
21.57
[Ruang 3]
"Dia akan datang, menghampiri planet ini, Jack Grayson."
Ia terkesiap.
Tenggorokannya tercekat.
Rasa itu datang lagi... sangat menyiksa. Sorot matanya menggambarkan kepedihan yang luar biasa dalam.
Setelah hampir satu jam, ia akhirnya tahu percakapan ini mengarah kemana.
Tidak lagi. Jangan lagi.
Jantungnya berdegup kencang, tapi bukan jatuh cinta. Kupu-kupu berterbangan leluasa dalam perutnya, bukan jatuh cinta. Napasnya memburu sampai paru-parunya sesak, bukan jatuh cinta juga.
Semua memori-memori yang tak pernah memunculkan dirinya ke permukaan, akhirnya menampakan dirinya lagi. Segalanya teringat jelas.
[3 tahun lalu]
Hatinya telah ia bungkus dengan kepercayaan, ia berikan pada gadis itu dengan yakin.
Dengan senyuman, ia berkata dalam hati, 'Semua akan baik-baik saja.'
'Ia adalah satu-satunya.'
'Akhirnya aku menemukan destinasiku, di sana. Di maniknya.'
'Kita akan baik-baik saja, aku yakin.'
__ADS_1
Tapi siapa sangka, ialah yang menghancurkan lelaki itu berkeping-keping.
Gadis itu menyayat hati lelaki itu sehingga terbentuk sebuah kata, 'Aku membencimu' sebagai luka.
Lelaki itu tersenyum.
Air matanya menetes, tetapi tetap tersenyum. Tatapanya seolah berkata, "Tak apa putri, asal kau bahagia. Sayatlah aku lagi."
Baginya tak penting tentang kebahagiaannya sama sekali. Senyuman gadis itu sudah cukup, tak penting baginya untuk mengetahui lebih dalam keadaan jantungnya.
Masih berdetak atau tidak?
Gadis itu membuatnya mengacuhkan jantungnya, menguburnya dalam-dalam. Berdiri di dekat batu nisannya sendiri, tersenyum melihat gadis itu tersenyum.
Telinganya terlalu tuli untuk mendengar rintihan hatinya, tetapi terlalu peka mendengar detak jantung gadis itu.
Bahkan walau ia berubah menjadi malaikat maut yang menusuk lambungnya, lelaki itu akan tetap menatap maniknya, lalu tersenyum. "Aku menemukan rumahku, dalam kamu. Tak apa... bunuhlah aku ratusan kali, hanya agar bisa kudengar detak jantungmu lebih dekat."
Ratusan jasad tergeletak dimana-mana.
Kekosongan dan kesunyian yang justru bersuara paling keras, merintih.
Jack masih menatap malaikat maut itu. "Jangan kau lakukan ini pada mereka," tangannya berusaha menggapai gadis itu yang mengambang di udara, menjadi malaikat maut seutuhnya.
Manik abu-abunya merobek hati lelaki itu untuk kesekian kalinya. Gadis itu melihat ke bawah, menatap lelaki itu tajam.
"Sebagai gantinya, bunuh sajalah aku lagi, dan lagi, seumur hidupmu.. tapi janganlah mereka." Jack tersenyum. Hatinya menjerit, tapi ia bungkamkan. "Kemarilah Claire."
Gadis itu menapakkan kakinya ke tanah. Kehancuran berhenti seketika.
Air matanya menetes. Dirinya tak pantas untuk lelaki itu. "Setelah itu aku akan pergi." ia tersenyum. Senyuman yang menyiksa. "Aku mencintaimu." ujarnya lirih.
__ADS_1
Kedua sudut bibir lelaki itu ikut terangkat, ia menatap gadis itu lekat-lekat untuk terakhir kalinya.
Lalu ia melangkah maju, melihat senyuman gadis itu seolah telah memberinya jantung baru, *'Bahagialah selalu' *ujarnya dalam hati. "Lakukan Claire." Matanya terpejam. Senang, senyuman itu terbayang-bayang dalam gelapnya alam bawah sadar, 'Dia bahagia.' Sebuah kalimat mutlak terpajang mutlak di benaknya. Tanpa sadar, senyumnya merekah.
Ia menyerahkan dirinya.
Dengan itu, Bumi tak sampai hancur seutuhnya.
"Jack Grayson? Ada apa denganmu?" Professor itu memudarkan lamunannya.
Lelaki itu gemetar, tenggorokannya tercekat. Sorot matanya menerawang ke dinding kosong. Seperti menemukan titik lemahnya, ia mengepalkan telapak tangannya. Menahan sesuatu di dalamnya yang merintih kesakitan dihujani memori.
"Tidak.." ujarnya lirih, "cari orang lain."
Ia menolak jika ingin dihadapkan lagi dengan hal-hal semacam itu. Cukuplah sudah. Tolong...
Professor itu mengelak, "E-eh? Jangan menolak dulu tolong, saya bahkan belum menjelaska-"
"Aku sudah tahu.." Jack menghela napas lelah, "kalian mau memintaku untuk melakukan tugas penyelamatan, misi untuk negara, apapun itu... aku tak mau."
Bilanglah ia pengecut sekeras mungkin, tapi tak akan dipedulikannya.
Professor di depannya menunduk, entah bagaimana lelaki di depannya ini tahu akan misi-misi (bunuh diri) seperti itu. Yang jelas, ia melihat jelas tubuh lelaki itu yang gemetar tadi, tatapan kosongnya mengisyaratkan kepedihan teramat dalam, seperti... pernah terlibat dalam sesuatu misi lalu hampir terbunuh.
Ia juga tak bisa memaksa. Tetapi... "Apapun yang pernah kau alami sebelumnya, mungkin merapuhkanmu," Profesor itu menatap lelaki di hadapannya, "tapi kesempatan kedua ada untuk menggapaimu bangkit, meninggalkan jurang keterpurukan itu selama-lamanya."
"Semua pilihan ada di tanganmu." Ujar professor itu lirih, perlahan ia berdiri lalu pergi keluar ruangan itu dengan berat. Kemudian ia memberi isyarat pada kedua professor lainnya, dan para penjaga untuk pergi.
Meninggalkan Jack sendirian di ruangan gelap itu.
Menyisakan hati dan benaknya berdebat demi mencapai keputusan yang tak akan disesalinya nanti.
__ADS_1
"Kesempatan kedua... apa hal semacam itu bisa menjamin semuanya?" gumamnya pelan, hampir tak terdengar.
Ia mengacak rambutnya frustasi.