
"Eh, Claire!"
Mendengar suara Alexa, aku langsung mempercepat langkahku untuk segera pergi.
Aku mendengar derap langkah Alexa dari belakang yang semakin cepat ke arahku.
"DORR!!"
Aku tersentak. Alexa berteriak sambil menepuk pundakku.
Ya!!!
Karena apa lagi?
Perlahan aku menoleh ke belakang sambil mengatupkan bibirku rapat, lalu menyengir.
"Kamu kok kabur sih tadi? Kenapa meninggalkan aku dengan Kito, dan kak Jack!?" Katanya dengan kesal.
“Yahh maaf Lexa-“
"… kan aku jadi nervous!"
Nah kan… kukira apa…
Aku sweatdrop. "A.. haha... ya sudah, bagus dong."
Alexa berdecak. "Ishh! Serius kamu kemana?"
"Tadi aku buang air kecil." jawabku asal sambil tersenyum. AH! KENAPA SKILL BERBOHONGKU JADI JELEK?!
Ia mengerutkan dahinya, "Masaa? Buang air kecil di taman, begitu?"
Kok dia tahu ya aku ke taman?
Eheehe…
"Eee... i-iya dong... kan anti mainstream, di dekat pohon gitu! Ahahaha…" ujarku sambil tertawa.
Aduhh…
Alexa hanya diam melihatku dengan wajah datar yang mulai membuatku takut karena hawanya menjadi tidak enak…
"Iyaa iya, maaf-"
Ia menghela napas pelan. "Ya sudah iyaa gak apa-apa."
Eh??
Gak apa-apa apanya nih?
Dia tahu kalau aku berbohong?
Aku meliriknya sekilas, ia sedang memandangi murid-murid yang berjalan melintasi lapangan. Perhatiannya sepertinya teralihkan, baguslah.
Omong-omong, sekarang kita sudah pulang sekolah, tadi aku baru masuk kelas ketika bel pulang sudah bordering. Yup! Aku membolos pelajaran seharian, aku duduk di bangku taman sambil memikirkan kejadian kucing tadi. Lalu saat aku ke kelas untuk mengambil tasku dan berniat langsung pulang, Alexa mengagetkanku di koridor yang sudah mulai sepi ini.
Ia kembali menatapku. "Claire, duduk-duduk dulu yuk di kantin, kamu gak buru-buru pulang kan?"
"Ohh ayo, gak buru-buru kok."
Kita pun pergi ke kantin.
Oh! Ternyata masih ramai di sini, toh.
Lalu aku duduk di salah satu bangkunya, diikuti oleh Alexa yang berada di seberangku sekarang.
"Eh iya, Valerie sempat mencarimu tadi, yang 11 IPA 2 itu lohh!"
Val?
"Oh… kenapa memangnya?"
"Gak tahu... tadi katanya ada urusan denganmu, terus aku bilang padanya, Claire lagi kabur,” Alexa menyengir tanpa dosa, “lalu dia bilang ‘Oke, terimakasih ya, nani aku bicarakan saja dengannya di asrama.'"
Aku terkekeh, "Ah... gitu ya... ya sudah, nanti dari sini aku langsung ke asrama, deh. Terimakasih yaa!"
"Eh Leir, kamu sekamar dengannya ya ternyata, dengan siapa lagi?"
Leir?
Le ir.
Terimakasih loh! :')
"Kok Leir?" Tanyaku dengan senyum miris.
"Ehehe... panggilan khusus buat kamu. Jadi tadi dengan siapa lagi?"
"Iya deh... teman sekamarku Valerie dan Nancy, tau kan?"
"Oohhh... tau lah, Nancy 11 IPA 2 itu kan? Yang wajahnya manis, enak dilihat sekaliii!" Alexa mengusap-usap dadanya dengan raut sedih… tapi senang? Hahaha! Seperti seorang fangirl.
Nancy, omong-omong, dari kemarin aku tidak melihat dia, bahkan di asrama juga tidak ada... kalau diingat-ingat, dia memang sering tak terlihat begini, dia kemana sih?
"Ahahaha, iyaa benar!"
"Cocok deh kalian bertiga! Nih ya, kalau aku gabungkan... siswa-siswi terkeren di sekolah ini itu... kak Jack si kakak kelas ganteng itu, kak Zav temannya kak Jack yang keren juga, sama kakak kelas yang di 12 IPA 3 siapa tuhh namanya... Ri… Rian bukan? Itu dia juga keren!" ujar Alexa dengan mata penuh love sign. AHAHAH…
Aku menahan tawa saat dia menyebut Rylan dengan 'Rian'.
"Kalau yang perempuan, Kimberly yang 11 IPA 3 itu loh... kamu tahu gak? Ohh sama Ruby juga! Dia terkenal ramah sekali! Cantik pula! Terus ditambah Valerie sama kamu!" lanjutnya dengan antusias.
"Sudah dehh, kalian kalau digabungkan, sudah seperti tokoh-tokoh di film action gituu… yang ceritanya agen-agen keren, ah pasti seru kalau di sekolah kita ada yang seperti itu!"
Aku tertegun.
Eeeee….
A…hahaaha.. ha…
Eeemm.. b-bagaimana yaa…
__ADS_1
Aku sweatdrop untuk yang kedua kalinya.
Lalu aku tersadar aku tidak boleh terus diam, akan mencurigakan, hahaha!
"Ahahahaha! Iyaa benar juga! Pasti akan seru… ya kann? Hahahaha…"
Aku mencoba bersikap se-normal mungkin sambil tertawa.
"Iyaa kan? Ahh... coba saja ada… aku gak perlu jadi salah satu agen nya deh... jadi teman dekat salah satu agennya saja udah senang.." ujarnya engan pandangan mengadah ke langit-langit, seperti membayangkan halu-nya itu.
Aku mengangkat kedua alisku dengan seulas senyum… lalu ikut terkekeh..
B-bukan halu sih…
"Iyaa aku juga mauu.. sayangnya gak ada ya…" ujarku.
Ah. Yang benar saja?
Aku menghela napas pelan, tetap tenang… jangan bersikap mencurigakan.. kamu harus profesional, Claire! Harus!
Lexa terkekeh, lalu ia menoleh, "Omong-omong, apa alasan kamu pindah ke sini, Claire? Kok tanggung, gak dari kelas sepuluh?"
Mati aku.
Aku menggaruk tengkukku yang tak gatal.
“Oohh... itu…“
Alexa mengangkat kedua alisnya, “Itu apa?”
“Eemm… Aku-“
“Claire.”
AH!
AKU TAHU SUARA INI!
TERIMAKASIH TUHAAAN...
Aku membalikkan tubuhku, lalu tampaklah malaikat maut penyelamatku!
Jack dengan rambut undercut-nya sudah berdiri di belakangku, dengan satu tangan dimasukkan ke dalam saku celananya.
Sok keren. Cuih!!!
“Daritadi aku mencarimu, ayo.” Ujarnya dengan datar.
Ah, baiklah kali ini aku mengampunimu karena telah menyelamatkanku dari pertanyaan maut Alexa.
Aku menoleh pada Alexa.
AHAHAHA!
Ia mematung kawan-kawan!
Alexa menatap malaikat maut ini tanpa berkedip, dengan rahang yang sudah terjatuh entah sejak kapan. “Awas ilermu menetes.” Ujarku yang membuat dia tersadar.
“Lexa, aku pergi dul-“
Ia menarikku kencang, “K-kamu… k-ko.. kok bisa… k-kenal de.. dengan... malaikat ini?” bisiknya tanpa menatapku.
Malaikat maut kali maksudnya.
“Ada… urusan OSI-“
“Ayo, kau lama.”
E-EH? Dia menarikku.
WAH BERANI SEKALI MALAIKAT MAUT INI MENARIKKU!
Ya! Ia menggenggam tanganku lalu menarikku begitu saja!
Dasar orang ini!
Aku menoleh ke belakang, melihat Alexa yang sudah melongo. "Bye, Lexa!"
Aku berdesis, “Ishh jangan cepat-cepat, kek!” ujarku yang kesusahan menyamai langkahku dengannya yang entah karena jalannya memang terlalu cepat atau aku tak bisa menyusul langkah kakinya yang panjang ini.
“Jangan berisik,” ia menoleh sekilas, “sudah bagus kuselamatkan kau dari pertanyaannya.”
Lah k-kok… bisa tahu?
Ia mengeratkan genggamannya, “Ayo, lebih cepat.”
Aku mempercepat langkahku. Ini sih jatuhnya berlari! Aku melirik sekilas ke kanan-kiri. Wah, mati aku, mati! Banyak yang lihat!
Ah, tamatlah riwayatku habis ini dengan para perempuan bermata elang itu.
Eh? Itu Nancy! Dia sedang berlari terburu-buru.
Sepertinya melewati taman belakang asrama... dia sedang sibuk sekali ya…
BRUKH
“AAAUCH!!”
HUUAAA!!
AKU MENABRAK TEMBOK!
Ya Tuhan… ada apa sih… kalau aku banyak bohong hari ini, maafkan aku, dong…
“Pffftt…”
Aku menoleh, wah dasar kambing.
Dia malah terkekeh!
“Jangan tertawa kau!!” Aku berdecak.
__ADS_1
Ia mengangkat bahuku, membantuku berdiri. “Sini.” Ujarnya lalu merangkulku dengan sebelah tangannya.
Jack membantuku duduk di kursi panjang koridor ini.
Oh, tumben baik…
Aku mengusap-usap dahiku- “AW!”
S-SAKIT…
Apa… jangan-jangan berdarah? Atau memar?!
CK, AH! MEMALUKAN SAJA!
Jack berjongkok, menyamakan tingginya denganku yang duduk di sini. Ia memiringkan kepalanya dengan seulas senyum. “Kau ini kenapa sih?” ujarnya, lalu ia terkekeh.
Deg.
Deg.
E-eehh?!
K-kok a… aku-
Ia menyunggingkan senyumnya, l-lalu mendekatkan wajahnya p-padaku, “Jangan memerah.” Bisiknya.
A-APA?!
“IH! S-SIAPA YANG-“
“Aku beli hansaplast dulu. Jangan diusap.” Ujarnya masih dengan kekehannya, lalu berlari pergi.
Y-YA SUDAH SANA! M-MENYEBALKAN!
CIH!!
Lagi pula memangnya berdarah?
Aku mengusap dahiku. “Ah, iya…” gumamku.
“Claire? Kenapa bisa berdarah begitu?”
Ah, Kito.
“Iya, ini tadi-“
“Jangan diusap. Sebentar, aku punya hansaplast.” Ujarnya seraya merogoh saku kemejanya. Dan mengeluarkan sebuah hansaplast.
“Eh? Terimakasih, tapi-“
“Jangan bergerak, yaa.” Ia membuka hansaplastnya, lalu mendekat padaku.
T-tapi… bukankah ini terlalu dekat…
“A-anu..”
Anu… aku lupa membawa penyetrum listrikku.
“Jangan bergerak, Claire.” Ia mendekatkan wajahnya padaku.
Aku memundurkan wajahku, aku tak nyaman denga-
SREETT
“Jack?"
Jack mencengkram kerah Kito dengan kasar.
“Mau apa kau, brengsek?!” bentaknya lantang.
Rahangku terjatuh. A-ada apa dengannya...
“Lepas!” Kito tak kalah lantang, membuat semua mata tertuju pada mereka berdua. Ia balas mencengkram kerah Jack kencang.
A-ADUHH, BAGAIMANA INI?!
BUGH
Jack?! Ia baru saja meninju Kito sampai ia terpental ke belakang.
Ah, shit.
Aku bangkit berdiri perlahan.
Nah! Bisa!
Saat Kito sedang bersiap membalas, aku segera menengahi mereka secepat kilat. “Sudah.” Ujarku tegas. “Kalian ini seperti anak kecil saja, sih! Tiba-tiba berantem!” aku merentangkan tangan di tengah mereka berdua. Dengan tanda ‘stop’.
Kito mendengus kesal.
Jack berdecak kesal.
Aku tak mengerti, mereka ini kenapa sih?! Ck.
Aku menghela napas, “Kau melanggar aturan pertama, leader.” Bisikku pada Jack yang masih beradu tatapan tajam dengan Kito.
Jack tertegun, lalu menoleh ke sekitar kita. Ya. Aturan pertama yang ia buat sendiri padahal, yaitu: Jangan menarik perhatian banyak orang.
Ia menggenggam tanganku, lalu menarikku pergi, meninggalkan belasan pasang mata yang melongo. Dan… Kito yang menggeram kesal.
Aku menoleh pada lelaki yang sedang menarikku ini, “Sekarang aku yang bertanya, kau kenapa sih?”
Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah hansaplast. “Ambil.” Ujarnya sambil menyerahkannya padaku.
“T-terimakasih...”
Ia tak menjawab, raut wajahnya masih kesal...
Aku menghela napas pasrah.
Hufftt... dia ini kenapa sih?!
__ADS_1