
[Author’s POV]
"Claire bangun..." ujar Valerie malas. Sudah ke-sepuluh kalinya ia membangunkan Claire, sampai berbusa mulutnya, "Ini sudah kali ke-sepuluh aku bangunin kamu, Claire..." ujarnya sambil menyisir rambut lurusnya di depan kaca.
Valerie Kasen. Perempuan dengan wajah semanis gula itu menatap pantulan wajahnya dari cermin. Ia berpikir... betapa ia akan mencintai dirinya sendiri jika kutukan ini tak ada padanya. Ya, kekuatan ini adalah kutukan baginya. Takdir ini adalah kutukan. Hidupnya adalah kutukan.
Tak banyak orang yang tahu, bahwa di balik setiap senyuman dan gemerlap manik indah seseorang, ada sebuah keputusasaan yang berakar dalam dirinya.
Val mengalihkan pandangannya pada pantulan Claire yang masih terlelap. Gadis berdarah Rusia itu menggeliat, tanda bahwa ia akan bangun sebentar lagi.
Val memikirkan kembali takdirnya. Haruskah ia mengorbankan orang lain? Terlebih lagi, orang itu sudah menjadi sahabatnya sendiri...
Ia memudarkan lamunannya, "Astagaa, Claire!"
"Tumben dia susah banget bangun, ya kan Val?" ujar Nancy yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Lima menit lagi.." gumam Claire pelan.
Belum sampai tergeletak lagi, tangannya sudah ditahan Val agar tetap bangun.
"Aduh, Val.. ya sudah iyaa.." gumamnya masih dengan mata terpejam, lalu dengan terpaksa, ia bangun dari kasurnya, dan berjalan ke kamar mandi.
BRUKK
"Astagaa Claire... nyawamu masih belum terkumpul ya?" ujar Nancy, ia menghampiri Claire untuk mengecek wajahnya yang terbentur lemari.
"Nah kan, lecet tuh dahi nya... " lanjutnya seraya mengusap-usap dahi Claire.
"Aku... gak apa-apa..." ucap Claire yang masih belum sadar penuh, lalu ia kembali berjalan masuk ke kamar mandi.
Nancy menghampiri Val, "Sepertinya tadi malam dia gak tidur larut deh."
Valerie tersenyum tipis, "Iya, dia kecapekan..."
Yang sebenarnya dimaksud Val adalah energi Claire pasti sudah habis karena menolong Alexa kemarin. Entah darimana Val tahu tentang itu.
‘Claire, nanti kita kumpul dulu ya di taman belakang asrama... mau membahas sesuatu,
udah lama kan gak kumpul?’ Val bertelepati memasuki pikiran Claire.
‘Iyaa sudah lama, baiklah!’ Claire menjawab melalui pikirannya sendiri.
Claire langsung mempercepat mandinya, lama-lama ia menjadi handal dalam hal ini. Mandi bebek.
Setelah selesai, ia memakai setelan seragamnya di kamar mandi. Saat keluar, ia tak repot-repot untuk merias wajahnya, tak usah diapa-apakan pun wajahnya sudah kelewat cantik. Rambut hitam dengan highlight violet-nya terurai bebas, jarang diikat kalau tak ada kegiatan yang membuatnya berkeringat. Manik coklatnya jernih dan cantik, saking jernihnya, mungkin kau bisa berkaca di matanya.
Di saat yang sama, Nancy sudah selesai memasang softlens-nya. Selama ini ia memang
tak pernah menampakkan manik aslinya. Membuat Claire berpikir bahwa mungkin
saja kontak lensanya itu membantunya melihat lebih jelas, jadi ia selalu memakainya.
Setelah semuanya telah siap, mereka bertiga turun ke bawah dengan lift.
Val diam-diam terheran, sejak bangun tidur, Claire sama sekali tak membatin apapun. Sementara, ia tahu manusia setidaknya membahas sebanyak 30 hal yang berbeda dalam satu jam di benak mereka masing-masing.
Dan kalau ia lihat-lihat, raut wajah Claire juga tak se-semangat biasanya. Seperti... ada sesuatu yang mengganjal, tapi apa? Val tak bisa menebak sama sekali.
Saat mereka sudah sampai lobby, Nancy menghentikan langkahnya, “Val, Claire, kalian
__ADS_1
duluan saja. Aku ada keperluan.” Ujarnya dengan senyuman tipis. Ini adalah pertama kalinya Nancy meninggalkan mereka berdua tepat di saat yang diperlukan.
“Baiklah!” ujar Val pada Nancy yang dibalas lambaian tangan. Sementara Claire hanya tersenyum.
Tepat setelah Nancy pergi, tiba-tiba, Kim menepuk bahu Val dari belakang. “A-eh
copot!” latah Val yang membuat tawa Kim pecah.
Val mengerutkan alisnya, “Awas ya! Kubuat jadi gak waras baru tahu kamu!” gerutunya.
“Eitss, ampun dong Val, hehe.” Kim menunjukkan deretan giginya yang rapih. Val tak
merespon, ia memasang raut wajah cemberut.
“Yah, gimana dong biar gak marah.”
Ujar Kim pada Claire, yang membuat Claire terkekeh.
“Ya sudah nanti aku bawakan Kim Taehyung waktu masih bayi, ya? Supaya kamu yang
rawat.” Ujar Kim dengan nada meledek.
Val menaikkan kedua alisnya, “Kim Taehyung kan nama asli Zav, buat apa aku rawat dari bayi, hiih, malas.”
Kim berdecak, “Ck ck ck, pacar macam apa kamu.” Ia menyipitkan matanya, berpura-pura men-judge Val.
“Eh, iya! Kamu sudah lebih baik, Kim?” tanya Val. Ia hampir lupa bahwa perempuan di depannya ini, terakhir kali dilihatnya, sudah seperti perempuan cantik yang sudah tak waras, dengan iris mata jingga. Yang benar saja, jingga!
Kim mengangguk, “Never been better.” Ujarnya dengan seulas senyum. Tentu saja matanya kini sudah kembali seperti semula, iris amber-nya sudah kembali.
Sepersekian detik kemudian, Kim menoleh pada Claire. Ia melihat jelas raut wajah Claire yang tak seperti biasanya.
Sejujurnya, ia tak kuat melihat wajah Claire seperti itu.
“Tenang saja, Claire. Kau bisa melewati ini.” Gumamnya tanpa terdengar oleh siapapun.
○○○
"Jadi, kemungkinan besar Si Penghianat
atau Si Pencuri Chip itu juga ada di AOM Amerika, begitu?" Tanya Zav setelah Claire dan Jack mengutarakan pendapat mereka, menurut
informasi yang Claire dapat mengenai para target.
"Iya benar." Claire mengangguk.
"Guys." Ruby membuka suara, "Selama ini kita pakai nama samaran 'Si Penjahat' atau yang
lain itu... terlalu ribet gak sih? Sorry out of topic, but this really annoyed me actually.” Ujarnya dengan aksen Kanada-nya.
"Ya sudah ganti dulu yuk, supaya nanti membahasnya jadi lebih mudah." Ujar Kim
setuju. Ia baru menyadari bahwa selama ini mereka benar-benar memakai nama samaran yang panjang dan sulit.
"Siapa? Mawar? Indah? Pratiwi?" Ujar Jack asal.
"Bodo amat, sial." umpat Zav sambil terkekeh.
"Bisa begini juga kau Jack, biasanya seperti triplek." ujar Kim dengan seringaian meledek.
__ADS_1
Jack melihat ke arah Claire yang juga terkekeh, ia tersenyum tipis.
"Serius, ah."
"Yang lebih keren sedikit bisa kan..." Claire menyahut.
Rylan menjentikkan jarinya, ia mendapat suatu ide. "Ambil dari bahasa apa, nih? Kita punya orang Rusia, Korea, Taiwan, dan Kanada di sini. Ayo usul!”
“’Penghianat’ dalam bahasa Korea, jadi ‘Baesinja’”
Zav menoleh pada Jack, “Kau sebangsa denganku. Tapi kenapa kurasa itu jelek, ya?” ujarnya lalu terkekeh, begitu juga Rylan yang menyetujui kalau ‘Baesinja’ adalah sebutan yang kurang keren.
“Well,” Ruby mengangkat bahunya acuh, “Canadian speaks french and english, but i’m
pretty sure you all won’t like the french one, so imma say it in english, 'traitor’.”
“It doesen’t sounds good either, hahaha.”
“I know right!” Ruby menghela napas pasrah.
“Dalam Bahasa Mandarin, jadi 'Pàntú'. I know, that’s ugly.” Val tersenyum masam.
“Kalau di Rusia, jadi ‘Predater’.” Ujar Claire setengah cringe.
Kali ini pun sama, mendapat gelengan dari para agen, tanda bahwa mereka masih belum menemukan panggilan yang sempurna.
“Ayo, nanti terlambat.”
"Gak apa-apa, pintar semua ini." Ujar Kim dengan senyuman bangga, membuat Claire dan Ruby terkekeh. Memang benar, ilmu yang mereka dapat di sini bisa di bilang percuma. Ilmu yang telah mereka peroleh dari Agent High School sudah jauh melebihi di sekolah ini. Jadi, mereka menggunakan status pelajar di sini, murni untuk menyamar.
“’Apesta’, mau?” ujar Jack, membuat mereka semua membulatkan mata seketika.
“Lah iya, bagus tuh!”
Kim mengerutkan alisnya, “Kau bisa Bahasa Spanyol?”
“Iya.” Ujar Jack.
Diam-diam, Claire tertegun. Tapi tak ia biarkan lama, Claire kembali memasang raut wajahnya seperti biasa.
Kim terkekeh, ia juga mengerti artinya. Apesta jika diartikan dalam Bahasa Indonesia adalah ‘bau’, tapi yang di maksud Jack dalam konteks ini adalah ‘Si Menyebalkan’.
"Boleh juga."
"Ya sudah itu saja, lah."
"Okay, yuk kembali ke topik!"
"Jadi... kalau chip-nya ada di Amerika, dengan
arti lain, kita harus ke sana dong?" Tanya Ruby.
"Iya... begitulah." Ujar Val.
Diam-diam, Kim melirik ke arah Claire. Ia tahu Claire sedih melihat ini, ia pasti muak.
"Eh iya, AOM di USA ada di mana?"
"Los Angeles, California." jawab Jack. Ia jelas sudah mendapatkan informasi itu dengan mudahnya.
__ADS_1