AGENT: Agent Of Mutants

AGENT: Agent Of Mutants
71. 'Best friend'


__ADS_3

Permulaan kegiatan di pagi hari ini dimulai dari sebuah ruangan dengan suhu yang luar biasa dingin itu, seluruh temboknya dominan berwarna merah gelap, bahkan sampai kasurnya juga berwarna senada.


"Alex, bangun!" suara seorang perempuan terdengar begitu lantang.


Tak ada jawaban.


Perempuan itu mengetuk-ketuk pintu besar di depannya itu. "ALEX! KUHITUNG SAMPAI TIGA KALAU TAK BANGUN JUGA, AKU SURUH TANTE HANTU MASUK MEMBANGUNKANMU!" Teriaknya lantang.


Mulai tak sabaran, Axelia mulai mengetuk pintu berwarna merah gelap itu dengan kasar, sampai akhirnya suara Alex terdengar.


"Sabar..." itulah yang Axelia dengar samar-samar.


Sesaat kemudian, gagang pintu berwarna hitam itu bergerak, lalu pintu itu terbuka, menampilkan seorang lelaki berambut merah yang berantakan. Bukan hanya rambutnya, tetapi pakaian yang ia pakai juga tak rapi sama sekali, menandakan dirinya baru saja bangun tidur.


"Kenapa sih... Lia?" ujar Alex dengan suara serak bangun tidur. Bahkan lelaki itu belum bisa membuka mata sepenuhnya, tapi ia sudah dapat melihat Axelia dengan jelas... sekitarnya blur.


Gadis itu memakai tank top berwarna hitam, dengan luaran berupa jaket kulit berwarna hitam, dan celana yang berbahan elastis, juga berwarna hitam. Rambut cokelat tuanya dikuncir satu, namun ia membiarkan beberapa helai yang tak sampai, tergerai tipis-tipis.


"Cantik.." gumam Alex, yang tadinya masih setengah sadar, menjadi sepenuhnya sadar sekarang.


Axelia menyernyit, "Apa?" tanyanya, merasa Alex mengucapkan sesuatu, tapi ia tak terlalu mendengarnya.


"G-gak.. bukan apa-apa.." ujar Alex salah tingkah, lalu ia berpura-pura menguap. "Kenapa kau ke sini?"


"Kenapa apanya! Ini hari pertama kita latihan! Kau malah enak-enakan tidur!" ujar Axelia sebal.


Alih-alih merasa bersalah, Alex terkekeh pelan melihat gelagat gadis di hadapannya itu. Tak ada yang lebih lucu daripada Axelia yang sedang marah, baginya. Sepersekian detik kemudian, ia baru tersadar harus pura-pura merasa bersalah.


"Maaf.. aku lupa." Alex menoleh ke jam berupa sinar hologram pada dinding kamarnya. Jam baru menunjukkan pukul enam pagi. "Yang lain sudah bangun memangnya?" tanya Alex bingung. Masa iya sepagi ini?


Axelia menghela napas lelah, "Bahkan mereka semua sudah berkumpul di lapangan sebelah parkiran jet, Alex."


Alex menaikkan kedua alisnya sedikit kagum, saat Axelia mengatakan 'parkiran jet'.


Axelia mendengus melihat Alex yang masih belum melangkahkan kakinya untuk bersiap-siap juga. "Cepat siap-siap sana! Aku tunggu di sini!"


"Masuk saja, tunggu di dalam," Alex menoleh ke kanan, lalu ke kiri.. sepanjang koridor kamar ini tak ada tempat duduk dan panas, "jangan di sini." ajaknya.


Pikirnya, kamarnya bersuhu dingin dan akan enak sekali untuk Axelia, walau ia tak tahu bagaimana suhu kamar milik gadis itu, tapi ia yakin kamarnya lebih dingin. Kata Professor Ally, kamarnya dibuat sedingin mungkin untuk menyesuaikan suhu tubuh Alex yang menjadi dua kali lebih panas daripada manusia biasa.


Axelia terdiam dan tak kunjung menjawab, membuat Alex menghela napas pelan. "Kelamaan." gumamnya, lalu menarik tangan Axelia lembut, ke dalam kamarnya.


Saat Axelia masuk, pandangannya langsung disambut dengan kamar bertema merah gelap. Dindingnya, kasurnya, bahkan sofa kecilnya.. berwarna merah gelap. Sisanya berwarna hitam pekat. Tak ada lampu yang menyala, lebih tepatnya, mungkin Alex belum sempat menyalakan lampu setelah bangun tidur tadi.


__ADS_1


Axelia melihat-lihat sekitarnya. Kasur yang masih belum Alex rapikan, kaca sebesar titan.. cocok untuk kepribadian Alex yang narsistik. Dan yang terakhir.. penghangat ruangan.


'Mengapa dinyalakan?' Tanya Axelia dalam hati.


Tapi secara menyeluruh, desain interior kamar Alex sama dengannya, hanya saja, milik Axelia semuanya di dominasi warna krem.


"Aku mandi dulu ya, kau tunggu di sini." ujar Alex, lalu langsung pergi ke kamar mandinya.


Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Axelia mengangguk pasrah, walau tak terlihat lagi oleh Alex yang sudah masuk ke kamar mandinya.


Axelia memutuskan untuk duduk di sofa kecil di dekatnya, menunggu Alex selesai bersiap-siap..


○○○


[Axelia's POV]


Alex sudah bersamaku sekarang.


Ia memakai kaos hitam yang terlihat nyaman (tidak kebesaran atau kekecilan), dan dimasukkan ke dalam celana hitamnya dengan tambahan ikat pinggang Gucci. Rambutnya yang berwarna red ginger itu sudah tertata rapi. Sebenarnya definisi 'tertata' yang kumaksud adalah tidak kusut dan kusam seperti saat ia bangun tidur saja... karena model rambutnya memang berantakan.


Walau begitu.. dimataku, ia lumayan.


Ya.. setidaknya, para perempuan yang selalu mengatakan bahwa Alex itu tampan tidaklah berbohong.


Mengenai pakaian kami, aku gak tahu bagaimana bisa.. tapi sepertinya Professor Zen menyuruh anak buahnya untuk membeli beberapa pakaian untuk kami semua. Dan yang membuatku cukup lega adalah, mereka tak membelinya asal. Sebenarnya bukan hanya aku saja, Alex juga tadi bilang ia lega semua pakaian barunya tak ada yang down grade.


"Aduuh, jangan lari ah.. nanti jadi pusat perhatian professor-professor yang ada di sini. Tuh liat tuh.. beberapa dari mereka sudah memperhatikan kita." ujarku, namun berbisik di kalimat terakhir.


Alex mengangguk, lalu menghela napas pelan. Ia terlihat sudah tidak sabaran.


Begitu eskalator ini mencapai bawah, Alex langsung menggenggam pergelangan tanganku, kemudian ia berjalan cepat, membuatku tertarik mengikutinya.


Terkadang aku heran.


Walau kami sudah bersahabat selama tiga tahun (semenjak Bumi kiamat), tapi tak jarang aku diam-diam mempertanyakan takdir.


'Kok kita bisa bertemu, ya?'


'Diantara sekian banyak manusia yang tersisa... kok bisa Alex?'


Pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang biasanya muncul di benakku. Tapi aku tak terlalu keberatan sih.. walau kelakuannya yang abnormal dan minta ditonjok, tapi ia adalah satu-satunya orang yang selalu ada di sisiku. Setidaknya, selama tiga tahun penuh ini....


Ia menarikku semakin kencang, seiring dengan jalannya yang dipercepat. Aku tersenyum entah kenapa, menurutku ini lumayan asik.


 Di depan kita berdua, sudah terlihat pintu kaca yang sangat besar. Yang akan terbuka otomatis ketika kami sudah berada di dekatnya.

__ADS_1


"Akhirnya.. aku gak sabar bertemu Hera!" ujarnya antusias.


Aku menelan ludahku, lalu menghela napas pelan.


Entah kenapa, semangatku hilang begitu saja.


"Thanks." ujarku datar.


Alex memelankan jalannya, membuatku dengan mudah menyusul langkahnya yang ada di depanku. Kami bersebelahan sekarang.


Aku menoleh padanya tanpa ekspresi. Sementara ia menautkan alisnya bingung, tetapi bibirnya tetap tersenyum. "Kenapa?" tanyanya tak paham.


Aku menatap Alex dengan tajam, "Thanks for-"


... ruining my mood..


Aku memutuskan untuk menghentikan kata-kataku sampai situ. Aku tak mengerti mengapa aku mau berkata begitu.


"Thanks for??" Alex semakin penasaran.


Thanks for ruining my mood?


Oh, ayolah Lia! Memangnya mood-mu hancur?


Dan.. mengapa Alex menghancurkan mood-mu? Hahah... berhenti bicara omong kosong, Lia.


"Gak. Sudah ayo keluar, katanya mau ketemu Hera.."


Aku tertegun.


Mengapa aku merasa... itulah yang membuat mood-ku hancur?


[Alex's POV]


Melihat raut wajah Lia yang cemberut begitu membuatku ingin memborgol tangan rasanya. Supaya tidak kelepasan mencubit pipinya.


Padahal aku tidak tahu apa yang membuatnya cemberut begitu, tapi entah mengapa... jauh di dalam hati...


.. aku merasa seolah aku tahu alasannya.


Dan itu membuatku tersenyum seperti orang gila sekarang ini.


Tentunya, diam-diam.


Jujur, ini memang membingungkan untukku... tapi, aku pernah mendengar seseorang berkata bahwa perempuan dan laki-laki tak bisa bersahabat.

__ADS_1


Sampai sekarang aku memikirkan kata-kata itu, mana mungkin tidak bisa?


__ADS_2