AGENT: Agent Of Mutants

AGENT: Agent Of Mutants
68. Jack Grayson


__ADS_3

"Ally, suruh anak buahmu mengantar dia ke sini." ujar Zen.


Ally mengangguk, lalu segera berbisik pada earpiece-nya. Menyuruh seorang professor untuk mengantar orang selanjutnya.


Mereka ber-lima sudah duduk manis di ruangan rapat milik Zen yang di dominasi warna hitam. Suhu ruangan itu sudah dibuat sedingin mungkin, agar kobaran api yang kadang-kadang keluar tiba-tiba dari kedua tangan Alex tak membuat yang lain kepanasan.


"Jadi... siapa namamu?" tanya Alex dengan senyuman, usai memperkenalkan dirinya kepada Alice.


Axelia di sebelahnya hanya terkekeh pelan, "Kebiasaan." gumamnya.


Alice melirik Alex yang duduk di seberangnya, lalu kembali mengalihkan pandangannya pada segepok kertas yang sedang ia baca. "Tadi Professor Zen sudah bilang, untuk apa bertanya lagi?" ujarnya ketus, tanpa menatap wajah Alex.


Memang benar sih, tadi kan Zen sudah memanggil namanya.. tapi maksud lelaki berambut merah ginger itu kan ingin tahu nama panjangnya... atau setidaknya basa-basi sekaligus pendekatan.


Walau respon Alice se-sinis itu, Alex tetap tak mengambil serius dan tetap tak menyerah melemparkan pertanyaan-pertanyaan.


Sampai akhirnya ia mulai letih karena tak peduli seberapa besar usahanya untuk membuka topik obrolan dengan Alice, tetap saja tak ada jawaban. Respon paling bagus dari Alice hanya melirik Alex sekilas, lalu memutar mata malas. Itu pun hanya terjadi sekali.


"Ayah sudah mengenalnya, ya?" tanya Axelia kepada Zen yang sedari tadi hanya membaca data-data pada tablet hologramnya.


Zen mengangguk,"Iya," ia menoleh pada Alice, "ayahnya Alice adalah sahabat ayah dulu."


Alice menoleh pada Zen, merasa namanya di sebut. Lalu ia tersenyum sopan, membuat Alex terpelanga untuk sepersekian detik. "Bidadari..." gumam Alex pelan.


Axelia terbelalak kaget. "Sahabat ayah?! Professor Brian Alejandro Lourdes?!" Axelia tak tahu sahabat ayahnya selain pria tampan itu. Professor Brian Alejandro Lourdes, pria muda dengan gelar professor yang sebenarnya lebih cocok berprofesi sebagai model saja menurut Axelia.


Zen mengangguk, begitu juga dengan Alice. Walau ayahnya itu sudah seperti orang asing untuknya karena jarang menemuinya, tetapi mana mungkin seorang anak tak mengakui ayahnya? Mungkin ada, tapi itu bukanlah Alice Lourdes.


Axelia terlihat lebih terkejut lagi. "Whatt?! Mana mungkin?!!" tanyanya yang dijawab anggukan oleh Zen. Kemudian ia menoleh pada Alice. "Serius??" tanya Axelia masih tak percaya. Jelas ia kaget. Siapa yang tak kaget saat mengetahui bahwa professor ter-tampan dan ter-gagah itu sudah punya anak yang tak jauh dari umurnya.


Belum lagi, fakta bahwa Alice adalah penerus nama Lourdes, menandakan bahwa ia pasti sangat kaya raya. Bahkan sebelum bumi kiamat, seluruh dunia juga tahu nama Lourdes yang jika disebut saja sudah tercium bau uang. Setahu Axelia, Professor Brian memang punya perusahaan yang tak terhitung jumlahnya. Tapi ia tak pernah tahu, perusahaan macam apa yang pria itu urus. Pria itu bahkan tak pernah diketahui publik bahwa ia sudah beristri dan sudah mempunyai anak gadis.


Alice hanya tersenyum tipis menanggapi keterkejutan Axelia. "Salam kenal Axelia Kozuki."


"S-salam kenal juga... Lice, panggil saja aku Lia." ujar Axelia sedikit terbata. Berhadapan dengan penerus Lourdes Company adalah kali pertama baginya.


Alex menoel Axelia dengan sikunya, "Kok dia mau mengobrol denganmu, tetapi denganku tidak?" bisik Alex pada Axelia dengan nada melas.


Axelia menoleh, lalu menatap Alex dengan ekspresi bangga, sekaligus meledek. "Girls are more comfy with girls, you wanna hit her up? Be one of us first." bisiknya dengan nada mengejek, membuat Alex menghela napas.


Tok! Tok!


"Masuk." ujar Zen.


Axelia, Alice, Alex, dan Ally menoleh ke arah pintu. Mereka menemukan seorang professor ber-jas laboratorium berjalan masuk, tetapi hanya sampai ambang pintu. "Permisi Professor Zen, ini lah orang selanjutnya..." professor itu berjalan mundur, mempersilahkan seseorang untuk masuk.

__ADS_1


Ia adalah seorang lelaki. Rambutnya berwarna hitam, hidungnya mancung dan tak terlalu besar, rahang tegas membingkai wajahnya dengan sempurna, maniknya berwarna hitam pekat, dan sorot matanya mengintimidasi. Wajah tampannya itu belum cukup membuat Axelia lemas jatuh cinta, ditambah lagi dengan tingginya yang kalau diukur akan mencapai seratus sembilan puluh senti, tubuhnya yang terbentuk, dan kulitnya yang eksotis. Sebelas dua belas dengan milik Alice Lourdes.


"Lia, usap air liurmu." bisik Alex dengan tatapan jijik.


Lia tersadar dari lamunan indahnya, lalu mengusap dagunya dengan cepat. "Ck, gak ada kok." bisiknya kesal.


"Duduklah di sini, Jack Grayson." Zen mempersilahkan lelaki itu duduk di kursi yang ada di sebelahnya.


"J-jack? Kak Jack?!" Axelia terbelalak. Salahkah telinganya barusan, mendengar nama 'Jack Grayson' disebut? Ia terpelanga tidak percaya. Jack Grayson, kakak kelasnya dulu yang disukai oleh semua perempuan di sekolahnya. Terkenal dengan wajah dinginnya dan rambutnya yang berwarna perak. Axelia bahkan tak mengenalinya barusan, wajahnya yang menjadi jauh lebih tampan lagi, dan rambutnya yang kembali menjadi warna aslinya, hitam. Benar-benar membuat siapa pun jatuh hati.


Lelaki itu berjalan mendekat, dan segera duduk di kursi sebelah Zen tanpa basa-basi. Raut wajahya terlihat tak bersahabat sama sekali. Ia menatap Zen tajam, seolah ada hal yang harus ia bicarakan empat mata dengan professor itu.


"Wajahmu seperti ingin menonjokku." Zen tersenyum, "jangan lakukan sekarang, nanti saja setelah rapat ini selesai." ujarnya tenang.


Sementara itu, Alex terkekeh geli melihat Axelia yang terus menerus memandangi Jack dengan tatapan jatuh cinta sejatuh-jatuhnya. "Kedip kali." bisik Alex pada Axelia, sambil menyenggol perempuan itu dengan sikunya.


Berbeda dengan mereka, Alice bahkan tidak memalingkan pandangannya dari segepok data-data yang ia baca dari tadi. Baginya, data itu lebih penting dari pada memperhatikan sekitar. Itu adalah data yang memuat tentang hasil penelitian organisasi R.D.C.M selama tiga tahun ini.


Tiba-tiba Alice menghela napas kasar, membuat yang lain menoleh padanya. "Selama tiga tahun... organisasi ini tak pernah menghasilkan penemuan berharga apapun?" ujar Alice dengan nada kecewa. Ia menoleh pada Zen dan Ally. "Hanya ini datanya? Jadi kalian benar-benar tak pernah membuat apapun?"


Ally menautkan alisnya, merasa tersinggung, lalu ia menoleh pada Zen dengan raut wajah yang tak mengenakan. Seolah bertanya 'Apa-apaan anak bocah ini?' pada Zen.


Tapi alih-alih merespon, Zen hanya tersenyum--bahkan sedikit terkekeh--seolah ia sudah maklum dengan perkataan Alice yang tiba-tiba itu.


Alice mengerutkan alisnya melihat Zen dan Ally malah saling mengode satu sama lain dengan maksud yang tak Alice mengerti. Akhirnya Alice mengalihkan pandangannya dari kedua professor itu, lalu melihat ke sekitar.


Melihat Alice dan Jack yang saling menatap satu sama lain, Zen berdehem pelan, "Alice.. lelaki ini adalah Jack Grayson," ujarnya pada Alice, lalu Zen menoleh pada lelaki di sebelahnya. "Jack, dia adalah Alice Lourdes." jelas Zen.


Jack mengerutkan alisnya, "Lourdes? Anak dari Brian Lourdes?" suara berat keluar dari pita suara lelaki itu. Axelia sudah kehabisan napas di seberang sana.


Alice menaikkan sebelah alisnya. Ia memang tak heran jika semua orang tahu nama ayahnya, tapi Alice merasa lelaki ini berbeda. Seolah ia memang mengenal ayahnya.


Alice berpikir keras... sepertinya ia tahu siapa lelaki ini... tapi siapa?


Tak sampai dua detik, Alice terbelalak.


"Jack Grayson, pemimpin tim inti Agent of Mutants?" tanya Alice, membuat seluruh isi ruangan menoleh pada Jack dengan raut wajah terkejut, walau sebenarnya mereka tak mengerti apa yang dimaksud Alice.


Jack mengangguk, tak mengira gadis itu juga mengenalnya.


"Oh ternyata kau lah pemimpin mereka?!" Alice menyernyit tak suka, "Selama ini ayah jarang pulang ternyata untuk mengurusimu dan semua tim itu?!"


Jack memandang gadis itu datar, "Tak ada urusannya denganku mengenai itu." Jack memalingkan wajahnya malas, "ayahmu juga tak mengerjakan pekerjaannya dengan benar."


Bisa dibilang, ia masih kesal setelah tahu bahwa Brian pernah mengganggu saat-saat bermesraannya dengan Claire waktu itu. Saat Brian datang memakai baju serba hitam dan berbicara empat mata dengan Claire.

__ADS_1


Alice menautkan alisnya, "Apa kau bilang? Bagaimana bisa kau bilang begitu?!"


Walau tak dekat dengan ayahnya, Alice tetap akan kecewa jika pengorbanannya ditinggal bertahun-tahun oleh ayah ibunya hanya untuk dibilang 'ayahmu tak becus'.


"Hermes dan Aphrodite lagi berantem ya?" bisik Axelia pada Alex. Membawa-bawa nama dewa yunani tertampan dan dewi yunani tercantik itu.


Alex hanya bisa menyernyit kebingungan karena tak mengerti apa yang dimaksud Axelia.


"Sudah, sudah!" Zen angkat bicara, "bagus kalau kalian berdua saling mengenal, tapi sekarang kita harus fokus kepada apa yang akan kita hadapi nanti, tak usah bahas masa lalu!" ujarnya tegas.


"Sebentar," Axelia tiba-tiba ikut membuka suara, "tak apa, mari kita bahas masa lalu dulu."


"Kak Jack... kakak kelasku dulu, kan?" tanya Axelia dengan senyuman manis.


Gantian, sekarang Alex yang terkekeh pelan. "Bisaan juga dia." gumamnya.


Jack menyernyit bingung, ia baru menyadari ada sosok gadis ini dusuk di seberangnya sedari tadi. "Alexa?"


Alex dan Zen menoleh kepada Axelia keheranan, tak mengerti apa maksud Jack barusan.


"Namanya Axelia Kozuki, bukan Alexa." ujar Alex pada Jack.


Jack yakin ia tak salah orang. Alexa adalah teman dekat Claire dulu. Ia bahkan masih ingat jelas tentang itu. Lebih tepatnya... mana mungkin ia bisa lupa segala hal yang berkaitan dengan Claire?


"Anu..." Axelia menoleh pada Alex dan Jack bergantian. "Alexa hanya nama samaran, nama asliku adalah Axelia Kozuki."


Zen menautkan alisnya keheranan. "Untuk apa kamu pakai nama samaran, Nak?"


Mendengar perkataan Zen, Jack menjadi lebih kebingungan lagi.


"Ya supaya aku bisa sekolah dengan tenang, tanpa harus terkenal di mading sekolah dan tak usah didatangi wartawan berita seperti waktu SMP." ujar Axelia jujur, membuat Zen menghela napasnya.


Ya memang, Zen Quentino adalah nama kedua yang paling terkenal di dunia setelah Brian Alejandro Lourdes. Mereka berdua adalah professor yang paling bertekad untuk evolusi dunia serta kemajuan teknologi. Dan kebetulan, keduanya adalah sahabat karib. Betapa beruntungnya dunia ini jika mereka masih bekerja sama? Akan seberapa maju planet ini nantinya?


"Nama samaranmu mirip dengan seseorang, ya?" ujar Alex sengaja menggodanya.


Axelia tak sempat merespon perkataan Alex lagi, ia segera menodong Jack dengan pertanyaan. "Apa Kak Jack tahu bagaimana keadaan Claire? Apa dia selamat??" tanya Axelia khawatir, teringat akan sahabatnya itu.


Jack terdiam.


Untuk kesekian kalinya, memori-memori itu datang lagi.


Semua hal yang melibatkan seorang gadis bernama Claire Harlyn, datang lagi... menusuk jantungnya yang bahkan belum sembuh dari luka sebelumnya.


Semua kenangan itu terlalu sakit, mencekiknya dengan sangat keras.

__ADS_1


Menangislah, hatinya.


Tiba-tiba, hawa dingin bak es menyerbu entah dari mana, memenuhi seluruh ruangan dalam sekejap.


__ADS_2