meninggal.


Dunianya tetap hancur.


Selama ini ternyata ia berjalan sendirian, kesenangannya hanyalah dusta belaka.


Tunggu.


Brian? Bagaimana dengannya? Adakah cara untuk menghubunginya? Untuk meminta bantuan terakhir..


Claire melirik Jack sekilas.


Tidak, tak ada cara menghubunginya. Earzoom yang terhubung dengan Brian sudah Jack retas dari dulu.


Rhea terkekeh melihat wajah tanpa harapan Claire. “Baiklah, sekarang sudah saatnya.”


Rhea menjentikkan jarinya, kemudian tiba-tiba telekinesisnya bekerja, membuat kepalan tangan mayat Alan Clark terbuka… menampilkan sebuah benda yang bersinar sangat terang.


Sinar itu berwarna putih menyilaukan.


Telekinesis Rhea membawa benda bersinar itu sampai pada genggamannya. Rhea tersenyum puas melihat benda itu. Butuh perjuangan untuknya agar bias mendapat kekuatan super… sehingga saat ini, ia akhirnya bias menggenggam benda itu.


“Shit.” Gumam Jack.


Saat sinarnya sudah meredup, wujud benda itu lama kelamaan semakin terlihat.


Ukurannya sekecil penghapus, benda itu berwarna putih, dengan sesuatu seperti air menjalar mengitari benda itu.


Itulah… chip mutan.

__ADS_1


Wujudnya indah. Karena sedikit transparan, dari luar bias terlihat isi dalam chip itu seperti glitter yang berkelap-kelip cantik.


Rhea menatap Claire dengan seringaian kemenangan. “Satu-satunya makhluk yang dapat memindahkan seluruh kekuatan super di dalam chip mutan hanyalah seorang mutan pewaris yang memiliki kekuatan telekinesis seratus persen. Begitulah kata ayah.”


Claire tertegun. Ia menelan ludahnya.


Bagaimana Rhea bisa tahu?


“Nah sekarang sudah giliranmu, kak.”  Rhea berjalan mendekat ke arah Claire.  “Pindahkan seluruh kekuatan super dalam chip ini… kepadaku.”


[Claire’s POV]


Jelas.


Aku tamat sekarang.


Tidak Kak Brian... ternyata kau salah. Aku tak bisa memenangkannya… aku kalah.


“Aku tidak mau.” Ujarku tegas.


Entah apa lagi yang harus kulakukan..


Rhea menyeringai, “Baiklah kalau begitu.” Ia menoleh ke belakang, kepada keenam agen itu. “Chip ini sudah ada di genggamanku. Aku bisa mengabulkan keinginan kalian semua jika kekuatan pada chip ini sudah aku miliki.”


“Maka dari itu… buat Claire ingin melakukan pemindahannya.” Ujar Rhea dengan senyum licik.


Sial.


TUJUH LAWAN SATU?!


Oh tidak. Tidak. Tidak tidak.


Jack, Kimberly, Val, Zav, Ryland an Ruby…  mereka semua berjelan mendekatiku dengan


tatapan tak terjelaskan.


Tolong.


Jack membawa… apa itu… belati?


Ruby? Ruby?! Ia mengeluarkan gelombang supersoniknya..


Kimberly menggenggam dua belati di kedua tangannya.


Mereka…


Mereka semua berjalan ke arahku…


Benarkah?


Beginikah akhirku?


Mereka… teman-temanku yang kemarin masih bercanda tawa denganku, menampilkan semua kebahagiaan yang membuatku nyaman. Selama dua bulan, mungkin lebih. Mereka sudah menjadi rumah untukku. Tempatku mengadu. Tempatku bercerita, bercanda tawa bersama.


Tak pernah sekalipun aku membenci mereka setelah mengetahui bahwa aku telah dibohongi. Aku hanya membenci diriku sendiri… karena telah bisa-bisanya terperangkap… jatuh.. pada orang-orang yang salah.


Tapi percayalah… aku bahkan tetap menyayangi kalian..


Jack?


Benar beginikah kau akan memusatkan belati itu padaku?


Bahkan, pelukanmu masih terasa hangat sampai sekarang… tapi, beginikah… akhirnya?

__ADS_1


Aku mengerutkan alisku. Aku merasakan air mataku menggenangi mataku. Pandanganku buram karena air mata.


Aku memilih untuk memejamkan mataku.


Apa aku harus melakukan pemindahan itu…?


Apa gunanya lagi kalau aku hidup?


Ibuku sudah meninggal dua tahun lalu.


Nyawa ayahku sudah melayang. Mayatnya berlumuran darah dengan luka tusuk.


Teman-temanku sedang berjalan ke arahku dengan belati mereka.


Lalu… untuk apalagi kupertahankan hidupku ini?


‘Jangan mati dulu, kau belum menjawab perasaanku, Claire.’


APA ITU?


ADA YANG MEMASUKI PIKIRANKU!!


SUARA ITU…


“Jack?” Saat aku membuka mataku, Jack sudah berada tepat didepanku, ia tersenyum.


Kimberly berada di sebelah Jack, membelakangiku. Ia mengarahkan belatinya kearah Rhea. Ruby juga membelakangiku, berjaga-jaga dengan gelombang supersoniknya. Begitu juga dengan yang lain, mereka semua berdiri disekelilingku membentuk lingkaran kecil, mengarahkan kekuatan dan belatinya bukan kepadaku… tapi kepada Rhea. Menatap perempuan itu dengan pandangan murka dan awas.


Rylan menoleh padaku, raut wajah murkanya berubah menjadi senyuman. “Hai, Claire.” Ujarnya, lalu kembali menatap awas kedepan.


Val menoleh padaku, lalu tersenyum. “Tadi manusia es itu meminjam kekuatan telepatiku untuk memasuki pikiranmu, hahaha dasar bucin.” Bisiknya padaku.


Aku mematung. Apa maksudnya ini?


Mereka semua…


“Jelas kami ada di pihakmu, Claire!” ujar Ruby.


Aku melongo.


APA?!


T-TAPI… MEREKA BISA MATI!


KALAU MEREKA MEMIHAKKU, MEREKA BISA MATI!


T-tunggu..


Dari samping, aku dapat melihat Kimberly tersenyum tipis. “Saudaramu itu memang memiliki kekuatan kita, tapi tidak semua.”


“Dia tak memiliki kekuatanku. Pengendali waktu di dunia ini hanya satu... yaitu aku.” Ujar Kim


dengan penuh penekanan.


Kimberly menoleh padaku. “Jadi kau bisa lega sekarang, Claire.” Ujarnya dengan senyuman manis.


Aku terbelalak tak percaya.


Rasanya jantungku kembali berdetak.


Nafasku tak lagi tercekat.


Dadaku tak lagi sesak.

__ADS_1


Aku tersenyum lebar. Percaya tak percaya… TEAM INTI ADA DIPIHAKKU!


KAK BRIAN, AKU MENANG!


__ADS_2