
Di arah selatan.
[Kimberly’s POV]
Sendirian.
Aku akan menjalankan rencana ini dengan jagdkommando kesayanganku ini saja..
Huhh.. sebenarnya kekuatanku tidak bisa cukup memadai untuk berjuang sendiri jika tanpa senjata.
Tapi siapa peduli? Aku bisa mengakhiri mereka semua hanya dengan tangan kosong. Santai saja.
Lagi pula, aku tidak boleh mengeluarkan kekuatanku, kan?
Oh iya, omong-omong, bukankah mutan buatan (mutan yang tidak terlahir sebagai mutan) akan lenyap jika terbunuh?
Bagus.
Ide gila muncul di pikiranku.
○○○
4 target sudah kubunuh. Tenang saja, mereka lenyap kok. Mereka bukan benar-benar manusia.
Aku melihat Sally diujung bazaar sana.
Ingat Sally? Perempuan yang berkali-kali membuat Claire gagal menahan amarahnya.
Apa aku harus datang kepadanya?
Ya, kenapa tidak?
Saat aku sudah hampir berdiri tepat didepannya, dia sudah melirikku tajam dan jutek.
Hhh.. pantas saja Claire jadi emosi berkali-kali karenanya, tatapannya saja seperti melihat musuh bebuyutan.
"Hei. Kenapa melihatku seperti itu?” Tanyaku dengan wajah yang tidak kalah jutek dan datar.
"Siapa kau? Ha!?" Tanyanya dengan nada menyebalkan.
Bukankah dia pernah berhadapan denganku sebelumnya? Saat ia ke kelas 11 IPA 1 untuk mencari Claire. Dia ini bodoh atau pelupa?
"Aku Kimberly, wakil ketua OSIS. Masa wakil ketos sendiri gak tahu, tinggal di kutub, ya?" ujarku dengan seringaian.
Ya, aku memang wakil ketua OSIS, Jack.
Ia tersentak sekilas, lalu kembali dengan wajah datarnya. "Ya terus? Aku harus peduli begitu!?"
Lah? Bukankah tadi dia yang bertanya siapa aku?
"Hahaha kau peduli atau tidak juga tak ada untungnya buatku, memang siapa kau? Kepsek? Ketos? Anggota OSIS? Panitia?"
Sombong sedikit tak apa lah, hitung-hitung membuatnya kesal sama dengan membalaskan dendam Claire.
Aku menyeringai.
Dia mengepalkan kedua tangannya tanda telah geram denganku.
"Kim, hati-hati pada robot berbentuk nyamuk! Ambil robot kecil itu di saku target mu nanti." ucap Ruby di earzoom-ku.
Hei, omong-omong, untuk apa aku membuang waktu disini? Aku masih punya tugas yang lebih penting.
"Ya sudah ya, gaada waktu buat-"
Apa itu digenggamannya?
Robot kecil?
Tapi… berbentuk capung..
Yang benar capung atau nyamuk, sih?
Ah, baiklah… aku mengincar robot itu dan akan kuambil saat dia lengah.
Berarti Sally adalah salah satu target-ku?
__ADS_1
Aku menyeringai. Bagus. Ini akan jadi seru..
PLAKK
Aku menamparnya.
Haha. Ia terlihat semakin geram padaku.
Saat dia ingin memukulku dengan kepalan tangan yang masih menggenggam robot itu, aku menahan tangannya dan kupelintir sedikit.
"Aaarghh!! Lepass!!" Erangnya.
Aku menyentil pergelangan tangannya dengan keras, sehingga kepalan tangannya terbuka, lalu aku segera mengambilnya sebelum robot itu jatuh.
"Kau dapat darimana ini!?" Bentakku ketika robot capung itu sudah di genggamanku.
"Ada apa sih denganmu!?" Bentaknya tidak terima dan ingin menamparku balik.
Aku menangkap tangannya sebelum menyentuh wajahku, lalu kupelintir lagi tangannya.
"Jawab!!"
"Aduh!! Lepas!!"
Aku semakin memelintir tangannya.
"JAWAB!!" Bentakku lagi.
"A-aku menemukannya di toilet tadi." ucapnya dengan ketakutan.
Apa aku seseram itu?
Ah, tidak lah. Dia saja yang penakit. Wajah seperti ini mana ada seramnya. Hehe.
Di toilet? Mungkin Claire, Val atau Ruby yang menghabisi target mereka di toilet dan tidak mengambil robot ini, mungkin?
Aku menghempaskan tangannya lalu meninggalkannya keheranan. Aku segera pergi ke tempat sepi.
Aku langsung membongkar isi robot itu, lalu terdapat chip yang kuyakin itu chip khusus untuk meletakkan GPS yang tersambung dengan pemiliknya.
Jadi mungkin, jika aku meretas chip dalam robot ini, aku bisa mengetahui lokasi pemiliknya. Si target.
Aku mengeluarkan ponselku dan memasukkan chipnya dengan bantuan alat khusus untuk perantara.
Dan... tertera sudah lokasi si target itu di layar ponselku.
Semudah yang kubayangkan.
Ponselku ini memang terlihat seperti ponsel dengan logo apple biasa, tapi sebenarnya ini khusus meretas akun, chip dan sebagainya.
50 meter dari arah timur.
Aku mulai berjalan mengikuti arah di GPS ini.
Lama kelamaan aku berlari karena tidak sabar..
Dan aku menemukan... seorang perempuan di hadapanku dengan kedua tangan diborgol.
Aku memeriksa lagi GPS-ku, hmm.. sudah benar kok.
Apa dia sudah terlebih dulu bertemu dengan yang lain sampai diborgol seperti ini? Hahaha!
Aku menunduk, menyamai tingginya yang sedang terduduk, ia terlihat lemas. "Haai." Sapaku.
"Lepaskan aku tolong!!" Ujarnya. Ia menatapku seperti mau menangis. Uuu.. kasihan.
"Aku mau bertanya dulu."
Dia mengerutkan keningnya.
"Tadi siapa yang membuatmu seperti ini?"
"Seorang perempuan berambut pirang dan seorang laki-laki dengan tubuh tegap, berwajah tampan dan mempesona... ah… astaga.." ujarnya sambil senyum-senyum di akhir kalimat.
PFFFTT…
__ADS_1
Apa maksudnya Zav?
Hahahaha.
"Baiklah terimakasih." aku berjalan ke belakangnya dan melepaskan borgol yang mengunci kedua tangannya.
Tidak, tentu saja aku takkan membiarkannya pergi.
Aku memukul punggungnya sedikit keras dengan siku tanganku, lalu dia pingsan..
Hah? Begitu saja pingsan?
Pukulanku yang terlalu kencang atau dia yang terlalu lemah? Ck.
"Sudah ditolong, gak bilang terimakasih..." ujarku seraya berdecak.
Dia tidak menjawab.
"Cihh!"
Tidak tahu diri!
Ah, baiklah.. mungkin ia sudah benar-benar pingsan.
Aku memutuskan untuk melanjutkan perjalananku untuk mencari targe-
Eh…
Aku tidak sengaja melihat ke arah atap sekolah dan… samar-samar terlihat seorang perempuan yang sedang berhadapan dengan seorang perempuan berjubah aneh 10 meter di depannya, dan di sekitarnya terdapat aura-
"CLAIRE!?"
[Author’s POV]
"Aku sedang sepenuhnya sadar kok." ucap Claire.
Jack membulatkan matanya tidak percaya.
Dan untuk pertama kalinya, Jack membiarkan Claire melakukan itu.
Karena dia tahu, ia tidak berhak melarang atau menghentikannya lagi…
…. karena Claire sudah bisa mengendalikan kekuatannya sendiri sekarang.
Claire menghantam si penjahat itu sekali lagi ke tanah dengan keras, lalu dia menghentikan aksinya dan berbalik ke arah Jack.
Aura merah Claire menghilang, kembali normal.
"Claire?" Ujar Jack masih tidak percaya.
"Iyaa kenapa?" Claire menyunggingkan senyumannya.
Jack membulatkan matanya. "Kau benar-benar sudah bisa mengendalikan kekuatanmu?
"Iyaa!! Akhirnyaa!" Ujar Claire antusias.
Diam-diam, Jack tersenyum, ia juga merasa senang akan hal itu. Tapi jelas, ia tak mau memperlihatkannya sama sekali.
"Akhirnya, kau tidak merepotkan lagi." ujar Jack kembali datar.
Claire mengerutkan alisnya tidak suka, ia memasang raut cemberut.
"Sudahlah! Berdiri dengan benar dulu baru mengejekku!" Ujar Claire seraya membantu Jack berdiri.
Saat Claire menoleh kepada si penjahat tadi, dia sudah menghilang.
"Wahh wahh kabur ternyata!" ujar Claire dengan seringaian di wajahnya.
Dari jauh, terlihat seorang perempuan yang baru saja sampai di atap sekolah dengan tangga di ujung atap atau rooftop itu.
Melihat perempuan itu, Claire mengembangkan senyumnya lagi dan berubah menjadi antusias.
"Kim!!" Ujar Claire seraya memeluk Kimberly yang baru saja sampai itu.
Kimberly melihat kondisi rooftop dengan bingung, karena sebelumnya dia melihat Claire sedang ber-adu kekuatan dengan seorang perempuan.
__ADS_1
Tapi sekarang... tidak ada siapapun kecuali Jack dan Claire, itu membuat Kimberly bingung.