AGENT: Agent Of Mutants

AGENT: Agent Of Mutants
70. The Meeting


__ADS_3

Ruangan tanpa pintu itu diisi oleh tujuh orang yang duduk mengelilingi meja besar berbentuk oval di tengah ruangan. Pada dinding bagian depan terdapat cahaya hologram yang menunjukkan semua data-data yang mereka perlukan untuk rapat ini.


Cahaya hologram itu menunjukkan data tentang populasi bumi saat ini, yang berhenti pada angka dua ratus juta makhluk hidup. Tak bisa dibilang manusia karena memang bukan.


"Jadi intinya... kita ini melawan apa?" tanya Alex bingung.


"Dua ratus juta pasukan mutan di bumi." jawab Zen tenang. Tenang karena ia sudah melalui masa stres dan paniknya kemarin.


"Iyaa aku tahu, tapi bosnya siapa?" Alex begitu penasaran, dari tadi Zen dan Ally menjelaskan panjang lebar tentang bagaimana perkembangan jumlah pasukan mutan itu yang sampai  hanya memerlukan waktu sehari sampai mencapai jumlah segitu banyaknya, tapi tak membahas tentang siapa dalang dibalik semua itu.


Zen dan Ally terdiam.


"Kalian gak tahu?" tanya Alice tak percaya.


Zen dan Ally masih terdiam, membuat Alice menghela napas kasar.


Sebelum Alice membuka mulutnya lagi, Jack lebih dulu bersuara. "Kalau begitu, beri kami seminggu untuk berlatih. Mempersiapkan segala kemungkinan terburuknya." ujarnya, membuat Alice memutar matanya malas. Lima puluh persen karena ia tak jadi mengomeli kedua profesor itu lagi, lima puluh persennya lagi karena kesal Jack tak mengkritik Zen dan Ally.


"Bagus sekali, sekarang kita akan pertaruhkan nyawa untuk kembali ke bumi tanpa tahu melawan siapa." gumam Alice sarkastik.


Alex mengangguk. "Setuju, setidaknya satu minggu untuk berlatih. Anggap saja musuh kami nanti sangat hebat, jadi kita harus bersiap dulu."


Zen mengusap-usap dagunya, berpikir sejenak. "Masalahnya bukan pada izinku kalian dapat berlatih sampai seminggu, tapi ini tergantung berapa lama lagi pasukan mutan itu akan menyerbu planet ini."


"Tidak baik menakuti orang dengan asumsi." ujar Alice dengan nada datar, tetapi memberi sorot mata tajam pada Zen.


Tentu saja ia tahu dari segepok kertas yang ia baca tadi, bahwa tak ada bukti konkret bahwa pasukan mutan itu akan menyerbu ke sini.


Ally menyernyit. 'Mengapa gadis ini dari tadi mencoba menyudutkan Zen sih?'

__ADS_1


"Tapi ya sudah, karena asumsimu itu kita berlima sudah jadi mutan sekarang. Maka kali ini asumsimu terpaksa akan menjadi bagian dari rencana." Alice menghela napas pasrah. "Hanya saja, kau harus memberi kami waktu setidaknya seminggu untuk berlatih. Aku gak peduli kalaupun asumsimu itu benar, dan pasukan mutan itu datang ke sini sebelum seminggu, kuanggap itu pe-er mu, untuk menghalang mereka masuk ke atmosfer Mars."


Alice menatap Zen lekat-lekat. "Pokoknya, harus seminggu. Itu minimal agar kami siap."


Semua perkataan Alice itu didukung kuat oleh yang lain. Terutama yang belum pernah berpengalaman sama sekali. Bahkan Axelia pun mendukung pernyataannya.


Bicara tentang Axelia, sedari tadi perempuan itu sering kali melirik Hera diam-diam, memperhatikan setiap jengkal wajah dan tubuhnya. Mengenai kilat di tangannya, sekitar tiga menit yang lalu kilat itu baru padam dengan sendirinya.


"Kenapa, Lia?" tanya Hera saat ia tak sengaja menangkap basah Axelia sedang memperhatikan dirinya.


"O-oh gak kenapa-napa.. haha." ujar Axelia terbata sambil menggeleng mantap.


Diam-diam, Jack mendengar percakapan mereka. Sebenarnya sedari tadi ia juga menyadari bahwa Axelia memperhatikan Hera dengan seksama. Tentu saja Jack tahu, karena ia juga diam-diam memperhatika Hera.


Sepersekian detik kemudian, manik lelaki itu dan manik Axelia bertemu. Mereka berdua tak mengatakan apa-apa, tetapi tatapan mereka seolah sedang memikirkan hal yang sama.


"Baiklah, R.D.C.M memang punya lapisan perlindung khusus di lapisan terluar atmosfer Mars. Setidaknya akan menahan benda luar angkasa yang sangat kuat selama dua hari." ujar Zen setuju.


"Okay!" Alex paling semangat kalau sudah menyangkut rebahan di kamar.


Ally menunjukkan sebuah peta yang ada pada tablet hologramnya. "Salah satu dari kalian bawa saja tablet ini, ada petanya agar kalian tak tersesat."


Tak pernah ada yang bilang bahwa gedung R.D.C.M adalah bangunan kecil kan? Sebaliknya, luas sekali.


Alice menggeleng. "Tak usah, terimakasih. Aku sudah mengingatnya." Itulah mengapa membaca segepok kertas itu lebih penting baginya dari segala hal.


Jack menatap Alice datar. 'Anak ini persis dengan ayahnya.' pikirnya dalam hati. Entah dalam maksud baik atau buruk.


Sesaat kemudian, Alex meminta izin untuk segera meninggalkan ruang rapat itu untuk segera beristirahat di kamarnya. Setelah itu disusul oleh yang lainnya. Sampai ruangan rapat itu menjadi kosong, hanya tersisa Zen dan Ally.

__ADS_1


"Ally, tolong selidiki Jack, Alice, dan Axelia." Zen membuka suara.


Ally menautkan alisnya. "Kenapa? Memangnya ada apa dengan mereka?"


Zen memijat pelipisnya, memandangi meja ovale di depannya dengan serius. Ia sedang berpikir keras. "Percakapan mereka tadi... tak membuatku tenang."


"Alice bilang bahwa Jack adalah pemimpin tim inti Agent of Mutants. Jika disingkat... adalah AOM, nama organisasi yang menciptakan mutan dan menjadi sarang bagi mutan. Dan juga, mutan bumi yang membuat bumi kiamat berasal dari AOM." Zen mengerutkan alisnya, mencoba berpikir lebih luas lagi.


"Lalu Alice adalah anak dari temanku, Brian Alejandro Lourdes, yang adalah pemimpin organisasi AOM. Kalau Alice bisa mengenal Jack, berarti kemungkinan besar ia juga tahu anggota tim inti lainnya."


"Dan yang terakhir... Axelia. Aku tak pernah tahu apa saja yang ia lakukan semasa hidupnya, bergaul dengan siapa... bersahabat dengan siapa.. tapi yang kutahu detik ini adalah, ia mengenal Jack sebagai kakak kelasnya. Masih asumsi tapi kurasa tim inti juga ditugaskan di sekolah dimana Jack dulu ditempatkan."


"Dari mana kau tahu?" tanya Ally bingung.


"Biasanya sebuah tim memang selalu bersama, kan?" Zen tersenyum simpul. "Kalau mereka mau mengakuinya langsung, ya bagus. Tapi seperti yang telah kau lihat, dua diantaranya jenius. Jadi tak mungin semudah itu."


Ally mengangguk paham. "Omong-omong, mengapa sepanjang rapat tadi kau pasrah-pasrah saja dimarahi oleh Alice?"


Zen tertawa terbahak-bahak. Ia menatap Ally tak percaya, "Memangnya kenapa? Kenapa kau yang tersinggung? Harusnya kan aku."


"Walau kau yang dimarahi, tetapi harga diriku sebagai asistenmu juga ikut terinjak-injak." ujar Ally tegas, sedikit terdengar nada kekesalannya.


Zen terkekeh, "Memang dia lebih pintar dariku. Lagipula aku melihat itu sebagai suatu kebanggaan."


Ally menyernyit, "Kebanggan kau bilang?"


Zen mengangguk. "Ya. Biarkanlah dia begitu. Dari pada kusuruh diam, nanti potensi kepintarannya tertutup."


Mendengar itu, Ally tertawa, mengira Zen sedang sarkasme.

__ADS_1


"Ally, aku serius."  Zen tersenyum penuh arti, "Aku serius, kita memiliki dua orang ter-genius di dimensi ini."


"Alice menduduki urutan pertama."


__ADS_2