AGENT: Agent Of Mutants

AGENT: Agent Of Mutants
19. the West Side


__ADS_3

Baiklah, ayo mulai!


Aku lanjut berkonsentrasi kepada jalan di depanku agar tidak menabrak orang.


Dengan kekuatanku ini, aku tidak perlu mencari tempat yang sepi, jadi aku akan langsung mencari target di tempat yang ramai saja.


Masalahnya, di sekumpulan orang banyak ini, bagaimana aku bisa menemukannya?


Ya, hanya itu masalahnya.


"Tolong tanya tentang itu sama Jack." ujar Zav dari earzoom-ku.


Ah iya!


"Okay."


Eh? Omong-omong kenapa dia bisa membaca pikiranku?


Ah, mungkin dia hanya menebak.


Tapi, apa aku akan mengganggunya? Mungkin saja dia sedang sibuk dengan target-nya sekarang.


Aku akan mencoba dulu.


'Ya, gak susah. Sekarang 4 target di sekitarku sudah tamat.' batin Jack.


Wahh!!


Secepat itu!?


Kalau dia sudah selesai, berarti aku tidak akan mengganggu, kan?


'Jack, ini aku, Val. Apa


kau sedang tak sibuk? Boleh minta tolong?' Batinku memasuki pikirannya.


Dia sama sekali tidak membatin kaget atau apapun itu karena aku memasuki pikirannya tiba-tiba.


Ya, di saat apapun juga yang namanya Jack akan tetap tenang.


'Ya, apa?' Batinnya dengan sangat sangat sangatt singkat.


'Boleh aku minta bantuanmu untuk mendeteksi ada berapa target di daerahku dan juga Zav?'


Dia diam sebentar, mungkin sedang melakukan scanning..


'Di sekitarmu ada 4, dan di sekitar Zav ada 6.'


'Oke, terimakasih.' batinku di pikirannya.


Tak ada jawaban.


Ya ya, apalagi yang kau harapkan dari seorang Jack kalau kau bukan Claire? Hahaha.. seketika, aku teringat batinnya waktu itu..


Eh?


Itu dia!


Target pertama sudah kutemukan! Ia sedang berbisik sendiri dengan jam tangannya.


Mengapa aku mencurigainya?


Mudah saja, murid biasa tidak mungkin bertingkah seperti seorang agen yang sedang melaporkan sesuatu melalui earzoom-nya.


"Ada 4 target di sekitarku, dan 6 target di sekitarmu." ucapku pada Zav seraya berjalan kearah target pertamaku itu.


"Terimakasih. Kamu hati-hati." Ujarnya serius.


"Sama-sama, iyaa iya."


Saat aku mendekat ke arah perempuan yang berstatus sebagai target pertamaku itu, dia berhenti berbisik dengan earzoom-nya.


Haha, dia pasti kaget.


"Hai!" sapaku.


Ia tersentak.


"Oh hai… kamu siapa, ya?" Tanyanya.


"Aku?" Aku mendekatinya dan menekan tombol di jam tangannya. Dengan kata lain, aku telah mematikan earzoom-nya.


Dia pun terlihat kaget, dan seketika... wajahnya pucat.


Setelah itu, aku melirik saku jasnya, barangkali ada benda perekam disana.


Tidak ada apapun.


Mataku tidak sengaja menangkap sebuah cincin di jari manisnya. Haha! Aku yakin itu bukan cincin lamaran!


Aku meraih tangan kanannya dan membalikkan punggung tangannya. Ternyata tombol di cincin itu terdapat di baliknya, yang hanya bisa dilihat jika telapak tangannya terbuka.


“Mau apa kau?!” ujarnya seraya berusaha melepas tangannya dari genggamanku. Oh tidak bisaa.. akan kupererat genggamanku.

__ADS_1


Aku menekan tombol itu. Tak sampai sedetik, ada sinar merah yang sangat kecil berkedip dari cincin itu, pertanda bahwa perekam suaranya telah mati.


Ya. Jelas itu adalah perekam suara.


"Aku siapa? Kau bisa memanggilku Agen Valerie. Mau apa aku? Mau menghabisimu." Ucapku dengan seringaian dan segera menggenggam kedua tangannya seperti memborgolnya dengan kedua tanganku.


Saat dia ingin melakukan pemberontakan, aku tidak melakukan apapun. Karena apapun yang dia lakukan nanti, tetap tidak akan berpengaruh.


"LEPAS!!"


Oh man.


Dia baru saja telah membuat orang-orang di sekitarku menoleh kaget.


Tanpa berpikir lebih lama lagi, aku segera masuk ke pikirannya.


'Lepaskan! Aku mau jajan!' Kataku dalam hati, mengendalikannya.


"Lepaskan! Aku mau jajan!" Ucapnya.


Hehe.


"Ya sudah ayo aku traktir." Ujarku dengan senyuman.


Semua orang pun kembali menjalankan aksivitas masing-masing. Fiuhh.. syukurlah.


Perempuan ini langsung mengikutiku dari belakang dengan tatapan kosong.


Semua orang yang telah kukendalikan pikirannya, tatapan matanya akan berubah menjadi kosong.


Alih-alih membawanya ke bazaar, aku berhenti saat sudah cukup jauh dari orang-orang tadi.


Dia pun ikut berhenti. Lalu aku membalikkan tubuhku dan menoleh kepadanya.


'Datang ke UKS dan bilang: Dokter, sepertinya aku salah makan deh, perutku sakit, boleh minta obat dan istirahat sebentar?'


Tak menunggu lama, ia pun pergi.


Aku pun berjalan berlawanan arah dengannya untuk mencari target kedua.


○○○


"Aku sudah berada sepuluh meter darimu." ucap Zav.


Ya, kita sudah menyelesaikan 8 target. Aku menyelesaikan 3 target, dan Zav menyelesaikan 5 target. Yup! Ia menghabisi 2 target di daerahku, entah bagaimana caranya.. para lelaki cepat sekali selesai dengan target-nya. Sekarang kita akan berkerjasama untuk menyelesaikan yang dua lagi.


Kita bertemu di tengah sisi barat ini.


Entah darimana aku bisa menyimpulkan kalau perempuan di depan Zav itu adalah salah satu target, dia terus mencari perhatian Zav.


Entah apa hubungannya.


"Aku saja yang ajak bicara lalu mengendalikannya." Ucapku dengan kata lain 'biar aku saja yang urus'.


"Jangan, peralatannya lengkap."


"Tak apa, biar aku saja." ucapku seraya menautkan alis tidak setuju ketika beradu tatap dengan Zav dari kejauhan.


"Kimberly Fern?"


Aku menoleh. Ah! Dia perempuan yang kucurigai tadi!


Apa? Kimberly?


Mengapa dia mencari Kim?


Ohh.. dia mungkin salah arah, seharusnya dia ke arah selatan jika ingin bertemu Kim, kutebak, dia pasti tadinya ingin menemui Kim, mengajaknya bicara, lalu.. memulai aksinya.


"Iya, kenapa?" ujarku mengaku-ngaku.


Aku mencoba membaca pikirannya.


'Aku akan mengaku sebagai saudara jauhnya lalu akan kujebak dia, haha!'


Haha jugaa..


"Aku Reina! Masa kamu gak ingat aku?" ujarnya dengan cengiran sampai terlihat giginya, pura-pura antusias.


"Ingat kok, saudara jauhku kan?"


Wajah perempuan ini tetap stay cool walaupun aku melihat segelintir kebingungan diwajahnya.


'Kenapa ini? Kenapa dia tahu sebelum aku mengaku-ngaku saudara jauhnya?'


"Ya, aku tahu kamu gak mungkin lupa! Hahaha."


"Iya dong.. pasti." ucapku seraya mengambil pulpen perekam suara di saku kemejanya yang tertutup jas itu.


Ya tahu lah.


Setelah kuambil, aku mematahkannya dan memasang seringaian kecil.


Tanpa diduga, dia langsung memelukku secara paksa dan mengeluarkan belati di saku jasnya, berusaha menusukku, tapi tetap tidak terlihat orang lain.

__ADS_1


Aku menahan belatinya yang sudah berjarak 5 senti dengan perutku, lalu menjatuhkannya ke tanah di samping aspal yang kuinjak agar tidak berbunyi keras.


Dia berusaha menendang dan memukulku tepat di titik terlemahku.


Sialnya, aku terjatuh begitu saja.


Dan yang lebih sial lagi.


Disini.banyak.sekali.orang.


Dan itu sangat menyimpang dari rencana kami, yaitu membuat perhatian di alihkan kepada kita.


Saat itu juga, dia mencekikku, sehingga aku tidak dapat bernapas dengan baik sekarang.


Damn!


'Berhenti! Berhen-'


AH! Aku tidak punya cukup energi untuk masuk kedalam pikirannya!


"Aakkhh.."


Suaraku menjadi parau seperti orang lemah (sekarang memang iya).


Tiba-tiba, Zav sudah berdiri di sampingku dengan wajah geram.


BUGH


Dia menendang kedua tangan perempuan yang sedang mencekikku tadi dengan santai (tapi suaranya terdengar menyakitkan).


Dan sesaat kemudian dia sudah menghilang dan muncul lagi dibelakang perempuan itu. Zav mengikat tangannya dengan borgol.


Hei! Darimana dia mendapatkan itu!? Apa semua laki-laki (Jack, Rylan, Zav) mendapatkan borgol!?


Aku mau juga!


Seolah tidak peduli lagi dengan keadaan sekitar yang dimana semua.orang.melihati.kita.dengan.wajah.kaget, Zav menghampiriku.


"Kamu tak apa?" ia langsung membantuku untuk -setidaknya- duduk. “Maaf terlambat menolongmu.” Ujarnya dengan tatapan cemas.


"Kamu berdarah, sayang. Ayo kita ke AOM." ucapnya setelah melihat di bagian leherku yang terkena cekik yang keras tadi.


Bagaimana aku berdarah hanya karena dicekik? Apa itu karena…


"Gak usah, masih ada satu lagi." Tolakku.


"Jangan dipikirkan lagi- Hei! Seragam kamu juga robek." Zav melihat ke arah seragamku.


Otomatis aku langsung mengecek seragamku, dan-


"Astaga! Jangan lihat!" Ucapku seraya menutup matanya dengan tangan kananku.


Masalahnya, pertama, aku tidak tahu kapan belati itu merobek seragamku. Kedua, robeknya membentuk garis miring seperti siletan, dari bagian dadaku sampai ke perut.


Tapi robeknya tidak besar! Jadi tidak terlalu parah! Kurasa juga Zav tidak melihatnya. Eh? Entahlah!


Zav terkekeh, lalu ia melepas jasnya dan memberikan itu padaku. "Pakai ini."


Aku melepas jasku yang sudah robek, dan menggantinya dengan jas milik Zav yang ternyata kebesaran di tubuhku.


Sadar akan orang-orang yang memperhatikan kita berdua, aku langsung berdiri, walau dibantu Zav.


Lalu aku menanamkan memori palsu kepada semua orang yang ada disini.


'Tidak terjadi apa-apa, berjalanlah normal, jangan lihat ke arah kiri.'


Setelah itu, semua orang melakukan hal yang kusuruh.


Karena di arah kiri terdapat Reina yang terborgol. Itu akan menjadi aneh jika dilihat.


"Kamu masih mau melanjutkan ini? Tinggal satu, biar aku saja. Kamu sudah lemas seperti ini bagaimana mau me-"


"No no no! Setidaknya kita selesaikan berdua!"


“Tapi-“


“Pokoknya aku ikut.” Ucapku mantap.


Zav menghela napas pasrah, "Iya iya.."


Akhirnya aku berjalan berdampingan dengannya, sebagai syarat darinya kalau aku masih mau melanjutkan misi ini.


"Jangan lakukan apapun tanpa sepengetahuanku, kamu selalu membuatku khawatir. Awas kalau berani berpencar dariku, kucium nanti." ucapnya dengan nada kesal.


Lah?


Kok dia yang marah?


Seharusnya aku yang marah karena dia terlambat menolongku!


"Iyaaa."


Hihi.

__ADS_1


__ADS_2