
Kak Brian tertegun.
Dengan cepat, ia langsung merogoh sakunya, lalu mengambil ponselnya. Ia mengetikkan sesuatu, lalu menelpon seseorang.
“Siapkan mobil dan sopir untuk mengantarku ke kediaman Alan Clark. Begitu aku pulang, aku akan langsung ke sana.” Ujarnya pada seseorang yang kutebak adalah asistennya.
Ia mematikan sambungan teleponnya, lalu memasukkan ponselnya lagi ke saku celananya.
“Itu masih asumsiku. Tapi harus dipastikan.” Ujarku sambil mengendikkan bahu.
Kak Brian mengangguk setuju, “Sial. Bisa-bisanya aku tak terpikir.”
Tak apa, Kak.
Aku lebih bodoh lagi, tak terpikir dua hal yang kau sebutkan tadi.
Setelah itu, kami hening. Terlarut dalam pikiran masing-masing.
“Ah, iya!” Aku baru teringat sesuatu. “*By the way, thanks for the partners*!"
Kak Brian terlihat bingung…
Ia menyernyit. “What partner? I never gave you a partner..”
Aku tertawa, “Hahaha! Sudahlah, kau tak usah pura-pura begit-“
“APA MAKSUDMU?!” Kak Brian mencengkram kedua bahuku erat, membuatku terkejut.
Menyadari itu, ia melepas cengkramannya dari bahuku. Meski begitu, aku dapat melihat jelas kekhawatiran yang tersirat di matanya. Ia panik.
“Di misi ini kau itu sendiri! Aku tak pernah memberi atau mengirimkan rekan!! Jadi siapa partner yang kau maksud, Claire?!”
○○○
“Lagipula, memangnya kau tak curiga, mengapa pencuri chip itu malah datang ke sekolah seperti ini? Dia itu mencuri.benda.paling.berbahaya, lalu untuk apa dia malah menyamar di sini?” ujar Kak Brian heran.
Setelah kami sudah meluruskan kesalah pahaman di sini, kami kembali membicarakan semua ini dengan kepala dingin. Tanpa panik, tanpa teriak-teriakan.
Aku mengendikan bahuku, lalu menghela napas. “Aku tak bisa mengerti jalan pikiran si Apesta.”
“Claire, kau tahu?” Kak Brian kembali menatapku serius.
“Nama-nama yang kau sebutkan tadi… Kimberly Fern, Jack Grayson, Ruby Chase, Valerie Kasen, Rylan Wilford, dan Zav Piere… mereka adalah team inti AOM.”
“Tahun lalu, aku sendiri yang melantik mereka.”
Aku terbelalak.
Apa…?
__ADS_1
APA?!!
Aku melongo. “Jadi… mereka adalah team inti yang terkenal memiliki kekuatan terkuat itu?!”
Kak Brian mengangguk.
Aku menutup mulutku. Ini tidak bisa dipercaya. “Teman-temanku… selama ini…?”
Kak Brian mengangguk lagi, “Ya. Dan sebenarnya aku berencana akan memasukanmu menjadi anggota team inti kalau kau dapat menyelesaikan misi ini dengan baik.. tapi, sepertinya ada yang tidak beres di sini.”
APA?! AKU?
JADI ANGGOTA TEAM INTI AOM?!
“Kau tahu? Mereka itu sudah kutugaskan untuk bertugas di IHS ini dari setahun yang lalu, tepat setelah kulantik. Tapi hanya untuk berjaga-jaga, bukan karena ada suatu misi.” Celetuk Kak Brian lagi.
Aku menyernyit. “Kau tidak berpikir kalau mereka yang mencurinya, kan?”
“Tidak. Tapi aku mencurigai sesuatu.” Ujar Kak Brian setengah-setengah.
“Apa itu?” tanyaku penasaran.
Kak Brian terdiam… sepertinya banyak sekali hal yang mengusik pikirannya sekarang.
“Apa kau dekat dengan mereka?” tanya Kak Brian dengan tatapan tajam.
Ck, bagaimana bisa aku dibodohi selama ini?!
Kak Brian mengusap wajahnya frustasi. Kemudian ia menghela napas kasar.
“Maaf-“
“Dengarkan aku. Aku punya beberapa asumsi yang kemungkinan benarnya cukup besar.” Ujarnya tegas.
Aku menyelipkan rambutku ke belakang telinga. Bersiap mendengarkan dengan serius.
“Asumsi pertama, team inti kemungkinan besar mengkhianati AOM, dan bersekongkol dengan Apesta.”
“Asumsi kedua, Jack Grayson. Lelaki itu adalah satu-satunya mutan yang memiliki skill teknologi yang luar biasa. Bisa jadi dialah yang meretas koneksi earzoom milikmu yang tersambung denganku.”
“Asumsi ketiga, kalau benar team inti telah bersekongkol dengan Apesta, itu berarti mereka sengaja mengincarmu. Karena kau adalah salah satu orang yang bisa menyentuh chip itu. Satu orang lagi adalah Alan Clark, masalah itu, aku akan mengeceknya nanti.”
Kak Brian menghela napas, ia memijit pelipisnya. “Satu hal yang harus kau ingat. Kalau setelah pertemuan ini aku tidak menemuimu lagi, itu berarti ayahmu baik-baik saja.”
Aku mengangguk paham.
Sejujurnya, aku masih tak bisa menerima ketiga asumsi Kak Brian sepenuhnya. Rasanya aku ingin sekali mengelaknya.
Aku hanya… tak dapat menerimanya..
__ADS_1
Apa… aku sudah terbawa perasaan dengan mereka?
Apa aku sudah menyayangi mereka seperti temanku sendiri?
Kalau jujur.. iya.
Benar, aku sudah menyayangi mereka.
Dan kalaupun asumsi Kak Brian itu benar, itu berarti aku sudah masuk dalam perangkap mereka..
Tapi… tetap saja.
Ada bagian dari hatiku yang masih tak menyangka. Aku ingin menyangkal itu, tapi perkataan Kak Brian ada benarnya juga..
Andai aku adalah Kimberly, aku pasti dapat menerima itu dengan mudah. Orang realistis dan rasional sepertinya tak akan membiarkan hatinya ikut campur dalam masalah seperti ini..
“Benar. Kalau Kimberly Fern di posisimu, dia pasti sudah membunuh mereka semua sesaat setelah aku memberitahu asumsiku ini. Sambil berkata ‘Beraninya kau mengkhianatiku’ lalu menusuk mereka semua di jantungnya.”
Ya… aku tahu..
Aku kagum padanya..
“Tapi justru kenyataannya, orang seperti dia saja bisa terpengaruh dan mengkhianati AOM, Claire. Sementara kau yang merasa tak sekuat dia, ada di sini… bersamaku. Kau ada di pihak protagonis, Claire.”
Kak Brian mendekat kepadaku, lalu mengusap puncak kepalaku lembut, “Maka dari itu, berhentilah berpikir hal seperti itu. Kau pasti bisa memenangkannya.”
Aku mengadah, menatap rahang tegasnya dari bawah. Tak kusadari, ia berada cukup dekat denganku. Menyadari itu, aku mundur selangkah.
“Kalau begitu… mulai besok aku harus menjauhi mereka.” Ujarku mantap.
Benar. Sudah cukup kebodohan yang membuatku menyesal ini.
“Jangan.”
Aku menyernyit, “Kenapa?”
“Kau sudah terlanjur masuk dalam perangkap mereka. Lagipula percuma, melawan mereka bukanlah cara yang efektif untuk mengambil kembali chip itu. Karena itu, kau harus berpura-pura tidak tahu dan tetap berada diantara mereka. Karena cepat atau lambat, mereka sendiri pasti yang akan menuntunmu ke tempat dimana chip itu berada.”
Aku terdiam.
Benar juga.
Aku mengangguk paham. Sampai di titik ini, aku benar-benar sadar, se-amatir apa aku di bidang ini.
“Dan, satu lagi… sempat terpikir olehku suatu hal yang kemungkinan terjadinya hanya 1%, tetapi kalau sampai benar terjadi… kau akan menang telak, Claire.”
Aku menautkan alisku. “Apa itu?”
“Kalau team inti akhirnya berpihak padamu, tamatlah si Apesta itu.”
__ADS_1