
Sesaat setelah aku berkata begitu, kelima belas orang penjaga itu menunjukkan diri mereka semua.
Aku memusatkan telekinesisku sepenuhnya pada kedua tanganku. Baiklah aku siap. Jack sudah siap dengan pistolnya, mata kanannya yang berwarna biru itu menatap tajam pada orang-orang yang mengepung kita.
“Dua di dalam rumah, dua di toko sebelah kanan, tiga di jalan kecil di sebelahny- Ck! Kita tak bisa di sini. Ayo lari ke tempat yang lebih luas.” Jelas Jack yang terpotong. Benar. Untuk baku tembak di gang se-kecil ini, resiko untuk tertembak sangat besar.
Aku segera berlari ke belakang, tadi kulihat di sana ada jalan yang luas. “Jack, ayo ke arah sini!”
DOR DOR DOR DOR
Begitu aku sampai di jalan luas itu, suara tembakan kembali terdegar. Sial, mereka menembakiku dari belakang!
DOR DOR DOR DOR DOR
Aku menoleh ke belakang sekilas, bagus, Jack mengatasi orang-orang yang menembakiku tadi. Ia balas menembaki mereka dengan dua revolver sekaligus.
“Fokus, Claire. Aku akan berlari mundur.” Ujar Jack tanpa menoleh padaku.
Baiklah!
Saat aku menoleh ke depan, delapan orang sudah berada di depanku, berjarak sekitar 12 meter dan sedang mengarahkan pistol padaku sambil berlari ke sini.
Haha, apa yang bisa kalian lakukan dengan itu?
“Jack, kali ini saja tolong biarkan aku bertarung sendiri. Ini akan seru.” Ujarku yang langsung mendapat gelengan dari Jack.
Sebenarnya aku bukan meminta izin, karena tak diperbolehkan pun aku akan tetap pergi. HAHA!
Aku menyeringai, “See you later.” Ujarku yang membuat Jack terbelalak, lalu ia menoleh padaku yang sudah lari, “CLAIRE JANGA- CK!”
Aku berlari ke arah delapan orang dengan muka-muka haus darah itu. “Ck, kalian kira kalian melawan siapa berani menatapku begitu?” gumamku geli.
Haha. Banyak yang mau cari mati, ya.
[Author’s POV]
DOR DOR DOR DOR
__ADS_1
Aura merah gelap keluar berkobaran dari tubuh gadis itu, mata coklat madunya telah hilang terganti dengan merah tua. Ia menyeringai, tangannya terangkat membuat semua peluru yang melayang menuju ke arahnya terhenti. Lalu saat ia menghempaskan tangannya, peluru-peluru itu jatuh ke bawah, membuat para penjaga itu terbelalak kaget.
Tapi itu tak membuat mereka menyerah, mereka tetap berlari sambil menembakkan peluru ke arah gadis itu. Alih-alih takut, mereka malah terlihat kesal. Beberapa dari mereka mengisi ulang peuru mereka yang berakhir jatuh di depan tangan Claire.
Melihat wajah kesal mereka, Claire terkekeh. Ia mengeluarkan telekinesisnya lebih besar, untuk mengangkat ke-delapan orang itu, lalu menghempaskan mereka ke tanah, sehingga suara mengaduh mereka terdengar sangat keras.
Jack yang mendengar itu, menoleh ke belakang, jauh di belakangnya, ia melihat Claire yang sedang membuat delapan orang itu melayang, lalu menjatuhkan mereka sekali lagi.
Jack menyeringai, lalu kembali menoleh ke depan. Fokusnya kembali pada orang-orang di depannya yang masih saja bersikeras bertarung dengannya (bahkan kali ini dengan tangan kosong, karena pistol mereka semua sudah Jack jatuhkan).
Claire menghela napas, “Aduh… sudahlah, aku bosan. Memang di antara kalian tak ada yang mutan apa?” sebenarnya Claire hanya memancing, karena akan menguntungkan kalau benar ada mutan di antara para penjaga itu, itu artinya Claire dan Jack tak usah repot-repot masuk ke dalam gedung AOM dan bertarung lagi untuk mencari tahu lokasi chip itu.
Sesaat setelah ia berkata begitu, salah satu dari penjaga yang terjatuh lemas di tanah, perlahan-lahan bangkit berdiri. Claire baru sadar, penjaga itu memiliki rambut yang berwarna hijau tua.
“Mirip brokoli.” Gumam Claire lalu terkekeh.
Tanpa disangka-sangka, pria berambut hijau itu berlari secepat kilat pada Claire. Pergerakannya benar-benar tak terbaca. Tiba-tiba ia sudah berdiri di belakang Claire, mencekiknya dari belakang.
‘A-apa?! Dia… memiliki kekuatan yang sama… dengan Rylan?’ tanya Claire dalam hati.
Claire diam, ia tak mau menjawabnya, karena penjaga itu sudah pasti adalah mutan, dan ia pasti salah satu bawahan Apesta.
“Ba… gaimana… a-aku bisa… menjawab.. “ ujar Claire sambil memukul-mukul kedua tangan pria yang mencekik lehernya itu.
Pria itu menunjukkan wajahnya, tanpa melepaskan cekikannya. “Kau kira aku bodoh akan melepaskanmu?”
Claire melihat wajahnya dengan saksama, pria itu terlihat sekitar masih berumur dua puluhan, kulitnya putih pucat, maniknya berwarna hijau emerald. Saat melihat matanya, Claire tahu bahwa rambut hijaunya itu kemungkinan asli.
Claire menatap pria itu tajam, “Dan kau kira aku akan mengaku kalau kau cekik begini?” ujarnya, lalu ia mengeluarkan telekinesis dari tangan kirinya, gadis itu mengarahkan tangannya pada wajah pria itu yang kebetulan dekat dengan wajahnya. Ia mendorong pria itu dengan kekuatannya, alhasil… cekikannya terlepas.
Pria itu tersungkur di depan Claire.
“Hei, Brokoli.” Gadis itu berjalan mendekati pria itu, lalu menginjak perutnya dengan satu kaki.
“AAAAARGH!” teriak pria itu kesakitan, membuat Claire sedikit tersentak, ia lupa kalau memakai sepatu heels. Tapi ia tak mengurangi tekanan pada injakannya.
Tanpa mengubah posisi kakinya, Claire mendekatkan wajahnya dengan pria itu, “Dimana… chip itu?” ujarnya pelan dengan nada menusuk.
__ADS_1
Pria itu menatap Claire tajam, penuh dengan kebencian.
Mengetahui pria itu masih tak mau menjawab, Claire menginjak perutnya lebih kencang, sampai wajah pria itu memerah karena sakit. Meski begitu, ia menahannya, dan tetap merapatkan mulutnya.
Melihat itu, Claire menyeringai, “Orang gila.” Gumamnya, lalu melepaskan injakannya, tak sampai sedetik, ia langsung mengganti siksaan itu dengan telekinesisnya. “Kurang sakit ya tadi? Maaf ya, tapi… kalau yang ini pasti terasa.” Ujar gadis itu dengan seringaian.
Ia membuat pria itu melayang dengan telekinesisnya, lalu Claire mengepalkan tangannya, sebagai kekuatan untuk mencekik pria itu.
Claire mengepalkan tangannya lebih keras, sampai urat-urat di tangannya terlihat jelas. Posisi mereka seratus persen tertukar sekarang.
“B-Baik.. lah!” ujar pria itu dengan susah payah.
“L-lepas… kan du… lu… ak-“
“Tidak. Katakan dulu ada di mana chip itu.” potong Claire tegas.
Wajah pria itu benar-benar merah, aliran darahnya terhambat karena lehernya tercekik dengan kuat. Melihat itu, Claire melonggarkan sedikit kekuatannya, agar dia tidak mati.
Claire mendengar derap langkah dari belakangnya, ia melirik ke belakang dari ujung matanya.
“T-tolo..ng..” ujar pria itu terbata saat melihat Jack datang. Berharap lelaki itu mau menolongnya.
Jack terkekeh, “Sepertinya cekikanmu kurang kencang, Claire.” Ujarnya pada Claire, membuat pria brokoli itu terbelalak.
Tak ada pilihan lain untuknya.
Ia menangis pasrah. Menatap Claire dan Jack dengan wajah tak enak dilihat. Lalu ia melirik ke jauh di belakang Jack, semua teman-temannya juga sudah terbaring lemas di tanah. Tak ada yang bergerak.
Pria itu menghela napas kasar, menyesal telah ikut shift penjaga hari ini sebagai mutan sendirian.
“Chip itu ada di…”
○○○
Claire mengerutkan alisnya, ia yakin seharusnya tak akan semudah ini.
Ia tahu ada sesuatu yang salah.
__ADS_1