AGENT: Agent Of Mutants

AGENT: Agent Of Mutants
21. Who is She?


__ADS_3

"Apa aku salah lihat?" Tanya Kimberly dengan wajah bingungnya.


Claire melepas pelukannya. "Hah? Lihat apa?" Tanya Claire heran.


"Tadi aku melihat di sini ada seorang perempuan yang sedang ber-adu kekuatan denganmu, Claire. Ah… mungkin tadi hanya imajinasiku saja."


Claire melihat kearah Jack dengan seringaian manis di wajahnya.


Jack membalas nya dengan senyum tipis.


"Hahaha.. bukan imajinasi, memang begitu kok tadi." ujar Claire kepada Kimberly.


"Apa!? Jadi tadi itu bukan imajinasiku!? Lalu apa kau baik-baik saja!? Bukankah itu berarti kau kehilangan kendalimu!? Lalu kemana perempuan tadi-"


"Sudah Kim, jangan khawatir, aku baik-baik saja, kok! Aku sudah bisa mengendalikan kekuatanku, perempuan tadi kabur, dia adalah si pencuri chip itu." Jelasku.


"Kau sudah bisa mengendalikan kekuatanmu!? Serius!?” Kimberly bertanya keheranan, seraya menoleh pada Jack untuk memastikan bahwa Claire mengatakan hal yang benar. Jack pun mengangguk pelan. “Waahh!! Selamaat yaa!" ujar Kimberly seraya memeluk Claire.


"Eh tunggu."


Kim melepas pelukannya, lalu ia menatap Claire lekat-lekat. "KAU BARU SAJA BERHADAPAN DENGAN SI PENJAHAT ITU!?"


Claire mengangguk, lalu tersenyum manis. "Tenanglahh, aku tidak kenapa-kenapa, kok."


Kimberly menoleh kearah Jack masih dengan tatapan tidak percaya.


Jack hanya memalingkan wajahnya acuh.


Walau begitu, ia tahu betul apa arti dari sikapnya tersebut. Memalingkan wajah acuh\= iya.


Kimberly bernapas lega.


"Jack, tolong kau scan apakah masih ada target lagi di 4 arah ini?" ujar Kimberly kembali dengan nada bijak khasnya.


Claire melihat ke empat arah yang terlihat dari rooftop tempatnya berada sekarang.


"Tidak ada." ujar Jack singkat.


"Baiklah, kita akhiri misi saja misi ini." ujar Kimberly.


"Akan ku-reset ulang earzoom-nya" ujar Jack seraya melepaskan headset hitamnya dan mengatur tombol-tombol yang tersembunyi di benda itu.


"Ohh… pusat pengaturan earzoom kita ada pada earzoom-nya?" Bisik Claire kepada Kimberly.


"Ya, begitulah. Karena kekuatannya yang paling mendominasi teknologi." ujar Kimberly.


Lalu Jack memakai kembali earzoom-nya setelah sudah selesai dengan urusannya tadi.


"Jack masuk, misi ini telah selesai. Kita akan bertemu di ruang auditorium." Ujar Jack melalui earzoom-nya.


"Ayo!" ujar Kimberly mengajak Claire dan Jack turun ke lantai dibawahnya, lantai 3, tempat ruang auditorium itu berada.


"Tunggu sebentar." ujar Claire tiba-tiba.


Kim menoleh, "Kenapa?"


"Jack, berdirilah disini." lanjut Claire menyuruh Jack berdiri di hadapannya.


Jack menyernyit bingung, “Untuk apa?”


“Sudaah… lakukan saja!” Claire memicingkan matanya, seolah mengancam lelaki itu. Tapi nyatanya, ia malah terlihat menggemaskan.


Bahkan Kim melihatnya gemas, apalagi lelaki ini.


Walau Kim bukan Val yang bisa membaca pikiran, tapi ia tahu diam-diam, Jack sependapat dengannya.


Akhirnya, Jack menghela napas pasrah dan melakukan apa yang Claire suruh.

__ADS_1


Lalu tangan Claire terangkat dan memegang kedua bahu Jack dengan sedikit berjinjit (karena tingginya cukup jauh), dan healing Claire pun bekerja dengan sempurna pada tubuh Jack.


Jack tersenyum tipis, "Terimakasih." Ucapnya singkat.


Mereka bertiga pun turun dari rooftop ke lantai tiga.


Claire dan Jack berjalan di depan, sementara Kimberly diam-diam memelankan jalannya sehingga dia berjalan di belakang Claire dan Jack.


'Hope she can treat you better, than I can.' batin Kimberly dengan senyum manisnya.


○○○


[Claire’s POV]


"Apa!? Kamu bertemu dengannya!?" Ujar Val dengan lantang.


Padahal aku belum menjelaskannya.. ya, seperti biasanya, dia membaca pikiranku.


"Val, biarkan Claire menjelaskannya dulu, nanti kami jadi bingung." ujar Ruby yang sedang meneguk lemon tea yang baru ia beli, kehausan katanya.


Val masih membulatkan matanya kaget.


"Ya, aku tadi bertemu si penjahat itu, dia perempuan." Ujarku.


Semua orang disini membulatkan matanya kecuali aku, Jack dan Kim.


"A-apa??" Tanya Ruby tidak percaya.


"Ya, dia benar, dan dia sudah menghukumnya dengan kekuatannya." ujar Kim, ia menoleh padaku dengan senyuman bangga.


Hahaa!!


Seorang Kimberly bangga padaku!!


"Kamu sudah bisa mengendalikannya!? Waah selamat Claire!" Ujar Ruby sedikit menyimpang dari topik, tapi tak apa, aku senang!!


Yang lain pun ikut tersenyum kepadaku, kecuali Jack.


Ya, apa yang diharapkan darinya? Senyuman hangat? Aku akan merayakannya jika dia melakukan itu.


"Bagaimana wajahnya?" Tanya Rylan kembali pada topic yang seharusnya.


Aku mengingat-ingat. "Aku tidak tahu, dia memakai tudung yang menutupi wajahnya.."


"Eh? Perempuan dengan tudung dan berjubah panjang?" Ujar Ruby tiba-tiba.


"Iya benar!"


"Aku dan Rylan juga bertemu dengannya!"


"Apa!?" Sekarang kami semua terlonjak kaget kecuali Jack, Rylan dan Ruby.


"Jadi apa maksudnya ini?" Tanyaku.


"Kurasa sebenarnya dia mengincarmu, tapi dia harus membunuh Ruby dulu karena Ruby melindungi tubuhmu dengan supersoniknya."


Kalimat terpanjang yang pernah Zav ucapkan.


Tapi... bisa jadi, sih.


"Ya, secara tidak langsung, dia ingin menyingkirkan pelindung di tubuhmu baru membunuhmu." ujar Jack ikut mengiyakan teori Zav.


Ish! Kenapa dia begitu sekali sih!


Cih, menyebalkan!


"Sst." bisik Val memelototi Jack.

__ADS_1


Dan Jack hanya mengendikan bahunya tidak peduli.


"Ruby, bisakah kamu melepaskan pelindungmu saja?" ujarku pada Ruby. Tentu saja aku tak mau menyeret Ruby dengan masalah dimana nyawa menjadi taruhannya.


Ruby terbelalak. "Hah!? Tidak akan! Itu berbahaya!"


"Tenang saja, aku sudah menguasai kekuatanku kok." Ujarku lalu tersenyum.


Kurasa, Ruby sudah cukup berkorban untukku, bahkan dia rela ikut merasakan sakit jika aku tersakiti... ah aku baru tahu ada mutan yang sebaik ini.


Wajar, kami para mutan murni bukanlah kaum yang tugasnya melindungi, sifat natural kami adalah melindungi diri sendiri, menjadi kaum egois. Karena sejak awal keberadaan kami memang terancam oleh manusia biasa. Jadi... kalau kau heran mengapa aku senang bergaul dengan manusia disini, itu karena aku tak terbiasa ada di lingkungan yang damai. Lebih tepatnya, kami memiliki sifat natural yang jahat.


Maka dari itu aku terkesima dengan mereka ini.


"Iya, By dia sudah bisa mengendalikan kekuatannya sendiri, Claire tak akan dalam bahaya." ujar Rylan meyakinkan.


Ia lebih terlihat seperti seorang laki-laki yang sedang meyakinkan pasangannya.


Atau… jangan-jangan memang benar?


"Baiklah, tapi berjanjilah padaku kamu tidak akan kesulitan." ujarnya kepadaku.


"Iyaa, aku janji." ujarku dengan senyuman untuk meyakinkan Ruby.


Ia menghela napas pasrah. "Berdirilah, Claire." Ucapnya.


Aku berdiri sesuai perintahnya.


Lalu dia mengangkat tangannya se-dadaku, lalu menarik gelombang supersoniknya..


WAHH!!


Aku bisa melihatnya!!


Warnanya violet, sedikit transparan dan berputar-putar di sekitar tubuhku… lalu perlahan memudar…


… sekarang sudah hilang, terserap kembali ke tubuh Ruby.


"Terimakasih." ucapku kepadanya yang dibalas dengan anggukan. Ia masih tersenyum ragu.


"Back to topic, jadi kita harus mencari data tentangnya." ujar Kim.


Ya, untuk itu, di antara Jack, Rylan atau Zav. Mereka para lelaki memang di ajarkan untuk meretas, mencari data seseorang, merekah informasi atau bahkan meretas akun.


Zav mengangkat tangannya dan meng-menghilang!?


Sedetik kemudian, dia sudah kembali dengan laptop di tangan kanannya.


Dan pekerjaan seorang ahli hacker pun dimulai.


Satu jam kemudian...


"Menurut rekaman dari pulpen perekam Jack, wajah si penjahat itu mirip dengan Claire," Zav menatapku serius, "tapi nama dan datanya tidak tercantum sama sekali. Tak ada dimana-mana…"


B-bagaimana mungkin..


“Seperti… tidak pernah ada.” Rylan melanjutkan tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop itu.


"A-aku? Mirip denganku?"


Siapa dia? Kurasa aku tidak punya kembaran..


Orang tuaku juga sudah meninggal.


Aku tidak punya siapapu-


T-tidak mungkin...

__ADS_1


__ADS_2