AGENT: Agent Of Mutants

AGENT: Agent Of Mutants
35. Kimberly and the Future


__ADS_3

[Ruby’s POV]


Aku sedang berada di ruang auditorium, menunggu yang lain untuk segera datang. Omong-omong, ini sudah pukul 20.00 malam. Kudengar tadi Claire ingin istirahat dulu sebelum membicarakan tentang Apesta yang menemuinya tadi siang.


“Ini mereka lama juga ya.” Ujar Zav, lalu menghela napas.


Di sini sudah ada aku, Jack, Rylan, Jack, dan Kim. Tinggal Val dan Claire yang pasti sudah berjalan ke sini.


“Ah, itu dia! Akhirnya datang juga.” Rylan menunjuk ke arah pintu masuk auditorium.


Terlihatlah Val dan Claire yang sedang melambai-lambaikan tangannya pada kami. “Sorry ya, lama. Claire susah bangun, kayak orang pingsan.” Ujar Val dengan cengirannya.


“Eh, iya? Pingsan beneran kali?? Claire gak apa-apa?” celetuk Zav yang langsung disikut oleh Jack.


Claire terkekeh, “Gak lah! Hahaha, aku gak apa-apa.” Ujarnya sambil memperlihatkan ibu jarinya.


Aku mengibas-kibaskan tanganku menyuruh Val dan Claire duduk di sebelah kananku. “Sini!”


Setelah Claire dan Val duduk, Rylan membuka suara, “Claire, jadi bagaimana? Apesta tak menyakitimu, kan? Dia bilang apa?” tanyanya dengan alis bertaut.


Kim tak sengaja menarik perhatianku, ia duduk di sebelah kiriku, tapi sedari tadi, ia sama sekali tak berbicara apapun, ia tampak memendam sesuatu... aneh. Dia tak pernah terlihat se-tertekan ini. Raut wajahnya juga berubah saat mendengar perkataan Rylan barusan. “Tunggu.” ujarnya yang membuat kita semua menoleh ke arah Kim.


Kim melirik ke arah Claire sekilas, “Biar aku saja, aku juga mendengar percakapan mereka, kok.” Lanjutnya.


Aku mengerutkan alisku, aneh. Tak biasanya dia begini.


“Okay, go ahead. Coba ceritakan, Kim.” Ujar Rylan.


“Tadi siang Apesta datang tanpa melukai atau memberikan ancaman pada Claire. Aneh memang, ia malah memberi tahu Claire untuk segera datang ke AOM pusat. Mencurigakan, kan?” ujar Kim dengan nada keheranan. Kim dalam sekejap menjadi mudah berbicara dan ekspresif lagi, padahal tadi dia tampak aneh...


Andai aku bisa membaca pikiran!


“Bohong?!”


“Serius!! Dia benar-benar bilang begitu tadi!”


“AOM pusat... yang ada di Amerika Serikat?” tanyaku.


Kening mereka semua berkerut kebingungan.


“I... ya?” Val menyipitkan matanya, ia menghadap ke langit-langit, seperti sedang berpikir keras, “Sebentar, deh. Aku gak paham. Ini maksudnya kita mau diajak perang di sana, atau apa sih?”


“Sama. Gak ngerti.” Ujarku setuju.


Keheningan mulai tercipta, kita sibuk dengan tebakan-tebakan dalam pikiran masing-masing. Untuk apa ia menyuruh Claire pergi ke sana?


“Sebenarnya, Apesta bilang, kalau aku mencari chip itu, aku dan dia harus menyelesaikan di sana.” Ujar Claire dengan raut wajah yang... tak terjelaskan. Datar tidak, sedih tidak, bingung juga tidak.


Kok bisa-bisanya dia gak bingung?


Raut wajah Kim juga sama. Oh iya, maaf-maaf saja, walaupun aku gak punya kekuatan membaca pikiran seperti Val, tapi aku handal membaca ekspresi orang! Rencananya sih, mau jadi peramal. Semacam.. dukun gitu deh!


Tidak. Aku Cuma bercanda.


Kalau tak bisa mencairkan suasana di sekitarku, ya sudah, aku mencairkan suasana di otakku sendiri, lah!


Tapi sepertinya... aku tahu maksud Apesta itu.


“Apa mungkin ia ingin memberika- ralat, tak mungkin diberikan dengan cuma-cuma, tapi, mungkinkah ia ingin mengadu kekuatannya dengan kita agar bisa menyingkirkan kita?” ujar Zav.


“Uhm... gak mungkin sih, tapi... kalau bukan untuk itu, lalu untuk apa, dong?” tanyaku.


Aku menoleh ke arah Kim dan Jack. Dua orang yang otaknya paling encer. Tumben mereka tak memberikan hipotesis-hipotesis yang biasanya dengan lancarnya keluar dari mulut mereka berdua.

__ADS_1


“Kim? Ada teori?” tanyaku. Kim malah mengatupkan bibirnya rapat, lalu menggeleng. Begitu juga dengan Jack, mereka berdua tak bereaksi apa-apa.


Aneh!!


Ini adalah hari ter-aneh sedunia!!


Dua otak andalan kami tak punya gagasan!!


Wah! hari apa ini?? Aku harus mencatat peristiwa ini!


Tiba-tiba, Jack menghela napas pelan. “Tiga hari lagi kita akan pergi ke sana.” Ujarnya singkat. Lalu tanpa aba-aba, ia bangkit berdiri dan berjalan keluar dari ruangan ini.


“Eh! Jack, belum selesai nih! Maksudnya tiga hari apa?!” ujar Rylan yang tak digubris Jack. Ia tetap pergi meninggalkan kita semua di sini.


PERISTIWA BERSEJARAH TERCATAT:


SANG KETUA JACK GRAYSON, MENINGGALKAN RAPAT SECARA TIDAK JELAS UNTUK PERTAMA KALINYAA!!


Kalau suatu saat nanti kami akan menjadi tokoh bersejarah untuk bumi ini, semoga catatanku ini dipajang di museum. Dengan papan nama ‘Ruby Chase’ terukir dengan cantik di depan kaca museumnya.


Aku menoleh pada Kim, “Kim, apa kita akan jadi tokoh bersejarah dunia? Mungkin gak? Minimal kayak Bill Gates gitu.” tanyaku iseng.


Kim terkekeh, “Iya, hahaha. Lebih dari dia malah.” Ujarnya sambil terkekeh.


“Aneh Si Jack, gak biasanya dia begitu.”


“Tahu tuh. Ya sudah, deh. Berarti... Zav! Kau hemat-hemat energi ya dari sekarang.”


“Hah? Serius aku yang harus mengangkut kalian ke USA?”


“Jauh tahu, kacau kau Ry! Memangnya sedekat dari sini ke asrama apa?”


“Sudah, naik pesawat aja. Gampang kan? Gak usah pusing.”


Selagi mereka berdebat tentang transportasi, aku diam-diam memperhatikan Kim dan Claire. Sudah kubilang. Mereka itu aneh.


Entah ada apa dengan mereka, ah! Dan juga Jack! Mereka bertiga sebenarnya kenapa si-


Eh.


T-tunggu..


Apa aku yang salah lihat atau...


“Kim... kau mimisan?”


[Author’s POV]


“Kim... kau mimisan?” Ruby mendekatkan wajahnya dengan Kim, untuk memeriksa keadaannya. Dan benar. Dua tetes darah telah menetes dari hidung Kimberly.


Perkataan Ruby membuat semua mata tertuju pada Kim.


Val mengerutkan alisnya, lalu menghampiri Kim, “Kok bisa? Apa kamu baru melanggar hukum alam?? Tapi kayaknya sedari tadi kamu gak ngapa-ngapain.”


Tanpa merespon Val, Kim hanya tersenyum sambil menutupi hidungnya, “Aku kembali dulu ya.” Pamitnya lalu pergi keluar.


Setelah ia sudah benar-benar pergi, Zav menoleh pada Ruby, “Apa tadi dia mengatakan sesuatu tentang masa depan?” ujarnya yang membuat Rylan, Val, dan Claire ikut penasaran.


Ruby terpelanga, “Hah?” ia berpikir sejenak, lalu membulatkan matanya, “AH IYAA! Tapi... ah.. masa, sih?”


Rylan, Val, dan Claire semakin bingung mendengar Ruby yang malah berbicara sendiri, “Apanya?” tanya Zav tak mengerti.


Ruby terkesiap, ia baru paham sesuatu. “KITA AKAN MENGALAHKAN BILL GATES, GUYS!!!”

__ADS_1


Tentunya perkataan Ruby barusan membuat yang lain semakin bingung, bahkan Rylan berpikir bahwa Ruby mungkin saja hanya asal bicara atau mungkin sedang halu.


Sementara itu, di sisi lain, Kim sedang duduk di kursi panjang yang terdapat di pinggir koridor sekolah. Ia mengusap darah yang mengalir terus-terusan dari hidungnya. Kim menghela napas, “Sudah, kek! Kan aku keceplosan! Lagipula gak fatal-fatal amat, kok!” gerutunya kesal.


“Keceplosan apa sih?” sahut Zav tiba-tiba. Entah sejak kapan, ia ada di belakang Kim.


Kim terbelalak, “Sejak kapan kau ada di sini?”


“Barusan. Oh iya, kukira kau langsung ke asrama, sudah malam begini untuk apa masih di sini?” tanya Zav sambil duduk di sebelah Kim.


Kim ber-oh datar, lalu menoleh lagi pada Zav, “Ya sudah, aku akan kembali, ya.” Pamitnya, tapi ia tak menggerakkan tubuhnya untuk berdiri sama sekali.


“Ada yang kau pendam, kan?” Zav memicingkan matanya pada Kim, “Eh, ralat, Si Pengendali Waktu ini kan memang harus memendam semuanya sendiri, itulah mengapa dia rawan gila.” Ujar Zav yang membuat Kim tertawa.


“Hahahaha! Sounds like a joke, but lowkey true.”


Zav menjentikkan jarinya, “Nah kan. Sudah terkonfirmasi dari orangnya langsung!”


Zav dan Kim memang bersahabat dekat. Lebih tepatnya, mereka ber-enam. Jack, Kim, Val, Rylan, Zav, dan Ruby memang sudah menjadi rekan selama tiga tahun. Jadi, kedekatan mereka sudah tak usah diragukan lagi.


“Ayo lah, luapkan apa yang membuat wajahmu jadi stress begitu. Tak usah spesifik deh, nanti mimisan lagi.” ujar Zav.


Kim menghela napas, ia menunduk sambil memijat pelipisnya. “Aku tuh stress tahu. Bisa gila beneran, deh.”


Zav menopang dagunya, siap mendengarkan keluh kesah sahabatnya itu. Tak usah heran mengapa Kim bisa se-terbuka itu. Justru karena gadis itu rasional setengah mati, ia tak mau dirinya kehilangan separuh kewarasannya karena stress dipendam sendiri.


Kim mendengus. “Hidupku kayaknya gak pernah gak menyebalkan. Sejak dilahirkan dengan kekuatan ini, aku sudah terikat dengan hukum alam sialan itu. Sepertinya aku sudah gila dari awal, deh. Cuma gak terlalu kelihatan saja.”


Zav terkekeh, “Kita semua gila, Kim. Serius. Tapi kau yang paling gila. Kita semua tahu itu.” Ujar Zav lagi-lagi menumpahkan lelucon yang sebenarnya fakta. Gila yang dimaksud bukan hanya asal bicara, tapi memang... gila sungguhan.


Kim ikut terkekeh. Sepersekian detik kemudian, ia mengadah ke atas, melihat langit malam. Ia memperhatikan bintang-bintang di atasnya. Lalu ia menghela napas. Memikirkan takdir yang harus ia jalani ini. Sungguh tega, pikirnya.


“Aku sudah tahu, Zav.” Ujarnya pelan.


Zav mengerutkan alisnya. “Kau pasti memang sudah tahu semuanya, tapi apa yang kali ini kau maksud?”


Kim memegangi kepalanya, lalu menjambak rambutnya frustasi. Ia menghela napas lagi. Ini dia mengapa ia benci sesi curhat. Karena saat ia sangat ingin menyampaikan apa yang meresahkannya, ia tak bisa. Tak pernah bisa. “This is so stressful.”


Kim mulai berlinang air mata, tapi dengan sigap ia langsung melihat ke atas, agar air matanya tak menetes.


Zav menatap Kim dalam. Ia memang tak tahu bagaimana rasanya tercekik dengan kekuatannya sendiri seperti Kim, tapi hanya dengan melihat kondisi Kim yang seperti ini, ia pun jadi ikut terbayang seberapa frustasinya ia sekarang. “Menangislah kalau kau tak kuat lagi. Jangan memaksakan diri. Sudah tak bisa curhat, tak bisa nangis pula, tambah gila nanti.”


Kim terkekeh, membuat air mata yang susah payah ia tahan, menetes juga. “Kalau bisa jujur, kadang aku mau cepat mati saja.” ujar Kim lirih.


Diam-diam, Zav setuju dalam hati. Kekuatan yang mereka punya bukanlah mentah-mentah bermanfaat saja, tapi juga membuat mereka tertekan. Ia tak tahu bagaimana rasanya jadi Kim, tapi ia tahu bagaimana rasanya ketika kau ingin teriak, meluapkan semua ketidak-adilan ini, tapi tak bisa.


Rasanya seperti tenggelam tapi tak bisa berenang.


“Aku tahu persis apa yang akan terjadi di sana.” Kim mengadah ke atas, menatap gelapnya langit malam.


Mendengar itu, Zav dapat menyimpulkan bahwa hal yang dimaksud Kim pasti bukanlah hal yang bagus, terlihat jelas dari seberapa frustasinya ia sekarang. “Dan... biar kutebak... kau tak bisa mengubahnya?”


Kim menghela napas untuk yang kesekalian kalinya, “Maaf.”


"Walau sedikiit saja?"


Kim tersenyum pahit, lalu menggeleng pelan.


"Can you give me a spoiler?" tanya Zav yang langsung mendapat pelototan dari Kim, "Iya, terus aku mimisan se-ember, ganti pakai darahmu, ya!"


Zav tertawa kecil, lalu menghela napas pasrah. Ia menyerah untuk bertanya. Lagipula ia tak bisa membahayakan Kimberly hanya untuk memberinya bocoran tentang masa depan. Tapi setidaknya... kalau ia memiliki kekuatan Kim, ia akan tahu apa yang terjadi.. mungkin ia bisa menghindari hal-hal buruknya, begitu pikir Zav.


Kim menatap langit di atasnya lagi, "Jangan pernah berharap kau mau jadi aku." ujar Kim seolah bisa membaca pikiran.

__ADS_1


"Orang sepertiku tak ditakdirkan untuk merubah apapun... aku hanya sekedar... penikmat masa depan."


__ADS_2