
Sementara itu, di kota Neuren.
"Ally, sudah berapa orang yang kau dapatkan?" Tanya Professor Zen pada asistennya itu.
"Empat orang, professor. Aku tak tahu harus menugaskan anak buahku untuk mencari kemana lagi.." Ujar Profesor Ally sedikit memelankan suaranya saat mengucapkan kalimat terakhir.
Profesor Zen menopang dagu dengan satu tangannya, berpikir. "Hm, tinggal satu lagi ya..."
Tiba-tiba, suara dari layar besar di seberangnya mengalihkan perhatiannya.
"Hujan badai disertai petir melanda seluruh kota Peidro. Diduga seorang perempuan telah tersambar petir.."
Profesor Zen bangun lalu memperhatikan berita itu dengan saksama.
".... dan ajaibnya, ia selamat."
"Anehnya, tak ada luka luar sedikitpun, sekarang ia telah dilarikan ke rumah sakit untuk dicek lebih lan-"
"Aku akan menghubungi anak buahku sekarang juga" ujar Profesor Ally sambil mengutak-utik ponselnya. Seolah sudah tahu apa yang Zen pikirkan. Ya, memang benar.
Professor Zen berjalan menuju kursi kerjanya dan mengambil mantel yang bertengger di kursinya.
Ia menghampiri Profesor Ally yang masih berkutik dengan ponselnya.
Zen menatapnya lekat "Kau masih ingin bermain ponsel disini atau ikut denganku?"
Profesor Ally terkejut, ia mengangkat kepalanya menatap Zen bingung, namun sedetik kemudian ia mengerti maksudnya. Ia mengambil mantelnya yang berada tak jauh dengannya, lalu mereka berdua pergi meninggalkan ruang kerja mereka.
...•••...
Mobil yang dikendarai Zen melintas dengan sangat cepat ditengah cuaca dingin yang sekarang mulai terguyur hujan. Tanda bahwa mereka akan segera sampai di Kota Peidro yang sedang hujan badai.
"Professor, kenap-"
"Sudah kubilang berkali-kali, Zen saja." potong Zen di sebelahnya sembari fokus menyetir.
"Zen, kenapa tidak menyuruh anak buahku saja? Kenapa langsung kita yang turun tangan kali ini?" Ally akhirnya menanyakan hal yang daritadi ada di benaknya.
Zen berpikir sejenak.
"Firasatku kali ini akan berbeda. Aku tak bisa mempercayakan yang satu ini kepada anak buahmu."
Ally menautkan alisnya, apanya yang berbeda? Bukankah sama saja?
__ADS_1
Tak Ally sadari, Zen mengerem mobilnya perlahan saat melihat pemandangan di depannya.
Sebuah pusaran angin dengan petir di dalamnya. Langit bergemuruh. Seluruh awan mendung mengitari satu tempat itu.
Ally akhirnya bertanya, "Mengapa dia berbeda?"
Zen terdiam, menyimpulkan yang ia lihat di depannya adalah bukti firasatnya adalah benar.
Ally menautkan alisnya, lalu melihat ke arah Zen terpaku. Tak menunggu lama, rahangnya terjatuh, ia kaget melihat pemandangan di depannya.
Apa yang terjadi? Ia yakin ini bukan sekedar cuaca buruk.
"Karena dia sudah berubah sebelum kita ubah." Ujar Zen menjawab pertanyaan Ally, lalu menginjak gas dan melintas dengan kecepatan maksimal menghampiri pusaran angin itu.
...•••...
Sumber pusaran angin itu ternyata berada di sebuah rumah sakit yang sekarang sudah porak-poranda.
Zen keluar dari mobilnya, kemudian disusul oleh Ally.
"Kuharap kau tak akan nekat, Zen." Ally menatap Zen penuh curiga, ia sudah tahu betul arti seringaian lelaki di sampingnya ini.
Zen memang suka menantang malaikat maut.
Dugaan Ally benar, tanpa aba-aba, Zen menerobos pusaran angin di depannya.
Sekarang Ally tahu mengapa Zen langsung turun tangan kali ini.
Karena anak buahnya tak akan berani walau hanya berdiri 200 meter dari pusaran angin seperti ini.
"Zen!! Apa kau bawa obat bius nya!?!" Teriak Ally yang berdiri 2 meter dari pusaran angin itu.
Tiba-tiba Zen berlari keluar lagi dari pusaran angin itu menghampiri Ally.
"Aku lupa, mana?" Ujar Zen santai. Cukup membuat Ally menggeleng-gelengkan kepala lelah dengan lelaki di depannya ini.
Ia memberikan sebuah alat setrum dan obat bius pada Zen.
"Terima kasih.. dan.. simpan saja ini, tak akan berguna." ujar Zen sambil mengembalikan alat setrum di genggamannya pada Ally.
Tanpa menunggu balasan, Zen kembali masuk kedalam pusaran angin itu. Tak lupa, dengan petir di dalamnya.
Pusaran angin itu sangat besar, cukup untuk bermain baseball di dalamnya.
__ADS_1
Zen berjalan dengan susah payah menahan angin yang liar di sekitarnya.
Ia menyipitkan matanya saat samar-samar melihat ada seseorang-
Ia bahkan tak yakin itu manusia.
Karena manusia itu.. bercahaya.
Zen memutuskan untuk lebih mendekat.
Setelah ia menerjang angin untuk melihat lebih dekat, ia mematung.
Ternyata memang... manusia.
Dan, itu bukan cahaya.
Tapi petir yang mengitari tubuh manusia itu.
Bukannya merasa takut, sebaliknya. Zen malah takjub dengan pemandangan di depannya.
Tiba-tiba, manusia petir itu menoleh kebelakang, menatap Zen dengan tatapan takut.
Ia perempuan.
Matanya biru bercahaya seolah ada kobaran petir di dalam maniknya.
Zen berjalan beberapa langkah untuk sampai tepat di depan perempuan itu.
Tetapi perempuan itu mundur beberapa langkah menjauh dari Zen. "Pergi! Pergilah atau kau akan terluka!" Teriak perempuan itu dengan gemetar.
Alih-alih menurut, Zen tetap melangkahkan kakinya kedepan, sorotan matanya menenangkan perempuan itu.
"PERGI!!!" Ujar perempuan itu sekali lagi.
"Aku tahu kau takut." Ujar Zen menatap perempuan itu dalam, "Ikut aku, aku akan mengajarimu cara mengendalikannya."
"Siapa kau?" Perempuan itu berhenti melangkah mundur, ia melihat ketulusan dalam sorot mata lelaki di depannya.
"Aku hanya.. orang yang terlalu peduli dengan Mars, dan kau? Siapa namamu?" ujar Zen dengan lembut. Ya, mungkin orang normal akan panik dan berlari ketakutan, tapi kecuali pria ini... Zen kan memang tak normal.
Angin ribut di sekitar mereka perlahan pergi. Guntur di langit mulai tenang.
Perempuan itu menatap Zen penuh arti, berharap Zen benar-benar orang yang bisa ia percaya. Karena sekarang, ia bahkan tak lagi percaya pada dunia ini.
__ADS_1
"Aku... Hera."