AGENT: Agent Of Mutants

AGENT: Agent Of Mutants
69. Hera


__ADS_3

Kristal es mulai terbentuk, berjatuhan dari langit-langit yang kosong. Perubahan hawa yang signifikan membuat Axelia menggigil kedinginan, begitu juga Alice dan Alex.


"Ini... kenapa jadi dingin sekali ya?" tanya Alex sambil mengusap-usap kedua telapak tangannya.


Mereka menoleh ke sekitar mereka dengan raut wajah kebingungan.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Alice, dengan suara pelan hanya bisa terdengar oleh Jack. Ia menatap Jack tajam.


Entah dari mana, gadis itu tahu.


Begitu Jack tersadar akan sekitarnya yang menjadi dingin sekali, ia berusaha menarik kembali energinya. Sejauh yang ia tahu, professor yang menjaganya tadi memang mengatakan sesuatu tentang mutasi dan pendendali es... Jack tak mengira ia benar-benar memiliki kekuatan baru sekarang ini.


Perlahan-lahan, suhu di ruangan itu kembali normal, kristal es yang mulai terbentuk tadi langsung mencair... membuat ruangan itu ber-embun dimana-mana.


"Maaf." ujar Jack pelan.


Zen menyernyit, baru ingat akan kekuatan yang lelaki muda ini dapatkan."Apa yang membuatmu melakukannya?"


"Aku minta maaf." ujar Jack sekali lagi, alih-alih memberikan alasannya ia malah meminta maaf.


Lelaki itu memang sebisa mungkin menghindar untuk tak menjawab pertanyaan itu.


Zen menatap Jack dengan bingung, "Tapi kau tak menjawab pertanyaan-"


"Memang maklum kalau belum bisa beradaptasi dengan kekuatan baru ini kan? Kami memang butuh waktu supaya bisa lancar mengendalikan semua ini." Alice membuka suara, "Itulah alasannya, dia pasti masih gak terbiasa."


Entah mengapa, Alice terdengar seperti melindungi laki-laki di sebelahnya itu, agar tak terus menerus disuguhi pertanyaan oleh Zen.


Zen mengangguk paham, "Ohh... iya benar juga," Zen menghela napas, "Baiklah, mari kita lanjutkan."


Mendengar Zen yang telah berhasil ditipu oleh alibi, Alice menoleh pada Jack, lalu saat manik mereka bertemu, Alice memberi sorot tajam kepadanya. Seolah berkata 'kau sudah kubantu, jangan ulangi lagi.' Jack tak memberi respon apapun selain memalingkan wajah dengan raut wajah datar, acuh tak acuh.


"Ally, panggil yang terakhir." ujar Zen kepada Ally yang berdiri di belakangnya. Ally mengangguk, lalu memanggil orang yang terakhir melalui earpiece-nya.


"Zen, kita gak perlu membiusnya dulu? Terus nanti dibawa dalam keadaan pingsan saja ke sini." tanya Ally pada Zen, membuat yang lain menautkan alisnya bingung.


"Memangnya kenapa? Harus dibius dulu?" tanya Axelia penasaran.


Zen terkekeh kecil, "Gak kenapa-napa... dia aman kok. Kalian tak usah dengarkan Professor Ally." ujar Zen dengan wajah ramahnya mencoba meyakinkan keempat remaja itu.


Ally mengangkat kedua alisnya, menatap Zen tak percaya. "Really Zen? Menurutmu dia aman?" Ally memutar matanya malas.


Zen terkekeh canggung, "Haha.. jangan dengarkan dia, jangan dengarkan.."


Tak sampai dua detik kemudian, suara gemuruh petir terdengar dari luar ruangan, membuat Alex dan Axelia terlonjak kaget. Sedangkan Alice malah membolak-balik segepok kertas yang tak henti-hentinya ia baca, ia tak terlihat terganggu sama sekali. Sementara Jack menoleh ke arah pintu dengan alis bertaut. Penasaran akan darimana datangnya suara itu.


ZZRRRTTT!


Sebuah suara setruman terdengar begitu keras, sampai-sampai kali ini terlihat percikan petiryang menyambar pintu kaca ruang rapat itu, membuat seluruh isi ruang rapat itu bangkit dari kursinya.


"APA ITU?!" Axelia panik, melihat sekeliling ambang pintu yang dirambati oleh petir.


Refleks, Alex menarik Axelia ke belakangnya untuk melindungi gadis itu, berjaga-jaga jika sesuatu yang buruk akan terjadi.

__ADS_1


Sekali lagi. Petir itu menyambar pintu kaca itu dengan keras, membuat suara dentuman yang kencang terdengar oleh mereka.


Zen menepuk dahinya. "Oh tidak, pintuku-"


DZZZRTTT!


Petir yang lebih besar menyambar pintu kaca itu dengan lebih kuat lagi, membuat pintu kaca itu pecah berkeping-keping tanpa ada yang tersisa sama sekali.


Di titik ini, Jack pun bangkit dari kursinya. Melihat ke arah ambang pintu dengan waspada. Ia tahu betul saat masuk tadi, pintu kaca itu memiliki tebal 13 senti, dan dengan bahan yang solid, bukan sembarangan kaca. Tapi pintu itu hancur berkeping-keping dalam waktu kurang dari enam detik.


Jack mengalihkan pandangannya pada Zen dengan alis bertaut. "Apa yang kau rencanakan?!"


Melihat itu, Alice menghela napasnya lelah. Terpaksa gadis itu meletakkan segepok kertas yang sedang ia baca di atas meja, kemudian ia menoleh pada Jack dengan malas. "Tenang. Dia adalah orang terakhir, si Pengendali Petir." ujar Alice.


Jack menoleh pada Alice, lalu menyernyit. Untuk sepersekian detik ia heran bagaimana gadis di sebelahnya itu bisa tahu segalanya. Pertama ia tahu bahwa yang menciptakan hawa dingin tadi adalah dirinya, lalu sekarang ia bahkan tahu mengenai orang terakhir itu.


Kemudian Jack melirik segepok kertas yang Alice letakkan di atas meja. Ternyata kertas itu memuat biodata mereka ber-lima dengan lengkap. Bahkan Jack melihat sekilas bahwa ada ukuran sepatunya tertera disana. Pantas, gadis itu jarang berbicara sedari tadi, ternyata ia sedang mempelajari biodata mereka diam-diam.


Zen menghela napas pasrah, "Aku habiskan dua ribu dolar untuk pintu itu." gumamnya. Bagus tidak terdengar oleh siapa pun, karena pastinya ia akan dipandang menyebalkan oleh keempat remaja di hadapannya.


Axelia membulatkan matanya setelah mendengar perkataan Alice."A-APA?! PENGENDALI PETIR?!"


Tak lama kemudian, terdengar suara isakan tangis seorang gadis dari luar. Tak jauh dari ambang pintu yang baru saja rusak tadi.


Zen mengerutkan alisnya bingung. "Ada apa dengannya? Mengapa ia menangis?" Zen bangkit dari kursinya, kemudian berlari melewati meja rapat untuk menghampiri sumber suara. Diikuti oleh Ally, Axelia, Alex, Alice, dan Jack.


Tepat di depan ambang pintu yang terdapat pecahan kaca berserakan dibawah itu, terlihatlah seorang gadis sedang duduk memeluk kedua lututnya, dan menenggelamkan kepalanya disana. Ia menangis tersedu-sedu, membuat keenam orang yang sedang memperhatikannya itu menyernyit bingung.


Zen berjongkok, menyamakan tingginya dengan gadis itu. "Kenapa kau menangis?" tanyanya dengan lembut.


Sekali lagi, Zen bertanya kepadanya. "Apa yang terjadi? Apa yang membuatmu menangis?" Zen mengusap puncak kepala gadis itu perlahan, seolah mengajaknya untuk tenang dan segera memperlihatkan wajahnya.


Gadis itu mengadahkan kepalanya dengan ragu. Begitu kepalanya terangkat, ia langsung melihat keenam orang yang sedang berdiri menatapnya dengan ekspresi yang berbeda-beda.


Alex menelan ludahnya, lalu terpelanga.


Gadis itu berambut cokelat sepanjang dada, matanya berwarna biru laut, cukup besar, sampai membuat wajahnya menjadi imut. Terlihat bekas air mata mengalir di kedua pipinya. Hidungnya mancung dan kecil, semua fitur wajahnya itu dibingkai oleh rahang tirus yang semakin membuat wajahnya terlihat kecil. Kulitnya putih tapi tak pucat. Tubuhnya cukup mungil, mungkin tak sampai 160 cm, setara dengan tinggi Alice.


Ia menatap Zen dengan mata yang berkaca-kaca. "M-maaf professor... a-aku telah merusak pintumu.." ujarnya terbata, suaranya bergetar, seperti akan menangis lagi.


Untuk kedua kalinya, Alex terpelanga. Ia menutup mulutnya kagum, kaget melihat satu lagi wajah bak dewi yunani berada di hadapannya.


Sementara itu, Jack mematung untuk beberapa detik. Ia merasa... wajah gadis petir itu mirip sekali dengan seseorang...


Tapi ia segera membuang jauh-jauh pikiran itu. 'Tidak mungkin.' ujarnya dalam hati.


"Aduhh.. kukira kenapa," Zen tersenyum lembut, kemudian meraih kedua bahunya. "Tak apa, bisa diganti kok. Sekarang... ayo masu-" belum sempat ia menyelesaikan perkataannya, saat Zen melihat ke bawah, ia baru menyadari bahwa kedua tangan gadis itu masih penuh dengan kilat-kilat kecil.


Zen langsung bangkit berdiri, lalu berjalan mundur tiga langkah ke belakang. Ia kaget bukan main saat melihat bahwa kilat-kilat itu masih bersama gadis itu sedari tadi.


"Mau kuambilkan suntikan bius?" tanya Ally, yang juga takut melihat kilat-kilat itu.


"Ck, buat apa sih?" Alice memutar matanya malas. "Kelamaan tahu. Suruh saja si gadis jepang ini mengeluarkan roh si gadis petir itu sebentar, supaya pingsan. Beres." ujar Alice enteng.

__ADS_1


Kelima orang yang ada di situ menoleh ke arahnya, menatapnya bingung sekaligus kagum. Kecuali Ally yang menyernyit tak suka. Ally jadi bingung, disini siapa yang professor sebenarnya?


Sementara itu gadis petir itu menatap mereka satu persatu dengan bingung, tak mengerti apa yang dimaksud mereka. Masih dengan posisi yang sama, meringkuk.


Zen menjentikkan jarinya. "Ah benar juga!" ia menoleh ke belakangnya, mencari keberadaan Axelia. "Nak! Tolong buat dia pingsan sebentar." ujarnya pada Axelia yang berdiri di paling belakang--karena ambang pintu rapat itu cukup sempit--tidak mengerti apa-apa.


Walau kebingungan, Axelia tetap menghampiri Zen. Lalu saat ia dapat melihat gadis petir itu dengan jelas, Axelia berdecak pelan, kagum. Kemudian ia menoleh pada Zen, "Ayah tak berani padanya? Kalaupun iya, jangan dibuat pingsan dong... nanti dia gak ikut rapat tentang misi kita." ujar Axelia enteng. Ia tahu rapat ini akan penting--karena Zen memberitahunya--maka dari itu sebisa mungkin jangan sampai ada yang melewatkan rapat ini.


Masih dalam pandangan bingung tak mengerti apa-apa, gadis itu menatap Axelia dengan raut wajah polos.


"Kalian semua masuk ke ruang rapat lagi sana! Biar aku saja yang membantunya." ujar Axelia pada kelima orang di situ, tentu saja kecuali si gadis petir.


Jack adalah orang yang paling enteng mengangkat kakinya. Baginya, sukur malah ia bisa kembali segera. Lelaki itu langsung berjalan kembali ke tempat duduknya acuh tak acuh.


Yang kedua adalah Alice. Ia juga langsung kembali ke tempat duduknya tanpa ragu.


Baru pertemuan pertama, tapi Alex dan Axelia bahkan sudah bisa menebak bahwa dua orang itu adalah tipikal orang apatis tapi juga yang terpintar di tim nantinya.


Tak memusingkan itu lagi, Axelia kembali menoleh pada gadis di depannya. "Kakimu sakit? Bisa jalan gak? Kalau gak bisa, mari kubantu... tapi bisakah kau mematikan kilat di tanganmu itu dulu?" tanya Axelia lembut.


Gadis itu menatap Axelia dengan tatapan polos, lalu menggeleng pelan. "Aku... gak tahu bagaimana cara mematikan ini.." ujarnya seraya memandangi kedua tangannya. Kemudian gadis itu kembali menoleh kepada Axelia dengan tatapan polosnya itu. Polos bercampur bingung.


Axelia merasakan seperti ada sesuatu menusuk hatinya tiba-tiba. Seolah hatinya telah terpanah dengan ke-imutan gadis yang bahkan belum ia ketahui namanya itu.


'Kalau sudah dekat nanti akan kuadopsi dia jadi adik!' ujar Axelia dalam hati.


"Ahh begitu yaa? Kalau begitu... uhmm.. bagaimana aku membangunkanmu, ya?" Alice mengusap dagunya bingung. Kalau gadis itu tak bisa bangun sendiri, dan ia tak mengerti bagaimana cara menghilangkan kilat itu dari tangannya.. lalu apa yang harus ialakukan sekarang?


Zen menghela napas lelah. "Sudah kubilang, keluarkan saja rohnya sebenta-"


"Gak usah!" Alex akhirnya bersuara. "Nanti dia gak bisa ikut rapat dan tahu informasi pentingnya, jadi lebih baik kugendong saja." ujar Alex (hanya beralasan).


"Jangan nanti kau disetrum. Kalau begitu lebih baik aku keluarkan saja rohnya." ujar Axelia tak setuju. Tapi alih-alih melakukan sesuai apa yang ia katakan barusan, ia malah meraih kedua bahu gadis petir itu, lalu mencoba membangunkannya dengan mengangkat bahunya.


Bisa ternyata.


'Gadis ini ringan.' pikir Axelia dalam hati.


Begitu kedua kaki gadis itu telah menapak dengan benar di atas lantai marble itu, Axelia melepas bahunya perlahan, lalu tangannya pindah ke lengan gadis itu, membantunya berjalan.


Saat Alex mengulurkan tangannya untuk membantu mengenggam lengan gadis itu, Axelia menepis tangan Alex. "Awas kalau pegang-pegang!" Axelia melotot. "Nanti dia nangis lagi!"


Alex langsung mengurungkan niatnya. "Okay.. okay.."


Selangkah lagi mereka akan masuk melewati ambang pintu (serta serpihan kacanya yang berserakan di lantai), Alex membuka suaranya lagi. "Siapa namamu?" tanyanya pada si gadis petir itu.


"Hera." jawab gadis itu pelan.


Alex mengangguk paham. "Nama panjangmu itu saja?"


Gadis itu menggeleng ragu.


"Namaku Ishera Harlyn."

__ADS_1


Axelia menghentikan langkahnya. Ia tertegun. "Harlyn?"


__ADS_2