AGENT: Agent Of Mutants

AGENT: Agent Of Mutants
30. He's coming.


__ADS_3

"Eh uban... ini... kenapa waktunya jadi begini?" Tanyaku padanya yang sedang berjalan di depanku, ia menarikku lagi.


"Bawel."Ujarnya datar, lalu berhenti.


Aku membulatkan mataku.


"Wahhh.." gumamku kagum. Di depanku ada sebuah taman yang bersebelahan dengan sebuah danau kecil. Rumputnya hijau dan menyegarkan mata, terlihat bersih tak ada sampah satupun. Hanya saja, udara dingin di sini benar-benar menusuk. Salju memang belum turun, tapi hawa dinginnya sudah menyelimuti daerah ini.


Bagaimana bisa aku tak tahu kalau ada tempat seperti ini di dekat IHS?


Jack duduk di rumput hijau ini, lalu ia menoleh padaku. "Ayo duduk, kenapa melamun?" ujarnya dengan raut wajah datar seperti biasa.


Aku pun duduk di sebelahnya dan melihat ke depan. Matahari baru ingin tenggelam, membuat warna jingga yang kontras menghiasi langit.


Ini pasti karena Kim.


"Sudah mau sunset!" Ujarku tanpa melihat ke arahnya.


Jack berdehem. "Aku mau bicara serius ubi..."


Aku menoleh padanya, "Iya apa... hantu ubanan?" tanyaku seraya menatapnya malas.


Ia memejamkan matanya sebentar, lalu menghela napas, seperti menahan emosi.


HAHAHA, HANTU UBANAN! Pasti dia kesal kupanggil begitu, hehehe.


Jackmenatapku serius, "Tadi temanmu itu sudah tahu kalau kau itu mutan?"


Mati aku.


Jadi daritadi ia menguping?!


Aduhhh...


Sudah lah, tamat riwayatku...


"I-iya.. Alexa sudah tahu tentang kekuatanku." Ujarku pelan, tanpa berani menatap matanya.


Aduh, habislah aku ini...


Ia menghembuskan napasnya pasrah, "Temanmu itu pingsan karena orang lain..."


Eh?


Ia tak marah? Atau... belum?


"Iya, hebat ya orangnya... seperti bisa menghipnotis orang."


Jack menatapku sambil mengerutkan alisnya. "Heh ubi! Kenapa kau malah berpikir ke situ? Ya berarti ada orang lain juga selain temanmu itu yang melihat kekuatanmu."


A-ASTAGAAAA!!


IYA JUGA!


“YA AMPUN!” menyadari suaraku yang terlalu kencang, aku memelankan suaraku, “Kalau ada orang lain yang tahu, dan ia membuat Alexa pingsan, berarti mungkin saja dia jahat, dong?!”


Jack menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya, "Sssshh, jangan berisik."


"Ya habis gimana?"


Ia menatapku dalam, "Tenang saja.. jangan panik, nanti kita pikirkan dengan yang lain." Ujarnya lembut.


Dia ini orang aneh. Tahu kenapa? Dia bisa benar-benar terlihat dingin dan mengintimidasi, tapi ketika aku semakin mengenalnya, justru ia adalah orang yang tenang dan rileks menghadapi apapun. Tipikal orang yang ingin menikmati setiap detik berharga bersama dunianya.


Aku mengangguk.


"Oh iya, aku pernah cari data tentang si target yang waktu itu kita semua lawan, dan aku dapat informasinya..."


Jack menoleh, pertanda bahwa ia siap mendengarkan lanjutanku.


"Dan dari semua data mereka.. aku menyimpulkan dua hal.” Aku menghela napas, “Yang pertama, pendidikan mereka hanya sampai SMP, pendidikan lanjutannya gak tertulis sama sekali. Dan yang kedua, mereka semua tinggal di Amerika.”


Aku menoleh padanya, "Apa kau paham? Pasti gak paham maksudku... jadi-"


"Berarti kemungkinan besar, lanjutan pendidikan mereka itu di Agent High School, tepatnya.. AHS Amerika.." ujarnya enteng.

__ADS_1


Ohhh... langsung mengerti toh...


Yup! Benar sekali! Ingat Agent high School atau AHS, kan? Itu sekolahku dulu saat belum ke perkotaan dan pindah di IHS--International High School--ini untuk menjalankan misiku.


Dan tepat sekali Si Uban! Mereka itu tinggal di Amerika, kan? Berarti mereka bertugas di AOM USA dong, berarti sekolah lanjutan mereka adalah di AHS Amerika Serikat.


"Claire."


Aku menoleh padanya.


"Target-target waktu itu kan ada di bawah perintah pencuri chip itu, berarti kalau mereka di AOM Amerika, si pencuri chip itu juga di sana."


Sebentar..


Kucerna dulu kata-katanya...


LAH?


IYA JUGA!


"Benar juga tuh! Bisa jadi si pencuri chip itu juga disana!"


"Eh tapi, kata Kak Brian kan... pencurinya ada di IHS.. " lanjutku.


Lalu Si Uban terdiam... memikirkan perkataanku mungkin?


Ia menghela napas. "Besok kita pikirkan ini bersama yang lain, sudah lah... nanti kalau kau pusing terlalu banyak berpikir, terus pingsan... nanti aku lagi deh yang menggendongmu."


"Dih! Lagian siapa juga yang minta digendong?!"


Eh?


Sebentar...


Aku terbelalak, "EH, KAPAN KAU MENGGENDONGKU?"


Ia malah tertawa, menampilkan lesung pipinya yang dalam. Wahh... wah... sudah bisa tertawa ternyata manusia ini!


"Malah ketawa... ditanyain juga.."


bantu?" ujarnya masih dengan sisa tawanya.


"Baawel!" ujarku. Sekalian membalas ketusnya tadi.


Ia mengalihkan pandangannya ke depan, lalu tersenyum. "Udah sunset tuh."


Aku langsung melihat ke depan, dan benar... matahari sudah setengah tenggelam, membuat pemandangannya menjadi semakin indah berkat refleksi pada permukaan air danau di depanku.


"Heh, Ubi."


Aku menoleh, lalu menaikkan kedua alisku, "Apa, Uban?"


Ia menatapku dalam. Membuatku ikut tenggelam dalam manik hitamnya yang jernih. "Kau menyukai Rylan, ya?"


Deg.


Aku terdiam.


Oh ayolah Claire!! Kalau kau menjawabnya lama, dia akan curiga. Lagipula kan kamu sudah pandai berbohong Claire!


Cepat, tinggal bilang saja 'Gak'!


"G-gak!"


Ia tersenyum tipis, "Ah masa..." ujarnya dengan nada menyebalkan.


"Aku serius, gak kok!"


"Pasti karena kau baru tahu Rylan adalah pacar Ruby, ya kan?"


Shit.


"Lihat!” aku menunjuk ke arah matahari yang sebentar lagi pamit, ”sunset-nya bagus!" ujarku mengalihkan topik.


Alih-alih menjawabku, Jack malah terkekeh, "Jangan lama-lama patah hatinya ya...” ia mengusap rambutku yang terurai bebas, “pelan-pelan move on...” iris hitamnya menatapku dalam, “... ikhlasin Rylan."

__ADS_1


Deg.


Deg.


"Ah tapi memang Si Rylan nya kampret, baik ke semua orang padahal sudah punya pacar, lama-lama kusentil juga ginjalnya." Lanjutnya.


Aku tertawa kencang mendengarnya. “Hahahahah!!”


Tapi ya mungkin memang benar, Rylan baik ke semua orang..


Ya sudah lah...


Lagi pula aku sudah merasa jauh lebih baik daripada kemarin... tapi aku sangat


bersyukur, karena rasa itu belum sempat jatuh lebih dalam.


Aku menoleh pada Jack yang sedang tersenyum memandangi pemandangan di depan kita.


“Kau jarang begitu.” Ujarku.


Ia menoleh padaku, “Jarang apanya?” ujarnya. Untuk pertama kalinya, tidak dengan raut datar.


Aku menaruh kedua telunjukku pada kedua pipiku, “Tersenyum.”


Ia terkekeh melihatku, lalu ia menunduk dengan senyuman tipis. “Mungkin... karena kekuatan ini.” Ujarnya pelan.


Aku mengerutkan alisku, “Kekuatanmu?” aku menatap wajahnya yang kini terlihat sangat santai, “Kau tak bahagia dengan kekuatan itu?”


“Dulu... iya, sekarang...” ia menggelengkan kepalanya pelan, masih dengan senyuman tipis itu.


Aku memiringkan kepalaku, siap untuk mendengarkan ceritanya. “Kenapa? Menurutku kekuatanmu itu keren, kok.”


Ia tersenyum padaku, “Terimakasih, ya.” Lesung pipinya yang dalam itu benar-benar membuat *image-*nya yang dingin dan mengintimidasi berubah seketika menjadi manis.


Aku membalas senyumannya.


Ia menghela napas pelan, lalu bergumam kecil, “Tapi bukan yang ini..”


Aku mengerutkan alisku, “Bukan yang ini bagaimana?”


Apa ia punya kekuatan yang lain?


Jack tampak kaget karena aku bisa mendengarnya, “Gak, bukan apa-apa.” Ujarnya.


“Mungkin, juga... alasanku bisa tersenyum seperti ini, karena...” Ia menatapku dalam dengan senyuman.


Aku baru sadar..


Senyumannya lebih manis dari siapa pun, bahkan Rylan.


Ia... tampan.


“Karena?”


 Aku mengerutkan alisku. Aku melihat seseorang di balik pohon yang berada jauh dariku. Ia memakai pakaian serba hitam.


Ia berjalan mendekati kami, menghadapku, di belakang Jack. Sepersekian detik kemudian, terdengar sebuah suara dari earzoom kananku. Samar-samar.


“Deja ese lugar ahora!”


Jack tersenyum, menatapku lembut, “Karena-“


“T-tunggu!” Aku tersenyum masam pada Jack, “Maaf ya, kita lanjutkan nanti. Aku mau ketoilet dulu.”


Jack menatapku bingung. Tanpa menunggu lama, aku segera bangkit berdiri dan meninggalkannya.


Sebenarnya, aku mengikuti pria itu.


‘Deja ese lugar ahora’ artinya, ‘Tinggalkan tempat itu sekarang’.


Itu adalah Bahasa Spanyol.


Aku menyeringai.


Akhirnya...

__ADS_1


Tunggu aku, Brian Alejandró!


__ADS_2