
21.00
[Ruang 4]
Professor H, pria yang terlihat baru berumur awal 30-an itu menghela napas, bersiap untuk menghadapi perempuan di depannya yang baru saja membuka matanya, tanda pengaruh obat bius sudah menghilang sempurna.
"Hai.. Alice." Professor itu tersenyum lebar, sampai memperlihatkan lengkungan eye-smile pada wajahnya. Beruntungnya ia mendapat professor yang ter-ramah.
Alice membulatkan matanya, tak perlu waktu lama baginya untuk sekedar 'mengumpukan nyawa dulu', setelah dibius, ia langsung seratus persen sadar. Matanya menjelajahi setiap inci ruangan ini. Berbentuk lingkaran, dengan diameter 14 meter, tinggi dinding 6 meter, cukup luas. Dan, tempat ia duduk berada pada sudut 219° dihitung dari jari-jari sebelah kanan ruangan itu. Semua perhitungan ini bersifat mutlak, murni dari analis bangun tidurnya yang tidak mungkin melenceng.
Belum selesai tentunya, pengamatannya beralih pada subjek-subjek di depannya, seorang professor berumur 30-an duduk didepannya, hanya terpisahkan sebuah meja di antara mereka berdua, 2 professor lain berdiri di belakangnya, keperawakan keduanya sudah tak segar lagi, sekitar 50-an awal. Dan tak ketinggalan, ada 2 orang pria berdiri tegap di kedua sudut ruangan dengan tampang seram. 'Berlebihan.' ujarnya dalam hati.
Tak perlu repot-repot bertanya, ia sudah tahu persis ini dimana. Ayahnya dulu adalah salah satu ilmuwan disini, sebelum berhasil membuat penemuannya yang membuat ayahnya menjadi miliyarder seperti sekarang.
Ia diam sejenak. Berpikir.
Ia tahu mengapa ia dibawa ke sini.
Ternyata Profesor Zen masih mengingatnya.
Alice kemudian menatap professor yang menyapanya tadi, "Sudah berapa jumlahnya sekarang?"
Professor H menautkan alisnya, tapi ia segera kembali tersenyum, tak ingin terlihat bingung. Mungkin gadis di depannya ini hanya bergumam tanpa arti, "Alice, kami tahu kau pasti bingung," ujarnya dengan senyuman ramah, "aku akan menjelaskan semuany-"
"Sudah berapa jumlahnya?" potong Alice dengan penekanan 5 Pascal di setiap katanya, seolah ia benar-benar ingin jawaban.
"Apa maksudm-"
"Sudah berapa pasukan yang ia buat, professor?" Ujarnya dengan penekanan 10 Pascal di setiap katanya. Sampai berubah jadi lima belas, sudah dipastikan itu nada marahnya.
Profesor H terbelalak.
Begitu pun dengan kedua professor di belakangnya.
"Bagaimana... kau tahu?"
__ADS_1
"Ah, sudahlah. Lepaskan tali ini, lalu bawa aku ke ruang pemantau antariksa."
Ketiga professor itu melongo. Informasi ini seharusnya sangat terjaga dan tidak diketahui oleh orang diluar 'markas ilmuwan' ini. Profesor dibelakang Profesor H maju selangkah, "Aku akan lepaskan," ia memberi jeda, "asal kau memberi tahu kami siapa kau sebenarnya?" ujar profesor itu mantap. Ia yakin gadis di depannya ini adalah seorang mata-mata yang mengintai gedung Research and Defense Center of Mars (R.D.C.M).
Alice tertawa, "Lah, bukannya kalian yang memiliki data-data tentangku, membiusku, lalu membawaku ke gedung ini?" ia terkekeh geli, "Wahai ilmuwan-ilmuwan planetkuu, tolong jangan buang waktu kalian disini, antar aku ke ruang antariksa sekarang. Dari wajah-wajah kalian terlihat jelas kalian belum mengecek situasi di Bumi yang terbaru."
Ketiga professor itu makin tersentak lagi, mengapa mereka yang jadi terlihat bodoh?
Gadis itu berdecak, "Cepatlah. Aku akan menjawab semua pertanyaan-pertanyaan di benak kalian nanti, sambil jalan. Jadi ayo cepatt!"
Professor H dan satu professor lagi menghampirinya dengan ragu, lalu melepas borgol, dan menggunting tali yang mengikat tubuh Alice. Sekarang ia bebas.
"Ayo antar aku!" Ia berdecak (lagi), "Aduh, kalian menghabiskan 20 menit 19 detik yang berharga." Ujarnya spontan, tanpa melihat jam atau apapun. Seolah otaknya memang tak berhenti menghitung detik.
Profesor H berjalan ke arah pintu, diikuti Alice dan kedua professor lainnya.
Kedua pria berbadan kekar penjaga pintu yang tidak tahu apa-apa itu menautkan alis mereka bingung. 'Mengapa professor membawa gadis ini keluar?' mungkin begitu pikirnya.
Seolah bisa membaca pikiran, Professor H tersenyum tipis, "Tak apa, biarkan dia keluar. Atas pengawasanku." Ujarnya yang dibalas anggukan ragu kedua penjaga itu, lalu membukakan pintu baja itu.
Professor H memimpin jalan untuk ke ruang antariksa, "Bisa jelaskan sekarang?" ujarnya tanpa menoleh ke belakang.
Dinding megahnya terbuat dari kaca, sehingga terlihat jelas deretan pesawat-pesawat dan beberapa jet terparkir rapih diluar gedung. Pantas saja gerbang gedung ini menjulang tinggi sekali, seperti ketakutan dimasuki titan, ternyata di dalamnya ada lapangan pesawat dan jet-nya..
Sekaya-kayanya keluarga Alice, ia sama sekali tak disisakan satu jet kecil pun dari sekian banyak (tidak terlalu banyak sih, hanya ada 5) oleh orangtuanya, padahal ia bisa mengemudikannya (walau tak handal). Tak heran, orangtuanya yang bisa dikatakan tajir-melintir itu membuat Alice tak seperti gadis biasa yang saat kelas 9 hanya peduli pacar-pacaran. Mungkin saat gadis-gadis seumurannya begitu, ia sedang berkutik dengan soal-soal frekuensi gelombang bunyi di bangku SMA kelas dua, dengan hobi sambilannya yaitu mengembangkan penelitian miliknya di laboratorium pribadinya bersama asisten robotnya.
"Alice, kau mendengarku?" Profesor H kali ini menoleh, menyadari tak anda jawaban dari gadis itu.
Alice tersadar dari lamunannya, "Aku juga menelitinya." jawabnya datar, membuat Professor H menoleh sekali lagi, ia terbelalak, "Bagaimana bisa ka-"
"Loh, Alice Lourdes?" Entah darimana Professor Zen muncul, mengagetkan ketiga professor bawahannya itu. 'Mati aku, mati aku, mati aku' rintihan itu terlihat begitu jelas dari wajah ketiga professor itu.
Profesor Zen menautkan alisnya, "Mengapa kau keluar..." ia berpikir sejenak, mencari-cari berkas apa saja yang ada di dalam otaknya dengan kata kunci 'Alice Lourdes', kurang dari dua detik, ia menemukan berkas itu. "Ikut aku."
¤¤¤
__ADS_1
"Kau menelitinya juga?" Ujar Zen tak percaya. Anak ini bahkan lebih unggul dari teman lamanya (yang merupakan ayah Alice). Di umur yang masih bocah ini? Ia sudah bisa mengakses hal yang sama seperti seseorang yang bergelar Professor akses?
Alice mengangguk.
Di umurnya yang belum lama 17 tahun ini, Alice memiliki wajah yang baby face, matanya se-biru Samudra Atlantis, rambut pirang keemasan sepanjang dada, ditambah kulitnya yang tak terlalu putih, cukup eksotis. Wajar, bagi Spaniard (orang Spanyol) sepertinya, kulit sepertinya didamba-dambakan orang sebangsanya. Ia cukup bangga dengan itu. Padahal ia tak pernah keluar rumah kalau bukan untuk ke sekolah.
"Ya. Aku tahu ada radar tanda-tanda kehidupan di Bumi terpancar dari satelit planet ini, baru saja kemarin, kan?" Profesor Zen mengangguk, masih tak menyangka. "Aku juga tahu mutan itu akan kembali, bersama pasukannya.. ehm, dua ratus juta?" ujarnya lupa-lupa ingat.
Mereka berdua sedang berjalan beriringan menuju ke ruang antariksa, yang ternyata lumayan jauh dari tempatnya disekap tadi. Walau menaiki escalator berkali-kali, ia tak mengeluh sedikitpun, malah ia takjub sedari tadi melihat sekitarnya yang dipenuhi hologram-hologram penelitian.
'Designnya bagus, bisa kucontek untuk mendekor ulang labku nanti.' Ujar Alice dalam hati.
Dan sekarang mereka berdua sudah sampai di depan sebuah pintu lebar yang terbuat dari kaca, dari luar pun sudah terlihat apa yang ada di dalamnya.
"Kabar buruk.." Ujar Zen dengan wajah muram. Ia menempelkan ibu jarinya pada fingerprint scanner yang berada pada pintu kaca itu, lalu saat pintu terbuka, terpampang jelas sebuah meja besar sekali di tengah ruangan, hologram dengan ukuran panjang 3 meter, dan tinggi 2 meter terpancar diatasnya. Menampilkan berderet-deret data keadaan planet Bumi yang terdeteksi.
"... ia berhenti membuat pasukan mutannya." Lanjut Zen berat, sambil berjalan masuk perlahan.
Alice tertegun, ia berlari menghampiri hologram itu untuk mencari tahu apa yang dimaksud 'kabar buruk' itu.
Matanya menjelajahi satu persatu data dan radar yang terdeteksi.
Dan benar.. jumlah yang tertera pada data Bumi yang telah di-scan itu berhenti.. pada angka:
200.000.000 million survival.
Alice terdiam.
Ini sangat buruk, ia mengerti maksud Professor Zen.
Alice menoleh pada Zen."Kita harus bergerak cepat."
Professor itu mengangguk mantap, terasa lebih berseri-seri wajahnya. Ia bersyukur yang satu ini tak perlu dibujuk setengah mati. "Aku akan membawamu ke ruang mutasi. Ayo!"
Alice tak kaget, ia memang sudah mengetahuinya dari awal. Pasti ia dibawa ke sini untuk dimutasi. Ia hanya mencari alasan yang cukup kuat baginya untuk menerima ajakan Professor Zen. Dan sekarang ia sudah menyetujuinya, karena alasannya memang kuat. Mars dalam bahaya.
__ADS_1
Mereka berdua berjalan cepat keluar ruang pemantau antariksa itu. Sampai di luar, mereka berpas-pasan dengan Ally. Professor wanita itu melihat ke arah Alice bingung, "Mengapa dia disin-"
"Ally, cepat perintahkan semua professor untuk memutasikan mereka bertiga. Sekarang juga. Setelah itu tak usah dibius, suruh mereka langsung berkumpul di ruang rapatku." Ujarnya dengan cepat, "Jangan lupa... Hera."